Labels

December 28, 2011

Story About Him

He criticize, he gives advice, and he's bias.
He's not a romantic person, but he can be sweet.
He's not my type, but he melt my heart.
He's not that perfect guy, but he's wonderful.
He's not super kind, but he's lovely sometimes.
He ain't got what they want, but for me, he's the one..

December 18, 2011

Dibuang Sayang

Apakah Anda pernah menyimpan suatu barang, entah karena itu merupakan barang pemberian mau pun barang milik pribadi, tetapi pada akhirnya Anda memutuskan untuk membuang barang tersebut? Saya termasuk tipe orang yang seperti itu.

Sejak kecil, sudah tidak terhitung berapa kali saya pindah rumah. Hal yang membuat saya kesal setiap kali pindahan, adalah harus membuang barang-barang milik saya yang menurut ibu saya "tidak penting", sehingga dengan terpaksa saya harus menurut untuk tidak menyimpan barang-barang kesayangan saya. Tapi terkadang saya cukup keras kepala untuk mempertahankan beberapa barang yang menurut saya spesial. Walaupun, pada sesi pindahan berikutnya, barang tersebut dengan berat hati tidak saya bawa juga.

Minggu depan saya akan pindah lagi (entah untuk yang keberapa kalinya). Dan, lagi-lagi, kali ini pun saya harus merelakan barang-barang saya. Terlebih lagi, kali ini saya akan pindah ke apartemen yang notabene luas ruangannya minimalis. Karena itu, pindahan kali ini benar-benar membuat saya 'penghabisan.' Hampir semua barang milik saya yang 'tidak penting' saya jual atau saya kasih ke orang secara cuma-cuma. Bahkan, buku-buku dan komik yang menjadi hobi saya (yang paling menghibur) pun saya relakan.

Entah karena sudah lelah, bosan, atau terbiasa, kali ini saya benar-benar merelakan barang-barang saya tanpa rasa berat hati sedikit pun. Malah, seandainya bisa, ingin rasanya saya meninggalkan semua barang milik saya, dan benar-benar hanya membawa beberapa barang yang 'penting' saja.

Kalau saya refleksikan masalah pindahan ini, saya mulai berpikir secara mendalam. Selama ini, sering sekali saya merasa berat mengambil suatu keputusan karena terlalu melo mempertimbangkan ini dan itu, yang mungkin kalau mau ditelaah lebih jauh memang 'ga penting'. Antara emosi dan logika, terkadang kita harus menentukan mana yang lebih 'penting' dalam hidup ini. Sadar bahwa kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan..

November 22, 2011

Harapan Akan Kenyataan

Belakangan ini saya sedang dirundung beberapa masalah yang membuat otak saya terus-menerus berpikir dan berpikir.
Saya menyadari saya bukan tipe orang yang bisa berlapang dada dalam menerima kenyataan. Sering kali saya "menghibur diri" dengan berpikir seandainya begini atau bila saja begitu. Padahal pikiran semacam itu sebenarnya sama sekali tidak benar-benar menghibur apalagi merubah keadaan, tapi tetap saja saya suka berpikir begitu.

Entah menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau pun menyalahkan diri sendiri, saya sepertinya tidak cukup "kuat" dalam menghadapi kompleksnya kehidupan ini (lebay mode on :p)

Hari ini saat saya sedang "merenungkan nasib" untuk yang kesekian kalinya, saya membuat keputusan untuk (paling tidak berusaha) berhenti menyesali keadaan dan mencoba menerima kenyataan dengan mengambil hikmah dan pelajaran di balik setiap permasalahan. Tidak mudah memang (pastinya), tapi saya akan berusaha dan saya yakin di mana ada niat di situ pasti ada perubahan (baik besar maupun kecil).

Menerima kenyataan (pahit) itu sulit dan terasa sakit, tapi yakinlah bahwa di balik setiap persoalan itu pasti ada hal baik :)

November 20, 2011

Dear You

It's raining outside, and the thoughts of you crosses my mind (for the how many times).
I just wanna let you know, I've moved on, not the way I want it, but I have.
I miss you anyway, but I won't tell you. I hope you're doing fine, that's enough for me.
I'm counting days to your "big day" and I hope you'll have someone beside you to celebrate it.

I've changed, which I'm sure you have, too.
I'm glad that I'm entering a new path of my life.
And I wish you know that you're the reason behind it.

I believe things happened for a reason.
And I'm grateful that you were sent to me for that very short time.

You taught me lots of things.
You gave me many feelings.
And for all that, I wish to say "thank you" to you..

Yours forever,
Me

November 8, 2011

Menyesal Kemudian

Saya seorang pemikir. Setiap keputusan yang saya ambil pasti dengan pertimbangan hasil pemikiran saya. Kemarin saya membuat suatu keputusan: menerima tawaran kerja. Sebelum menerima, saya sempat berpikir singkat dengan banyak pertimbangan sebelum akhirnya menerima tawaran tersebut. Tetapi sesudah itu saya merasa agak menyesal. Sepertinya saya kurang berupaya untuk mendapat apa yang saya mau. Tapi karena sudah terlanjur, tidak ada yang bisa saya lakukan lagi. Daripada hanya menyesali, saya lebih memilih untuk berpikir positif dan kembali mengingat alasan saya mempertimbangkan menerima tawaran itu.

Sekarang, saya sudah tidak merasa menyesal lagi. Saya mencoba untuk mengambil hal-hal positif dan melupakan hal-hal negatif yang melintas. Besok adalah hari pertama saya masuk kerja di tempat yang baru ini dan saya cukup bersemangat menyambutnya. Saya berharap rasa penyesalan saya yang sempat muncul terbalas dengan apa yang akan saya capai nantinya dengan hasil kerja saya yang paling maksimal :)

November 6, 2011

Was and Why?

This morning when I checked on my social networking website (#NoMention) account, I read one of my friend's post to follow her blog. But since I don't have an account in the web she blogged on, it wouldn't be possible. I then thought to myself, why not create a new blog instead? But, the thoughts get longer in my mind. If I create a new one, what should I do with this one? I just celebrated my blog's first anniversary last month (I mean, it's finally been a year since I started blogging :p), should I leave it unmaintained just to make a new blog? Or perhaps, I'll have to maintain both of them (this blog and the new one)?

With this little confusion in my head, I started to think clearly about the reason why I started blogging. I've always wanted to write (I even dreamt of being an author one day..haha..), but it doesn't bring me to blogging. Until one day I read an advertise through blogger and on the right top of the page I saw the sign "Start Blogging" or something, so then I started to create this blog!

It took me days only to design the page layout before I eventually thought of what kind of blog I want mine to be. Then I decided to (try) blog my personal experiences and share my inspiration so that this blog would be more useful and nice to read. Well, to be honest, I was teased to make this blog as my "online diary" but then I thought it would be pointless and embarrassing to really share all of my feelings to the world, don't you think? :p

Ok, now, back to the top. After remembering my first motivation of blogging, which is "to inspire other people," I came to a (temporary) final consideration:
- there's no need to have two blogs at the same time
- creating a new blog on that other web is quite a good idea, because the web seems to offer more than this web
- but to leave my (current) blog neglected is way too pity for me

So, I finally came to a decision, either I keep my current blog or make a new one and re-post my posts in this blog on the new one.

Just like life, huh? Things change, people change, society changes. As the world changes, so do us. Our needs change. Our goal in the past, now, and in the future (usually) won't remain the same. It changes all the time.
I, myself, a few years ago was still longing to have a new family-get married, be a wife and mother, raise children. Now? Not a chance! Haha..

I mean, of course I still have some desires and wishes which I've had since a long time ago (I still want to be an author :p) up until now, but I'll have to admit that the way I think, I speak, I act before and now is different. Just like the needs of technology, I may not need mobile phone and internet before as much as I do now :)

November 2, 2011

Antara Benar dan Salah

Satu hal yang saya tidak suka saat mengantri masuk lift di mal adalah, antrian yang tidak teratur dari orang-orang yang "penuh nafsu". Bukannya menunggu yang di dalam keluar dulu, mereka buru-buru langsung mau masuk. Akibatnya? Sudah pasti antrian terlihat semrawut karena yang di dalam berusaha mencari celah untuk keluar, begitu juga sebaliknya. Yang lebih menjengkelkan lagi, ketika saya mengantri dengan benar dan sesuai etiket, malah diserobot oleh orang lain yang mengantri sesudah saya. Jadi kalau saya mau mendapat hak saya untuk masuk lebih dulu sesuai urutan antrian, saya pun harus ikut-ikutan "nafsu" nyerobot masuk ke lift.

Saat mengantri bus TransJakarta pun begitu. Bukannya sabar mengantri, orang-orang malah "memperpendek" antrian dengan mendorong-dorong orang di depan mereka. Padahal tidak ada salahnya diam berdiri dan maju kalau orang di depan sudah maju, kan? Mengantri sambil mendorong-dorong malah membuat stres semua orang yang mengantri, apalagi saat jam sibuk (masuk dan pulang kantor), halte sesak penumpang.

Hal-hal seperti ini sering kali membuat saya "gerah" tinggal di Jakarta. Bukannya saya tidak berjiwa nasionalis, tapi agaknya budaya bangsa ini terlalu unik. Melakukan yang benar sering kali menjadi masalah. Sebaliknya, melakukan yang salah malah dianggap benar dan sudah sewajarnya.

Hal-hal kecil seperti ini sepertinya secara tidak langsung membentuk kepribadian kita. Dalam pergaulan, misalnya, ketika kita berusaha bersikap baik, kita malah dianggap munafik, sok, dsb. Dalam pekerjaan, menipu dianggap sebagai strategi dan bukti kepintaran seseorang. Kalau kita tidak setuju untuk bekerja sama, pasti kita dicap sok suci, dll, dsb.

Saya jadi bingung, bagaimana baiknya, ya? Ketika melakukan yang benar malah dianggap salah, kita seakan-akan dituntut lingkungan untuk berbuat salah kalau mau dianggap benar?

October 21, 2011

Sulit untuk Dimengerti

Beberapa hari yang lalu teman saya menceritakan kekecewaannya pada saya. Teman satu timnya, yang tidak ia kenal baik "kabur" dari tugas yang seharusnya dikerjakan bersama. Saya pernah dengar kalau ibu dari orang tersebut sedang dirawat di rumah sakit (tidak tahu apa penyakitnya), tapi karena tidak mau menyebar gosip, saya hanya mencoba menghibur teman saya dengan mengatakan "Setauku sih dia lagi ada masalah keluarga, mungkin karena itu tugasnya jadi ga keurus."

Walaupun saya bilang begitu, teman saya tetap merasa kesal dan berpikir bahwa orang itu memang sengaja melarikan diri dari tanggung jawabnya. Saya tidak bisa menyalahkan dia. Kalau saya di posisinya, mungkin saya akan berpikir begitu juga. Kadang, ketika kita merasa menjadi "korban", kita cenderung berpikir bahwa alasan hanyalah alasan yang dimanfaatkan untuk meng-excuse-kan diri. Tetapi, ketika kita sendiri yang mengalami permasalahan, bukan tidak mungkin kita akan menggunakan permasalahan yang kita hadapi sebagai alasan untuk meng-excuse-kan diri kita juga:)

October 12, 2011

From Japan with Shots









 














So I Say..

Show your smile, hide the tears.
Share the good news, keep the bad ones yourself.
Cry when you feel like crying..

Don't be too self-centered, you didn't own this world.
You are not the only one who has feelings; try to understand.
If you expect to receive, give instead, you'll feel joy eventually.

Don't complain, it won't help.
Don't give up, you'll get the chance.

Look back, but to learn.
Look forward with faith.

When the going gets tough, it's just a new start.
Pushes you to a higher limit, it's God's secret..

September 20, 2011

Berpikir Dua Kali Sebelum Mengatakan "Ya, saya bersedia!"

And they live happily ever after..

Kalimat di atas biasanya menjadi penutup di cerita-cerita dongeng yang sering saya dengar, tonton, atau baca saat masih kecil dulu. Saat remaja, komik-komik yang saya baca menggambarkan manisnya kisah cinta orang muda. Beranjak dewasa, novel-novel yang saya baca juga kebanyakan happy ending (setelah menceritakan kisah sedramatis mungkin).

Pada kisah cinta yang "sebenarnya" saya saksikan, kenyataan tidaklah seindah itu. Maaf, ya, bukannya saya mau bersikap skeptis, tapi menurut saya menyatukan dua insan dalam ikatan pernikahan tidak bisa hanya bermodal "I love you, you love me, let's get married!" Banyak hal yang harus dipertimbangkan (kalau komitmen sudah biasa :p)

Awal kisah cinta memang manis: tahap-tahap PDKT, perasaan harap-harap cemas, kencan pertama, dll, dst. Seiring berjalannya waktu, mulai timbul "kerikil-kerikil" dalam hubungan; ada yang berhasil melewati, ada juga yang tidak. Ketika kita sudah merasa he/she is the one (atau mungkin hanya karena merasa "sudah seharusnya") maka "Gerbang Menikah" pun menunggu di depan mata. Mudah? Tidak!

Anda beruntung kalau mengalami kisah cinta yang mulus-mulus saja ibarat jalan bebas hambatan. Karena (sejauh yang saya tahu) kebanyakan pasangan mengalami banyak kesulitan baik sebelum atau pun sesudah menikah. Itu sebabnya ada yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan walaupun sudah pacaran sekian tahun, dan tingkat perceraian semakin tinggi.

Saya tidak mengarang cerita atau pun bermaksud memengaruhi pemikiran Anda, hanya saja saya terdorong untuk membagikan pola pikir saya yang saya anggap realistis dan berdasarkan realita yang ada (paling tidak yang saya lihat dari orang-orang di sekitar saya).

Saat memutuskan menikah, biasanya masalah mulai bermunculan:
- ijin orang tua: apakah orang tua merestui calon pasangan hidup kita? kalau tidak, apakah kita bisa meyakinkan mereka?
- keluarga: latar belakang keluarga sering kali jadi persoalan serius dalam suatu hubungan (perbedaan status sosial, perbedaan gaya hidup, dll)
- SARA: apakah perbedaan budaya dan keyakinan kita bisa diatasi atau justru menjadi tembok yang tidak bisa dilewati?
- finansial: apakah kita memiliki dana yang cukup untuk melangsungkan pernikahan dan mencukupi kebutuhan setelah menikah dan punya anak nantinya?
Saya rasa sebenarnya masih banyak lagi kalau mau diuraikan satu per satu, tapi tidak perlu lah, ya ;)

Fase berikutnya (setelah menikah):
Hidup bersama di bawah satu atap pastinya berbeda dengan saat pacaran dulu. Mungkin kita akan "kaget" menemukan kebiasaan-kebiasaan pasangan yang tidak kita ketahui sebelumnya. Pada awal-awal pernikahan mungkin kita masih bisa menerima dan berkompromi (masih pengantin baru, gitu loh.. :D). Tapi lama kelamaan kita menjadikan itu suatu alasan atas "ketidakcocokan"--alasan yang paling populer dalam kasus perceraian (ke mana perginya cinta, nih?).

Belum lagi kalau ketemu kasus yang lebih berat: KDRT, masokisme dan kelainan seksual lainnya, kecanduan alkohol atau obat terlarang, hobi selingkuh atau "bermain" wanita. Kalau mau mempertahankan perkawinan rasanya berat sekali. Kalau pun sanggup, orang-orang di sekitar yang akan berkomentar: "bodoh banget sih, lu!"

Saat ini banyak sekali pasangan yang menikah muda, menjadi orang tua di usia muda (walaupun mungkin belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam menjadi seorang ayah/ibu). Karena masih muda, maklum saja kalau jiwa mereka masih muda juga. Pergi bersenang-senang saat weekend tetap menjadi agenda wajib. Bedanya dengan saat pacaran, kali ini mereka membawa pasangan ketiga--anak.

Saya sering melihat orang tua yang membawa anak mereka yang masih bayi, balita, atau anak-anak ke mal atau bioskop sampai malam (tidak jarang malah sampai tengah malam). Di satu sisi, si orang tua masih berjiwa muda dan butuh refreshing. Di sisi lain, kasihan si anak yang masih kecil (kurang istirahat, menghirup asap rokok di tempat umum tertentu, kena angin malam, dll).
Atau ada juga yang menggunakan cara "baik", menitipkan anak ke pembantu atau orang tua (kalau tinggal dengan mertua).

Menikah itu kan (teorinya) hanya satu kali. Berarti, selamanya (sampai mati, lho..) kita akan hidup dengan si dia. Bangun tidur, mau tidur, setiap hari melihat muka orang yang sama. Sedangkan, keadaan berubah, lingkungan berubah, sifat dan pola pikir juga berubah. Penelitian mengungkapkan tiga faktor utama perceraian: seks, ekonomi, dan komunikasi. Saat seperti ini, "cinta" membutuhkan pembuktian, bukan hanya ungkapan perasaan.

Apakah Anda sudah mantap dengan "I love you, you love me, let's get married and we'll fix things out!" atau "I love you, you love me, let's get married and we'll see, lah.." ? :)

August 11, 2011

Kasih Tidak Menerima?

Kasih ibu tiada beta, tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali. 
Bagai sang surya menyinari dunia...

Lirik lagu di atas sudah tak asing lagi di telinga kita. Sejak kecil kita sudah disuguhkan lagu itu, seakan-akan kita dibrainwash bahwa lagu itu benar adanya. Dulu saya berpikir begitu, tetapi semenjak bertambah usia saya mulai mempertanyakan kebenarannya.

Hanya memberi tak harap kembali. Apa benar begitu? Saya tidak yakin. Saya sendiri memang belum menjadi seorang ibu, jadi saya tidak bisa merasakan perasaan seorang ibu. Tapi dari orang-orang di sekitar saya dapat melihat bahwa sejak kecil pun anak-anak sudah dituntut macam-macam oleh orangtua mereka. Jika si anak nakal, maka sang ibu akan mulai berteriak mengomel, kemudian mengeluh kenapa anaknya "begitu." Kalau nilai sekolahnya jelek, sang ibu akan mulai berceramah dan mengomentari kebodohan si anak. Paling tidak hal-hal seperti ini sering saya lihat sendiri.

Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ibu saya sangat menyayangi saya, sampai-sampai beliau menggantungkan harapan besar pada saya. Sekadar informasi, beliau adalah seorang yang sangat idealis, tidak bisa menerima kesalahan dalam bentuk apa pun. Jadi ketika saya tidak bisa memenuhi ekspektasinya atau jika saya melakukan suatu kesalahan (baik kecil maupun besar), beliau akan langsung merasa kecewa, sedih, marah, putus asa, dan stres.

Ketika kita sebagai anak sudah menjadi orang yang dewasa, mungkin dengan karier yang mapan, dll, berapa banyak dari kita yang merasa tidak harus membalas budi orangtua? Kebanyakan orang pasti memiliki kesadaran untuk membalas kebaikan orang tua mereka. Jadi hal-hal seperti ini sudah menjadi suatu "keharusan," hukum alam yang berlaku (paling tidak) di Indonesia, negara yang budaya sopan-santunnya sangat kental.

Ketika kita tidak melakukan "kewajiban" yang demikian, bukankah orangtua akan mengeluh? Kita akan dibilang anak yang tidak berbakti, tidak tahu balas budi, dll, dsb. Lalu ke mana perginya hanya memberi tak harap kembali? Bukankah mengharapkan sesuatu dari si anak sudah merupakan harapan untuk menerima kembali?

Saya memang orang yang skeptis dan kritis. Maaf kalau pemikiran saya menyinggung beberapa pihak, tapi saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya mengutarakan pendapat saya bahwa hanya memberi tak harap kembali itu sangat kecil kemungkinannya. Saya tidak mengatakan itu suatu hal yang mustahil, hanya saja mencari suatu kasih yang benar-benar tidak mengharap kembali di dunia ini merupakan suatu hal yang sangat sulit. Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bahkan dalam hubungan percintaan pun, pasti kita mengharapkan pasangan untuk "memberi kembali," bukan?

Pada dasarnya semua manusia itu egois. Tapi di situlah letak seni kehidupan manusia. Karena tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup sendiri. Kita semua saling membutuhkan. Bagaimana kita mengolah emosi kita masing-masing dalam kehidupan bersosialisasi, itu yang penting. Memberi tanpa mengharapkan kembali itu sulit, tapi masih lebih baik daripada mengharapkan tanpa memberi ;)

August 1, 2011

Art of Satisfaction

Two weeks ago I got information regarding a Writing Competition held by one of the bookstores in Indonesia. The submission deadline is yesterday at 11.59 p.m. I wanted to join the competition, but I was too lazy and kind of pessimistic because the work should be written in English (you can tell by reading my posts that I'm not perfect in English). So I didn't start any action. Not until yesterday.

Yesterday morning I suddenly had a very strong motivation to start writing. I'll never know if I never try and my writing skill won't get any better if I didn't keep practicing, I thought to myself. So, I spent the whole day trying to write something.

I finished writing five pages story (non-fiction) at about 9 p.m., convert the file to pdf. format and send it via email. Wow, I felt great! Only five pages result, but it definitely worth the hours of hardwork. Even if I didn't win, I'm quite satisfied already. I'm proud of myself for being able to get rid of every pessimistic feeling and do something.

Big things come from small things. Small things start by doing something ;)

Ada Apa dengan Pengguna Teknologi?

"Hari gini masa ga punya BB?"
"Yah, dia ga pakai BB."
"Ganti BB aja.."

Kalimat-kalimat di atas sering saya dengar dari percakapan orang-orang yang saya temui di mana-mana. Rasanya tidak afdol kalau jaman sekarang masih ada yang tidak memakai smartphone, terutama Blackberry. Saya sendiri akhirnya menyerah dengan "tuntutan jaman" dan beralih menggunakan BB sejak akhir tahun lalu. Tapi itu tidak berarti saya termasuk salah satu dari sekian banyak "fans" BB di Indonesia. Saya malah sempat menyesal mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli BB. Rasanya kok ga penting banget. Hehe..

Saya mengakui kehebatan BB, fitur-fitur dan fasilitasnya menunjang banyak sekali aktivitas pribadi, pekerjaan, dll. Namun, apakah semua pengguna BB benar-benar sudah memaksimalkan penggunaan secara baik? Saya tidak yakin. Dulu mantan pacar saya memutuskan untuk membeli BB dengan alasan "Butuh untuk urusan pekerjaan." Saya percaya BBnya memang digunakan untuk urusan pekerjaan, tapi berapa tingkat persentasenya saya tidak tahu. Yang pasti, dia menjadi 'pengguna aktif' BB (kalau tidak mau disebut autis) sampai sekarang.

Saya ingat sekali saat sedang makan malam bersama menunggu pergantian tahun baru, dia sibuk dengan BBnya, tidak jelas untuk urusan apa. Yang saya lihat dia senyum-senyum sendiri, asik sekali kelihatannya. Saya sampai tidak di"ganggu"nya (alias dicuekin). Padahal waktu itu perasaan saya benar-benar sangat excited. Maklum, dalam satu bulan pertemuan kami bisa dihitung pakai jari. Sehingga saya ingin menikmati setiap detik waktu yang kami habiskan bersama (lebay mode: on, deh). Saya tidak pernah mempermasalahkan kalau saya dicuekin karena urusan pekerjaan. Tapi yang kali ini rasanya jelas tidak mungkin kalau dia ber-BB-an ria untuk urusan pekerjaan.

Anyway, saya bukan bermaksud untuk curcol apalagi menjelek-jelekkan mantan pacar tersayang itu. Saya hanya sekadar memberi contoh. Teknologi dikembangkan untuk memberi kemudahan, berguna, bermanfaat baik. Tapi tidak jarang disalahgunakan menjadi sebaliknya. Jangan sampai smartphone yang kita punya membuat kita merasa dekat (padahal belum tentu) dengan teman-teman yang jauh tetapi menjauhkan kita dari orang-orang terdekat. Seperti sebuah sharing yang saya dengar di salah satu siaran radio. Seorang pria menceritakan bagaimana dia dan istrinya setiap hari di rumah sibuk dengan BB masing-masing. Hasilnya? Komunikasi di antara mereka berdua menjadi buruk. Sering terjadi pertengkaran. Sampai suatu waktu mereka sadar, dan membuat komitmen untuk tidak ber-BB-an ria selama berada di rumah. Komunikasi mereka pun menjadi baik dan hubungan suami-istri kembali harmonis.

Ayo kita manfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya!
Sudah smart kah Anda menggunakan smartphone Anda? :)

July 16, 2011

Memberi untuk Menerima

Uang Rp 5.000 di kantong celana saya siapkan untuk membayar ongkos bus. Pagi itu saya naik bus angkutan kota menuju ke salah satu pom bensin di Jakarta Barat yang merupakan meeting point dengan teman saya. Kami berencana pergi ke Puncak untuk berpartisipasi dalam suatu event.

Saya menerima kembalian selembar uang kertas Rp 2.000 dan dua keping koin Rp. 500 dari kenek bus. Saya masukkan kembali ke kantong celana.

Sekitar lima menit setelah saya naik, ada sekelompok pengamen naik ke bus yang saya tumpangi. Mereka bertiga menarik perhatian saya dari awal karena ketiga pria itu terlihat sangat bersih, rapi, sopan, dan sudah cukup berumur. "Selamat pagi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Salam damai sejahtera." Kalimat pembuka mereka menyenangkan hati saya. Walau hanya kalimat sederhana, tapi "Salam damai sejahtera" telah merubah mood saya yang pagi itu kurang baik (disebabkan kurang tidur, dsb). Saya tersenyum kecil, ingin rasanya balas menjawab "Selamat pagi, salam damai sejahtera!"

Lagu yang mereka lantunkan asing di telinga saya. Suara mereka pun fals. Tapi saya menikmatinya. Di akhir "pertunjukan," saya merogoh kantong mengambil dua keping koin untuk diberikan kepada mereka. Dan sebelum mereka turun dari bus, saya mendengar salah satu dari mereka yang mengumpulkan uang bergumam sendiri (sambil menggenggam kumpulan koin-koin hasil "pertunjukan" mereka), "Penglaris." Nada suaranya benar-benar seperti orang yang sangat bersyukur sekali.

Tidak sampai lima menit kemudian, naik lagi tiga orang pengamen. Hanya saja, kali ini suasana tidak seperti sebelumnya. Ketiga anak muda ini berpenampilan seperti preman jadi-jadian. Kalimat pembuka mereka pun sangat "meriah." "Bapak, Ibu, daripada kami menyolong dan mencuri, siapa tahu musik bisa mengetuk kebaikan hati Saudara."

Lagu yang mereka nyanyikan tidak asing bagi saya. Suara mereka juga lebih bernada dibanding kelompok pengamen sebelumnya. Saya membuka tas, mengambil dompet dan mengeluarkan sekeping koin Rp 500. Mereka bertiga. Usaha mereka patut dihargai, walaupun tindakan mereka kurang berkenan di hati. Pikir saya waktu itu.

Setelah selesai menyanyi, mereka mulai mengedarkan topi sebagai wadah untuk "hasil pertunjukan." Saya lihat tidak banyak yang memberi. Terang saja, belum lima menit yang lalu sudah ada yang mengamen. Anak-anak muda ini terlihat kesal dan mulai melontarkan kata-kata makian kasar. Sangat tidak enak didengar. Satu per satu penumpang ditepok bahunya dan dimaki-maki. Mungkin berharap mereka takut, berubah pikiran lalu memberi "Gope aja," kata salah satu dari anak muda bengis itu.

Walau dengan ancaman sekali pun, tidak banyak yang memberi "gope aja" kepada mereka. Semua penumpang di dalam bus diumpat-umpat dan dikutuk-kutuki. "Ngasih gope aja apa susahnya, sih, ga bikin miskin. Gara-gara lu orang, kita-anak jalanan jadi gila, tau!" Hanya kalimat itu yang saya dengar menggunakan bahasa paling sopan.
Setelah mereka turun, para penumpang terlihat sangat kesal. Hilanglah sudah "damai sejahtera" yang diterima sebelumnya.

Saya langsung berpikir. Memang sih Rp 500 tidak akan membuat kami jatuh miskin. Tapi dalam sepuluh menit saja sudah ada dua kelompok pengamen. Kalau sampai tempat tujuan? Matematika saya berjalan: 5 x Rp 500 = Rp 2.500 -> hitungan setiap naik bus sampai tujuan ada 5 pengamen, hasilnya malah lebih besar dari ongkos tarif bus. Kalau pulang-pergi kerja: 2 x Rp 2.500 = Rp 5.000 -> sudah bisa untuk membeli sebungkus nasi di warteg. Dalam sebulan 20 hari bekerja: 20 x Rp 5.000 = Rp 100.000 -> bukan jumlah yang sedikit untuk karyawan yang berpenghasilan pas-pasan, anak kuliahan, atau pensiunan.

Lalu, kalau kami yang hanya duduk diam saja bisa membuat mereka gila (ajaib juga ya), bagaimana dengan ancaman, makian, dan kata-kata kasar dari mereka? Bisa membuat kami waras, begitu? ;)

Yah, teori saya ini kalau saya sampaikan ke mereka juga rasanya sih tidak mungkin ditanggapi dengan positif. Mungkin akan membuat mereka makin gila, ya? Haha..

Saya berandai-andai, seandainya sikap mereka lebih tenang, memberikan suasana positif bagi kami-para penumpang, bukan tidak mungkin mereka malah bisa menerima hasil lebih, ya? Mereka juga tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengancam, dsb.
Seperti kelompok bapak-bapak yang pertama. Mereka hanya menyanyi dengan sikap "biasa" (walau dengan suara fals..hehe..). Dan, sepertinya mereka tidak menjadi gila karena kami! :p

July 14, 2011

Wejangan Si Bapak

"Jaman sekarang orang susah cari sendiri ya, nak.."

Itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh bapak supir teman saya saat sedang dalam perjalanan mengantar saya pulang. Si bapak tidak banyak bicara. Makanya saya kaget juga waktu mendengar beliau mendadak ngomong seperti itu, tidak tahu kenapa. Saya hanya spontan menjawab sambil tersenyum, "Iya, Pak." Saya tidak menanyakan kenapa beliau tahu-tahu berkata seperti itu. Kami pun tidak melanjutkan pembicaraan.

Tapi selama perjalanan pulang, bahkan sampai detik ini, kalimat si Bapak masih terngiang-ngiang di pikiran saya. Walaupun penasaran apa sebabnya si Bapak sampai bicara begitu, saya tahu bahwa ucapannya itu benar.

Saya ini orangnya moody. Kadang kalau sedang tidak mood mengerjakan sesuatu, saya akan menundanya. Akibatnya, waktu saya berkurang karena (akhirnya) harus mengerjakan pekerjaan yang saya tunda itu. Dan karena waktu saya berkurang (padahal saya harus mengerjakan pekerjaan berikutnya), saya jadi terburu-buru sampai merasa stres kalau ada deadline yang harus dikejar. Kalimat "Susah dicari sendiri" jelas berlaku untuk saya -.-"

Begitu juga waktu saya dan mantan kekasih memutuskan untuk berpisah. Saya yang belum bisa menghilangkan rasa sayang saya kepadanya (bahkan sampai saat ini..huhu..), tidak bisa menerima status "berteman" sehingga saya minta agar dia jangan menghubungi saya lagi. Nyatanya, saya merasa sangat, sangat kehilangan sekarang. Padahal, saya sendiri yang meminta untuk tidak berhubungan sama sekali (walau hanya sebatas teman), tapi saya juga yang merasa keputusan ini "berat." Lagi-lagi, "Susah dicari sendiri.."

Yah, itu hanya dua contoh dari sekian kejadian-kejadian yang merupakan hasil dari "Susah saya cari sendiri" :p
Bagaimana dengan Anda?

"Hukum Alam"

Beberapa hari yang lalu dalam perjalanan pulang ke rumah, saya naik salah satu bus Kopaja yang lewat di depan saya. Hari itu hari Minggu, dan waktunya juga sudah malam, sekitar pukul 19.00 WIB. Bus Kopaja yang saya naiki sepi penumpang. Saya bebas memilih tempat duduk. Tidak heran memang, saingannya banyak. Selain banyaknya bus Kopaja, ada juga beberapa bus lain yang memiliki trayek hampir sama.

Sepuluh menit setelah saya naik, tahu-tahu ada banyak orang yang naik. Alhasil bus yang tadinya sepi mendadak jadi sesak penumpang. Saya agak heran juga, padahal tepat di belakang dan di depan Kopaja yang saya naiki, ada bus yang memiliki trayek yang sama. Beruntung sekali Kopaja yang saya naiki ini, "kebanjiran" penumpang :p

Padahal, saya perhatikan bus-bus itu juga sepi penumpang. Kenapa orang-orang memilih untuk naik Kopaja ini? Saya tidak tahu. Entah hanya kebetulan asal pilih atau ada hal-hal yang mereka pertimbangkan. Yang pasti, keputusan mereka memilih Kopaja saya (yang saya naiki maksudnya..hehe..) menjadi rezeki bagi si pak supir dan keneknya.

Begitu pun dengan keputusan-keputusan lain yang kita buat di dalam hidup kita. Sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak, semua keputusan dan tindakan yang kita lakukan pasti memengaruhi orang lain. Berapa besar porsinya, tidak pasti..

July 5, 2011

(If) I'd Wrote a Song For You

All this time I keep wondering, if I tell you all those words that I left unspoken, what would you say?
Waited for the right time, you have no idea how hard for me to gain all my courage against my fear and pride in saying those things to you. I was never able to be that brave.
But then, it was beyond my expectation, far from what I could imagine. My stupidity had brought me to tears..

I give up, I wish I could.
I'd move on, I wish it's easy.
It hurts, I can feel the pain.

You asked me. Should I tell you what to do?
You break me down. Should I say thank you?

You leave me speechless, breathless.

I didn't lie, I tell the truth.
I thought you'd understand, but you won't even "listen."
My stupidity had brought me to tears..

I cry, cried a river.
This never ending story has finally ended.
It's hard, but I have to let go.
It's sad, but I have to accept.

There's nothing left for me and you.
And who am I to judge you?
Maybe I never really know you.

Making up some fantasies.
Waking up from dreams.
It's about time to stop the tears.

You, whom I love to, broke my heart for the second time..

June 30, 2011

Warna-Warni Perbedaan

Kemarin saya pergi ke Pekan Raya Jakarta (PRJ). Sebagai warga Jakarta yang baik (ehem..), ga afdol dong, ya, kalau tidak menyempatkan diri ke sana ;)

Sebenarnya saya ini tipe orang yang tidak suka keramaian, apalagi kalau harus bersesak-sesakan, berdesakan dengan orang banyak. Yah, tapi karena The Power of "Niat", saya kuatkan diri juga..haha..
Karena saya pergi di hari libur, kebayang kan ramainya seperti apa (fiuh..). Untuk bisa jalan satu meter ke depan saja diperlukan "perjuangan". Bertubrukan, berdesakan. Sesak sekali rasanya.

Di tengah kerumunan orang banyak itu, saya melihat banyak sekali orang-orang yang "unik". Ada yang sibuk melihat-lihat pameran sampai tidak sadar anaknya yang masih kecil di"tabrak" orang, ada yang sempat-sempatnya menyuapi pasangannya sambil berjalan (di kerumunan orang banyak?!), dan ada seorang ibu hamil yang mengenakan pakaian dengan bagian belakang (punggung) terbuka sampai (maaf) kelihatan pakaian dalamnya.

Kalau sejauh mata saya memandang di arena PRJ saja ada begitu banyak ke"unik"an, begitu banyaknya karakter dan sikap orang, apalagi di seluruh dunia, ya? Itu pun baru sebatas sikap dan karakter. Belum ditambah dengan perbedaan suku, agama, ras, dan kultur. Begitu ragamnya manusia penduduk bumi ini.

Kalau bumi bagaikan bola berwana putih polos, maka perbedaan-perbedaan "penghuni"nya adalah pemberi warna. Dan warna-warni yang tercampur di bola putih itu pun sudah pasti hasilnya tidak akan sama rata. Bayangkan warna kuning yang tertimpa warna hitam, atau warna merah yang tertimpa warna coklat. Tapi bisa juga campuran warna lain menghasilkan warna baru yang indah. Yang pasti, gradasi warna-warna tersebut memberi keindahan tersendiri bagi si bola putih.

Manusia memang banyak perbedaan, tidak bisa disamaratakan semua. Namun, menerima dan menyatukan perbedaan itu tidak mudah. Kadang kita berharap orang lain bisa menuruti keinginan kita. Atau kadang kita suka tidak habis pikir dengan sifat orang-orang tertentu yang bagi kita kelewat batas. Tapi di luar itu semua, hal paling mendasar yang harus kita sadari adalah bahwa memang manusia itu tidak mungkin ada yang sama.

Kalau ada lirik lagu cinta yang berkata "kau tak 'kan terganti," saya rasa itu benar adanya. Hanya ada satu diri kita di dunia ini, kan? Tidak mungkin bisa diganti. Walaupun seandainya teknologi menghantar kita pada kreasi kloning, hasilnya tidak akan sama. Tidak ada yang memiliki hati persis sama seperti hati kita. Juga tidak ada orang lain yang memiliki otak dan pemikiran yang sama persis dengan kita. Begitu pun sebaliknya, kita tidak akan pernah bisa "sama" dengan orang lain.

Jadi, ketika kita menghadapi konflik dengan teman, pasangan, atau keluarga, kita harus ingat bahwa setiap orang itu berbeda. Kita harus bisa menyadari dan menerima perbedaan itu. Kalau tidak, (menurut saya) bentuk komunikasi seperti apa pun tidak akan membuahkan hasil kompromi yang tulus..

June 28, 2011

Benci vs Cinta

"Jangan benci sama orang, nanti malah jatuh cinta, lho.."

"Dulu katanya cinta, kok sekarang bisa jadi benci, sih?"

Dua kalimat di atas sering saya dengar sejak dulu. Tapi yang saya tahu, dua hal tersebut–benci jadi cinta dan cinta jadi benci dianggap sebagai bentuk karma/kualat dan sering dijadikan bahan "ejekan" untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta atau patah hati. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan kemungkinan-kemungkinan kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi. Tidak sampai siang tadi.

Saya ini tipe orang yang sangat pemikir. Ditambah dengan kebiasaan saya yang suka merefleksikan segala hal yang saya alami. Segala hal saya pikirkan, dari yang sangat penting sampai yang tidak penting sekali pun. Dan biasanya pikiran saya juga bercabang-cabang, arah pikiran saya bisa sampai ke mana-mana, sehingga kalau dimindmap di selembar kertas mungkin sudah tidak muat lagi :p

Tadi siang, saat saya sedang mencari bahan-bahan untuk tugas pengembangan diri, entah bagaimana caranya saya jadi terhubung dengan pemikiran tentang benci dan cinta tersebut. Hasil dari pemikiran panjang nan ngelantur alias ke mana-mana saya itu berhasil memberikan teori baru bagi diri saya sendiri.

Bagaimana kalau masalah benci jadi cinta dan cinta jadi benci bisa dijelaskan secara ilmiah dan logis, bukan dianggap sebagai karma/kualat belaka?

Saya mencintai seorang pria (satu saja cukup dong, ya? ;p). Dia adalah satu-satunya orang (paling tidak sampai saat ini) yang bisa membuat saya percaya akan yang namanya cinta (karena dulu saya cukup skeptis untuk hal ini). Karena saya mencintai dia, otomatis (sudah merupakan hal yang alamiah rasanya) saya selalu melihat hal-hal yang baik dalam dirinya. Kalau boleh dibilang, saya memujanya. Saya menaruh pengharapan besar pada dirinya. Tetapi ketika akhirnya dia mengecewakan saya, lama-lama saya malah jadi benci padanya. Aneh juga, sih. Tapi memang begitu kenyataannya. Di satu sisi saya mencintai dia, di sisi lain saya merasa sangat kesal padanya.

Di suatu komunitas yang saya ikuti, ada seorang pria yang (sikapnya) mirip sekali dengan orang itu. Setiap kali saya melihatnya, saya selalu teringat akan si dia. Lama-lama saya jadi sebal juga dengan orang ini. Tidak fair memang. Dan karena saya kesal (karena alasan konyol dan kekanak-kanakan) padanya, setiap bertemu, secara reflek saya selalu memerhatikan dia, berusaha mencari-cari keburukannya agar saya mendapat alasan yang lebih "berbobot" untuk membencinya..hehehe.. Tapi semakin lama saya perhatikan, saya justru malah mendapati semakin banyak hal baik tentang dirinya. Dan parahnya, sekarang saya malah jadi mengaguminya! -.-"

Saya jadi berpikir, apa karena saya dari awal sudah terlanjur membenci dia (walau tanpa alasan yang "jelas"), sehingga ketika saya mendapati hal-hal yang (ternyata) baik tentang dirinya, saya jadi merasa itu adalah suatu hal yang "wah" dan berkesan. Sebaliknya, karena saya sudah terlanjur mencintai sang pujaan hati dan menaruh pengharapan besar padanya, ketika saya dikecewakan, rasanya seperti "ditusuk pisau" (lebay ga, sih). Walaupun sah-sah dan wajar saja bila dikecewakan oleh orang lain (namanya juga hidup), tapi rasa kecewanya berlipat ganda karena dari awal saya sudah terlanjur memberi "label" positif plus untuknya. Saya jadi tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia malah mengecewakan saya.

Jadi intinya, ketika perasaan cinta berubah jadi benci dan benci berubah jadi cinta, pastilah bukan karena alasan-alasan yang tidak logis. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang kalau mau diteliti saya yakin akan ada penjelasan ilmiahnya. Entah itu berhubungan dengan bidang psikologis, atau apa pun.

June 12, 2011

Pikirku

Akhir pekan panjang kemarin saya habiskan dengan berlibur ke Bali, sendiri (hanya dua hari pertama saya ditemani seorang teman).

Sesuai rencana, saya ikut salah satu penyedia jasa cruise ke pulau Nusa Lembongan. Setelah bersantap di kapal, saya merasa sangat mual hingga akhirnya muntah di toilet. Setelah muntah pun saya tidak merasa lebih baik. Bukan mabok kapal penyebabnya (karena saya memang tidak punya sejarah mabok kapal). Sepertinya saya masuk angin :D

Ketika sampai di tujuan, saya masih merasa sangat mual dan akhirnya memutuskan untuk tidak bermain air (snorkeling, banana boat, dll) dulu, melainkan ikut kunjungan ke desa sesi pertama. Rasanya sayang juga kalau saya keluar uang hanya untuk istirahat duduk-duduk saja kan ya..hehe..

Sampai di desa, kami diajak keliling menggunakan mobil (mirip angkot) terbuka. Dalam satu mobil itu ada sekitar 15 orang (termasuk saya). Dan yang duduk di depan saya (karena bangkunya kan berhadapan gitu ya) adalah sekelompok ABG dengan ciri khas mereka: heboh! Percakapan mereka yang "membahana" itu membuat saya merasa tambah pusing. Dalam hati saya sudah ngedumel, berisik banget sih nih cewek-cewek ABG, bikin orang tambah pusing aja. Sepertinya sih saya tidak sengaja sampai melotot ke arah mereka :p

Setelah berkeliling desa selama +/- 30 menit, kami menunggu perahu jemputan di tepi pantai. Saya yang sudah merasa lebih baik (setelah dikasih minyak angin oleh penduduk setempat-di warung tidak ada yang menjual obat masuk angin, coba ya?) memanfaatkan waktu menunggu dengan memoto-moto pantai dan pemandangan sekitar. Sedangkan para ABG itu sedang berfoto narsis ria di depan saya (tentu saja masih dengan kehebohan mereka).

Di tengah aktivitas memoto kami yang berbeda itu (mereka foto narsis, saya foto pemandangan), salah satu dari mereka mendekati saya dan menawarkan apakah saya mau dibantu fotoin (berhubung saya cuma sendirian). Akhirnya dengan pertimbangan "lumayan buat kenang-kenangan dari sini", saya mengiyakan, "boleh, minta tolong ya."

Setelah itu mereka terus mengajak saya ngrobol dengan campuran bahasa Jawa (karena mereka orang Surabaya), dari bertanya kenapa saya pergi sendiri, dari kapan, dll, dsb. Untungnya saya lumayan mengerti bahasa Jawa karena dulu memang pernah tinggal di Jawa, jadi bahasa campuran mereka itu bisa saya mengerti. Haha..

Ujung-ujungnya kami berkenalan, makan siang bersama, dan mengobrol. Sampai menit-menit terakhir saat saya berbaris di antrian terakhir banana boat dan disuruh batal oleh petugas karena sudah waktunya kembali ke darat, malah mereka yang "memaksa" petugas untuk membiarkan saya tetap mengantri agar bisa mencoba banana boat.

Lucu juga, saya yang awalnya merasa terganggu dengan kehebohan mereka malah jadi banyak dibantu dan terhibur. Walaupun saya tetap merasa mereka "heboh", tapi saya sudah tidak merasa kesal seperti sebelumnya.

Rasanya pepatah "Jangan menilai buku dari sampulnya" itu tidak pernah basi. Seringkali saya menilai orang dari penampilan, gaya, dan sikap mereka tanpa peduli untuk mengenal mereka lebih jauh. Padahal, jika saya mau sedikit mengabaikan pendapat saya (yang kadang terlalu skeptis dan sarkastis), pasti saya akan menemukan (paling tidak) satu hal baik dari mereka.

Tidak ada manusia yang sempurna. Benar, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada dasarnya semua manusia itu sama statusnya: manusia ciptaan Tuhan. Kita semua memiliki hak yang sama (kalau saja manusia tidak menciptakan status-status sosial, dll). Sejelek-jeleknya seseorang, yang mungkin sampai membuat kita berpikir kok ada ya orang kayak gini? pasti memiliki sedikitnya satu hal baik dalam diri mereka. Sama seperti sesempurnanya kita, pasti ada sedikitnya satu hal yang kurang/jelek dalam diri kita.

Karena itu, saya harus mencoba untuk tidak menilai dan mencela orang seenaknya. Toh, saya sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang saya cela itu. When you try to find, you will find the good side of every person and every situation. Jadi, daripada saya repot-repot memikirkan keburukan-keburukan orang, mungkin akan lebih berguna (bahkan menarik) kalau saya bisa berusaha mencari kebaikan-kebaikan di balik (yang menurut saya merupakan) keburukan mereka. ;)

June 10, 2011

Cerita Cinta Tak Bernada

Memikirkanmu, memimpikanmu. Ku tersadar dari tidur lelapku, bangun dari khayalan indahku.
Manisnya cinta ternyata tak nyata. Mesranya kita yang hanya anganku saja.
Berharap, lelah.. Berhenti, ragu..

Benci kepada hati terus menanti tak pernah pasti..
Sedih karena luka dirasa perih mempertahankan benih,
benih cinta tertanam tak bisa dituai..

Ketika hasrat terpendam, hatiku kelam.
Di ujung lembah kutemukan kecewa.
Di dasarnya tersisa duka.

Perasaan yang tersimpan mencari dia tuk didengar.
Kegelapan mencari terang tuk keluar.
Kejelasan mencari cara tuk bertengkar.

Cerita cinta tak bernada, suara pun tersimpan di rongga dada..

My Wishful Thinking

I went to Bali last weekend. The trip was supposed to be a solo trip (just me, alone), before one of my friend requested to join me. I planned this trip from like months ago, and was so excited about it. I had in mind all the exciting things I'd do alone, and how I finally will have the chance to express myself freely with no hesitation, no limit, because I'll be all by myself. And it's Bali anyway! I mean, come on, who cares about you while you're in Bali? They won't give a damn hell (oops..). Especially if you're a tourist, right?

Well, but it didn't really work out as planned, since my friend was joining me on the first and second day of my trip. And since he (yes, he, my friend was a guy) is not a close friend of mine, it kinda makes my trip was even "harder". Though we had a deal that if he wants to join me, he'll follow things my way, but I still didn't enjoy the trip as much as when I was (finally) alone on the rest of the days I spent in Bali. But I tried to enjoy my days with him even though he was quite ruin my mood at times :p

Anyways, I do learn something from this experience. I know that in life, we don't always get what we want, things didn't always work out as we expected. So that's why we can't be too perfectionist or idealist as a person. But in fact, if we try to see the good side of every unfortunate event, we needn't feel too depressed about it. For everything happens for a reason. Maybe we couldn't understand the "reason" at the moment, but (I believe) we will someday. Life is about learning. Every struggles and failure, all the ups and downs are lessons to learn that will make us a better person and bring us to a better life.

It's good to try to see things from different ways..

Colors of Earth in Bali








May 28, 2011

Ketika Kupercaya

Minggu lalu saya mengajak ayah saya pergi ke suatu mal di daerah selatan untuk merayakan ulang tahunnya. Dalam perjalanan (yang lumayan jauh itu), saya merasa deg-degan. Kenapa? Karena gaya menyetir ayah saya yang seperti pembalap! Tapi walaupun saya merasa deg-degan, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa pada kami. Saya percaya walaupun gaya menyetirnya "ohseram", keselamatan saya "aman". Haha..

Saya jadi ingat pada dua teman saya. Yang satu sering pergi bersama saya saat weekend, dan setiap kali dia selalu mengomentari saya yang sedang menyetir: "awas" atau "hati-hati". Sedang teman saya yang satu lagi (hampir setiap hari pulang bersama saya) hanya pernah berkomentar satu kali, "gaya nyetir lu emang kayak naik bom-bom car ya?"

Mungkin teman saya yang pertama kurang percaya pada gaya menyetir saya yang membuat dia "ketakutan", sedangkan teman saya yang kedua (entah karena sudah terbiasa atau bagaimana) memiliki kepercayaan pada saya, sehingga dia menikmati saja naik "bom-bom car" saya :p

Dari kejadian ini saya merefleksikan bahwa kepercayaan itu sangatlah penting dalam suatu hubungan. Entah kepercayaan dalam hubungan pertemanan, keluarga, atau pun dengan pasangan. Saya ingat betapa dulu saya percaya 100% pada mantan kekasih saya, tapi karena suatu hal, kepercayaan saya mulai luntur. Kepercayaan diri saya pun ikut menghilang. Dan sejak saya kehilangan dua kepercayaan itu, everything seems so wrong in our relationship.

Dalam kasus dua teman saya tadi, saya jadi merasa was-was menyetir setiap kali pergi dengan teman yang pertama. Karena kekurangpercayaannya itu, saya jadi merasa kurang nyaman dan selalu berhati-hati (ekstra) karena "takut" dikomentari. Sedangkan setiap kali pulang bersama teman saya yang kedua, saya merasa nyaman dan tetap berhati-hati tentunya. Tapi kehati-hatian saya lebih kepada "tanggung jawab" atas kepercayaan yang sudah diberikan teman saya kepada saya.

Walaupun saya deg-degan juga waktu pergi dengan ayah saya, tapi saya yakin sepenuh hati bahwa saya "aman". Seperti dalam hubungan percintaan, pasti ada yang namanya bumbu-bumbu cinta, entah cemburu, takut kehilangan, dsb. Tapi jangan sampai semua itu menghilangkan kepercayaan kita.

Begitu pun dalam hubungan keluarga dan pekerjaan. Kepercayaan yang diberikan atasan memotivasi saya untuk bekerja sebaik mungkin. Karena saya menghargai kepercayaan yang dia berikan kepada saya. I don't want to let him down. Sedangkan kepercayaan yang diberikan orang tua kepada saya juga sangat saya hargai. Walaupun saya tidak diberi jam malam, tapi saya selalu berusaha menjaga diri saya dengan baik. Dan saya selalu berusaha jujur pada mereka ke mana pun saya pergi dan apa pun yang saya lakukan.

Memberikan kepercayaan itu tidak mudah. Jadi, ketika kita menerima kepercayaan dari seseorang, patutlah kita hargai.

So, have a little faith in yourself and in the ones you love, Ladies.. Thus, everything will seems to be better :)

April 18, 2011

Mudaku Kini Tuaku Nanti

Dua minggu yang lalu setelah pulang dari perjalanan singkat ke luar kota, saya kehabisan tenaga untuk mencuci tumpukan baju kotor, lalu memutuskan untuk menggunakan jasa laundry kiloan saja. Ketika tiba hari yang dijanjikan, saya pun pergi mengambil pakaian-pakaian yang sudah selesai dilaundry. Siang itu hari minggu yang cerah, dan saya baru saja selesai menghadiri acara mingguan dengan penampilan yang cantik nan anggun (ehem..).

Saat saya sudah bersiap menuju ke mobil, si tante pemilik memulai pembicaraan ringan dengan saya, "Kamu tinggal di mana?" Pertanyaan 'basa-basi' itu berujung pada obrolan yang berlangsung sekitar 20 menit lamanya. Si tante tidak henti-hentinya mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada saya, dan saya juga merasa sungkan untuk menyudahi pembicaraan kami. Beliau juga menceritakan berbagai hal tentang dirinya dan keluarganya dengan ceria dan penuh semangat. Di bawah teriknya matahari saya berdiri dengan kostum bak ingin ke pesta sambil memeluk pakaian hasil laundry seberat 5kg.

Ada hal yang begitu menarik simpati saya. Si tante yang sudah berumur 65 tahun tapi kelihatan masih sangat sehat dan muda itu mengatakan pada saya, "Minggu depan kamu datang lagi ya, ga laundry juga ga apa-apa, datang aja." Kalimat itu diulang-ulang hingga beberapa kali sampai akhir obrolan kami. Saya tidak menanyakan maksud perkataannya itu, tapi saya berasumsi dalam hati, maksudnya adalah, minggu depan datang lagi temani saya ngobrol ya. Entah kenapa saya dapat merasakan kesepian yang dirasakan beliau.

Dalam perjalanan pulang saya terus teringat akan si tante dan pembicaraan kami. Banyak hal yang terlintas di pikiran saya. Proses dari muda menjadi tua itu adalah suatu hal yang sudah pasti terjadi. Saat kita masih anak-anak, kita 'bergantung' pada orang tua yang membesarkan kita. Di saat muda, perbedaan pola pikir yang berujung pada perbedaan pendapat tidak jarang menimbulkan perselisihan dan membuat jarak di antara kita dan orang tua. Ketika kita masuk ke tahap hidup yang selanjutnya (menikah), mungkin kita akan 'minta tolong' menitipkan anak kita pada orang tua. Pada masa ini, ada dua kemungkinan, orang tua terhibur dan senang mengurus cucu; atau sebaliknya, mereka merasa sudah terlalu tua dan lemah untuk menjaga cucu.

 Lepas dari hal menjaga atau mengurusi cucu, orang tua yang sudah lanjut usia secara fisik maupun psikologis sudah tentu berbeda dengan orang muda. Terkadang mereka perlu dibantu dalam mengerjakan sesuatu, bahkan untuk hal kecil seperti mengangkat barang (yang sedikit berat) sekalipun. Dan mereka juga menjadi sangat sensitif secara emosional.

Pada masa pensiun, mereka mungkin hanya mengharapkan perhatian dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat. Tapi kita (sebagai anak) belum tentu bisa memenuhi keinginan mereka. Kita juga punya 'kehidupan sendiri', bersosialisasi, mengejar karier, mengurusi rumah tangga, dll, dsb. Dan seiring waktu berjalan, kita pun menjadi tua, menempati posisi mereka (orang tua kita) dan akhirnya bisa merasakan perasaan mereka yang mungkin tidak dapat kita pahami saat kita masih muda seperti sekarang. Istilah "Don't judge a book by it's cover" bagi saya memiliki arti tersendiri. Kita tidak bisa menilai orang pada suatu keadaan sesuai pemikiran kita saja, karena kita tidak mengalami sendiri. Mungkin kita baru dapat memahami jika kita berada di posisi mereka?

Kemarin saya menonton film serial dan mendapatkan suatu pepatah Cina mengatakan, "Orang tua merawat kita selama lebih dari 10 tahun, tetapi kita belum tentu punya kesempatan merawat mereka selama 10 tahun." Apa yang terbaik yang sanggup kita lakukan untuk orang tua kita, lakukanlah. Walaupun terkadang kita tidak memahami, tidak bisa menerima sikap dan kelakuan mereka, suatu saat ketika kita menjadi tua nanti, kita pasti akan mengerti :)

Captured in Yogyakarta






March 7, 2011

Lupa, Tidak Ingat, atau..

Saya adalah seorang yang sangat pelupa. Dari hal-hal sepele seperti lupa menaruh barang di mana, hingga hal-hal penting seperti melupakan janji temu dengan seseorang. Tetapi anehnya, terkadang saya malah suka mengingat hal-hal yang "nggak penting". Pernah dalam satu hari, saya berkendara di jalan dan menemukan beberapa mobil di beberapa daerah dengan satu kesamaan nomor plat, yaitu diakhiri huruf BFK. Saya ingat! Padahal, untuk melakukan aktivitas harian saja saya perlu mencatat dengan jelas kegiatan-kegiatan yang perlu saya lakukan, janji temu yang perlu saya hadiri, dsb.

Beberapa hari yang lalu dalam suatu sesi pengembangan diri yang saya ikuti, ada satu kalimat dari si pembicara yang menarik untuk menjadi bahan refleksi bagi saya, "Kadang-kadang kita suka hilang kesadaran." Selanjutnya dijelaskan bahwa maksud dari kalimat tersebut, adalah, kita kurang aware akan hal-hal yang sedang kita lakukan, di mana kita berada, apa yang kita ucapkan, dan apa yang ada di sekeliling kita. Bisa karena kita sedang melamun memikirkan sesuatu pada saat yang bersamaan, atau sedang tidak fokus karena satu dan lain hal.

Menurut saya hal itu mungkin saja. Selama ini saya beranggapan bahwa memang daya ingat saya yang lemah. Tetapi bisa jadi permasalahan saya bukan terletak pada kemampuan otak saya dalam mengingat, tapi ketidaksadaran saya saat melakukan sesuatu. Mungkin saya sedang memikirkan hal lain saat teman saya berbicara, sehingga perkataan yang disampaikan hanya sambil lalu-masuk kuping kanan keluar kuping kiri dan tidak terekam dalam memori otak saya. Hasilnya, saya sebut: 'lupa' ;)

Dalam buku The 5 Love Languages karangan Gary Chapman yang saya baca, ada suatu pernyataan yang saya kutip, "Quality time is giving someone your undivided attention." Kalau menyambung kalimat ini dengan "kesadaran" dan "lupa", rasanya semua masuk akal. Misalnya, ketika saya sedang menghabiskan waktu bersama dengan teman atau rekan kerja, tapi saya "tidak sadar", melamun memikirkan hal lain sambil mendengarkan pembicaraan teman saya, mungkin saja saya bisa menanggapi, tapi apakah saya akan "menyimpan" pembicaraan kami atau tidak, hmm... itu yang tidak pasti ;)
Di saat pertemuan berikutnya, bisa jadi saya sudah "lupa" pembicaraan kami yang terakhir, dan teman saya akan mengomentari ketidakperhatian saya terhadapnya, yang mungkin sudah sering terjadi sebelumnya.

Hal yang lebih umum lagi, di jaman yang semakin modern ini, ketika teknologi dibuat untuk mempermudah aktivitas manusia, (di antaranya, smart phone) malah membuat kita lebih sering tidak "sadar" akan sekeliling. Saya pernah mengalami, menghabiskan waktu dengan teman saya yang (memang sih) mendengarkan saya bicara, sembari sibuk mengutak-atik smart phonenya. Walau dia merespon, tapi saya merasa dia tidak sepenuhnya "sadar" akan apa yang saya bicarakan, karena dia terlalu sibuk dengan ke"autis"annya bermain HP. Pada pertemuan berikutnya, saat saya membahas topik yang pernah saya bahas waktu itu, teman saya hanya keheranan seakan tidak pernah tahu akan hal tersebut, dan akhirnya hanya menjawab dengan kata yang paling praktis, "Gue lupa." Dalam hati saya berkata, u did hear what i was saying back then, but you were not listening, that's why now you say you forgot!

Ya, "lupa" memang satu kata yang paling praktis diucapkan walau sulit dipertanggungjawabkan. Kalau memang benar lupa, ya, apa boleh buat. Tapi kalau terlalu sering "lupa" karena kita kurang "sadar", bagaimana ya..?

February 18, 2011

Duh..

Kemarin saya mengendarai sepeda motor ke suatu mal di daerah Jakarta Barat. Ketika saya hendak keluar parkiran, saya baru sadar bahwa saya lupa membawa STNK kendaraan saya. Tapi karena hal seperti ini pernah terjadi beberapa kali sebelumnya, maka saya menganggap enteng persoalan. Tapi nyatanya, tidak! Saat sampai di bagian pemeriksaan kendaraan dan saya tidak bisa menunjukkan STNK kendaraan, saya tidak diperbolehkan keluar dari parkiran.

Yakin bisa keluar dengan meminta pengertian dari para petugas parkir, saya pun mencoba menjelaskan panjang lebar dan meminta agar saya diperbolehkan keluar dari parkiran dengan mencocokkan gambar hasil kamera saat pengambilan karcis masuk. Tapi berusaha bagaimanapun, mereka tetap tidak memperbolehkan saya keluar dari parkiran.

Si petugas parkir memberikan solusi: saya pulang ke rumah naik angkutan umum untuk mengambil STNKnya atau minta tolong orang rumah untuk mengantar ke mal. Karena tidak mau repot dan saya sedang terburu-buru karena ada kegiatan dalam 45 menit ke depan, saya menolak dengan berbagai alasan dan bersikeras ingin diperbolehkan keluar hanya dengan mencocokkan gambar hasil kamera otomatis.

Kemudian si petugas parkir memanggil atasannya-pengawas penanggung jawab pada hari itu untuk menemui saya. Dan solusi terakhir yang diberikan oleh si pengawas, yaitu, menyuruh orang rumah saya melihat nomor rangka mesin motor di STNK dan mengSMSkannya ke saya. Solusi itu pun masih saya tolak dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Pada akhirnya argumentasi saya tidak menghasilkan apa-apa. Yang ada saya malah menghabiskan total waktu dua jam di parkiran dengan perasaan kesal, malu, sedih, kecewa, dan marah. Bosan dan capek 'bengong' berpikir sedemikian lama, saya memutuskan mengambil opsi terakhir yang disarankan si pengawas. Setelah dioper kesana-kemari dan melalui beberapa proses yang cukup lama, saya diperbolehkan keluar parkiran.
Alhasil, saya terlambat (hampir dua jam) mengikuti kegiatan yang sudah saya rencanakan sebelumnya.

Malam harinya menjelang waktu tidur, ketika emosi saya sudah mereda, saya mulai merenungkan kejadian tersebut. Sebenarnya saya tidak perlu menghabiskan waktu sekian lama kalau saja dari awal saya tidak menganggap enteng dan langsung (mau) melakukan solusi yang diberikan. Tentunya emosi saya juga tidak akan sampai memuncak.

Cukup sering hal-hal kecil semacam itu terjadi. Karena saya suka menganggap enteng, ingin praktis dan 'maksa' menyelesaikan suatu hal dengan cara saya sendiri, malah membuahkan perasaan emosi yang berlebihan. Padahal, jika saya bisa mendinginkan kepala, berpikir jernih dan tidak memaksakan kehendak, segala sesuatunya pasti akan terselesaikan dengan cara yang lebih baik..

February 2, 2011

Payahsangka (jangan berpikir hanya dari satu sisi saja)

Saya berlangganan koran harian yang diantar setiap pagi. Si pengantar koran biasanya menyelipkan koran di gagang pintu depan rumah saya. Tetapi dalam beberapa hari terakhir koran hanya dilempar ke beranda rumah dan menjadi basah ketika hujan turun.
Dua hari yang lalu, saya sengaja bangun lebih pagi dengan niat menunggu si pengantar koran untuk memberitahunya agar koran saya jangan dilempar lagi. Tapi ditunggu sampai siang pun si pengantar koran tak kunjung datang. Dengan perasaan kesal saya langsung berprasangka dalam hati, dasar tuh tukang koran makin hari makin malas kerjanya, keterlaluan.

Pikiran negatif itu tentunya bukan tanpa alasan. Tapi juga tidak bisa saya jadikan 'alasan' untuk dengan mudah dan cepat berprasangka buruk.

Menjelang sore hari (saat saya sudah tidak menunggu lagi), si pengantar koran datang membawa koran saya dengan luka-luka di sekujur tubuh. Dia mengetuk pintu, kemudian memberikan koran tersebut dan menjelaskan bahwa korannya terlambat diantar karena tadi pagi dia mengalami kecelakaan motor di jalan. Saya merasa bersalah karena telah berprasangka yang tidak-tidak. Namun saya tetap memberitahunya untuk tidak lagi melempar koran ke beranda rumah saya, terutama karena cuaca yang tidak menentu belakangan ini. Si pengantar koran pun meminta maaf dengan ramah dan meyakinkan saya bahwa selanjutnya koran tidak akan dia lempar lagi.

Bukan hanya sekali ini saja saya berprasangka buruk akan orang lain karena suatu hal. Lumayan sering saya berpikiran negatif dalam menghadapi hal-hal yang mungkin sebenarnya sepele, tapi me'mancing' hingga menjadi suatu 'masalah'. Menjadi 'masalah' apabila saya mempermasalahkan hal-hal kecil yang terjadi, mengeluhkannya, lalu berprasangka buruk tanpa memandang dari sudut positif.

Seandainya saya tidak "keburu" berpikiran negatif, tentunya saya tidak akan mempermasalahkan perihal koran tersebut. Dan pasti tidak akan menuduh yang bukan-bukan. Saya bisa tetap menunggu si tukang koran dengan tenang, menjelaskan padanya mengenai koran-koran saya yang basah sebelumnya, tidak perlu merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk, dan semuanya pun selesai tanpa ada 'masalah' bukan? ;)

January 20, 2011

If I Could I Would or If I Would I Could

I have this tendency of wanting so many things and wondering of too many 'if's. Like "If I had time, I would do it (something) more often." But the fact, when I finally have more time, I didn't do what I wondered I would do. And it happens quite many times, actually. Not only for things-to-do, but also applies for things-I-want.

I keep telling myself, "If I could, I would....," but I should have told myself, "If I would, I could." I can't keep wondering of too many 'if's when I don't take any actions of changing the 'if's to become a reality. I should have tried at the first place, instead of do nothing but wondering, indeed.

I guess, when I say "If I could I would," I'm just trying to make excuses for not being brave enough to try something that "If I would I could" ;-)

January 5, 2011

Semua Baik

Selamat Tahun Baru!
Rasanya sedikit terlambat untuk ucapan tahun baru ya? Hehe.. Sebenarnya saya sudah merencanakan untuk menyapa kalian sebelum pergantian tahun kemarin. Tapi apa dikata, manusia hanya bisa berencana. Tepat menjelang detik-detik pergantian tahun saya malah jatuh sakit, 'mengunjungi' IGD rumah sakit tengah malam, kembali ke rumah saat subuh dan berbaring seharian tidak berdaya di atas kasur hingga keesokan harinya sambil mendengar suara meriahnya letusan kembang api tanpa bisa menyaksikan keindahannya.

Hari pertama di tahun 2011 saya diawali dengan menjalani operasi usus buntu kronis. Hari kedua, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan dua selang infus di tangan kiri, berusaha mengembalikan kesadaran sambil menahan sakit. Hari ketiga pun saya masih memandangi dinding putih kamar rumah sakit dan dua botol infus berwarna kuning dan putih bening yang masih menggantung.

Banyak yang mengatakan kepada saya, "Kasihan banget sih sakitnya pas tahun baru." Well, memang ada banyak 'kebetulan' yang terjadi, dari kenapa saya harus jatuh sakit saat pergantian tahun, saat keluarga saya sedang bepergian keluar negeri sehingga saya hanya ditemani pembantu-yang kebetulan dititipkan di rumah saya, hingga kebetulan-kebetulan lainnya yang akan saya ceritakan berikut.

Detik-detik menunggu waktu operasi, dengan sisa-sisa tenaga saya mengupdate status di Facebook, YM, dan BBM yang menerangkan bahwa saya sedang dirawat di rumah sakit dengan tujuan agar semua yang telah mengirimkan ucapan selamat tahun baru kepada saya dari hari sebelumnya dapat mengerti bilamana saya tidak membalas ucapan mereka satu per satu (seperti yang selalu saya lakukan). Tapi ternyata status saya malah 'mengundang' lebih banyak perhatian karena justru semakin banyak pesan-pesan yang saya terima, menanyakan kondisi saya.

Pada hari kedua, dalam kondisi sadar tak sadar efek obat bius, menahan sakit dari bekas operasi dan lemasnya tubuh yang hanya disupply suntikan selang infus, akhirnya saya berusaha membalas pesan-pesan dari teman-teman yang sudah sangat baik menunjukkan perhatian mereka pada saya. Tapi ya, saya hanya bisa membalas dengan jawaban sesingkat-padat-jelas mungkin: usus buntu, thx ya.

Pada hari ketiga saya sudah mendapat estimasi total biaya perawatan sebesar (lebih kurang) 25 juta. Ini yang membawa saya pada beberapa permenungan.
Untung sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah mendaftarkan diri pada salah satu penyedia jasa asuransi kesehatan. Dan 'untung', saya sakitnya sekarang, saat biaya rumah sakit dapat ditanggung pihak asuransi dan status saya sekarang yang unemployed (kalau tidak saya bisa merasa semakin tidak enak dengan mantan bos saya karena terlalu sering absen dengan alasan sakit, dsb).
Untung juga walaupun usus buntu saya sudah kronis, tapi tidak sempat pecah.
Lagipula karena kejadian sakit kali ini, saya jadi dapat bertemu dan berhubungan dengan beberapa teman lama (lama sekali). Saya juga jadi tahu siapa saja yang ternyata peduli dan tidak peduli pada saya.
Untuk ukuran seorang saya-yang biasanya cenderung berpikir negatif, pada kejadian kali ini justru saya banyak mengambil hikmah. Saya sempat membuat satu kalimat di tengah-tengah permenungan saya, "Selalu ada hal baik di balik setiap perkara."

Pada hari keempat saya diperbolehkan pulang oleh dokter yang menangani saya. Saat dia datang untuk mengontrol keadaan saya, tepat saat saya baru keluar dari toilet. Komentar pertamanya, "Kok kamu jalan masih menggok-menggok gitu, lurus dong. Udah ga sakit kan?" "Masih, dok," jawab saya singkat. "Lho, biasa orang lain udah ga sakit." "Ya, sayangnya saya bukan orang lain dok, saya ya saya. Kalau bisa juga maunya udah ga sakit", batin saya.

Anyway, bagaimanapun akhirnya saya tetap pulang ke rumah. Persoalan baru yang harus saya hadapi, saya belum boleh naik-turun tangga sementara rumah saya dua lantai. Sedihnya lagi, saya harus menjalani proses pemulihan di rumah dengan hanya ditemani pembantu titipan (catat, bukan pembantu saya). Padahal kan orang sakit butuh kasih sayang (terutama saya yang memang sifatnya manja), ya ;-p

Tapi saya senang karena ada dua teman saya yang begitu niat menunjukkan perhatian mereka, datang jauh-jauh malam-malam untuk menjenguk saya ke rumah dan menghibur sampai saya harus menahan tawa agar bekas operasinya tidak robek.

Dan hari ini, di hari kelima, bosan istirahat dan mendekam di kamar (membuat saya merasa semakin sakit, useless bahkan brainless), saya memutuskan untuk menghabiskan hari saya di depan laptop, menonton dvd diselingi istirahat setiap 30 menit sebelum akhirnya mengerahkan tenaga untuk menulis blog yang rasanya paling panjang (dan paling "curcol") dibandingkan tulisan saya yang lain ini ;-)