Kemarin saya merayakan hari kasih sayang bersama dengan ibu saya di sebuah mal. Hal pertama yang kami lakukan begitu sampai adalah makan kecil di sebuah restoran menu barat. Saat saya mau minta bill, ibu saya buru-buru berdiri dan langsung menuju ke kasir supaya beliau bisa bayar. Reaksi pertama saya adalah mengomentari ibu saya "Mama jangan malu-maluin dong." Saya langsung menyesali perkataan saya tersebut. Niat baik ibu saya mau membayar malah saya balas dengan perkataan yang dilandasi gengsi seperti itu. Setelah itu saya langsung minta maaf ke beliau dan menyampaikan bahwa maksud saya hanya ingin membayar. Tapi sesudah minta maaf pun hati saya masih tidak tenang, dipenuhi rasa bersalah.
Dewasa ini hidup kita bagai sebuah panggung sandiwara. Kita menampilkan sisi kita ke dunia seperti yang mereka inginkan saja. Kenapa bayar langsung di kasir di rumah makan sederhana tidak memalukan, tapi di restoran atau kafe ternama memalukan? Karena lingkungan membuat 'peraturan' seperti itu. Jadi kita pun mengikuti apa yang "seharusnya" di mata dunia, bukan yang "sebaiknya" dan "sebenarnya". Memberi tips tidak lagi seikhlasnya, tapi sewajarnya sesuai rata-rata pemberian tips orang pada umumnya. Daftar belanja tidak lagi berdasarkan kebutuhan, tapi semata hanya untuk bersanding dengan kedudukan sosial. Niat baik tidak lagi didasari ketulusan, melainkan keharusan, kewajiban dan kemunafikan. Tidak lelah kah kita hidup di dunia yang fana ini terus berkompetisi untuk menjadi "manusia" ala dunia?
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
February 15, 2016
January 27, 2016
Rasa dan Asa
Sering kali saya baru menyadari betapa berharganya sesuatu saat saya kehilangan sesuatu itu. Setiap hari saya lalui dengan keluhan. Dari masalah pekerjaan, kesehatan, hubungan dengan teman dan keluarga, kisah percintaan, kondisi finansial, dsb. Hidup saya pun terasa tidak bahagia dan sangat melelahkan. Rasanya semua perjuangan saya sia-sia, menjalani rutinitas tanpa hasil. Padahal kalau mau saya telusuri kembali, saya bukannya tidak mencapai hasil apa-apa. Malahan, pencapaian saya terus beranjak. Kondisi fisik saya lebih kuat. Pekerjaan saya lebih baik dari segi pendapatan, yang secara tidak langsung memengaruhi kondisi finansial saya juga. Saya mencintai orang yang mencintai saya. Keluarga dan teman-teman saya pun tetap ada bagi saya. Tapi kapankah terakhir saya berhenti sejenak untuk berpikir, betap beruntungnya saya, betapa bersyukurnya saya dengan kehidupan yang saya miliki? Jujur, saya tidak ingat. Mungkin sudah lama sekali, atau tidak pernah sama sekali.
Ketika sakit, saya mengeluh. Ketika sehat, saya tidak bersyukur.
Ketika menganggur, saya mengeluh. Ketika bekerja, saya tidak bersyukur.
Ketika ada masalah, saya mengeluh. Ketika semua berjalan baik, saya tidak bersyukur.
Jadi, ketika saya tidak bahagia, salahkan siapa? Saya.
Ketika sakit, saya mengeluh. Ketika sehat, saya tidak bersyukur.
Ketika menganggur, saya mengeluh. Ketika bekerja, saya tidak bersyukur.
Ketika ada masalah, saya mengeluh. Ketika semua berjalan baik, saya tidak bersyukur.
Jadi, ketika saya tidak bahagia, salahkan siapa? Saya.
December 14, 2015
Berubahnya Aku
Hari ini saya reuni kecil-kecilan dengan teman-teman semasa kuliah. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan banyak hal terjadi dan berubah. Teman yang dari dulu dianggap "bontot" sekarang sudah menikah. Obrolan "anak muda" berubah jadi "pembicaraan dewasa." Dan, walaupun karakter kami tetap, penampilan dan perhatian kami sudah jauh berbeda.
Di tengah-tengah pembicaraan saya mendapati diri saya beberapa kali termenung melamun jauh...berpikir bagaimana kehidupan sosial membentuk diri kita, gaya hidup kita, "layak"nya kita. Rasanya memamerkan keberhasilan dan pencapaian menjadi sesuatu yang bukan dibanggakan, tapi hanya sekedar kesombongan dan eksistensi diri. Pakaian dan aksesoris hanya menjadi bahan presentasi diri.
Apakah begini adanya ataukah "seharusnya"? Jati diri tertutup citra diri. Perasaan dipengaruhi pendapat orang. Keinginan dilandasi kepopuleran. Nilai orang didasari pencapaian. Indahnya hidup terganti dengan keindahan duniawi.
Ketika semua orang 'berlomba' mendapat 'tempat' di kehidupan sosial, 'hidup' kah dia? Atau hanya sekedar 'menjalani' hidup?
August 4, 2015
Sakit
Tangisan ini untuk siapa
Tangisan ini berapa lama
Tangisan ini untuk apa
Hati bersedih untuk siapa
Perjuangan ini berapa lama
Sesak di dada karena apa
Sadarkan diri jangan bermimpi
Luka di hati tak kan terganti
June 7, 2015
Dia
Menjelang tengah malam kutermenung.
Kekecewaan yang tak berujung.
Dia yang tersimpan dalam hati.
Bagaimanakah supaya kau mengerti?
Sakitnya diri ini tiada henti.
Masa lalu sudahkah tak berarti?
Menangis....lelah.
Bermimpi.....indah.
Jeritan hati tak terjawab.
Ucap di bibir janganlah diharap.
07.06.15,
May 27, 2015
Cinta
Kutakut akan malam. Sunyinya hati mengantar mimpi kepadamu.
Kutakut akan esok pagi. Tiada hari kulewati tanpa memikirkanmu.
Kutakut mencintai. Lemahnya hati sakiti aku dan dirimu.
Kutakut dicintai. Tiada henti kuingin milikimu.
Cinta,
Aku di sini. Selalu di sini.
Kau jauh di sana. Entah di mana.
Cinta,
Mimpi indah kemarin jangan bangunkan aku.
Mimpi buruk hari ini biarlah berlalu.
Cinta,
Berakhirkah kita?
-LL-
March 29, 2015
Emosi
Saya ini tipe orang yang susah move on. Bisa dibilang, sulit menerima kenyataan. Sering sekali saya mengambil suatu keputusan yang didasari emosi atau keinginan sesaat, untuk kemudian disesali. Pun begitu, saya percaya segala sesuatu sudah ada jalannya. Hal-hal yang saya sesali saat ini, pasti suatu hari nanti akan saya syukuri. Segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan. Kalau saya melihat ke belakang sekarang dan merenungi perjuangan hidup saya, banyak hal yang dulu rasanya sulit dihadapi, sekarang berbuah manis. Karena itu, sesulit apa pun masalah yang saya hadapi sekarang, kelak pasti akan saya syukuri hikmahnya.
Seorang teman pernah mengatakan, "This too shall past." Walau berat, pasti akan kita lewati!
December 5, 2014
Di Antara Dua
Ia bermimpi..
Bayangan padang rumput yang hijau. Mentari bersinar indah. Semilir angin sejukkan jiwa.
Tiba-tiba pandangannya berubah. Ia melihat seorang anak kecil berlari. Berlari dan berlari dengan kencangnya. Terlihat wajahnya berpeluh keringat. Namun ketika ia perhatikan lagi, ia juga melihat tetesan air mata jatuh ke pipi gadis kecil yang mungil itu. Apa yang telah terjadi.
***
Ia berlari dengan sekuat tenaga. Berharap semakin jauh langkahnya, semakin tidak terdengar suara di belakangnya. "Kembalilah, anakku sayang..." Ia mulai menangis. Wajah pucatnya basah oleh keringat bercampur air mata. Tapi ia tidak ingin berhenti berlari. Jangan sampai terkejar dan jangan terdengar lagi suara itu.
Melewati padang rumput, melintasi sungai, lewat jalan berbatuan, ia terjatuh. Sakit. Perasaan lelahnya terhenti, terkalahkan oleh rasa sakit. Ia mulai menangis histeris. Semakin kencang tangisannya, semakin terasa sakitnya. Tiba-tiba terngiang di kepalanya suara itu. "Kembalilah......" Tidak. Aku telah berlari terlalu jauh. Dan aku baru saja terjatuh. Aku tidak akan sanggup kembali ke tempat kuberasal. Terisak ia terdiam.
Ia kuatkan diri untuk bangun perlahan-lahan. Hilang kuasanya untuk berlari lagi. Ia bingung tak tentu arah. Ia dongakkan kepala. Melihat ke sekelilingnya. Di mana aku berada? Ia termenung. Menunduk. Dalam kesunyian hati ia mulai berjalan, pelan..
Bayangan padang rumput yang hijau. Mentari bersinar indah. Semilir angin sejukkan jiwa.
Tiba-tiba pandangannya berubah. Ia melihat seorang anak kecil berlari. Berlari dan berlari dengan kencangnya. Terlihat wajahnya berpeluh keringat. Namun ketika ia perhatikan lagi, ia juga melihat tetesan air mata jatuh ke pipi gadis kecil yang mungil itu. Apa yang telah terjadi.
***
Ia berlari dengan sekuat tenaga. Berharap semakin jauh langkahnya, semakin tidak terdengar suara di belakangnya. "Kembalilah, anakku sayang..." Ia mulai menangis. Wajah pucatnya basah oleh keringat bercampur air mata. Tapi ia tidak ingin berhenti berlari. Jangan sampai terkejar dan jangan terdengar lagi suara itu.
Melewati padang rumput, melintasi sungai, lewat jalan berbatuan, ia terjatuh. Sakit. Perasaan lelahnya terhenti, terkalahkan oleh rasa sakit. Ia mulai menangis histeris. Semakin kencang tangisannya, semakin terasa sakitnya. Tiba-tiba terngiang di kepalanya suara itu. "Kembalilah......" Tidak. Aku telah berlari terlalu jauh. Dan aku baru saja terjatuh. Aku tidak akan sanggup kembali ke tempat kuberasal. Terisak ia terdiam.
Ia kuatkan diri untuk bangun perlahan-lahan. Hilang kuasanya untuk berlari lagi. Ia bingung tak tentu arah. Ia dongakkan kepala. Melihat ke sekelilingnya. Di mana aku berada? Ia termenung. Menunduk. Dalam kesunyian hati ia mulai berjalan, pelan..
November 26, 2014
Ironi Sangkal Diri
Sejak dicopet bulan lalu, saya jadi trauma naik bis umum. Rasanya kenyataan bahwa saya telah menjaga diri dengan baik namun mana sangka dihipnotis dan dicopet, membuat saya kehilangan rasa aman.
Tapi hari ini saya memberanikan diri untuk naik bis umum lagi. Bersyukur karena sampai tujuan dengan selamat (walaupun sepanjang jalan deg-degan).
Macam ironi saja. Saya naik bis pada hari itu demi menghemat ongkos. Pada akhirnya saya malah kehilangan jauh lebih banyak dari ongkos taksi.
Begitulah. Memang benar, pelajaran terbaik dalam hidup adalah proses hidup itu sendiri. Ada sebab ada akibat. Ada aksi ada reaksi. Cukup dijalani..
Tapi hari ini saya memberanikan diri untuk naik bis umum lagi. Bersyukur karena sampai tujuan dengan selamat (walaupun sepanjang jalan deg-degan).
Macam ironi saja. Saya naik bis pada hari itu demi menghemat ongkos. Pada akhirnya saya malah kehilangan jauh lebih banyak dari ongkos taksi.
Begitulah. Memang benar, pelajaran terbaik dalam hidup adalah proses hidup itu sendiri. Ada sebab ada akibat. Ada aksi ada reaksi. Cukup dijalani..
November 25, 2014
Pergi Tak Kembali
Hari ini tepat sebulan HP saya hilang dicopet. Walaupun mengaku sudah ikhlas, sebenarnya dalam hati kecil saya masih berharap HP saya bisa kembali, bagaimanapun caranya. Entah berapa kali saya menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu. Seandainya saya tidak naik bus itu hari itu, tidak turun melalui pintu belakang, dll, dsb.
Saya percaya segala sesuatu ada jalannya, baik atau buruk. Tapi bukan berarti kepercayaan itu membuat saya dapat dengan mudah menerima kenyataan dan berlalu begitu saja.
Saya bukan penggila teknologi. HP yang hilang juga bukan keluaran terbaru atau termahal. Tapi HP tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari kakak saya. Awalnya butuh waktu bagi saya menyesuaikan diri dengan cara penggunaannya. Sampai tidak disadari, HP itu sudah seperti teman bagi saya. Lebay? Mungkin. Tapi itu benar. Di jaman yang serba canggih dengan tingkat mobilitas tinggi seperti sekarang ini, bisa dibilang hampir seluruh waktu luang saya gunakan untuk mengutak-atik HP saya. Terutama karena komputer di rumah juga sudah hampir 'pensiun.'
Mungkin tanggal 25 bulan depan saya masih akan berpikir seperti ini, mungkin sedikit lebih baik, atau jauh lebih baik. Yang saya tahu, saya hanya perlu bertahan dan terus berjalan. Masalah besar akan menjadi kecil. Masalah kecil akan selesai. Kalau mengutip lirik lagu salah satu penyanyi country kesukaan saya, terkadang gunung yang selama ini kita daki hanyalah tumpukan pasir saja.
Saya percaya segala sesuatu ada jalannya, baik atau buruk. Tapi bukan berarti kepercayaan itu membuat saya dapat dengan mudah menerima kenyataan dan berlalu begitu saja.
Saya bukan penggila teknologi. HP yang hilang juga bukan keluaran terbaru atau termahal. Tapi HP tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari kakak saya. Awalnya butuh waktu bagi saya menyesuaikan diri dengan cara penggunaannya. Sampai tidak disadari, HP itu sudah seperti teman bagi saya. Lebay? Mungkin. Tapi itu benar. Di jaman yang serba canggih dengan tingkat mobilitas tinggi seperti sekarang ini, bisa dibilang hampir seluruh waktu luang saya gunakan untuk mengutak-atik HP saya. Terutama karena komputer di rumah juga sudah hampir 'pensiun.'
Mungkin tanggal 25 bulan depan saya masih akan berpikir seperti ini, mungkin sedikit lebih baik, atau jauh lebih baik. Yang saya tahu, saya hanya perlu bertahan dan terus berjalan. Masalah besar akan menjadi kecil. Masalah kecil akan selesai. Kalau mengutip lirik lagu salah satu penyanyi country kesukaan saya, terkadang gunung yang selama ini kita daki hanyalah tumpukan pasir saja.
August 25, 2014
Bertanya
Beberapa hari yang lalu kantor kami kedatangan tamu, dan supir kantor berkesempatan mengantarnya ke bandara. Keesokan harinya, si supir mengatakan kepada saya bahwa si tamu sangat baik. Saya mengiyakan sebelum si supir menyambung kalimatnya, "Dia kasih tip lebih besar dibanding tamu-tamu yang lain."
Hm.. Menarik. Ternyata si supir menilai seseorang baik dari berapa besar tip yang dia terima. Sedangkan saya mengiyakan karena tamu tersebut berkunjung dengan ramah dan tidak menyulitkan pekerjaan saya.
Masing-masing dari kami punya standar penilaian tersendiri, yang tentunya berdasarkan apa yang paling menguntungkan bagi kami. Jujur saya sempat berpikir "ngga banget" saat mendengar alasan si supir. Tapi kemudian saya lanjut berpikir, bagaimana dengan saya sendiri?
July 31, 2014
Miliknya
Mencintai membuatku merenungkan apa arti cinta yang sebenarnya.
Menyayangi membuatku kehilangan rasa sayang yang sesungguhnya.
Memutuskan membuatku berpikir akan penyesalan.
Menyalahkan membuatku menyangkal kenyataan.
Itu dia... Dia.
Hanya dia.. Dia.
"Seandainya" menjawab "mengapa"
"Karena" dijawab "harusnya"
Itu dia.. Dia.
Hanya dia... Dia.
Bila kemarin jalani hari ini 'tuk sambut hari esok.
Langkah yang terhenti akhirnya sampai di pelosok.
Berpaling 'tuk yakinkan diri.
Berlari hentikan mimpi.
Dia..?
July 30, 2014
Hanya Berkata
Satu bulan yang lalu saya mendapat tawaran kerja yang sangat menarik. Bahkan dari segi pendapatan, angka yang ditawarkan merupakan impian saya sejak beberapa tahun yang lalu. Namun dengan mempertimbangkan beberapa hal, saya menolak tawaran tersebut.
Akhir-akhir ini saya sedang menghadapai beberapa kesulitan di pekerjaan. Sempat terlintas dalam pikiran saya, kenapa saya menolak tawaran pekerjaan yang sangat menarik demi bertahan dengan pekerjaan yang sangat "menarik." Teman saya menganggap bahwa pemikiran saya itu suatu bentuk penyesalan. Tetapi sebenarnya itu merupakan motivasi dari diri saya sendiri untuk mengingat kembali apa yang membuat saya bertahan.
Penyesalan bukan jawaban, melainkan pelajaran untuk tidak kembali menyesal di masa depan.
June 30, 2014
Selintas Kata
Baru-baru ini saya mendapatkan tawaran pekerjaan yang sangat menarik. Dengan penuh syukur saya menolak tawaran tersebut. Kenapa? Mungkin saya bodoh. Tapi bukan berarti saya menolak tanpa berpikir.
Tidak pernah terbayang kalau saya akan mendapatkan tawaran yang bagus bahkan tanpa mencari. Sampai beberapa bulan yang lalu saya sangat ingin pindah kerja. Mungkin justru karena itu lah, saya memantapkan diri untuk bertahan. Karena sudah sejauh ini saya berjuang. Saya tidak boleh berhenti di tengah jalan tanpa hasil.
Otak saya berpikir jernih dan tidak mau melewatkan kesempatan ini. Tapi hati saya tidak setuju. Memberontak menginginkan pertahanan diri.
Dan beginilah akhirnya. Saya ikuti kata hati. Meyakinkan diri bahwa ini adalah keputusan yang terbaik.
Godaan boleh datang. Perjuangan berikan lelah. Pergumulan sebabkan keraguan. Tapi Dia, selalu ada berikan ketenangan.
March 31, 2014
Kulihat
Minggu lalu saya menghadiri suatu pertunjukan konser musik. Boleh dibilang ini merupakan pengalaman pertama saya. Menarik. Bukan hanya pertunjukannya yang menarik. Ada hal lain yang menarik perhatian saya selepas acara berlangsung.
Konsernya diadakan malam hari di sebuah mal kelas atas di Jakarta. Saat menunggu jemputan di lobi, terlihat beragam macam orang-orang yang hadir.
Yang paling saya ingat adalah bapak-bapak yang berdiri di sebelah saya. Dia menunggu mobil jemputan cukup lama. Di depan lobi saya lihat tiga pria berpakaian batik menggunakan HT. Salah satunya menenteng jas dan goody bag si bapak. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya mobilnya datang.
Kemudian ada seorang ibu (satu-satunya yang saya lihat) dijemput menggunakan motor.
Ada lagi sekelompok ibu-ibu arisan dengan dandanan medok.
Sepasang anak muda yang menunggu cukup lama tapi masih bersabar. Sepanjang penantian, mereka mengobrol dengan mesranya dan penuh senyum.
"Di atas langit masih ada langit," begitu nasehat teman saya beberapa tahun lalu yang tidak pernah saya lupakan. Benar. Di atas langit masih ada langit. Banyak hal di dunia yang saya tidak ketahui. Banyak kehidupan di luar sana yang mungkin membayangkan saja saya tidak pernah.
Tiap-tiap orang berjalan pada jalur kehidupan mereka masing-masing. Suatu ungkapan dalam bahasa Inggirs mengatakan: "The more I learn, the more I realize how little I know."
Belajar dalam bidang akademis mendapatkan tingkatan gelar dan kelulusan, dari SD sampai S3. Belajar dalam hidup mendapatkan gelar kehidupan, yang tidak ada batasnya, yang dinilai saat kita meninggalkan hidup ini.
February 23, 2014
Kutersandung
Orang-orang bilang saya manusia yang kurang peka. Beberapa mengatakan saya orang yang dingin. Ada juga yang bilang saya tidak berperasaan.
Biasanya saya tidak mau terlalu ambil pusing akan komentar-komentar tersebut. Tapi, malam ini saya merenungkan hal itu.
Kemarin ibu saya bercerita tentang peristiwa jatuh dari kursi yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Saya mendengarkan dengan santai sambil multitasking mengerjakan hal lain, tanpa rasa kuatir sedikit pun.
Malam ini beliau menunjukkan luka lebamnya di bagian pinggang dan kaki. Alangkah terkejutnya saya melihat memar yang sangat besar! Seumur hidup saya belum pernah melihat luka sebesar itu, dengan penampakan seperti luka bakar. Saya pun langsung kuatir dan merasa bersalah. Air mata tidak terbendung lagi. Walaupun beliau meyakinkan saya bahwa lukanya tidak sakit dan tidak parah, mana bisa saya tenang melihat memar seperti itu dengan mata kepala saya sendiri.
Perilaku ibu saya beberapa hari ini memang berbeda. Tapi saya tidak menghiraukan firasat saya. Sebaliknya, saya menganggap enteng masalah yang saya anggap kecil (dan mungkin bisa menjadi besar) dengan berpikir jangan lebay.
Mungkin saya bukannya tidak peka. Saya hanya tidak mau mengurusi kepekaan saya. Sering kali seperti itu. Kesadaran manusia memudar terhalang emosi dan egoisme. Apa kabar dunia?
December 30, 2013
Menutup 2013
Dua hari yang lalu saat sedang mengantri mesin ATM di pasar dekat rumah, saya mendapati kaki saya dihinggapi beberapa ekor lalat. Ingin rasanya saya musnahkan mereka semua. Kemudian terbayang apabila saya tepuk hingga mati kemudian lalat-lalat itu menempel di kaki saya. Menjijikkan. Saya ingat dulu pernah menepuk seekor lalat besar dan ulat-ulat kecil bermunculan dari dalam tubuhnya. Sejak saat itu saya tidak pernah mau membunuh lalat lagi.
Seorang mantan rekan kerja beberapa tahun yang lalu pernah mengajarkan saya bagaimana cara menangkap lalat menggunakan kantong plastik. Awalnya saya tidak percaya. Tapi ketika melihat dia mempraktekkannya, saya hanya bisa terkagum-kagum. Setelah itu saya mulai mencoba jurusnya. Tidak langsung berhasil memang. Tapi paling tidak saya menemukan cara baru dan beberapa kali sukses ;)
Hidup itu penuh dengan proses pembelajaran. Semua orang yang kita temui dalam hidup, baik atau buruk, pasti mengajarkan sesuatu kepada kita. Mantan rekan kerja saya itu bukan sahabat. Kami pernah berseteru atas suatu hal, dan hingga sekarang kami tidak pernah berhubungan lagi. Walaupun begitu, saya akan selalu mengingatnya sebagai seorang yang telah mengajarkan sesuatu pada saya.
Dulu atau sekarang, mungkin saya akan merasa kesal atau senang bertemu dengan seseorang. Tapi semua akan berlalu. Kejadian yang persis sama tidak akan berulang. Syukuri segala yang saya dapatkan dan yang saya temukan. Semua itu pasti ada makna pembelajarannya.
Selamat menyambut tahun baru, ladies..!
Jakarta, 30 Desember 2013
Lady Metamorph
December 3, 2013
Bahagiaku
Beberapa hari lagi saya akan menyambut salah satu hari bersejarah dalam hidup saya. Ada dua orang yang saya harapkan hadir di momen tersebut untuk berbagi kebahagiaan. Namun karena mempertimbangkan satu dan lain hal, saya mengurungkan niat untuk mengundang mereka.
Hidup itu selalu begitu. Ada sebab ada akibat. Untuk setiap keputusan yang kita ambil pasti memengaruhi hal lainnya. Ada yang harus kita korbankan demi apa yang perlu dipertahankan. Seperti rasa makanan tidak bisa campuran dari asam-pahit-manis-asin-tawar dalam satu jenis hidangan demi kelezatan, begitu juga harapan kita yang tidak mungkin didapat semua, apalagi didapat sekaligus.
Anggap saja saya curcol. Jujur saya memang ingin curcol. Haha..
November 12, 2013
Sesaat Bicara
Minggu lalu ketika saya bertemu seorang teman untuk mendengarkan curahan hatinya, saya mendapatkan pelajaran berharga.
Semua orang punya pemikiran dan pendapat sendiri. Semua orang ingin dihargai. Mengapa saya bilang begitu? Ceritanya, si teman mengajak saya bertemu memang dengan niat untuk curhat. Sayangnya, ketika (mungkin) yang dia harapkan hanya untuk didengar, saya menanggapi dengan nasehat-nasehat saya yang sok bijaksana. Alhasil, dia sukses membuat saya galau karena nasehat saya justru dijawab dengan kalimat yang cukup menusuk. Kami pun memutuskan untuk berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Atau lebih tepatnya, saya langsung mengajak pulang dengan bahasa tubuh saya.
Niat saya tidak buruk. Saya tahu dia pun tidak sengaja bermaksud buruk. Tapi ketika emosi sudah berbicara, hanya diam yang bisa menjawab. Saat ini pun apabila dia membaca tulisan ini, saya yakin dia akan tersinggung dan marah. Saya tidak menyalahkan sifatnya yang keras. Justu kami bisa berteman selama bertahun-tahun (menurut saya) karena karakter kami sedikit banyak mirip. Tapi, apakah hubungan manusia hanya sebatas hubungan yang menguntungkan saja..?
October 1, 2013
Kilas Hati
Ketika ia belajar untuk mempercayai lagi, ia telah siap untuk disakiti.
Sampai ketakutannya pun terbukti, dan ia harus rela sepenuh hati.
Subscribe to:
Posts (Atom)