Labels

December 29, 2012

Es Krim Khayalan

Saya punya kebiasaan ngidam sesuatu. Entah mengapa, perilaku saya bisa seperti orang hamil. Kalau sudah menginginkan sesuatu, tidak rela kalau sampai tidak dapat. Sebulan belakangan ini saya ngidam es krim favorit saya, yang setiap hari Jumat diskon 50%. Tapi karena tidak pernah sempat untuk membeli, ngidam yang satu itu belum kesampaian.

Semalam, hari Jumat sebelum long weekend, saya ada waktu untuk makan malam dengan teman-teman kantor ke salah satu mal dekat kantor kami. Dalam hati saya sudah bertekad untuk membeli es krim favorit saya sebelum pulang, bahkan sudah tidak sabar.

Selesai makan malam yang diselingi percakapan ringan, saya mendapati perut saya sudah terisi penuh sampai rasanya mau meledak. Alhasil, membayangkan es krim saja sudah tidak nafsu. Jadilah saya pulang dengan tangan kosong, tidak jadi membeli es krim yang sudah diidamkan kian lama.

Sampai rumah saya berpikir, betapa luar biasanya kekuatan otak manusia yang menjadi pemimpin seantero bagian tubuh lainnya. Bukankah sebenarnya, seharusnya saya bisa mengendalikan ngidam saya dengan kekuatan pikiran untuk menahan nafsu? Buktinya, begitu kekenyangan saya sama sekali sudah tidak berminat lagi.

Begitu juga dengan emosi dan perilaku. Emosi yang menggebu-gebu, entah itu amarah, nafsu, kekuatiran, semuanya sebenarnya hanya emosi sesaat yang seharusnya bisa kita kontrol. Saya tidak bilang itu mudah. Tapi terkadang sepertinya kita 'menikmati' emosi-emosi sesaat seperti itu, yang kalau dipikir-pikir kemudian hari juga pasti tidak akan terasa menggebu lagi.

Tadi pagi saat menonton berita, ada liputan mengenai seorang ibu yang meracuni kedua anaknya dengan racun tikus. Syukurlah mereka masih terselamatkan. Saat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, sang ibu mengaku bahwa perbuatannya dilakukan karena tidak tahan dengan masalah ekonomi keluarganya. Bukankah ini juga merupakan salah satu buah dari kurangnya pengendalian emosi? Jiwanya tidak terganggu; dokter sudah memberikan pernyataan. Jadi? Mungkin saja berawal dari pikiran, 'menghayati' pikiran, tenggelam dalam pikiran, stres, berlanjut menjadi depresi sampai melakukan hal-hal di luar batas normal.

Saya sendiri pun sering kesulitan mengendalikan emosi. Tapi bukan berarti saya menyerah dan memilih untuk 'menikmati' kelemahan saya itu. Saya akan terus berusaha untuk berkompromi dengan master diri saya, Si Otak ;)

November 25, 2012

One Click

Tangkuban Perahu, Bandung, West Java, Indonesia


"Glacier"


Fog Behind The View

October 2, 2012

Ironi Bagiku

Beberapa hari yang lalu saat saya sedang mendengarkan siaran radio di pagi hari, si penyiar (entah menyindir atau memuji) menyatakan kesalutannya terhadap pemerintah karena baru-baru ini Indonesia mendapat predikat "Pertumbuhan Orang Kaya Tertinggi Se-Asia". Wow.

Di hari yang sama, malam harinya saat sedang menunggu kakak saya mengisi bensin motornya di salah satu SPBU di Jakarta, saya melihat suatu pemandangan yang menarik perhatian saya. Persis di pojokan arah ke luar dari SPBU tersebut, ada seorang gelandangan bertubuh dekil sedang duduk membungkuk di atas batu. Mata saya tidak bisa lepas dari gelandangan itu. Walaupun melihat dari jarak yang tidak dekat, terlihat jelas warna tubuhnya yang pucat. Sesekali dia mengangkat tubuhnya, menampilkan wajahnya yang tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Masih muda. Terlalu muda untuk menjadi salah satu dari sekian banyak "orang stres" di jalanan Ibu Kota.

Saya langsung teringat siaran radio yang saya dengar paginya, Pertumbuhan Orang Kaya di Indonesia Tertinggi Se-Asia. Ironis. Sangat ironis (bagi saya). Tapi apa benar hanya pemerintah yang turut andil dalam hal tersebut? Apakah kita sebagai individu tidak bisa berperan sekecil apa pun?


August 27, 2012

Selamat Hari Senin!

Saya sedang duduk sambil menyantap sarapan pagi saya di kantor saat saya menulis post ini. Pagi hari yang penuh semangat; mungkin karena saya sudah mempersiapkannya dengan baik. Tidur lebih awal semalam sehingga punya cukup tenaga untuk memulai hari pertama di awal minggu ini, bangun lebih awal agar tidak terburu-buru, berangkat lebih awal untuk mengantisipasi kemacetan (berhubung kemarin puncak arus balik mudik).

Saya hampir selalu sampai kantor lebih awal dari jam kerja. Tapi hari ini terasa berbeda, terasa lebih tenang dan damai. Inbox email saya hanya ada beberapa, dan tidak ada pendingan kerjaan yang harus dikerjakan buru-buru di pagi hari untuk menyisakan waktu mengerjakan kerjaan lain yang akan datang di jam-jam berikutnya.

Hari ini rencananya saya akan melakukan sesuatu yang cukup berarti. Sesuatu yang sudah saya pikirkan sebelumnya. Mungkin ada sedikit ketakutan, tapi saya sudah memutuskan untuk menjalani apa yang sudah saya tetapkan.

Hari ini adalah hari ini; bukan kemarin, bukan besok. Mungkin saya akan mengambil pelajaran dari kemarin, dan merencanakan sesuatu untuk besok. Yang pasti, hari ini saya akan menjalani "hari ini" dengan maksimal ;)

Selamat hari Senin, Ladies..!

July 4, 2012

Hello, July!

Ok, it's July already. I should have updated my blog before July came! And now I have no posts in June archive. Missed a month :(
Well anyway, it happened and there's nothing I can do to change it.

That's time. It flies. No matter how hard we try, we can never turn it back.
It won't matter if you're rich, you can't buy time. Even if you're famous or something, you still can't invite the past to come once again in the present or near future, to make up the things you wish you didn't do (or should have done). Nobody could create a time machine.

We could never change the past, but we could prevent it from happening again. I, myself would reflect on the mistakes I did in the past, and try not to repeat it in the present.

May 20, 2012

Ketika "Galau" Melanda

Jodohku maunya ku dirimu
Hingga mati ku ingin bersamamu, ini ikrarku
Jodohku maunya ku dirimu
Satu cinta hingga ajal memisah
Aku dan kamu satu saling mencinta


Itu sebagian lirik lagu yang terus terngiang-ngiang di kepala saya saat ini. Ada beberapa alasan. Pertama, karena pasangan duet yang menyanyikan lagu itu mengadakan resepsi pernikahan malam ini, dan ditayangkan dengan hebohnya di televisi. Kedua, karena kata "jodoh" agak memenuhi pikiran saya belakangan ini.

Sejak minggu lalu ibu saya terus "mengingatkan" status saya yang masih single available dengan berbagai cara penyampaian dan tata bahasa. Bahkan beliau sudah memberikan kado ulang tahun in advance untuk saya; kado yang mitosnya bisa membuat enteng jodoh. Yah, wajar sih kalau beliau kuatir akan status saya saat ini, mengingat tinggal saya satu-satunya anak perempuan yang belum menikah. Apalagi sejarah di keluarga saya mayoritas menikah muda. Dan terakhir kali saya berhubungan juga sudah ada niat ke sana (walaupun akhirnya tidak kesampaian).

Bukannya saya tidak punya keinginan untuk menikah. Saya masih normal seperti perempuan pada umumnya yang memimpikan pernikahan yang suci nan indah kok (walaupun kalau bisa saya tidak mau mengadakan resepsi pernikahan sih, apalagi sampai yang terlalu "wah"). Hanya saja, dua tahun belakangan ini saya mencoba berpikir lebih realistis soal pernikahan dan tanggung jawab yang harus saya jalankan sesudahnya. Dan, yang paling penting, saya memang belum bertemu "jodoh" yang bisa saya lamar (bukan berarti saya tidak laku, lho) ;)

Setelah kisah cinta saya yang terakhir selesai, saya membulatkan tekad untuk tidak mau menikah minimal sampai tahun 2017, karena selama itu masih ada beberapa hal yang mau saya capai, dan pasti akan sangat sulit dicapai kalau saya sudah menikah. Karena prioritas saya sebelum dan sesudah menikah pasti berbeda. Jauh berbeda.

Tapi agaknya saya tetap resah walaupun sudah mempunyai tekad seperti itu. Pasalnya, selain karena "terbebani" dengan kekuatiran ibu saya, saya juga terpengaruh dengan lingkungan sekitar yang notabene sudah "melangkah maju" jauh di depan saya. Timeline Facebook saya penuh dengan upload-an foto-foto lamaran, pernikahan, anak, acara kumpul keluarga, dll, dsb, dst. Rasanya benar-benar hanya tinggal saya yang stuck di satu moment yang sama.

Bagaimanapun resahnya saya saat ini, saya tidak mau terlalu "galau" dan membiarkan diri saya dipengaruhi oleh idealisme standard yang ditetapkan oleh orang lain. Saya tidak mau, sepuluh tahun dari sekarang, saya merasa menyesal telah menikah dengan orang yang mungkin saya rasa bukan jodoh saya, tapi saya nikahi karena "sudah layak dan sepantasanya".

Waktu terus berjalan. Setiap detik waktu yang terlewat sangatlah berharga. Tidak boleh saya sia-siakan, dan jangan sampai berujung dengan penyesalan..

Will You Still Love Me Tomorrow?

"I, _______, take you, ________, to be my husband/wife. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love and honor you all the days of my life."

"I, _______, take you, ________, to be my husband/wife, my partner in life and my one true love. I will cherish our union and love you more each day than I did the day before. I will trust you and respect you, laugh with you and cry with you, loving you faithfully through good times and bad, regardless of the obstacles we may face together. I give you my hand, my heart, and my love, from this day forward for as long as we both shall live."

"I, _______, take you, ________, to be my partner, loving what I know of you, and trusting what I do not yet know. I eagerly anticipate the chance to grow together, getting to know the (man/woman) you will become, and falling in love a little more every day. I promise to love and cherish you through whatever life may bring us."

I googled on wedding vow and found those sweet vows. I wish reality is as easy as saying those words, but in fact, number of divorce has been increasing and never decreases, right? Why? Didn't they vow to "blah, blah, blah.."? What happened to the passionate love they have for each other that expressed clearly on their wedding day? Where did the feeling goes?

May 14, 2012

Skeptis Itu Saya

Tadi pagi (atau subuh lebih tepatnya) saya menonton acara berita di televisi yang masih ramai dengan pemberitaan mengenai tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi saat melakukan joy flight. Ada sesuatu yang menarik perhatian saya saat si anchor woman mengomentari dua orang dari tim rescue Rusia yang batal mendaki karena kelelahan saat mencapai jarak 600 meter. Inti komentarnya yaitu secara tidak langsung menyindir bahwa kemampuan mereka masih kalah dengan tim rescue lokal.

Kelihatannya si pembawa berita berjiwa nasionalis sekali ya? Saya hanya berpikir, apakah rasa cintanya kepada bangsa dan negara ini berlaku juga untuk hal-hal lain yang lebih konkret dari sekadar berkomentar? Apakah selama ini dia lebih memilih untuk membeli dan menggunakan produk lokal dibanding produk impor; berpelesir domestik menjelajahi indahnya kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia, dan bukannya traveling ke luar negeri? Saya tidak tahu.

Maaf ya kalau pandangan saya agak skeptis dan kata-kata saya cenderung kritis. Saya hanya berpendapat bahwa memang manusiawi sekali kalau kita dengan mudahnya "omdo" omong doang / talk only, sedangkan pada kenyataannya perbuatan kita sendiri belum tentu sama dengan apa yang kita ucapkan. Saya akui saya sendiri pun sering kali seperti itu. Tapi alangkah baiknya kalau kita berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang kita tahu belum tentu dapat kita laksanakan. Bukan begitu? Begitu bukan? :)

May 13, 2012

Hati Milik Siapa?

Selingkuh hati lebih parah dari pada selingkuh fisik. Itu prinsip saya sejak dulu. Waktu saya menyampaikan teori ini kepada teman saya, dia menjawab, "Lu gila, ya?! Selingkuh mana ada yang bener, sih? Yang namanya udah selingkuh, mau hati kek, fisik kek, ya tetap aja salah!"

Saya bukannya mau membenarkan perselingkuhan menurut teori saya. Memang, apa pun alasan dan bentuknya, perselingkuhan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Hubungan itu bukan hanya untuk dijalani dengan penuh perasaan, melainkan juga harus dipertanggungjawabkan.

Hanya saja menurut saya selingkuh fisik itu kalau ibarat penyakit, masih stadium awal. Alasan desakan kebutuhan biologis atau khilaf "tanpa sengaja" melakukan one-night-stand dengan orang lain masih bisa disesali dan lebih mudah di"perbaiki". Tapi kalau sudah selingkuh hati, rasanya berat sekali. Yang ada bukannya menyesali malah dinikmati lagi.. Walaupun pasangan kita berada di samping kita, tapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain, untuk apa? Rasanya itu suatu kebohongan yang sangat menyakitkan; menusuk dari belakang.

Saya sendiri belum pernah dikhianati pasangan. Beruntung mantan pacar saya semuanya (paling tidak setahu saya dan sepercayanya saya) tidak mengecewakan saya. Namun entah mengapa saya selalu bisa membayangkan (bukannya mengharapkan, lho) seandainya suatu saat saya dikhianati oleh pasangan, saya akan mempertimbangkan alasan dia berselingkuh untuk menerimanya kembali. Tapi kalau sudah main hati, rasanya sudah tidak mungkin. Pikiran masih bisa dikendalikan. Hati?

"Love is not just about finding the right person, but creating a right relationship. It's not about how much love you have in the beginning but how much love you build till the end."

April 16, 2012

An Evening Letter for You

I missed you. Guess I've always been missing you.
No matter how hard I tell myself to not think of you or remember all the memories we had, I just keep missing you.

I'm selfish, I love you and I want your love back. I wish I could let you go that easily for the sake of your happiness, but in fact I couldn't stand the reality that you're not mine.

I want you. You're the only one I've always wanted. I wish I could just stop loving you, stop thinking about you, but I was never able to do so. I struggled with my own heart. Through the years, I never forget you.

Unstable, I admit. Inconsistent, it's me. Selfish is the way I love you. Hunger is the way I want you.
Oh, Babe..if (only) you were my baby..

March 10, 2012

Hati Sebesar Toples Krupuk

Kemarin pagi dalam perjalanan menuju ke kantor, lagi-lagi saya mendapatkan suatu inspirasi untuk refleksi diri. Saat melewati depan pasar, ada seorang ibu naik ke angkot yang saya tumpangi dengan membawa banyak tentengan di kedua tangannya. Yang menarik perhatian saya adalah toples besar yang terlihat di balik plastik kresek transparan di tangan kanannya.

Toples itu sangat besar, dan kosong. Tidak ada isinya. Saya berandai-andai kenapa si ibu itu tidak menaruh barang-barang belanjaannya ke dalam toples itu saja sehingga cukup menenteng satu toples berisi semua belanjaannya?

Kemudian dari sini pikiran saya mulai melanglang-buana. Entah bagaimana saya mulai menyamakan belanjaan si ibu yang banyak (tapi kecil-kecil) itu dengan permasalahan dalam hidup ini..

Saya bukan tipe orang yang mudah berlapang dada dalam menerima kenyataan. Sering kali saya menyesali hal-hal yang sudah terjadi. Dan, sering kali juga saya berusaha menghindari permasalahan yang ada. Caranya? Macam-macam. Mulai dari melampiaskan rasa stres dengan pergi jalan-jalan, makan luar biasa banyak, hang out dengan teman, atau kadang saya hanya 'menghayati' perasaan stres saya dengan merenung sendirian di dalam kamar, sok galau dan berkeluh kesah (ke tembok?) mempertanyakan kenapa hidup saya penuh dengan masalah (come on, life is never without problems, right?).

Lalu, dengan menyadari bahwa saya stres karena masalah apakah sama dengan saya sudah menghadapi masalah tersebut? Tidak! Itu sama saja dengan menghindar secara tidak langsung. Menghadapi permasalahan yang sebenarnya bukan dengan mencari kesenangan untuk menghilangkan rasa stres. Kenyataannya setiap kali saya begitu, dan setiap kali juga saya tetap merasa stres setelah selesai bersenang-senang. Seharusnya saya menerima permasalahan dengan lapang dada, memikirkan jalan keluar dan solusinya dengan kepala dingin (jangan hanya main perasaan yang menyebabkan stres dan darting).

Masukkan semua 'belanjaan-belanjaan kecil' (masalah-masalah yang datang) ke dalam 'toples besar' (pikiran & hati), setelah itu dikeluarkan satu-satu, ada yang dimasak (dicari solusinya), mungkin ada yang digunakan (dijadikan pelajaran dalam melanjutkan kehidupan) ;)

March 7, 2012

Pilihannya Ada Padaku

Malam dua hari yang lalu dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mendapatkan inspirasi untuk refleksi diri. Saya beruntung karena begitu naik ke bus yang saya tumpangi, ada anak muda bertampang seram yang memberikan tempat duduknya untuk saya. Tapi baru saja saya duduk, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan beberapa menit kemudian saya menyadari atap bus tepat di atas saya bocor dan air menetes tepat ke kursi yang saya duduki. Sempat berpikir untuk berdiri saja, dua orang yang duduk di kursi depan saya turun sehingga saya bisa pindah ke kursi mereka di bagian depan dekat pintu. Alhasil, saya duduk sambil terkena cipratan genangan air dari jalan.

Setelah setengah perjalanan dan hujan sudah mulai mereda, ada seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil naik ke bus yang saya tumpangi. Tidak tega melihatnya, saya pun langsung berdiri dan memberikan tempat duduk saya kepada ibu itu. Belum sampai lima menit, orang yang duduk di depan tempat saya berdiri turun, dan pria yang berdiri di sebelah saya (bukannya berebut tempat duduk) mempersilakan saya untuk duduk.

Dari kejadian singkat selama perjalanan pulang ini, saya merenungkan satu hal. Baik atau buruknya suatu kejadian sebenarnya tergantung diri saya sendiri. Saya bisa saja merasa sial duduk di kursi yang persis atapnya bocor, atau merasa kesal karena terkena cipratan genangan air di jalan walaupun sudah pindah tempat duduk. Bisa juga saya mengeluh kenapa hujannya turun saat saya dalam perjalanan pulang sehingga saya harus berbecek-becek ria. Kalau sudah merasa seperti itu, pastilah saya berpikir bahwa saya mengalami kejadian buruk.

Sebaliknya, waktu itu saya merasa senang dan beruntung sekali karena saya diberi tempat duduk (oleh anak muda yang tampangnya saja sudah seram), bisa pindah dari tempat duduk saya yang bocor, dapat tempat duduk lagi (tanpa harus berdiri lama) saat saya memberikan tempat duduk saya ke si ibu. Kalau sudah merasa senang begitu, otomatis saya bersyukur berpikir kalau saya baru saja mengalami kejadian baik.

Kejadian yang sama, baik atau buruk, tergantung bagaimana cara saya menghadapinya :)

February 19, 2012

Hadapi yang Ingin Dihindari

Malam ini ketika saya pulang dan membuka pintu kamar apartemen saya, alangkah terkejutnya saya melihat tikus dengan ukuran yang cukup besar berlari dari dapur menyelusup ke karpet ruang tamu. Tikus? Di dalam kamar apartemen lantai 12?? Sambil berusaha menenangkan pikiran, saya tarik napas dalam-dalam dan mencoba memastikan. Saya dekati karpet tempat tikus itu bersembunyi, saya pukul-pukul ringan dengan sapu lidi, dan itu dia! Ternyata memang tikus, hidup! Aarrgghh....

Tikus itu lari masuk ke kamar baju meninggalkan saya yang entah sejak kapan sudah naik ke atas kursi sambil gemetaran tidak percaya. Rasa jijik bercampur takut dan kaget membuat saya panik tidak berani turun dari kursi. Setelah menguatkan diri, saya tutup pintu kamar dan keluar, turun ke bawah apartemen untuk membeli lem tikus di mini market.

Membayangkan sendirian di apartemen yang dihuni tikus membuat saya gelisah tidak karuan. Menginjak lantai pun rasanya jijik kalau memikirkan tikus itu menginjak lantai yang sama dengan saya. Menyentuh apa pun rasanya jadi was-was, takut mendadak tikus itu menampakkan diri lagi. Ngantuk, tapi takut saat saya terlelap tikus itu naik ke atas kasur saya..hiii...

Ibu saya menyuruh saya menyusulnya ke rumah kakak saya dan menginap di sana, tapi dengan berat hati saya tolak. Walaupun takut, geli, jijik, dan was-was, saya memilih untuk menghadapi si tikus. Karena saya sadar kalau hanya menghindar tidak akan menyelesaikan masalah saya: resah akan kehadiran tikus di apartemen saya!

Walaupun saya sok berani bilang begitu, kenyataannya sekarang sudah jam 1 pagi saat saya menulis blog ini, berjuang melawan rasa kantuk karena takut terlelap dan di'gerayangi' si tikus. Tapi bagaimanapun ini adalah keputusan yang saya ambil sendiri.

Sama dengan permasalahan hidup yang saya alami. Ada saatnya di mana saya memilih menghindar sampai merasa bosan karena merasa terus-menerus dihadapkan pada permasalahan yang sama. Terang saja, selama saya hanya lari dan menghindar, masalah itu tetap akan muncul karena memang tidak pernah terselesaikan. Dengan menghadapi, saya belajar proses kehidupan. Mempelajari makna yang terkandung dalam setiap permasalahan yang saya alami, bagaimana harus menyikapi, merubah pola pikir, dsb.

Permasalahan paling sulit dalam hidup adalah mindset saya dalam menyikapi permasalahan yang ada. Seandainya saya merasa kehadiran si tikus itu wajar dan biasa saja, bukankah si tikus tidak akan menjadi masalah bagi saya? :)

February 6, 2012

Lewati yang Sudah Terjadi

Hari ini saya ada waktu untuk makan malam dengan teman saya. Seperti biasa, saya mengoceh bercerita akan banyak hal pada teman saya yang selalu simak dalam mendengarkan segala "ocehan" saya ini. Entah bagaimana kami jadi membahas tentang masa lalu, kisah cinta saya.

Kalau harus jujur, saya mengakui masih belum bisa melupakan mantan pacar saya. Kalau ditanya masih cinta? Saya tidak yakin. Masih sayang? Hmm...bisa jadi. Masih peduli? Sepertinya iya. Permasalahannya adalah saya terkurung dalam penyesalan di masa lalu. Betapa banyak "hasrat terpendam" yang tidak tersampaikan. Dari hal-hal kecil yang tidak pernah saya lakukan, kata-kata yang tidak berani diucapkan, dll.

Perasaan takut kehilangan bercampur dengan rasa ketidakamanan membuat saya tidak dapat jujur dalam mengekspresikan perasaan saya yang sesungguhnya. Akhirnya, hati kecil saya kurang rela hubungan kami putus tanpa saya bisa jujur menunjukkan perasaan saya yang sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu seorang teman posting di salah satu jejaring sosial yang kurang lebih isinya seperti ini: wanita yang banyak menuntut menunjukkan betapa merasa tidak amannya dia. Saya rasa statement itu benar. Perasaan tidak aman membuat kita ingin diyakinkan. Karena itu kita jadi menuntut ini-itu dan baru merasa yakin apabila tuntutan kita itu terpenuhi.

Saat ini saya masih happily single. Selain karena masih berjuang untuk merelakan masa lalu, sebagian diri saya merasa takut untuk menjalani hubungan serius lagi. Takut kecewa, takut gagal, takut mengulang kesalahan yang sama. Tapi bagaimana pun saya yakin kalau suatu hari nanti saya akan mensyukuri pernah jatuh cinta dan patah hati dengan orang yang sama. Saya akan bersyukur karena diberikan pengalaman sulit melupakan masa lalu. Karena semua itu merupakan proses pembelajaran, dan pasti ada hikmahnya. Lebih baik menyesal karena pernah mengalami daripada menyesali yang tak pernah terjadi.

Bayangkan jika hidup saya diibaratkan sebagai kertas putih. Walaupun tetap bersih, tapi tidak ada keindahan sama sekali, pucat, polos. Tetapi jika saya goreskan warna merah, sudah dapat merubah penampilan kertas putih itu. Kalau saya menyesal memberi warna merah dan tidak bisa dihapus, saya bisa tambahkan warna kuning sehingga warna merah yang saya sesali berubah menjadi oranye yang cerah.

Pengalaman manis dan pahit di masa lalu membawa pelajaran yang berarti di masa depan. Karena itu, saya menyemangati diri saya sendiri untuk tidak terus 'menghayati' rasa penyesalan, melainkan mensyukuri dan menjadikan pengalaman-pengalaman tersebut sebagai kenangan indah dalam hidup. Saya yakin seiring berjalannya waktu saya akan bisa tersenyum manis mengenang semua masa-masa itu.

Ladies, jangan takut untuk mencintai (dan dicintai)..

January 30, 2012

Bergerak dan Terhenti

Hal yang saya takuti setiap hari adalah kemacetan di pagi hari. Betapa tidak, kemacetan yang saya alami selalu parah, kendaraan berhenti tidak bisa jalan sama sekali (padahal saya mengendarai motor). Bahkan ruang untuk pejalan kaki pun tidak ada (ini nggak lebay lho). Benar-benar ibarat benang super kusut.

Padahal kalau saya cermati, akar kemacetannya tidak jauh dari ketidakdisiplinan yang disebabkan oleh keegoisan semata. Angkutan umum ngetem seenaknya walaupun lebar jalan hanya untuk dua mobil (dua arah), menyebabkan kendaraan di belakangnya terpaksa harus berhenti. Belum lagi ditambah kendaraan-kendaraan yang mau berbelok di pertigaan (dari tiap-tiap arah). Didukung para pengendara motor yang merasa berbadan kecil sehingga mengambil jalur lawan arah berharap bisa menyelip keluar dari kemacetan, tapi pastinya malah memperparah keadaan karena kendaraan-kendaraan dari arah sebaliknya jadi tidak bisa jalan terhadang "tumpukan" motor-motor.

Kalau sudah begitu, jelas saja waktu terasa berhenti. Semua kendaraan tidak bisa "menemukan jalan keluar". Ujung-ujungnya yang ada hanya emosi: "senggol" sana-sini, membunyikan klakson bak orkestra, teriak-teriak dengan nada nyaring. Bukankah mereka sendiri yang memperburuk kondisi kemacetan? Tapi bukannya merasa bersalah malah marah-marah?

Jika hadapkan dengan pagi yang seperti ini, saya pasti langsung kehilangan mood dan semangat untuk menjalani sisa hari (yang masih panjang). Waktu dan energi saya benar-benar terbuang sia-sia untuk hal yang nggak penting banget ini.

Saya rasa terkadang dalam hidup juga begitu. Seringkali kita bersikap atau mengambil keputusan dengan berpikir pendek demi mengharapkan hasil instan, tanpa menyadari hal tersebut malah akan memperparah keadaan di masa depan. Pada akhirnya kita hanya terus mengeluh penuh penyesalan..?

January 8, 2012

Welcome, 2012!

Happy New Year! (Please don't tell me it's a bit too late for saying it ;))

I used to make resolutions every year, but this year is different. I have no passion at all to make (any) resolutions. Not that I don't have passion in living life nor that I'm not excited with the year 2012. It's just that I find it useless to (only) make resolutions. I'd rather promise myself that I'll live my life better than previous years. That includes trying my best to be a better person (which I think is the beginning of every achievement in life).

The year 2011 was unbelievable to me. Many random things (good and bad) happened. I wouldn't have imagined my traveling to 19 cities in 5 different countries. I feel blessed. Each day, through the year is a wonderful experience, the best lesson to learn..