Saya punya kebiasaan ngidam sesuatu. Entah mengapa, perilaku saya bisa seperti orang hamil. Kalau sudah menginginkan sesuatu, tidak rela kalau sampai tidak dapat. Sebulan belakangan ini saya ngidam es krim favorit saya, yang setiap hari Jumat diskon 50%. Tapi karena tidak pernah sempat untuk membeli, ngidam yang satu itu belum kesampaian.
Semalam, hari Jumat sebelum long weekend, saya ada waktu untuk makan malam dengan teman-teman kantor ke salah satu mal dekat kantor kami. Dalam hati saya sudah bertekad untuk membeli es krim favorit saya sebelum pulang, bahkan sudah tidak sabar.
Selesai makan malam yang diselingi percakapan ringan, saya mendapati perut saya sudah terisi penuh sampai rasanya mau meledak. Alhasil, membayangkan es krim saja sudah tidak nafsu. Jadilah saya pulang dengan tangan kosong, tidak jadi membeli es krim yang sudah diidamkan kian lama.
Sampai rumah saya berpikir, betapa luar biasanya kekuatan otak manusia yang menjadi pemimpin seantero bagian tubuh lainnya. Bukankah sebenarnya, seharusnya saya bisa mengendalikan ngidam saya dengan kekuatan pikiran untuk menahan nafsu? Buktinya, begitu kekenyangan saya sama sekali sudah tidak berminat lagi.
Begitu juga dengan emosi dan perilaku. Emosi yang menggebu-gebu, entah itu amarah, nafsu, kekuatiran, semuanya sebenarnya hanya emosi sesaat yang seharusnya bisa kita kontrol. Saya tidak bilang itu mudah. Tapi terkadang sepertinya kita 'menikmati' emosi-emosi sesaat seperti itu, yang kalau dipikir-pikir kemudian hari juga pasti tidak akan terasa menggebu lagi.
Tadi pagi saat menonton berita, ada liputan mengenai seorang ibu yang meracuni kedua anaknya dengan racun tikus. Syukurlah mereka masih terselamatkan. Saat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, sang ibu mengaku bahwa perbuatannya dilakukan karena tidak tahan dengan masalah ekonomi keluarganya. Bukankah ini juga merupakan salah satu buah dari kurangnya pengendalian emosi? Jiwanya tidak terganggu; dokter sudah memberikan pernyataan. Jadi? Mungkin saja berawal dari pikiran, 'menghayati' pikiran, tenggelam dalam pikiran, stres, berlanjut menjadi depresi sampai melakukan hal-hal di luar batas normal.
Saya sendiri pun sering kesulitan mengendalikan emosi. Tapi bukan berarti saya menyerah dan memilih untuk 'menikmati' kelemahan saya itu. Saya akan terus berusaha untuk berkompromi dengan master diri saya, Si Otak ;)