Belakangan ini saya sedang dirundung beberapa masalah yang membuat otak saya terus-menerus berpikir dan berpikir.
Saya menyadari saya bukan tipe orang yang bisa berlapang dada dalam menerima kenyataan. Sering kali saya "menghibur diri" dengan berpikir seandainya begini atau bila saja begitu. Padahal pikiran semacam itu sebenarnya sama sekali tidak benar-benar menghibur apalagi merubah keadaan, tapi tetap saja saya suka berpikir begitu.
Entah menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau pun menyalahkan diri sendiri, saya sepertinya tidak cukup "kuat" dalam menghadapi kompleksnya kehidupan ini (lebay mode on :p)
Hari ini saat saya sedang "merenungkan nasib" untuk yang kesekian kalinya, saya membuat keputusan untuk (paling tidak berusaha) berhenti menyesali keadaan dan mencoba menerima kenyataan dengan mengambil hikmah dan pelajaran di balik setiap permasalahan. Tidak mudah memang (pastinya), tapi saya akan berusaha dan saya yakin di mana ada niat di situ pasti ada perubahan (baik besar maupun kecil).
Menerima kenyataan (pahit) itu sulit dan terasa sakit, tapi yakinlah bahwa di balik setiap persoalan itu pasti ada hal baik :)
November 22, 2011
November 20, 2011
Dear You
It's raining outside, and the thoughts of you crosses my mind (for the how many times).
I just wanna let you know, I've moved on, not the way I want it, but I have.
I miss you anyway, but I won't tell you. I hope you're doing fine, that's enough for me.
I'm counting days to your "big day" and I hope you'll have someone beside you to celebrate it.
I've changed, which I'm sure you have, too.
I'm glad that I'm entering a new path of my life.
And I wish you know that you're the reason behind it.
I believe things happened for a reason.
And I'm grateful that you were sent to me for that very short time.
You taught me lots of things.
You gave me many feelings.
And for all that, I wish to say "thank you" to you..
Yours forever,
Me
I just wanna let you know, I've moved on, not the way I want it, but I have.
I miss you anyway, but I won't tell you. I hope you're doing fine, that's enough for me.
I'm counting days to your "big day" and I hope you'll have someone beside you to celebrate it.
I've changed, which I'm sure you have, too.
I'm glad that I'm entering a new path of my life.
And I wish you know that you're the reason behind it.
I believe things happened for a reason.
And I'm grateful that you were sent to me for that very short time.
You taught me lots of things.
You gave me many feelings.
And for all that, I wish to say "thank you" to you..
Yours forever,
Me
November 8, 2011
Menyesal Kemudian
Saya seorang pemikir. Setiap keputusan yang saya ambil pasti dengan pertimbangan hasil pemikiran saya. Kemarin saya membuat suatu keputusan: menerima tawaran kerja. Sebelum menerima, saya sempat berpikir singkat dengan banyak pertimbangan sebelum akhirnya menerima tawaran tersebut. Tetapi sesudah itu saya merasa agak menyesal. Sepertinya saya kurang berupaya untuk mendapat apa yang saya mau. Tapi karena sudah terlanjur, tidak ada yang bisa saya lakukan lagi. Daripada hanya menyesali, saya lebih memilih untuk berpikir positif dan kembali mengingat alasan saya mempertimbangkan menerima tawaran itu.
Sekarang, saya sudah tidak merasa menyesal lagi. Saya mencoba untuk mengambil hal-hal positif dan melupakan hal-hal negatif yang melintas. Besok adalah hari pertama saya masuk kerja di tempat yang baru ini dan saya cukup bersemangat menyambutnya. Saya berharap rasa penyesalan saya yang sempat muncul terbalas dengan apa yang akan saya capai nantinya dengan hasil kerja saya yang paling maksimal :)
Sekarang, saya sudah tidak merasa menyesal lagi. Saya mencoba untuk mengambil hal-hal positif dan melupakan hal-hal negatif yang melintas. Besok adalah hari pertama saya masuk kerja di tempat yang baru ini dan saya cukup bersemangat menyambutnya. Saya berharap rasa penyesalan saya yang sempat muncul terbalas dengan apa yang akan saya capai nantinya dengan hasil kerja saya yang paling maksimal :)
November 6, 2011
Was and Why?
This morning when I checked on my social networking website (#NoMention) account, I read one of my friend's post to follow her blog. But since I don't have an account in the web she blogged on, it wouldn't be possible. I then thought to myself, why not create a new blog instead? But, the thoughts get longer in my mind. If I create a new one, what should I do with this one? I just celebrated my blog's first anniversary last month (I mean, it's finally been a year since I started blogging :p), should I leave it unmaintained just to make a new blog? Or perhaps, I'll have to maintain both of them (this blog and the new one)?
With this little confusion in my head, I started to think clearly about the reason why I started blogging. I've always wanted to write (I even dreamt of being an author one day..haha..), but it doesn't bring me to blogging. Until one day I read an advertise through blogger and on the right top of the page I saw the sign "Start Blogging" or something, so then I started to create this blog!
It took me days only to design the page layout before I eventually thought of what kind of blog I want mine to be. Then I decided to (try) blog my personal experiences and share my inspiration so that this blog would be more useful and nice to read. Well, to be honest, I was teased to make this blog as my "online diary" but then I thought it would be pointless and embarrassing to really share all of my feelings to the world, don't you think? :p
Ok, now, back to the top. After remembering my first motivation of blogging, which is "to inspire other people," I came to a (temporary) final consideration:
- there's no need to have two blogs at the same time
- creating a new blog on that other web is quite a good idea, because the web seems to offer more than this web
- but to leave my (current) blog neglected is way too pity for me
So, I finally came to a decision, either I keep my current blog or make a new one and re-post my posts in this blog on the new one.
Just like life, huh? Things change, people change, society changes. As the world changes, so do us. Our needs change. Our goal in the past, now, and in the future (usually) won't remain the same. It changes all the time.
I, myself, a few years ago was still longing to have a new family-get married, be a wife and mother, raise children. Now? Not a chance! Haha..
I mean, of course I still have some desires and wishes which I've had since a long time ago (I still want to be an author :p) up until now, but I'll have to admit that the way I think, I speak, I act before and now is different. Just like the needs of technology, I may not need mobile phone and internet before as much as I do now :)
With this little confusion in my head, I started to think clearly about the reason why I started blogging. I've always wanted to write (I even dreamt of being an author one day..haha..), but it doesn't bring me to blogging. Until one day I read an advertise through blogger and on the right top of the page I saw the sign "Start Blogging" or something, so then I started to create this blog!
It took me days only to design the page layout before I eventually thought of what kind of blog I want mine to be. Then I decided to (try) blog my personal experiences and share my inspiration so that this blog would be more useful and nice to read. Well, to be honest, I was teased to make this blog as my "online diary" but then I thought it would be pointless and embarrassing to really share all of my feelings to the world, don't you think? :p
Ok, now, back to the top. After remembering my first motivation of blogging, which is "to inspire other people," I came to a (temporary) final consideration:
- there's no need to have two blogs at the same time
- creating a new blog on that other web is quite a good idea, because the web seems to offer more than this web
- but to leave my (current) blog neglected is way too pity for me
So, I finally came to a decision, either I keep my current blog or make a new one and re-post my posts in this blog on the new one.
Just like life, huh? Things change, people change, society changes. As the world changes, so do us. Our needs change. Our goal in the past, now, and in the future (usually) won't remain the same. It changes all the time.
I, myself, a few years ago was still longing to have a new family-get married, be a wife and mother, raise children. Now? Not a chance! Haha..
I mean, of course I still have some desires and wishes which I've had since a long time ago (I still want to be an author :p) up until now, but I'll have to admit that the way I think, I speak, I act before and now is different. Just like the needs of technology, I may not need mobile phone and internet before as much as I do now :)
November 2, 2011
Antara Benar dan Salah
Satu hal yang saya tidak suka saat mengantri masuk lift di mal adalah, antrian yang tidak teratur dari orang-orang yang "penuh nafsu". Bukannya menunggu yang di dalam keluar dulu, mereka buru-buru langsung mau masuk. Akibatnya? Sudah pasti antrian terlihat semrawut karena yang di dalam berusaha mencari celah untuk keluar, begitu juga sebaliknya. Yang lebih menjengkelkan lagi, ketika saya mengantri dengan benar dan sesuai etiket, malah diserobot oleh orang lain yang mengantri sesudah saya. Jadi kalau saya mau mendapat hak saya untuk masuk lebih dulu sesuai urutan antrian, saya pun harus ikut-ikutan "nafsu" nyerobot masuk ke lift.
Saat mengantri bus TransJakarta pun begitu. Bukannya sabar mengantri, orang-orang malah "memperpendek" antrian dengan mendorong-dorong orang di depan mereka. Padahal tidak ada salahnya diam berdiri dan maju kalau orang di depan sudah maju, kan? Mengantri sambil mendorong-dorong malah membuat stres semua orang yang mengantri, apalagi saat jam sibuk (masuk dan pulang kantor), halte sesak penumpang.
Hal-hal seperti ini sering kali membuat saya "gerah" tinggal di Jakarta. Bukannya saya tidak berjiwa nasionalis, tapi agaknya budaya bangsa ini terlalu unik. Melakukan yang benar sering kali menjadi masalah. Sebaliknya, melakukan yang salah malah dianggap benar dan sudah sewajarnya.
Hal-hal kecil seperti ini sepertinya secara tidak langsung membentuk kepribadian kita. Dalam pergaulan, misalnya, ketika kita berusaha bersikap baik, kita malah dianggap munafik, sok, dsb. Dalam pekerjaan, menipu dianggap sebagai strategi dan bukti kepintaran seseorang. Kalau kita tidak setuju untuk bekerja sama, pasti kita dicap sok suci, dll, dsb.
Saya jadi bingung, bagaimana baiknya, ya? Ketika melakukan yang benar malah dianggap salah, kita seakan-akan dituntut lingkungan untuk berbuat salah kalau mau dianggap benar?
Saat mengantri bus TransJakarta pun begitu. Bukannya sabar mengantri, orang-orang malah "memperpendek" antrian dengan mendorong-dorong orang di depan mereka. Padahal tidak ada salahnya diam berdiri dan maju kalau orang di depan sudah maju, kan? Mengantri sambil mendorong-dorong malah membuat stres semua orang yang mengantri, apalagi saat jam sibuk (masuk dan pulang kantor), halte sesak penumpang.
Hal-hal seperti ini sering kali membuat saya "gerah" tinggal di Jakarta. Bukannya saya tidak berjiwa nasionalis, tapi agaknya budaya bangsa ini terlalu unik. Melakukan yang benar sering kali menjadi masalah. Sebaliknya, melakukan yang salah malah dianggap benar dan sudah sewajarnya.
Hal-hal kecil seperti ini sepertinya secara tidak langsung membentuk kepribadian kita. Dalam pergaulan, misalnya, ketika kita berusaha bersikap baik, kita malah dianggap munafik, sok, dsb. Dalam pekerjaan, menipu dianggap sebagai strategi dan bukti kepintaran seseorang. Kalau kita tidak setuju untuk bekerja sama, pasti kita dicap sok suci, dll, dsb.
Saya jadi bingung, bagaimana baiknya, ya? Ketika melakukan yang benar malah dianggap salah, kita seakan-akan dituntut lingkungan untuk berbuat salah kalau mau dianggap benar?
Subscribe to:
Posts (Atom)