Satu hal yang saya tidak suka saat mengantri masuk lift di mal adalah, antrian yang tidak teratur dari orang-orang yang "penuh nafsu". Bukannya menunggu yang di dalam keluar dulu, mereka buru-buru langsung mau masuk. Akibatnya? Sudah pasti antrian terlihat semrawut karena yang di dalam berusaha mencari celah untuk keluar, begitu juga sebaliknya. Yang lebih menjengkelkan lagi, ketika saya mengantri dengan benar dan sesuai etiket, malah diserobot oleh orang lain yang mengantri sesudah saya. Jadi kalau saya mau mendapat hak saya untuk masuk lebih dulu sesuai urutan antrian, saya pun harus ikut-ikutan "nafsu" nyerobot masuk ke lift.
Saat mengantri bus TransJakarta pun begitu. Bukannya sabar mengantri, orang-orang malah "memperpendek" antrian dengan mendorong-dorong orang di depan mereka. Padahal tidak ada salahnya diam berdiri dan maju kalau orang di depan sudah maju, kan? Mengantri sambil mendorong-dorong malah membuat stres semua orang yang mengantri, apalagi saat jam sibuk (masuk dan pulang kantor), halte sesak penumpang.
Hal-hal seperti ini sering kali membuat saya "gerah" tinggal di Jakarta. Bukannya saya tidak berjiwa nasionalis, tapi agaknya budaya bangsa ini terlalu unik. Melakukan yang benar sering kali menjadi masalah. Sebaliknya, melakukan yang salah malah dianggap benar dan sudah sewajarnya.
Hal-hal kecil seperti ini sepertinya secara tidak langsung membentuk kepribadian kita. Dalam pergaulan, misalnya, ketika kita berusaha bersikap baik, kita malah dianggap munafik, sok, dsb. Dalam pekerjaan, menipu dianggap sebagai strategi dan bukti kepintaran seseorang. Kalau kita tidak setuju untuk bekerja sama, pasti kita dicap sok suci, dll, dsb.
Saya jadi bingung, bagaimana baiknya, ya? Ketika melakukan yang benar malah dianggap salah, kita seakan-akan dituntut lingkungan untuk berbuat salah kalau mau dianggap benar?