Jodohku maunya ku dirimu
Hingga mati ku ingin bersamamu, ini ikrarku
Jodohku maunya ku dirimu
Satu cinta hingga ajal memisah
Aku dan kamu satu saling mencinta
Itu sebagian lirik lagu yang terus terngiang-ngiang di kepala saya saat ini. Ada beberapa alasan. Pertama, karena pasangan duet yang menyanyikan lagu itu mengadakan resepsi pernikahan malam ini, dan ditayangkan dengan hebohnya di televisi. Kedua, karena kata "jodoh" agak memenuhi pikiran saya belakangan ini.
Sejak minggu lalu ibu saya terus "mengingatkan" status saya yang masih single available dengan berbagai cara penyampaian dan tata bahasa. Bahkan beliau sudah memberikan kado ulang tahun in advance untuk saya; kado yang mitosnya bisa membuat enteng jodoh. Yah, wajar sih kalau beliau kuatir akan status saya saat ini, mengingat tinggal saya satu-satunya anak perempuan yang belum menikah. Apalagi sejarah di keluarga saya mayoritas menikah muda. Dan terakhir kali saya berhubungan juga sudah ada niat ke sana (walaupun akhirnya tidak kesampaian).
Bukannya saya tidak punya keinginan untuk menikah. Saya masih normal seperti perempuan pada umumnya yang memimpikan pernikahan yang suci nan indah kok (walaupun kalau bisa saya tidak mau mengadakan resepsi pernikahan sih, apalagi sampai yang terlalu "wah"). Hanya saja, dua tahun belakangan ini saya mencoba berpikir lebih realistis soal pernikahan dan tanggung jawab yang harus saya jalankan sesudahnya. Dan, yang paling penting, saya memang belum bertemu "jodoh" yang bisa saya lamar (bukan berarti saya tidak laku, lho) ;)
Setelah kisah cinta saya yang terakhir selesai, saya membulatkan tekad untuk tidak mau menikah minimal sampai tahun 2017, karena selama itu masih ada beberapa hal yang mau saya capai, dan pasti akan sangat sulit dicapai kalau saya sudah menikah. Karena prioritas saya sebelum dan sesudah menikah pasti berbeda. Jauh berbeda.
Tapi agaknya saya tetap resah walaupun sudah mempunyai tekad seperti itu. Pasalnya, selain karena "terbebani" dengan kekuatiran ibu saya, saya juga terpengaruh dengan lingkungan sekitar yang notabene sudah "melangkah maju" jauh di depan saya. Timeline Facebook saya penuh dengan upload-an foto-foto lamaran, pernikahan, anak, acara kumpul keluarga, dll, dsb, dst. Rasanya benar-benar hanya tinggal saya yang stuck di satu moment yang sama.
Bagaimanapun resahnya saya saat ini, saya tidak mau terlalu "galau" dan membiarkan diri saya dipengaruhi oleh idealisme standard yang ditetapkan oleh orang lain. Saya tidak mau, sepuluh tahun dari sekarang, saya merasa menyesal telah menikah dengan orang yang mungkin saya rasa bukan jodoh saya, tapi saya nikahi karena "sudah layak dan sepantasanya".
Waktu terus berjalan. Setiap detik waktu yang terlewat sangatlah berharga. Tidak boleh saya sia-siakan, dan jangan sampai berujung dengan penyesalan..
May 20, 2012
Will You Still Love Me Tomorrow?
"I, _______, take you, ________, to be my husband/wife. I promise to be
true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will
love and honor you all the days of my life."
"I, _______, take you, ________, to be my husband/wife, my partner in life and my one true love. I will cherish our union and love you more each day than I did the day before. I will trust you and respect you, laugh with you and cry with you, loving you faithfully through good times and bad, regardless of the obstacles we may face together. I give you my hand, my heart, and my love, from this day forward for as long as we both shall live."
"I, _______, take you, ________, to be my partner, loving what I know of you, and trusting what I do not yet know. I eagerly anticipate the chance to grow together, getting to know the (man/woman) you will become, and falling in love a little more every day. I promise to love and cherish you through whatever life may bring us."
I googled on wedding vow and found those sweet vows. I wish reality is as easy as saying those words, but in fact, number of divorce has been increasing and never decreases, right? Why? Didn't they vow to "blah, blah, blah.."? What happened to the passionate love they have for each other that expressed clearly on their wedding day? Where did the feeling goes?
"I, _______, take you, ________, to be my husband/wife, my partner in life and my one true love. I will cherish our union and love you more each day than I did the day before. I will trust you and respect you, laugh with you and cry with you, loving you faithfully through good times and bad, regardless of the obstacles we may face together. I give you my hand, my heart, and my love, from this day forward for as long as we both shall live."
"I, _______, take you, ________, to be my partner, loving what I know of you, and trusting what I do not yet know. I eagerly anticipate the chance to grow together, getting to know the (man/woman) you will become, and falling in love a little more every day. I promise to love and cherish you through whatever life may bring us."
I googled on wedding vow and found those sweet vows. I wish reality is as easy as saying those words, but in fact, number of divorce has been increasing and never decreases, right? Why? Didn't they vow to "blah, blah, blah.."? What happened to the passionate love they have for each other that expressed clearly on their wedding day? Where did the feeling goes?
May 14, 2012
Skeptis Itu Saya
Tadi pagi (atau subuh lebih tepatnya) saya menonton acara berita di televisi yang masih ramai dengan pemberitaan mengenai tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi saat melakukan joy flight. Ada sesuatu yang menarik perhatian saya saat si anchor woman mengomentari dua orang dari tim rescue Rusia yang batal mendaki karena kelelahan saat mencapai jarak 600 meter. Inti komentarnya yaitu secara tidak langsung menyindir bahwa kemampuan mereka masih kalah dengan tim rescue lokal.
Kelihatannya si pembawa berita berjiwa nasionalis sekali ya? Saya hanya berpikir, apakah rasa cintanya kepada bangsa dan negara ini berlaku juga untuk hal-hal lain yang lebih konkret dari sekadar berkomentar? Apakah selama ini dia lebih memilih untuk membeli dan menggunakan produk lokal dibanding produk impor; berpelesir domestik menjelajahi indahnya kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia, dan bukannya traveling ke luar negeri? Saya tidak tahu.
Maaf ya kalau pandangan saya agak skeptis dan kata-kata saya cenderung kritis. Saya hanya berpendapat bahwa memang manusiawi sekali kalau kita dengan mudahnya "omdo" omong doang / talk only, sedangkan pada kenyataannya perbuatan kita sendiri belum tentu sama dengan apa yang kita ucapkan. Saya akui saya sendiri pun sering kali seperti itu. Tapi alangkah baiknya kalau kita berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang kita tahu belum tentu dapat kita laksanakan. Bukan begitu? Begitu bukan? :)
Kelihatannya si pembawa berita berjiwa nasionalis sekali ya? Saya hanya berpikir, apakah rasa cintanya kepada bangsa dan negara ini berlaku juga untuk hal-hal lain yang lebih konkret dari sekadar berkomentar? Apakah selama ini dia lebih memilih untuk membeli dan menggunakan produk lokal dibanding produk impor; berpelesir domestik menjelajahi indahnya kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia, dan bukannya traveling ke luar negeri? Saya tidak tahu.
Maaf ya kalau pandangan saya agak skeptis dan kata-kata saya cenderung kritis. Saya hanya berpendapat bahwa memang manusiawi sekali kalau kita dengan mudahnya "omdo" omong doang / talk only, sedangkan pada kenyataannya perbuatan kita sendiri belum tentu sama dengan apa yang kita ucapkan. Saya akui saya sendiri pun sering kali seperti itu. Tapi alangkah baiknya kalau kita berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang kita tahu belum tentu dapat kita laksanakan. Bukan begitu? Begitu bukan? :)
May 13, 2012
Hati Milik Siapa?
Selingkuh hati lebih parah dari pada selingkuh fisik. Itu prinsip saya sejak dulu. Waktu saya menyampaikan teori ini kepada teman saya, dia menjawab, "Lu gila, ya?! Selingkuh mana ada yang bener, sih? Yang namanya udah selingkuh, mau hati kek, fisik kek, ya tetap aja salah!"
Saya bukannya mau membenarkan perselingkuhan menurut teori saya. Memang, apa pun alasan dan bentuknya, perselingkuhan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Hubungan itu bukan hanya untuk dijalani dengan penuh perasaan, melainkan juga harus dipertanggungjawabkan.
Hanya saja menurut saya selingkuh fisik itu kalau ibarat penyakit, masih stadium awal. Alasan desakan kebutuhan biologis atau khilaf "tanpa sengaja" melakukan one-night-stand dengan orang lain masih bisa disesali dan lebih mudah di"perbaiki". Tapi kalau sudah selingkuh hati, rasanya berat sekali. Yang ada bukannya menyesali malah dinikmati lagi.. Walaupun pasangan kita berada di samping kita, tapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain, untuk apa? Rasanya itu suatu kebohongan yang sangat menyakitkan; menusuk dari belakang.
Saya sendiri belum pernah dikhianati pasangan. Beruntung mantan pacar saya semuanya (paling tidak setahu saya dan sepercayanya saya) tidak mengecewakan saya. Namun entah mengapa saya selalu bisa membayangkan (bukannya mengharapkan, lho) seandainya suatu saat saya dikhianati oleh pasangan, saya akan mempertimbangkan alasan dia berselingkuh untuk menerimanya kembali. Tapi kalau sudah main hati, rasanya sudah tidak mungkin. Pikiran masih bisa dikendalikan. Hati?
"Love is not just about finding the right person, but creating a right relationship. It's not about how much love you have in the beginning but how much love you build till the end."
Saya bukannya mau membenarkan perselingkuhan menurut teori saya. Memang, apa pun alasan dan bentuknya, perselingkuhan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Hubungan itu bukan hanya untuk dijalani dengan penuh perasaan, melainkan juga harus dipertanggungjawabkan.
Hanya saja menurut saya selingkuh fisik itu kalau ibarat penyakit, masih stadium awal. Alasan desakan kebutuhan biologis atau khilaf "tanpa sengaja" melakukan one-night-stand dengan orang lain masih bisa disesali dan lebih mudah di"perbaiki". Tapi kalau sudah selingkuh hati, rasanya berat sekali. Yang ada bukannya menyesali malah dinikmati lagi.. Walaupun pasangan kita berada di samping kita, tapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain, untuk apa? Rasanya itu suatu kebohongan yang sangat menyakitkan; menusuk dari belakang.
Saya sendiri belum pernah dikhianati pasangan. Beruntung mantan pacar saya semuanya (paling tidak setahu saya dan sepercayanya saya) tidak mengecewakan saya. Namun entah mengapa saya selalu bisa membayangkan (bukannya mengharapkan, lho) seandainya suatu saat saya dikhianati oleh pasangan, saya akan mempertimbangkan alasan dia berselingkuh untuk menerimanya kembali. Tapi kalau sudah main hati, rasanya sudah tidak mungkin. Pikiran masih bisa dikendalikan. Hati?
"Love is not just about finding the right person, but creating a right relationship. It's not about how much love you have in the beginning but how much love you build till the end."
Subscribe to:
Posts (Atom)