Labels

May 13, 2012

Hati Milik Siapa?

Selingkuh hati lebih parah dari pada selingkuh fisik. Itu prinsip saya sejak dulu. Waktu saya menyampaikan teori ini kepada teman saya, dia menjawab, "Lu gila, ya?! Selingkuh mana ada yang bener, sih? Yang namanya udah selingkuh, mau hati kek, fisik kek, ya tetap aja salah!"

Saya bukannya mau membenarkan perselingkuhan menurut teori saya. Memang, apa pun alasan dan bentuknya, perselingkuhan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Hubungan itu bukan hanya untuk dijalani dengan penuh perasaan, melainkan juga harus dipertanggungjawabkan.

Hanya saja menurut saya selingkuh fisik itu kalau ibarat penyakit, masih stadium awal. Alasan desakan kebutuhan biologis atau khilaf "tanpa sengaja" melakukan one-night-stand dengan orang lain masih bisa disesali dan lebih mudah di"perbaiki". Tapi kalau sudah selingkuh hati, rasanya berat sekali. Yang ada bukannya menyesali malah dinikmati lagi.. Walaupun pasangan kita berada di samping kita, tapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain, untuk apa? Rasanya itu suatu kebohongan yang sangat menyakitkan; menusuk dari belakang.

Saya sendiri belum pernah dikhianati pasangan. Beruntung mantan pacar saya semuanya (paling tidak setahu saya dan sepercayanya saya) tidak mengecewakan saya. Namun entah mengapa saya selalu bisa membayangkan (bukannya mengharapkan, lho) seandainya suatu saat saya dikhianati oleh pasangan, saya akan mempertimbangkan alasan dia berselingkuh untuk menerimanya kembali. Tapi kalau sudah main hati, rasanya sudah tidak mungkin. Pikiran masih bisa dikendalikan. Hati?

"Love is not just about finding the right person, but creating a right relationship. It's not about how much love you have in the beginning but how much love you build till the end."