Labels

March 10, 2012

Hati Sebesar Toples Krupuk

Kemarin pagi dalam perjalanan menuju ke kantor, lagi-lagi saya mendapatkan suatu inspirasi untuk refleksi diri. Saat melewati depan pasar, ada seorang ibu naik ke angkot yang saya tumpangi dengan membawa banyak tentengan di kedua tangannya. Yang menarik perhatian saya adalah toples besar yang terlihat di balik plastik kresek transparan di tangan kanannya.

Toples itu sangat besar, dan kosong. Tidak ada isinya. Saya berandai-andai kenapa si ibu itu tidak menaruh barang-barang belanjaannya ke dalam toples itu saja sehingga cukup menenteng satu toples berisi semua belanjaannya?

Kemudian dari sini pikiran saya mulai melanglang-buana. Entah bagaimana saya mulai menyamakan belanjaan si ibu yang banyak (tapi kecil-kecil) itu dengan permasalahan dalam hidup ini..

Saya bukan tipe orang yang mudah berlapang dada dalam menerima kenyataan. Sering kali saya menyesali hal-hal yang sudah terjadi. Dan, sering kali juga saya berusaha menghindari permasalahan yang ada. Caranya? Macam-macam. Mulai dari melampiaskan rasa stres dengan pergi jalan-jalan, makan luar biasa banyak, hang out dengan teman, atau kadang saya hanya 'menghayati' perasaan stres saya dengan merenung sendirian di dalam kamar, sok galau dan berkeluh kesah (ke tembok?) mempertanyakan kenapa hidup saya penuh dengan masalah (come on, life is never without problems, right?).

Lalu, dengan menyadari bahwa saya stres karena masalah apakah sama dengan saya sudah menghadapi masalah tersebut? Tidak! Itu sama saja dengan menghindar secara tidak langsung. Menghadapi permasalahan yang sebenarnya bukan dengan mencari kesenangan untuk menghilangkan rasa stres. Kenyataannya setiap kali saya begitu, dan setiap kali juga saya tetap merasa stres setelah selesai bersenang-senang. Seharusnya saya menerima permasalahan dengan lapang dada, memikirkan jalan keluar dan solusinya dengan kepala dingin (jangan hanya main perasaan yang menyebabkan stres dan darting).

Masukkan semua 'belanjaan-belanjaan kecil' (masalah-masalah yang datang) ke dalam 'toples besar' (pikiran & hati), setelah itu dikeluarkan satu-satu, ada yang dimasak (dicari solusinya), mungkin ada yang digunakan (dijadikan pelajaran dalam melanjutkan kehidupan) ;)

March 7, 2012

Pilihannya Ada Padaku

Malam dua hari yang lalu dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mendapatkan inspirasi untuk refleksi diri. Saya beruntung karena begitu naik ke bus yang saya tumpangi, ada anak muda bertampang seram yang memberikan tempat duduknya untuk saya. Tapi baru saja saya duduk, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan beberapa menit kemudian saya menyadari atap bus tepat di atas saya bocor dan air menetes tepat ke kursi yang saya duduki. Sempat berpikir untuk berdiri saja, dua orang yang duduk di kursi depan saya turun sehingga saya bisa pindah ke kursi mereka di bagian depan dekat pintu. Alhasil, saya duduk sambil terkena cipratan genangan air dari jalan.

Setelah setengah perjalanan dan hujan sudah mulai mereda, ada seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil naik ke bus yang saya tumpangi. Tidak tega melihatnya, saya pun langsung berdiri dan memberikan tempat duduk saya kepada ibu itu. Belum sampai lima menit, orang yang duduk di depan tempat saya berdiri turun, dan pria yang berdiri di sebelah saya (bukannya berebut tempat duduk) mempersilakan saya untuk duduk.

Dari kejadian singkat selama perjalanan pulang ini, saya merenungkan satu hal. Baik atau buruknya suatu kejadian sebenarnya tergantung diri saya sendiri. Saya bisa saja merasa sial duduk di kursi yang persis atapnya bocor, atau merasa kesal karena terkena cipratan genangan air di jalan walaupun sudah pindah tempat duduk. Bisa juga saya mengeluh kenapa hujannya turun saat saya dalam perjalanan pulang sehingga saya harus berbecek-becek ria. Kalau sudah merasa seperti itu, pastilah saya berpikir bahwa saya mengalami kejadian buruk.

Sebaliknya, waktu itu saya merasa senang dan beruntung sekali karena saya diberi tempat duduk (oleh anak muda yang tampangnya saja sudah seram), bisa pindah dari tempat duduk saya yang bocor, dapat tempat duduk lagi (tanpa harus berdiri lama) saat saya memberikan tempat duduk saya ke si ibu. Kalau sudah merasa senang begitu, otomatis saya bersyukur berpikir kalau saya baru saja mengalami kejadian baik.

Kejadian yang sama, baik atau buruk, tergantung bagaimana cara saya menghadapinya :)