Labels

December 25, 2010

Salam Damai!

Selamat Hari Natal bagi yang merayakan =)

Cepat sekali waktu berlalu, tidak terasa sekarang kita sudah berada di penghujung tahun. Rasanya banyak sekali hal-hal yang belum (tapi ingin) saya lakukan. Alasannya sederhana, tidak cukup waktu (masa iya?), rasa malas dan sikap suka menunda-nunda. Dari hal-hal kecil lalu menumpuk menjadi hal-hal besar. Karena ketika semuanya tertunda, pada satu saat bersamaan akhirnya saya harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Ada juga yang akhirnya malah tidak terlaksana.

Natal tahun ini terasa agak berbeda bagi saya. Sedikit sendu, karena saya harus melewati malam Natal sendirian. Padahal, damai dan sukacita Natal yang sesungguhnya berasal dari Dia-alasan kita merayakan Natal. Tapi mungkin karena jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah sibuk memikirkan dengan siapa saya akan melewati momen Natal dan menanamkan prinsip bahwa sangat menyedihkan kalau harus merayakan Natal sendirian, jadi ketika Natal tiba saya benar-benar merasa sendu yang tidak perlu.

Satu perayaan sudah lewat, tinggal menghitung hari menunggu pergantian tahun. Minggu depan adalah tahun depan. Semoga masing-masing dari kita dapat merefleksikan hari-hari yang telah terlewati di tahun ini, sebagai bekal untuk menyambut tahun yang baru, dengan penuh damai dan sukacita yang baru tentunya :)

Merry Christmas!

May the joy of Christmas be with us all..

I was having quite a blue Christmas myself though. It's because I had to celebrate this year's Christmas alone, so I wasn't really excited. But, somehow, when I attended the mass, I finally felt the joy of Christmas! Yup, come to think of it, the true meaning of Christmas is the born of Christ, right? So, I shouldn't have felt so blue about being 'alone' ;-)

To all of you that are celebrating Christmas, I wish you and your family a very Merry Christmas!
And for those who aren't, may you feel the love, peace and joy surrounding you :)

*Counting the days for the best year to come now..

December 11, 2010

Suaraku Untukmu

Pukul 01.27 dini hari aku terbangun. Kubisikkan selamat ulang tahun untuknya. Kuucapkan doa baginya. Lelah mata terpejam tapi tak lelap. Membayangkan hari-hari indah yang kulalui bersamanya, hal-hal buruk yang telah kami lewati...

"Hi, apa kabar?" adalah kalimat pertama yang ia ucapkan. "Selamat tinggal," adalah kalimat terakhir yang dapat kuingat. Kedekatan kami berawal dari pembicaraan ringan di kantor. Berlanjut dengan sering pergi berdua, kami menemukan banyak persamaan di antara kami.

Semuanya begitu indah, hingga saat kutahu hatinya ternyata bukan untukku. "Ayo kita menikah," bukanlah kalimat serius yang ditujukannya padaku. "Pergilah jika itu maumu," mungkin adalah isi hatinya yang paling jujur.

Sebenarnya hingga kini pun aku masih tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi kuputuskan untuk berlalu dan beranjak pergi.
Berharap pada sesuatu yang tak pasti. Menanti menjadi hasrat di hati. Sudah tak mungkin bila ingin kembali. Tapi, penyesalan apalah arti..

Jika ini yang terbaik yang bisa kuberi, oh, kasih, pergilah kau dan jangan kembali. Jangan mainkan hati ini dengan sikapmu yang tak pasti.

Aku harus berhenti. Perasaan ini, biar tersimpan dalam lubuk hati. Kau yang begitu berarti, tak pernah akan ada di sisi, itu harus kupahami.

Karena kusanggup walau ku tak mau berdiri sendiri tanpamu.
Aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku kalau memang harus begitu.
Tak perlu kau buatku mengerti.
Tersenyumlah karena kusanggup..
-Agnes Monica-

Define Love

"I love you for no reason, but I hate you for many reasons..."
I created this quote yesterday. Inspired by....someone.
I think if we know why we love someone, it'll be easier for us to stop loving that person.

As for me, it's the love that makes me 'hate' someone. Non-sense, right? But I'm telling the truth. From love, I discover many reasons to 'hate' that someone. I used to keep wondering why people would say they hate their ex while they said they love their partner a lot when they were still together. Isn't it weird that at the moment you say you love, but the next day you say you hate him/her?

Well, I guess I now understand. The meaning behind the word "hate", is when you love someone too much to let them go, but too afraid to have them by your side, and not brave enough to tell him/her the truth. "Hate" when the person you love stop trying, show no efforts in working on the relationship-though I think maybe sometimes we were just making too many excuses in that case.

I never really believed in such thing called love, by the way. But now I'm saying it! Haha..
But if true love does exist, what is it that makes it 'true'?

People felt love in their own different ways, and there are many kinds of love, indeed. Parents' love, couples' love, God's love. If I were to define love in my version, I would say, love is a gift, a strong feeling that can't be described by words, yet should be shown by acts. Does it sounds very idealist? ;-)

December

I'm back (after more than a month of absence)!
The first thing I planned to do was to change the design of this blog. But guess what, I didn't. Haha... Well, I did try to change the template, colors, etc, for two hours (seriously?), but I got stuck with my idealism (that I want each thing to represent a meaning instead of only showing nice design), so eventually, only the font size and background color was changed. Oh, and I also re-read my posts and edited all of them, just to make it better seen.

Anyways, I wouldn't say that I was to busy last month to update the blog-well, yes I was quite busy with some tasks and other many things to do, but I would rather say that I was kind of lazy to update it ;-)

I can't believe that it's almost mid-December already. Few months ago I was so excited waiting for this month to come. And yet I'm counting the days for this month to end now, haha..
The reason why I'm so excited about this month is, obviously, the coming up Christmas, and some other special occasions-birthdays of special people, Mother's Day, long holiday and New Year awaiting as well!

Many things happened this year, so many unpredicted changes, too. To be honest, I'm not quite ready for a new year, a new resolution. But since there aren't many days left, I have to prepare myself to welcoming the new year.

I should start with making some new resolutions by looking back on this year's resolutions, what have I accomplished and what I haven't. Then, make a list of what I want to do, change, and accomplish next year.
Have you made yours? :)

The Spirit of Christmas





October 29, 2010

The thing is, just keep trying..

I never liked Miley Cyrus, but I really like this song. The lyric is so meaningful to me. Let me share it here :)


The Climb - Miley Cyrus
Songwriters: Alexander, J; Mabe, J;

I can almost see it, that dream I'm dreaming, but there's a voice inside my head saying "You'll never reach it".
Every step I'm taking, every move I make feels, lost with no direction. My faith is shaking.
But I gotta keep trying, gotta keep my head held high!
(In my point of view: I have a dream, but I often be afraid to pursue it. When I finally give it a try, sometimes I'm filled with doubts. But no matter how hard, I have to move on, do not stop trying.)

There's always gonna be another mountain. I'm always gonna wanna make it move.
Always gonna be an uphill battle, sometimes I'm gonna have to lose.
Ain't about how fast I get there. Ain't about what's waiting on the other side. It's the climb..
(In my point of view: Through every struggles, any failures, I have to face it. No matter what the outcome is, I just have to TRY.)

The struggles I'm facing, the chances I'm taking, sometimes might knock me down, but no, I'm not breaking.
I may not know it, but these are the moments that I'm gonna remember most. Just gotta keep going.
(In my point of view: The art of trying, will be my best memory eventually. At least I've tried my hardest. I will be satisfied somehow.)

And I, I gotta be strong. Just keep pushing on.

'Cause there's always gonna be another mountain. I'm always gonna wanna make it move.
Always gonna be an uphill battle. Sometimes I'm gonna have to lose.
Ain't about how fast I get there, ain't about what's waiting on the other side. It's the climb!

There's always gonna be another mountain. I'm always gonna wanna make it move.
Always gonna be an uphill battle. Somebody's gonna have to lose.
Ain't about how fast I get there, ain't about what's waiting on the other side. It's the climb, yeah!

Keep on moving, keep climbing. Keep the faith, baby.
It's all about, it's all about the climb. Keep the faith, keep your faith.
(In my point of view: Just do it! Keep your faith. Move on. The point is to keep trying. Because everything starts with a 'try'.)

October 28, 2010

Jangan Salahkan Siapa

"Semua kan gara-gara saran lu!", seorang teman membentak saya di tengah obrolan. Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu saya pernah memberinya saran, "Menurut gue sih bokap lu bakal tersinggung kalau lu daftarin dia asuransi, di saat dia baru sembuh dari sakit begini." Dan pada waktu itu akhirnya dia memang memutuskan tidak jadi mendaftarkan ayahnya masuk asuransi kesehatan.
      
Belum lama ini ayahnya mulai sakit-sakitan, dan dia sering cerita pada saya, bahwa dia takut jika ayahnya sampai harus dirawat di rumah sakit, pasti akan memakan biaya. Sedangkan pendapatannya sendiri pun pas-pasan. Lalu saya menimpali, "Bokap lu ga ada asuransi sih, ya?" Saat itulah dia menyalahkan saya. Menurutnya, jika saja waktu itu saya tidak memberi saran seperti itu, pasti dia sudah mendaftarkan ayahnya masuk asuransi, dan tidak perlu khawatir memikirkan biaya perawatan rumah sakit sekarang.
      
Saya hanya terdiam. Dalam hati saya berpikir, kenapa jadi saya yang disalahkan? Saya kan hanya memberi saran. Bukankah keputusan tetap ada padanya? Kalau pada akhirnya dia terpengaruh dengan saran saya, apakah saya yang harus bertanggung jawab akan keputusannya?

Setelah saya renungkan, saya pun baru sadar bahwa sering kali saya juga bersikap demikian. Di saat bingung menghadapi masalah, saya akan mencari orang lain untuk meminta saran dan pendapat. Jika saya mengikuti saran mereka, terkadang hasilnya kurang baik dan pada akhirnya saya (walau tidak disampaikan secara langsung) akan menyalahkan mereka atas hasil buruk dari keputusan yang saya ambil.
      
Pada suatu sesi curhat, seorang rekan pernah mengatakan pada saya, "Orang cuma bisa kasih saran, tapi keputusan kan ada di tangan lu. Jangan sampai lu selalu mengikuti saran orang. Nanti kalau akhirnya lu nyesel, lu malah bakal nyalahin orang lain."
      
Pesan itu begitu mengena bagi saya. Memang benar, di saat kita ragu atau bingung dalam menghadapi persoalan, kita perlu mendengarkan saran dan pendapat dari orang terdekat. Namun pada akhirnya, kita harus mencari jawabannya dalam diri kita sendiri. Dan jangan menyalahkan orang lain untuk keputusan yang kita ambil secara sadar.

October 26, 2010

Lain di Mulut Lain di Hati

Saya mempunyai seorang teman yang bagi saya 'luar biasa'. Dia dapat dengan benar menebak dan menilai pribadi saya, memuji dengan tulus, dan menegur dengan jujur. Awalnya saya tidak nyaman, tapi semakin lama saya semakin terbiasa dengan sifat luar biasanya itu.

Hanya dia teman yang bisa mengenal 'dalam'nya saya, yang bahkan terkadang tidak saya sadari. Seolah-olah dia bisa mengintip ke dalam lubuk hati saya yang tertutup dengan kain hitam. Padahal, umur pertemanan kami boleh dibilang masih seumur jagung.

Dia jarang memuji, apalagi menunjukkan ekspresi sedang memuji. Tapi dalam hal tertentu, saya tahu bahwa dia bermaksud memuji. Bahkan, tak jarang pujian yang dilontarkan tepat pada waktunya untuk menghibur saya. Karena itu, saya akan senang sekali bila mendengar kalimat pujian darinya, walaupun hanya kalimat sederhana yang tidak lebay. Saya justru beranggapan bahwa pujiannya itu selalu tulus.

Namun, sifat kritisnya sering membuat saya sakit hati. Karena dia suka mengomentari saya dalam banyak hal, dan tidak segan-segan menegur saya jika saya sedang bercerita akan suatu hal (padahal saya hanya berharap didengarkan, bukan dikomentari apalagi dikritik).

Overall, saya bersyukur memiliki teman seperti dia. Paling tidak saya tahu bahwa ada seseorang yang cukup peduli untuk mengerti sifat-sifat dan kekurangan saya, cukup peduli untuk menegur (yang tentunya) demi kebaikan saya.

Hanya saja, di luar semua itu, saya sangat menyayangkan ketidakjujuran diri saya sendiri. Saya tidak pernah mengucapkan kata-kata sederhana seperti "terima kasih" saat dipuji, "coba dengarkan saja" saat saya hanya ingin didengar (dan bukan meminta solus), atau "tidak" saat saya tidak setuju, tidak mau dan tidak suka dengan ide yang dia berikan. Semakin banyak yang ingin saya bicarakan dan tanyakan, semakin sedikit kalimat yang keluar dari bibir saya. Semakin ngawur pula pembicaraan saya.

Karena alasan itu jugalah saya mengalami permasalahan dalam berkomunikasi dengannya. Di saat dia bisa dengan jujur, terbuka dan apa adanya bercerita akan segala hal pada saya, sebaliknya saya hanya dapat menyimpan kalimat-kalimat yang ingin diucapkan dalam hati. Dan akibatnya, ketika kalimat-kalimat itu menumpuk tak tersalurkan, pikiran saya pecah. Saya mulai memliki pikiran-pikiran negatif dan berasumsi sendiri mengikuti emosi, tanpa melihat dengan jelas permasalahan yang sebenarnya. Semakin hari saya semakin sensitif dan sulit diajak bicara. Tidak heran jika pada akhirnya komunikasi kamipun terputus.

Sekarang setelah melewati masa-masa itu, saya sadar bahwa semua permasalahan ada pada diri saya yang tidak jujur dan terbuka dalam berkomunikasi. Sehingga teman saya itu mungkin hingga kini tidak pernah tahu apa yang sebenarnya saya permasalahkan. Dan saya, hanya terus menyalahkan dia, berpikir "seharusnya dia.....", "seharusnya kan dia.....", "dia tidak seharusnya....."

Lain kali jika saya mengalami permasalahan seperti ini, baik dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja, saya akan mencoba lebih jujur, terbuka dan apa adanya. Jadi saya tidak perlu merasa was-was, uncomfortable dan terus berasumsi sendiri tanpa menjelaskan kekhawatiran saya yang sesungguhnya.

Saya ingin mengutip kalimat dari film Life As We Know It yang saya tonton belum lama ini, "If my wife and I (red., sudah bercerai) fought like that, we would still be married."

Benar juga, setiap permasalahan harus dibicarakaan, setiap perasaan harus diungkapkan. Jika hasilnya tidak baik, ya sudah. Paling tidak, permasalahan yang sesungguhnya akan lebih 'jelas' dan tidak abu-abu bagi salah satu pihak. Kehilangan satu teman sudah cukup bagi saya.

October 24, 2010

I am Me!


I was really touched by this 10-minute commercial video from Thailand. I got it from a seminar that I attended about three weeks ago. The best part that I like is when the deaf girl asked the old man, "Why am I different from others?" and the old man answered, "WHY DO YOU HAVE TO BE LIKE OTHERS?"

I realized that all this time (whether or not it happens with intentions), I have always been trying to be like others. I want to be happy like her, I want to be smart like him, I want to be what I'm told to be?! And some other 'want-to-be' in my life.

But, why do I have to be like others? Would I be happy and satisfied if I can be like others? What's the purpose of trying to be like others, anyway? That's a very good point for me as a reflection.
I can't keep thinking I need to be like others or what others told me to be, and wondering 'if I were him/her'. I am me, and let me just be me!

I have to accept myself, my life and all things about me that is 'me' and just be grateful with what I already have, instead of complaining with what I don't. I should just live my life in the way I wanted to, instead of following what others told me to, that I lost my real 'journey' in life (note, i can only have one life).

I hope that by the time I have to leave this world, the last thing I have in mind would be: I'm grateful for what I've been through my whole life, with just being me, and pursuing my own dreams and happiness, and that I'm satisfied with it, at last.


October 22, 2010

Fix = Change ?

Engsel pintu kamar saya kendur dan menyebabkan posisi pintu agak turun, sehingga ketika pintu dibuka atau ditutup akan bergesekan dengan lantai. Beberapa waktu yang lalu bagian bawah pintu tersebut sudah dikikis dengan gergaji dan hasilnya pintu itu sudah tidak bergesekan dengan lantai lagi ketika dibuka atau ditutup.

Namun belum lama ini, pintu itu kembali (perlahan-lahan dan semakin parah) bergesekan dengan lantai. Mungkin memang karena engselnya kendur, sehingga walaupun sudah dikikis, lama-kelamaan posisi pintunya kembali turun.

Hal ini mengingatkan saya pada argumentasi yang saya miliki dengan salah seorang teman dulu. Ketika membahas tentang kepribadian buruk yang dimiliki seseorang, saya berpendapat bahwa orang itu harus memperbaikinya. Sedangkan teman saya berpendapat lain, dimana jika seseorang memperbaiki salah satu atau sebagian kepribadian buruk yang dimiliki, sama dengan orang itu berubah (alias tidak menjadi dirinya apa adanya lagi).

Bagaimanapun dengan sifat saya yang keras kepala dan tidak mau kalah ini, saya tetap kekeuh dengan pendapat saya. Dan teman saya itu pun tetap pada pendiriannya, bahwa fix = change.
Yah, saya juga tidak mau memaksakan kehendak saya agar teman saya itu berpendapat sama. Hanya saja jika pintu kamar saya dijadikan contoh, apakah dengan memperbaiki (mengkikis) bagian bawah pintu, maka pintu tersebut telah berubah? Saya rasa tidak. Pintu itu tetap pintu yang sama, tetapi sudah diperbaiki menjadi lebih baik (walaupun pada akhirnya kembali ke semula).

Tapi itu hanya sebuah contoh dari sebuah benda, pintu, yang bisa kita atur bagaimana baiknya. Lain halnya dengan manusia. Kepribadian atau sifat tiap-tiap orang tergantung pada masing-masing pribadi. Apakah mereka mempunya niat untuk memperbaiki yang buruk (atau 'berubah').

Yang jelas bagi saya, pintu yang sudah di'perbaiki' itu toh tetap pintu yang sama, tidak 'berubah' pada akhirnya. Menurut anda?

October 21, 2010

'Apapun, walaupun'

Hampir setiap malam saya selalu melewati lampu merah di jalan yang sama. Pernah suatu hari saat saya 'terkena' lampu merah dan berada di posisi paling depan, saya melihat sekelompok anak-anak kecil sedang duduk di trotoar tanpa alas kaki. Mereka semua berbadan kurus dan (maaf) berwajah dekil.

Entah mengapa saya sangat tersentuh melihat pemandangan itu. Spontan saya berpikir dalam hati, seandainya saya bisa membantu meningkatkan taraf hidup mereka, bukankah semua manusia seharusnya mempunyai hak yang sama dalam hidup?

Di tengah lamunan saya mendengar bunyi klakson dari beberapa kendaraan di belakang saya. Ternyata lampu hijau sudah menyala. Sepanjang sisa perjalanan pulang saya tidak berhenti membayangkan pemandangan yang saya lihat itu, dan terus memikirkan bagaimana cara saya (yang juga memiliki keterbatasan materi) membantu mereka?

Tapi pikiran negatif pun muncul dalam benak saya, "belum tentu mereka benar-benar anak-anak tidak mampu, bisa saja mereka hanya bersandiwara agar mendapat simpati dan bantuan dari begitu banyaknya orang-orang yang berlalu-lalang melewati lampu merah tersebut."

Tiba di rumah, pikiran saya sudah penuh dengan 'anak-anak lampu merah'. Pada akhirnya saya menyimpulkan, apapun kebenarannya, itu bukan urusan saya. Jika saya memang memiliki niat untuk peduli pada mereka, saya tidak perlu peduli pada pikiran-pikiran negatif saya.

Saya dapat menunjukkan perhatian saya dengan tindakan konkret daripada sekedar perasaan simpati dan rasa kasihan. Toh, banyak hal yang dapat saya lakukan dengan segala keterbatasan saya dan di luar kekhawatiran-kekhawatiran yang ada.

Mulailah keesokan harinya saya 'menyapa' mereka dengan beberapa makanan ringan yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Hanya snack-snack cemilan memang, bukan berupa materi. Tapi mereka tetap menyambut saya dengan baik. Satu dari mereka bahkan mengucapkan, "Terima kasih ya, kak." sambil memandang langsung ke mata saya. Wah, tidak terbayangkan perasaan saya waktu itu. Hanya dengan melakukan hal kecil, saya dapat merasakaan kebahagiaan yang luar biasa.
Hari-hari berikutnya saya sering mampir melakukan hal yang sama. Salah satu dari mereka bahkan ada yang menjuluki saya dengan sebutan 'kakak langganan saya'. Haha...

“We cannot all do great things, but we can do small things with great love.” -Mother Teresa of Calcutta-

October 16, 2010

She sees and shoots
















Menahan Diri vs Lepas Kendali

Saya dan dua teman saya yang lain pergi berlibur ke empat negara selama seminggu beberapa waktu yang lalu. Demi untuk menghemat dan menggenapi cita-cita yang sudah lama belum tersampaikan, maka saya pergi dengan cara backpacking (hanya membawa satu tas punggung berisi barang sesuai keperluan saja). Dengan tekad berhemat pula, saya sudah merencanakan untuk tidak berbelanja sama sekali (walau hanya sekedar oleh-oleh).

Hari pertama sukses dengan ekstra mengirit, hari kedua pun demikian. Namun pada hari ketiga, tahu-tahu hasil belanjaan saya justru paling banyak diantara dua teman saya yang lain!
Jadilah saya melanjutkan perjalanan berikutnya dengan tambahan satu tas hasil belanjaan.

Hari-hari terakhir yang kami habiskan di negri keempat yang kami kunjungi, lagi-lagi saya berbelanja banyak!
Barulah saya sadar bahwa barang saya sudah berlebihan saat saya harus packing barang untuk pulang ke tanah air. Dengan sebaik dan serapi mungkin saya susun barang-barang hasil belanjaan dan barang bawaan saya. Alhasil, total empat tas yang saya bawa pulang ke Indonesia!

Setelah saya refleksikan perjalanan yang sudah lewat tersebut, saya hanya tersenyum dan berpikir: mungkin saya jadi 'gila' belanja karena dari awal saya terlalu memaksakan diri untuk berhemat. Sehingga tanpa saya sadari justru timbul gejolak dalam diri untuk TIDAK berhemat, yang akhirnya malah jadi berlebihan. Jika saya bisa let loose sedikit, mungkin saya justru hanya akan berbelanja sewajarnya.
Buktinya, harus saya akui bahwa saya memang merasa lebih fun dan excited mulai hari ketiga perjalanan kami ;-)

So, ladies, don't push yourselves too hard in life. Sometimes you just have to let loose a little bit to feel good..

Mengeluh Tanpa Disuruh

"Panas banget, sih." "Aduh, hujan lagi!" Kalimat-kalimat tersebut sering saya ucapkan akhir-akhir ini. Apakah itu hanya sebuah kalimat biasa yang begitu saja terlontar dari mulut saya? Saya rasa tidak. Itu merupakan salah satu bentuk 'keluhan'.

Mudah sekali bagi saya untuk mengeluh, dari hal-hal kecil soal cuaca (seperti contoh di atas), hingga hal-hal besar di mana saat saya sedang menghadapi suatu masalah. Apakah mengeluh membuat saya lebih baik? Tidak! Malah bisa dibilang mengeluh hanya memperparah suasana dan keadaan.

Lalu kenapa saya masih saja suka mengeluh, jika bahkan tidak ada manfaatnya bagi saya, baik untuk membuat saya merasa lebih baik maupun membantu menyelesaikan permasalahan? Hmm.. Jika saya renungkan, saya malah hanya akan kembali mengeluh, "Gua nih gimana sih, ngeluh terus kerjaannya."

Sebenarnya jika dipikir-pikir, cukup mudah untuk tidak mengeluh ya, hanya dengan bersikap sebaliknya, bersyukur. Walaupun saya katakan gampang secara teori, namun pada kenyataannya cukup sulit bagi saya untuk melakukannya. Tapi bagaimanapun saya harus belajar untuk berhenti mengeluh.

"Wah, senangnya cuaca cerah," "Untung hujan turun," akan terdengar lebih nyaman di telinga? =)

October 11, 2010

Jika Cinta Dia

"Happy Anniversary!" Hari ini adalah hari jadi saya dengan mantan pacar saya. Kenapa saya malah mengucapkan Happy Anniversary padahal hubungan kami sudah berakhir? Tanya kenapa? Mungkin, karena saya memang tidak pernah melupakannya sampai sekarang.. Saya bohong jika saya bilang perasaan saya terhadapnya sudah berubah ;)

Tapi bukan berarti bahwa saya akan terus mengenangnya. Karena waktu berjalan dan life goes on bukan? Seperti salah satu lirik lagu Fergie, “.... but I’ve got to get a move on with my life,saya tidak mungkin selamanya stuck pada ruang waktu di mana saya dan dia dulu pernah bersama. 
Saya harus berjalan dari pintu yang tertutup agar bisa sampai pada pintu yang terbuka. 

Lalu kenapa hari ini pun saya masih mengenang (hari jadi) kami? Karena saya berharap bahwa saya bisa mulai melangkah meninggalkan pintu yang tertutup, mulai besok. Kenapa harus besok? Karena saya memberi batas waktu pada diri saya sendiri, dan hari ini adalah hari yang tepat dari sebuah awal menjadi akhir. Hari ini, saya akan mengenang dia, waktu yang pernah kami lalui bersama, dan segala kenangan akan dirinya yang tersimpan dalam benak saya sampai puas. Besok, saya harus berhenti memikirkan dia!

Apakah lalu hati saya pun bisa langsung berubah? Haha.. Saya yakin tidak semudah itu. Tapi paling tidak, saya harus berusaha, mulai dari berhenti memikirkan dan mengkhawatirkan segala hal tentang dirinya.

Toh, terus mengenang masa yang lalu juga tidak akan merubah apa pun, bukan? Yang ada saya malah jadi tidak bisa menikmati masa-masa sekarang dan menyambut masa yang akan datang.

October 9, 2010

Aku ingin begini, aku ingin begitu..

Sejak kecil saya tidak pernah diajari ataupun mempelajari ilmu bisnis. Yang saya tahu, saya sangat gemar mencari uang dan menabung. Selalu ada saja ide-ide untuk mendapatkan uang. Mulai dari berjualan snack dan minuman hingga menjual jasa pijat (khusus untuk anggota keluarga saya).

Beranjak 'ABG', ide-ide untuk menghasilkan uang pun tidak lepas dari otak saya. Pernah saat saya berumur 14 tahun, saya menyampaikan ide saya pada orang-orang terdekat, "Aku mau buka toko, jualan aksesoris-aksesoris rambut, dll. Beli barangnya grosiran aja, tapi dikemas ulang yang bagus, lalu dijual deh dengan harga tinggi." Namun ide itu tidak pernah terlaksana karena tidak ada satupun yang mendukung rencana saya tersebut. Dan sebagai anak berumur 14 tahun, memang tidak banyak yang bisa saya lakukan sendiri. Padahal sekarang (beberapa tahun sejak pertama kali saya mempunyai ide itu), dimana-mana sudah menjamur toko-toko yang menjual aksesoris di mal-mal.

Hingga kini, banyak sekali ide-ide yang sudah saya pikirkan tapi tidak 'kesampaian'. Dari sekedar keinginan untuk menjadi penulis, pembawa berita, tour organizer hingga keinginan untuk punya usaha sendiri dan berinvestasi. Tidak jauh-jauh, tahun lalu saya memiliki hasrat yang sangat tinggi sekali untuk membeli emas sebagai investasi (walaupun akhirnya saya tidak jadi membeli). Dan benar saja, saat ini harga emas sudah mengalami kenaikan di atas 10% dibanding tahun lalu.

Jika saya renungkan lagi, entah sudah berapa banyak keinginan-keinginan dan ide-ide yang bermunculan di otak saya, namun tidak satupun yang terlaksana. Mengapa? Jawabannya mungkin sederhana, "TIDAK".
Ya, saya tidak pernah berusaha untuk mencapai apa yang saya inginkan. Pada akhirnya saya hanya mencari-cari alasan untuk meng-excuse-kan diri!

Saya teringat akan suatu kelas debat yang saya ikuti. Dimana lawan saya memberi statement: "What's the meaning of trying if it won't even succeed?," dan saya menjawab dengan tegas, "And what's the meaning of success without even trying?"
Saya dapat berdebat dengan penuh keyakinan diri, padahal, apakah yang saya ucapkan sama seperti realita yang saya lakukan? TIDAK!

Saya boleh saja menginginkan banyak hal dan berangan-angan akan kesuksesan rencana itu, tapi jika saya hanya think without trying, mana mungkin saya mendapatkan hasil (entah baik atau buruk)? Paling tidak, saya harus mulai dari mencoba dulu, iya kan?

Rumus 80/20 Dalam Perselingkuhan

Ada kerabat saya yang sedang mengalami permasalahan dalam rumah tangganya. Suami yang sangat dicintainya belakangan diketahui ternyata bermain 'pintu belakang'. Padahal kerabat saya itu bisa dibilang sosok istri idaman para pria. Tapi mengapa suaminya justru berselingkuh? Ketika sedang merenungkan hal itu, saya teringat akan sebuah film drama komedi yang saya tonton di DVD beberapa waktu yang lalu.

Ceritanya ada sepasang suami-istri yang bercerai karena suaminya berselingkuh dan ingin menikahi selingkuhannya itu. Sebelum memutuskan untuk bercerai, si suami sempat curhat dengan teman-teman prianya, dan teman-temannya bertanya, "Kenapa kau tergesa-gesa ingin mengambil keputusan untuk menceraikan istrimu? Lagipula wanita selingkuhanmu itu kan baru kau kenal?" Si suami menjawab mereka, "Kalian bisa lihat sendiri tubuh istriku yang gendut itu. Sedangkan Laura (selingkuhannya) sangat seksi, dia bisa membuatku merasa senang dan bangga."

Lalu salah seorang dari temannya menjawab, "Kau tahu hukum 80/20? Kau memiliki istri yang baik, pintar masak, rajin, dsb. Bisa dibilang dia memiliki nilai 80%. Namun kau mencari 20% yang tidak dimiliki istrimu pada wanita lain yang tidak memiliki 80% yang dimiliki istrimu." Si suami pun hanya menjawab temannya sambil tertawa mengejek, "Sudahlah, kau tidak usah sok ceramah begitu."

Setelah bercerai dan menikahi selingkuhannya selama beberapa bulan, si suami itu kembali curhat pada teman-temannya. "Aku merindukan mantan istriku." Mereka serentak tertawa dan bertanya, "Apa kau bilang barusan? Apakah kami tidak salah dengar? Kau merindukan mantan istrimu? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, Laura, istri yang cantik dan seksi?" Si suami pun menjawab dengan raut wajah tidak bersemangat, "Ya, Laura memang cantik dan seksi, tapi dia sama sekali tidak bisa memasak atau mencuci baju. Yang dikerjakannya setiap hari hanya memboroskan uang untuk pergi ke salon dan shopping."

Secuplik adegan di atas cukup menjelaskan bagaimana hukum 80/20 dalam perselingkuhan terjadi. Tidak jauh berbeda mungkin, dengan kenyataan-kenyataan yang ada. Dimana para peselingkuh mulai mencari alasan-alasan untuk membenarkan kesalahannya.

Yang menjadi pertanyaan saya, apakah benar worth it, mendapatkan yang 20, sementara kehilangan yang 80? Ataukah cukup bersyukur dan menghargai 80 yang dimiliki, tanpa mempermasalahkan atau mencari 20 yang tidak dimiliki oleh pasangan kita?