Saya mempunyai seorang teman yang bagi saya 'luar biasa'. Dia dapat dengan benar menebak dan menilai pribadi saya, memuji dengan tulus, dan menegur dengan jujur. Awalnya saya tidak nyaman, tapi semakin lama saya semakin terbiasa dengan sifat luar biasanya itu.
Hanya dia teman yang bisa mengenal 'dalam'nya saya, yang bahkan terkadang tidak saya sadari. Seolah-olah dia bisa mengintip ke dalam lubuk hati saya yang tertutup dengan kain hitam. Padahal, umur pertemanan kami boleh dibilang masih seumur jagung.
Dia jarang memuji, apalagi menunjukkan ekspresi sedang memuji. Tapi dalam hal tertentu, saya tahu bahwa dia bermaksud memuji. Bahkan, tak jarang pujian yang dilontarkan tepat pada waktunya untuk menghibur saya. Karena itu, saya akan senang sekali bila mendengar kalimat pujian darinya, walaupun hanya kalimat sederhana yang tidak lebay. Saya justru beranggapan bahwa pujiannya itu selalu tulus.
Namun, sifat kritisnya sering membuat saya sakit hati. Karena dia suka mengomentari saya dalam banyak hal, dan tidak segan-segan menegur saya jika saya sedang bercerita akan suatu hal (padahal saya hanya berharap didengarkan, bukan dikomentari apalagi dikritik).
Overall, saya bersyukur memiliki teman seperti dia. Paling tidak saya tahu bahwa ada seseorang yang cukup peduli untuk mengerti sifat-sifat dan kekurangan saya, cukup peduli untuk menegur (yang tentunya) demi kebaikan saya.
Hanya saja, di luar semua itu, saya sangat menyayangkan ketidakjujuran diri saya sendiri. Saya tidak pernah mengucapkan kata-kata sederhana seperti "terima kasih" saat dipuji, "coba dengarkan saja" saat saya hanya ingin didengar (dan bukan meminta solus), atau "tidak" saat saya tidak setuju, tidak mau dan tidak suka dengan ide yang dia berikan. Semakin banyak yang ingin saya bicarakan dan tanyakan, semakin sedikit kalimat yang keluar dari bibir saya. Semakin ngawur pula pembicaraan saya.
Karena alasan itu jugalah saya mengalami permasalahan dalam berkomunikasi dengannya. Di saat dia bisa dengan jujur, terbuka dan apa adanya bercerita akan segala hal pada saya, sebaliknya saya hanya dapat menyimpan kalimat-kalimat yang ingin diucapkan dalam hati. Dan akibatnya, ketika kalimat-kalimat itu menumpuk tak tersalurkan, pikiran saya pecah. Saya mulai memliki pikiran-pikiran negatif dan berasumsi sendiri mengikuti emosi, tanpa melihat dengan jelas permasalahan yang sebenarnya. Semakin hari saya semakin sensitif dan sulit diajak bicara. Tidak heran jika pada akhirnya komunikasi kamipun terputus.
Sekarang setelah melewati masa-masa itu, saya sadar bahwa semua permasalahan ada pada diri saya yang tidak jujur dan terbuka dalam berkomunikasi. Sehingga teman saya itu mungkin hingga kini tidak pernah tahu apa yang sebenarnya saya permasalahkan. Dan saya, hanya terus menyalahkan dia, berpikir "seharusnya dia.....", "seharusnya kan dia.....", "dia tidak seharusnya....."
Lain kali jika saya mengalami permasalahan seperti ini, baik dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja, saya akan mencoba lebih jujur, terbuka dan apa adanya. Jadi saya tidak perlu merasa was-was, uncomfortable dan terus berasumsi sendiri tanpa menjelaskan kekhawatiran saya yang sesungguhnya.
Saya ingin mengutip kalimat dari film Life As We Know It yang saya tonton belum lama ini, "If my wife and I (red., sudah bercerai) fought like that, we would still be married."
Benar juga, setiap permasalahan harus dibicarakaan, setiap perasaan harus diungkapkan. Jika hasilnya tidak baik, ya sudah. Paling tidak, permasalahan yang sesungguhnya akan lebih 'jelas' dan tidak abu-abu bagi salah satu pihak. Kehilangan satu teman sudah cukup bagi saya.