Ada kerabat saya yang sedang mengalami permasalahan dalam rumah tangganya. Suami yang sangat dicintainya belakangan diketahui ternyata bermain 'pintu belakang'. Padahal kerabat saya itu bisa dibilang sosok istri idaman para pria. Tapi mengapa suaminya justru berselingkuh? Ketika sedang merenungkan hal itu, saya teringat akan sebuah film drama komedi yang saya tonton di DVD beberapa waktu yang lalu.
Ceritanya ada sepasang suami-istri yang bercerai karena suaminya berselingkuh dan ingin menikahi selingkuhannya itu. Sebelum memutuskan untuk bercerai, si suami sempat curhat dengan teman-teman prianya, dan teman-temannya bertanya, "Kenapa kau tergesa-gesa ingin mengambil keputusan untuk menceraikan istrimu? Lagipula wanita selingkuhanmu itu kan baru kau kenal?" Si suami menjawab mereka, "Kalian bisa lihat sendiri tubuh istriku yang gendut itu. Sedangkan Laura (selingkuhannya) sangat seksi, dia bisa membuatku merasa senang dan bangga."
Lalu salah seorang dari temannya menjawab, "Kau tahu hukum 80/20? Kau memiliki istri yang baik, pintar masak, rajin, dsb. Bisa dibilang dia memiliki nilai 80%. Namun kau mencari 20% yang tidak dimiliki istrimu pada wanita lain yang tidak memiliki 80% yang dimiliki istrimu." Si suami pun hanya menjawab temannya sambil tertawa mengejek, "Sudahlah, kau tidak usah sok ceramah begitu."
Setelah bercerai dan menikahi selingkuhannya selama beberapa bulan, si suami itu kembali curhat pada teman-temannya. "Aku merindukan mantan istriku." Mereka serentak tertawa dan bertanya, "Apa kau bilang barusan? Apakah kami tidak salah dengar? Kau merindukan mantan istrimu? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, Laura, istri yang cantik dan seksi?" Si suami pun menjawab dengan raut wajah tidak bersemangat, "Ya, Laura memang cantik dan seksi, tapi dia sama sekali tidak bisa memasak atau mencuci baju. Yang dikerjakannya setiap hari hanya memboroskan uang untuk pergi ke salon dan shopping."
Secuplik adegan di atas cukup menjelaskan bagaimana hukum 80/20 dalam perselingkuhan terjadi. Tidak jauh berbeda mungkin, dengan kenyataan-kenyataan yang ada. Dimana para peselingkuh mulai mencari alasan-alasan untuk membenarkan kesalahannya.
Yang menjadi pertanyaan saya, apakah benar worth it, mendapatkan yang 20, sementara kehilangan yang 80? Ataukah cukup bersyukur dan menghargai 80 yang dimiliki, tanpa mempermasalahkan atau mencari 20 yang tidak dimiliki oleh pasangan kita?