Engsel pintu kamar saya kendur dan menyebabkan posisi pintu agak turun, sehingga ketika pintu dibuka atau ditutup akan bergesekan dengan lantai. Beberapa waktu yang lalu bagian bawah pintu tersebut sudah dikikis dengan gergaji dan hasilnya pintu itu sudah tidak bergesekan dengan lantai lagi ketika dibuka atau ditutup.
Namun belum lama ini, pintu itu kembali (perlahan-lahan dan semakin parah) bergesekan dengan lantai. Mungkin memang karena engselnya kendur, sehingga walaupun sudah dikikis, lama-kelamaan posisi pintunya kembali turun.
Hal ini mengingatkan saya pada argumentasi yang saya miliki dengan salah seorang teman dulu. Ketika membahas tentang kepribadian buruk yang dimiliki seseorang, saya berpendapat bahwa orang itu harus memperbaikinya. Sedangkan teman saya berpendapat lain, dimana jika seseorang memperbaiki salah satu atau sebagian kepribadian buruk yang dimiliki, sama dengan orang itu berubah (alias tidak menjadi dirinya apa adanya lagi).
Bagaimanapun dengan sifat saya yang keras kepala dan tidak mau kalah ini, saya tetap kekeuh dengan pendapat saya. Dan teman saya itu pun tetap pada pendiriannya, bahwa fix = change.
Yah, saya juga tidak mau memaksakan kehendak saya agar teman saya itu berpendapat sama. Hanya saja jika pintu kamar saya dijadikan contoh, apakah dengan memperbaiki (mengkikis) bagian bawah pintu, maka pintu tersebut telah berubah? Saya rasa tidak. Pintu itu tetap pintu yang sama, tetapi sudah diperbaiki menjadi lebih baik (walaupun pada akhirnya kembali ke semula).
Tapi itu hanya sebuah contoh dari sebuah benda, pintu, yang bisa kita atur bagaimana baiknya. Lain halnya dengan manusia. Kepribadian atau sifat tiap-tiap orang tergantung pada masing-masing pribadi. Apakah mereka mempunya niat untuk memperbaiki yang buruk (atau 'berubah').
Yang jelas bagi saya, pintu yang sudah di'perbaiki' itu toh tetap pintu yang sama, tidak 'berubah' pada akhirnya. Menurut anda?