I just completed my 1000 jigsaw puzzle today. When I first started, I was sure that the pieces were incomplete. Towards the end I was frustrated and all the pieces didn't seem to make any sense. But eventually, I made it. Slowly but sure. Piece by piece. There's this particular joy and happiness when I look at the picture and remember the memory behind it, and the effort put into it. Just like life. A friend once said, "No matter how hard the puzzle, and whether you don't think you have all the pieces, if you work hard enough it will become a beautiful picture."
We all have struggles, problems and obstacles in our lives. Whether it is work problems, relationship problems, financial problems. Sometimes we feel like there's no solutions. We lose hope. We despair. We forget or ignore to remember, it's not the end of the world. "This too shall pass." Only after we go through all the misery in life can we find and feel the true beauty and purpose of life itself. Life goes on. Memories fade. Sometimes in the end we realise what seemed to matter a lot didn't matter at all, or won't matter any more. Just keep the faith, learn the lessons, and know that you are stronger than you think you could be.
February 15, 2016
Sandiwaraku
Kemarin saya merayakan hari kasih sayang bersama dengan ibu saya di sebuah mal. Hal pertama yang kami lakukan begitu sampai adalah makan kecil di sebuah restoran menu barat. Saat saya mau minta bill, ibu saya buru-buru berdiri dan langsung menuju ke kasir supaya beliau bisa bayar. Reaksi pertama saya adalah mengomentari ibu saya "Mama jangan malu-maluin dong." Saya langsung menyesali perkataan saya tersebut. Niat baik ibu saya mau membayar malah saya balas dengan perkataan yang dilandasi gengsi seperti itu. Setelah itu saya langsung minta maaf ke beliau dan menyampaikan bahwa maksud saya hanya ingin membayar. Tapi sesudah minta maaf pun hati saya masih tidak tenang, dipenuhi rasa bersalah.
Dewasa ini hidup kita bagai sebuah panggung sandiwara. Kita menampilkan sisi kita ke dunia seperti yang mereka inginkan saja. Kenapa bayar langsung di kasir di rumah makan sederhana tidak memalukan, tapi di restoran atau kafe ternama memalukan? Karena lingkungan membuat 'peraturan' seperti itu. Jadi kita pun mengikuti apa yang "seharusnya" di mata dunia, bukan yang "sebaiknya" dan "sebenarnya". Memberi tips tidak lagi seikhlasnya, tapi sewajarnya sesuai rata-rata pemberian tips orang pada umumnya. Daftar belanja tidak lagi berdasarkan kebutuhan, tapi semata hanya untuk bersanding dengan kedudukan sosial. Niat baik tidak lagi didasari ketulusan, melainkan keharusan, kewajiban dan kemunafikan. Tidak lelah kah kita hidup di dunia yang fana ini terus berkompetisi untuk menjadi "manusia" ala dunia?
Dewasa ini hidup kita bagai sebuah panggung sandiwara. Kita menampilkan sisi kita ke dunia seperti yang mereka inginkan saja. Kenapa bayar langsung di kasir di rumah makan sederhana tidak memalukan, tapi di restoran atau kafe ternama memalukan? Karena lingkungan membuat 'peraturan' seperti itu. Jadi kita pun mengikuti apa yang "seharusnya" di mata dunia, bukan yang "sebaiknya" dan "sebenarnya". Memberi tips tidak lagi seikhlasnya, tapi sewajarnya sesuai rata-rata pemberian tips orang pada umumnya. Daftar belanja tidak lagi berdasarkan kebutuhan, tapi semata hanya untuk bersanding dengan kedudukan sosial. Niat baik tidak lagi didasari ketulusan, melainkan keharusan, kewajiban dan kemunafikan. Tidak lelah kah kita hidup di dunia yang fana ini terus berkompetisi untuk menjadi "manusia" ala dunia?
Subscribe to:
Posts (Atom)