Labels

February 15, 2016

Sandiwaraku

Kemarin saya merayakan hari kasih sayang bersama dengan ibu saya di sebuah mal. Hal pertama yang kami lakukan begitu sampai adalah makan kecil di sebuah restoran menu barat. Saat saya mau minta bill, ibu saya buru-buru berdiri dan langsung menuju ke kasir supaya beliau bisa bayar. Reaksi pertama saya adalah mengomentari ibu saya "Mama jangan malu-maluin dong." Saya langsung menyesali perkataan saya tersebut. Niat baik ibu saya mau membayar malah saya balas dengan perkataan yang dilandasi gengsi seperti itu. Setelah itu saya langsung minta maaf ke beliau dan menyampaikan bahwa maksud saya hanya ingin membayar. Tapi sesudah minta maaf pun hati saya masih tidak tenang, dipenuhi rasa bersalah.

Dewasa ini hidup kita bagai sebuah panggung sandiwara. Kita menampilkan sisi kita ke dunia seperti yang mereka inginkan saja. Kenapa bayar langsung di kasir di rumah makan sederhana tidak memalukan, tapi di restoran atau kafe ternama memalukan? Karena lingkungan membuat 'peraturan' seperti itu. Jadi kita pun mengikuti apa yang "seharusnya" di mata dunia, bukan yang "sebaiknya" dan "sebenarnya". Memberi tips tidak lagi seikhlasnya, tapi sewajarnya sesuai rata-rata pemberian tips orang pada umumnya. Daftar belanja tidak lagi berdasarkan kebutuhan, tapi semata hanya untuk bersanding dengan kedudukan sosial. Niat baik tidak lagi didasari ketulusan, melainkan keharusan, kewajiban dan kemunafikan. Tidak lelah kah kita hidup di dunia yang fana ini terus berkompetisi untuk menjadi "manusia" ala dunia?