Sering kali saya baru menyadari betapa berharganya sesuatu saat saya kehilangan sesuatu itu. Setiap hari saya lalui dengan keluhan. Dari masalah pekerjaan, kesehatan, hubungan dengan teman dan keluarga, kisah percintaan, kondisi finansial, dsb. Hidup saya pun terasa tidak bahagia dan sangat melelahkan. Rasanya semua perjuangan saya sia-sia, menjalani rutinitas tanpa hasil. Padahal kalau mau saya telusuri kembali, saya bukannya tidak mencapai hasil apa-apa. Malahan, pencapaian saya terus beranjak. Kondisi fisik saya lebih kuat. Pekerjaan saya lebih baik dari segi pendapatan, yang secara tidak langsung memengaruhi kondisi finansial saya juga. Saya mencintai orang yang mencintai saya. Keluarga dan teman-teman saya pun tetap ada bagi saya. Tapi kapankah terakhir saya berhenti sejenak untuk berpikir, betap beruntungnya saya, betapa bersyukurnya saya dengan kehidupan yang saya miliki? Jujur, saya tidak ingat. Mungkin sudah lama sekali, atau tidak pernah sama sekali.
Ketika sakit, saya mengeluh. Ketika sehat, saya tidak bersyukur.
Ketika menganggur, saya mengeluh. Ketika bekerja, saya tidak bersyukur.
Ketika ada masalah, saya mengeluh. Ketika semua berjalan baik, saya tidak bersyukur.
Jadi, ketika saya tidak bahagia, salahkan siapa? Saya.