Uang Rp 5.000 di kantong celana saya siapkan untuk membayar ongkos bus. Pagi itu saya naik bus angkutan kota menuju ke salah satu pom bensin di Jakarta Barat yang merupakan meeting point dengan teman saya. Kami berencana pergi ke Puncak untuk berpartisipasi dalam suatu event.
Saya menerima kembalian selembar uang kertas Rp 2.000 dan dua keping koin Rp. 500 dari kenek bus. Saya masukkan kembali ke kantong celana.
Sekitar lima menit setelah saya naik, ada sekelompok pengamen naik ke bus yang saya tumpangi. Mereka bertiga menarik perhatian saya dari awal karena ketiga pria itu terlihat sangat bersih, rapi, sopan, dan sudah cukup berumur. "Selamat pagi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Salam damai sejahtera." Kalimat pembuka mereka menyenangkan hati saya. Walau hanya kalimat sederhana, tapi "Salam damai sejahtera" telah merubah mood saya yang pagi itu kurang baik (disebabkan kurang tidur, dsb). Saya tersenyum kecil, ingin rasanya balas menjawab "Selamat pagi, salam damai sejahtera!"
Lagu yang mereka lantunkan asing di telinga saya. Suara mereka pun fals. Tapi saya menikmatinya. Di akhir "pertunjukan," saya merogoh kantong mengambil dua keping koin untuk diberikan kepada mereka. Dan sebelum mereka turun dari bus, saya mendengar salah satu dari mereka yang mengumpulkan uang bergumam sendiri (sambil menggenggam kumpulan koin-koin hasil "pertunjukan" mereka), "Penglaris." Nada suaranya benar-benar seperti orang yang sangat bersyukur sekali.
Tidak sampai lima menit kemudian, naik lagi tiga orang pengamen. Hanya saja, kali ini suasana tidak seperti sebelumnya. Ketiga anak muda ini berpenampilan seperti preman jadi-jadian. Kalimat pembuka mereka pun sangat "meriah." "Bapak, Ibu, daripada kami menyolong dan mencuri, siapa tahu musik bisa mengetuk kebaikan hati Saudara."
Lagu yang mereka nyanyikan tidak asing bagi saya. Suara mereka juga lebih bernada dibanding kelompok pengamen sebelumnya. Saya membuka tas, mengambil dompet dan mengeluarkan sekeping koin Rp 500. Mereka bertiga. Usaha mereka patut dihargai, walaupun tindakan mereka kurang berkenan di hati. Pikir saya waktu itu.
Setelah selesai menyanyi, mereka mulai mengedarkan topi sebagai wadah untuk "hasil pertunjukan." Saya lihat tidak banyak yang memberi. Terang saja, belum lima menit yang lalu sudah ada yang mengamen. Anak-anak muda ini terlihat kesal dan mulai melontarkan kata-kata makian kasar. Sangat tidak enak didengar. Satu per satu penumpang ditepok bahunya dan dimaki-maki. Mungkin berharap mereka takut, berubah pikiran lalu memberi "Gope aja," kata salah satu dari anak muda bengis itu.
Walau dengan ancaman sekali pun, tidak banyak yang memberi "gope aja" kepada mereka. Semua penumpang di dalam bus diumpat-umpat dan dikutuk-kutuki. "Ngasih gope aja apa susahnya, sih, ga bikin miskin. Gara-gara lu orang, kita-anak jalanan jadi gila, tau!" Hanya kalimat itu yang saya dengar menggunakan bahasa paling sopan.
Setelah mereka turun, para penumpang terlihat sangat kesal. Hilanglah sudah "damai sejahtera" yang diterima sebelumnya.
Saya langsung berpikir. Memang sih Rp 500 tidak akan membuat kami jatuh miskin. Tapi dalam sepuluh menit saja sudah ada dua kelompok pengamen. Kalau sampai tempat tujuan? Matematika saya berjalan: 5 x Rp 500 = Rp 2.500 -> hitungan setiap naik bus sampai tujuan ada 5 pengamen, hasilnya malah lebih besar dari ongkos tarif bus. Kalau pulang-pergi kerja: 2 x Rp 2.500 = Rp 5.000 -> sudah bisa untuk membeli sebungkus nasi di warteg. Dalam sebulan 20 hari bekerja: 20 x Rp 5.000 = Rp 100.000 -> bukan jumlah yang sedikit untuk karyawan yang berpenghasilan pas-pasan, anak kuliahan, atau pensiunan.
Lalu, kalau kami yang hanya duduk diam saja bisa membuat mereka gila (ajaib juga ya), bagaimana dengan ancaman, makian, dan kata-kata kasar dari mereka? Bisa membuat kami waras, begitu? ;)
Yah, teori saya ini kalau saya sampaikan ke mereka juga rasanya sih tidak mungkin ditanggapi dengan positif. Mungkin akan membuat mereka makin gila, ya? Haha..
Saya berandai-andai, seandainya sikap mereka lebih tenang, memberikan suasana positif bagi kami-para penumpang, bukan tidak mungkin mereka malah bisa menerima hasil lebih, ya? Mereka juga tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengancam, dsb.
Seperti kelompok bapak-bapak yang pertama. Mereka hanya menyanyi dengan sikap "biasa" (walau dengan suara fals..hehe..). Dan, sepertinya mereka tidak menjadi gila karena kami! :p
July 16, 2011
July 14, 2011
Wejangan Si Bapak
"Jaman sekarang orang susah cari sendiri ya, nak.."
Itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh bapak supir teman saya saat sedang dalam perjalanan mengantar saya pulang. Si bapak tidak banyak bicara. Makanya saya kaget juga waktu mendengar beliau mendadak ngomong seperti itu, tidak tahu kenapa. Saya hanya spontan menjawab sambil tersenyum, "Iya, Pak." Saya tidak menanyakan kenapa beliau tahu-tahu berkata seperti itu. Kami pun tidak melanjutkan pembicaraan.
Tapi selama perjalanan pulang, bahkan sampai detik ini, kalimat si Bapak masih terngiang-ngiang di pikiran saya. Walaupun penasaran apa sebabnya si Bapak sampai bicara begitu, saya tahu bahwa ucapannya itu benar.
Saya ini orangnya moody. Kadang kalau sedang tidak mood mengerjakan sesuatu, saya akan menundanya. Akibatnya, waktu saya berkurang karena (akhirnya) harus mengerjakan pekerjaan yang saya tunda itu. Dan karena waktu saya berkurang (padahal saya harus mengerjakan pekerjaan berikutnya), saya jadi terburu-buru sampai merasa stres kalau ada deadline yang harus dikejar. Kalimat "Susah dicari sendiri" jelas berlaku untuk saya -.-"
Begitu juga waktu saya dan mantan kekasih memutuskan untuk berpisah. Saya yang belum bisa menghilangkan rasa sayang saya kepadanya (bahkan sampai saat ini..huhu..), tidak bisa menerima status "berteman" sehingga saya minta agar dia jangan menghubungi saya lagi. Nyatanya, saya merasa sangat, sangat kehilangan sekarang. Padahal, saya sendiri yang meminta untuk tidak berhubungan sama sekali (walau hanya sebatas teman), tapi saya juga yang merasa keputusan ini "berat." Lagi-lagi, "Susah dicari sendiri.."
Yah, itu hanya dua contoh dari sekian kejadian-kejadian yang merupakan hasil dari "Susah saya cari sendiri" :p
Bagaimana dengan Anda?
Itu adalah kalimat yang dilontarkan oleh bapak supir teman saya saat sedang dalam perjalanan mengantar saya pulang. Si bapak tidak banyak bicara. Makanya saya kaget juga waktu mendengar beliau mendadak ngomong seperti itu, tidak tahu kenapa. Saya hanya spontan menjawab sambil tersenyum, "Iya, Pak." Saya tidak menanyakan kenapa beliau tahu-tahu berkata seperti itu. Kami pun tidak melanjutkan pembicaraan.
Tapi selama perjalanan pulang, bahkan sampai detik ini, kalimat si Bapak masih terngiang-ngiang di pikiran saya. Walaupun penasaran apa sebabnya si Bapak sampai bicara begitu, saya tahu bahwa ucapannya itu benar.
Saya ini orangnya moody. Kadang kalau sedang tidak mood mengerjakan sesuatu, saya akan menundanya. Akibatnya, waktu saya berkurang karena (akhirnya) harus mengerjakan pekerjaan yang saya tunda itu. Dan karena waktu saya berkurang (padahal saya harus mengerjakan pekerjaan berikutnya), saya jadi terburu-buru sampai merasa stres kalau ada deadline yang harus dikejar. Kalimat "Susah dicari sendiri" jelas berlaku untuk saya -.-"
Begitu juga waktu saya dan mantan kekasih memutuskan untuk berpisah. Saya yang belum bisa menghilangkan rasa sayang saya kepadanya (bahkan sampai saat ini..huhu..), tidak bisa menerima status "berteman" sehingga saya minta agar dia jangan menghubungi saya lagi. Nyatanya, saya merasa sangat, sangat kehilangan sekarang. Padahal, saya sendiri yang meminta untuk tidak berhubungan sama sekali (walau hanya sebatas teman), tapi saya juga yang merasa keputusan ini "berat." Lagi-lagi, "Susah dicari sendiri.."
Yah, itu hanya dua contoh dari sekian kejadian-kejadian yang merupakan hasil dari "Susah saya cari sendiri" :p
Bagaimana dengan Anda?
"Hukum Alam"
Beberapa hari yang lalu dalam perjalanan pulang ke rumah, saya naik salah satu bus Kopaja yang lewat di depan saya. Hari itu hari Minggu, dan waktunya juga sudah malam, sekitar pukul 19.00 WIB. Bus Kopaja yang saya naiki sepi penumpang. Saya bebas memilih tempat duduk. Tidak heran memang, saingannya banyak. Selain banyaknya bus Kopaja, ada juga beberapa bus lain yang memiliki trayek hampir sama.
Sepuluh menit setelah saya naik, tahu-tahu ada banyak orang yang naik. Alhasil bus yang tadinya sepi mendadak jadi sesak penumpang. Saya agak heran juga, padahal tepat di belakang dan di depan Kopaja yang saya naiki, ada bus yang memiliki trayek yang sama. Beruntung sekali Kopaja yang saya naiki ini, "kebanjiran" penumpang :p
Padahal, saya perhatikan bus-bus itu juga sepi penumpang. Kenapa orang-orang memilih untuk naik Kopaja ini? Saya tidak tahu. Entah hanya kebetulan asal pilih atau ada hal-hal yang mereka pertimbangkan. Yang pasti, keputusan mereka memilih Kopaja saya (yang saya naiki maksudnya..hehe..) menjadi rezeki bagi si pak supir dan keneknya.
Begitu pun dengan keputusan-keputusan lain yang kita buat di dalam hidup kita. Sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak, semua keputusan dan tindakan yang kita lakukan pasti memengaruhi orang lain. Berapa besar porsinya, tidak pasti..
Sepuluh menit setelah saya naik, tahu-tahu ada banyak orang yang naik. Alhasil bus yang tadinya sepi mendadak jadi sesak penumpang. Saya agak heran juga, padahal tepat di belakang dan di depan Kopaja yang saya naiki, ada bus yang memiliki trayek yang sama. Beruntung sekali Kopaja yang saya naiki ini, "kebanjiran" penumpang :p
Padahal, saya perhatikan bus-bus itu juga sepi penumpang. Kenapa orang-orang memilih untuk naik Kopaja ini? Saya tidak tahu. Entah hanya kebetulan asal pilih atau ada hal-hal yang mereka pertimbangkan. Yang pasti, keputusan mereka memilih Kopaja saya (yang saya naiki maksudnya..hehe..) menjadi rezeki bagi si pak supir dan keneknya.
Begitu pun dengan keputusan-keputusan lain yang kita buat di dalam hidup kita. Sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak, semua keputusan dan tindakan yang kita lakukan pasti memengaruhi orang lain. Berapa besar porsinya, tidak pasti..
July 5, 2011
(If) I'd Wrote a Song For You
All this time I keep wondering, if I tell you all those words that I left unspoken, what would you say?
Waited for the right time, you have no idea how hard for me to gain all my courage against my fear and pride in saying those things to you. I was never able to be that brave.
But then, it was beyond my expectation, far from what I could imagine. My stupidity had brought me to tears..
I give up, I wish I could.
I'd move on, I wish it's easy.
It hurts, I can feel the pain.
You asked me. Should I tell you what to do?
You break me down. Should I say thank you?
You leave me speechless, breathless.
I didn't lie, I tell the truth.
I thought you'd understand, but you won't even "listen."
My stupidity had brought me to tears..
I cry, cried a river.
This never ending story has finally ended.
It's hard, but I have to let go.
It's sad, but I have to accept.
There's nothing left for me and you.
And who am I to judge you?
Maybe I never really know you.
Making up some fantasies.
Waking up from dreams.
It's about time to stop the tears.
You, whom I love to, broke my heart for the second time..
Waited for the right time, you have no idea how hard for me to gain all my courage against my fear and pride in saying those things to you. I was never able to be that brave.
But then, it was beyond my expectation, far from what I could imagine. My stupidity had brought me to tears..
I give up, I wish I could.
I'd move on, I wish it's easy.
It hurts, I can feel the pain.
You asked me. Should I tell you what to do?
You break me down. Should I say thank you?
You leave me speechless, breathless.
I didn't lie, I tell the truth.
I thought you'd understand, but you won't even "listen."
My stupidity had brought me to tears..
I cry, cried a river.
This never ending story has finally ended.
It's hard, but I have to let go.
It's sad, but I have to accept.
There's nothing left for me and you.
And who am I to judge you?
Maybe I never really know you.
Making up some fantasies.
Waking up from dreams.
It's about time to stop the tears.
You, whom I love to, broke my heart for the second time..
Subscribe to:
Posts (Atom)