August 29, 2011
August 11, 2011
Kasih Tidak Menerima?
Kasih ibu tiada beta, tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia...
Lirik lagu di atas sudah tak asing lagi di telinga kita. Sejak kecil kita sudah disuguhkan lagu itu, seakan-akan kita dibrainwash bahwa lagu itu benar adanya. Dulu saya berpikir begitu, tetapi semenjak bertambah usia saya mulai mempertanyakan kebenarannya.
Hanya memberi tak harap kembali. Apa benar begitu? Saya tidak yakin. Saya sendiri memang belum menjadi seorang ibu, jadi saya tidak bisa merasakan perasaan seorang ibu. Tapi dari orang-orang di sekitar saya dapat melihat bahwa sejak kecil pun anak-anak sudah dituntut macam-macam oleh orangtua mereka. Jika si anak nakal, maka sang ibu akan mulai berteriak mengomel, kemudian mengeluh kenapa anaknya "begitu." Kalau nilai sekolahnya jelek, sang ibu akan mulai berceramah dan mengomentari kebodohan si anak. Paling tidak hal-hal seperti ini sering saya lihat sendiri.
Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ibu saya sangat menyayangi saya, sampai-sampai beliau menggantungkan harapan besar pada saya. Sekadar informasi, beliau adalah seorang yang sangat idealis, tidak bisa menerima kesalahan dalam bentuk apa pun. Jadi ketika saya tidak bisa memenuhi ekspektasinya atau jika saya melakukan suatu kesalahan (baik kecil maupun besar), beliau akan langsung merasa kecewa, sedih, marah, putus asa, dan stres.
Ketika kita sebagai anak sudah menjadi orang yang dewasa, mungkin dengan karier yang mapan, dll, berapa banyak dari kita yang merasa tidak harus membalas budi orangtua? Kebanyakan orang pasti memiliki kesadaran untuk membalas kebaikan orang tua mereka. Jadi hal-hal seperti ini sudah menjadi suatu "keharusan," hukum alam yang berlaku (paling tidak) di Indonesia, negara yang budaya sopan-santunnya sangat kental.
Ketika kita tidak melakukan "kewajiban" yang demikian, bukankah orangtua akan mengeluh? Kita akan dibilang anak yang tidak berbakti, tidak tahu balas budi, dll, dsb. Lalu ke mana perginya hanya memberi tak harap kembali? Bukankah mengharapkan sesuatu dari si anak sudah merupakan harapan untuk menerima kembali?
Saya memang orang yang skeptis dan kritis. Maaf kalau pemikiran saya menyinggung beberapa pihak, tapi saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya mengutarakan pendapat saya bahwa hanya memberi tak harap kembali itu sangat kecil kemungkinannya. Saya tidak mengatakan itu suatu hal yang mustahil, hanya saja mencari suatu kasih yang benar-benar tidak mengharap kembali di dunia ini merupakan suatu hal yang sangat sulit. Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bahkan dalam hubungan percintaan pun, pasti kita mengharapkan pasangan untuk "memberi kembali," bukan?
Pada dasarnya semua manusia itu egois. Tapi di situlah letak seni kehidupan manusia. Karena tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup sendiri. Kita semua saling membutuhkan. Bagaimana kita mengolah emosi kita masing-masing dalam kehidupan bersosialisasi, itu yang penting. Memberi tanpa mengharapkan kembali itu sulit, tapi masih lebih baik daripada mengharapkan tanpa memberi ;)
Hanya memberi tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia...
Lirik lagu di atas sudah tak asing lagi di telinga kita. Sejak kecil kita sudah disuguhkan lagu itu, seakan-akan kita dibrainwash bahwa lagu itu benar adanya. Dulu saya berpikir begitu, tetapi semenjak bertambah usia saya mulai mempertanyakan kebenarannya.
Hanya memberi tak harap kembali. Apa benar begitu? Saya tidak yakin. Saya sendiri memang belum menjadi seorang ibu, jadi saya tidak bisa merasakan perasaan seorang ibu. Tapi dari orang-orang di sekitar saya dapat melihat bahwa sejak kecil pun anak-anak sudah dituntut macam-macam oleh orangtua mereka. Jika si anak nakal, maka sang ibu akan mulai berteriak mengomel, kemudian mengeluh kenapa anaknya "begitu." Kalau nilai sekolahnya jelek, sang ibu akan mulai berceramah dan mengomentari kebodohan si anak. Paling tidak hal-hal seperti ini sering saya lihat sendiri.
Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ibu saya sangat menyayangi saya, sampai-sampai beliau menggantungkan harapan besar pada saya. Sekadar informasi, beliau adalah seorang yang sangat idealis, tidak bisa menerima kesalahan dalam bentuk apa pun. Jadi ketika saya tidak bisa memenuhi ekspektasinya atau jika saya melakukan suatu kesalahan (baik kecil maupun besar), beliau akan langsung merasa kecewa, sedih, marah, putus asa, dan stres.
Ketika kita sebagai anak sudah menjadi orang yang dewasa, mungkin dengan karier yang mapan, dll, berapa banyak dari kita yang merasa tidak harus membalas budi orangtua? Kebanyakan orang pasti memiliki kesadaran untuk membalas kebaikan orang tua mereka. Jadi hal-hal seperti ini sudah menjadi suatu "keharusan," hukum alam yang berlaku (paling tidak) di Indonesia, negara yang budaya sopan-santunnya sangat kental.
Ketika kita tidak melakukan "kewajiban" yang demikian, bukankah orangtua akan mengeluh? Kita akan dibilang anak yang tidak berbakti, tidak tahu balas budi, dll, dsb. Lalu ke mana perginya hanya memberi tak harap kembali? Bukankah mengharapkan sesuatu dari si anak sudah merupakan harapan untuk menerima kembali?
Saya memang orang yang skeptis dan kritis. Maaf kalau pemikiran saya menyinggung beberapa pihak, tapi saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya mengutarakan pendapat saya bahwa hanya memberi tak harap kembali itu sangat kecil kemungkinannya. Saya tidak mengatakan itu suatu hal yang mustahil, hanya saja mencari suatu kasih yang benar-benar tidak mengharap kembali di dunia ini merupakan suatu hal yang sangat sulit. Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bahkan dalam hubungan percintaan pun, pasti kita mengharapkan pasangan untuk "memberi kembali," bukan?
Pada dasarnya semua manusia itu egois. Tapi di situlah letak seni kehidupan manusia. Karena tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup sendiri. Kita semua saling membutuhkan. Bagaimana kita mengolah emosi kita masing-masing dalam kehidupan bersosialisasi, itu yang penting. Memberi tanpa mengharapkan kembali itu sulit, tapi masih lebih baik daripada mengharapkan tanpa memberi ;)
August 1, 2011
Art of Satisfaction
Two weeks ago I got information regarding a Writing Competition held by one of the bookstores in Indonesia. The submission deadline is yesterday at 11.59 p.m. I wanted to join the competition, but I was too lazy and kind of pessimistic because the work should be written in English (you can tell by reading my posts that I'm not perfect in English). So I didn't start any action. Not until yesterday.
Yesterday morning I suddenly had a very strong motivation to start writing. I'll never know if I never try and my writing skill won't get any better if I didn't keep practicing, I thought to myself. So, I spent the whole day trying to write something.
I finished writing five pages story (non-fiction) at about 9 p.m., convert the file to pdf. format and send it via email. Wow, I felt great! Only five pages result, but it definitely worth the hours of hardwork. Even if I didn't win, I'm quite satisfied already. I'm proud of myself for being able to get rid of every pessimistic feeling and do something.
Big things come from small things. Small things start by doing something ;)
Yesterday morning I suddenly had a very strong motivation to start writing. I'll never know if I never try and my writing skill won't get any better if I didn't keep practicing, I thought to myself. So, I spent the whole day trying to write something.
I finished writing five pages story (non-fiction) at about 9 p.m., convert the file to pdf. format and send it via email. Wow, I felt great! Only five pages result, but it definitely worth the hours of hardwork. Even if I didn't win, I'm quite satisfied already. I'm proud of myself for being able to get rid of every pessimistic feeling and do something.
Big things come from small things. Small things start by doing something ;)
Ada Apa dengan Pengguna Teknologi?
"Hari gini masa ga punya BB?"
"Yah, dia ga pakai BB."
"Ganti BB aja.."
Kalimat-kalimat di atas sering saya dengar dari percakapan orang-orang yang saya temui di mana-mana. Rasanya tidak afdol kalau jaman sekarang masih ada yang tidak memakai smartphone, terutama Blackberry. Saya sendiri akhirnya menyerah dengan "tuntutan jaman" dan beralih menggunakan BB sejak akhir tahun lalu. Tapi itu tidak berarti saya termasuk salah satu dari sekian banyak "fans" BB di Indonesia. Saya malah sempat menyesal mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli BB. Rasanya kok ga penting banget. Hehe..
Saya mengakui kehebatan BB, fitur-fitur dan fasilitasnya menunjang banyak sekali aktivitas pribadi, pekerjaan, dll. Namun, apakah semua pengguna BB benar-benar sudah memaksimalkan penggunaan secara baik? Saya tidak yakin. Dulu mantan pacar saya memutuskan untuk membeli BB dengan alasan "Butuh untuk urusan pekerjaan." Saya percaya BBnya memang digunakan untuk urusan pekerjaan, tapi berapa tingkat persentasenya saya tidak tahu. Yang pasti, dia menjadi 'pengguna aktif' BB (kalau tidak mau disebut autis) sampai sekarang.
Saya ingat sekali saat sedang makan malam bersama menunggu pergantian tahun baru, dia sibuk dengan BBnya, tidak jelas untuk urusan apa. Yang saya lihat dia senyum-senyum sendiri, asik sekali kelihatannya. Saya sampai tidak di"ganggu"nya (alias dicuekin). Padahal waktu itu perasaan saya benar-benar sangat excited. Maklum, dalam satu bulan pertemuan kami bisa dihitung pakai jari. Sehingga saya ingin menikmati setiap detik waktu yang kami habiskan bersama (lebay mode: on, deh). Saya tidak pernah mempermasalahkan kalau saya dicuekin karena urusan pekerjaan. Tapi yang kali ini rasanya jelas tidak mungkin kalau dia ber-BB-an ria untuk urusan pekerjaan.
Anyway, saya bukan bermaksud untuk curcol apalagi menjelek-jelekkan mantan pacar tersayang itu. Saya hanya sekadar memberi contoh. Teknologi dikembangkan untuk memberi kemudahan, berguna, bermanfaat baik. Tapi tidak jarang disalahgunakan menjadi sebaliknya. Jangan sampai smartphone yang kita punya membuat kita merasa dekat (padahal belum tentu) dengan teman-teman yang jauh tetapi menjauhkan kita dari orang-orang terdekat. Seperti sebuah sharing yang saya dengar di salah satu siaran radio. Seorang pria menceritakan bagaimana dia dan istrinya setiap hari di rumah sibuk dengan BB masing-masing. Hasilnya? Komunikasi di antara mereka berdua menjadi buruk. Sering terjadi pertengkaran. Sampai suatu waktu mereka sadar, dan membuat komitmen untuk tidak ber-BB-an ria selama berada di rumah. Komunikasi mereka pun menjadi baik dan hubungan suami-istri kembali harmonis.
Ayo kita manfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya!
Sudah smart kah Anda menggunakan smartphone Anda? :)
"Yah, dia ga pakai BB."
"Ganti BB aja.."
Kalimat-kalimat di atas sering saya dengar dari percakapan orang-orang yang saya temui di mana-mana. Rasanya tidak afdol kalau jaman sekarang masih ada yang tidak memakai smartphone, terutama Blackberry. Saya sendiri akhirnya menyerah dengan "tuntutan jaman" dan beralih menggunakan BB sejak akhir tahun lalu. Tapi itu tidak berarti saya termasuk salah satu dari sekian banyak "fans" BB di Indonesia. Saya malah sempat menyesal mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli BB. Rasanya kok ga penting banget. Hehe..
Saya mengakui kehebatan BB, fitur-fitur dan fasilitasnya menunjang banyak sekali aktivitas pribadi, pekerjaan, dll. Namun, apakah semua pengguna BB benar-benar sudah memaksimalkan penggunaan secara baik? Saya tidak yakin. Dulu mantan pacar saya memutuskan untuk membeli BB dengan alasan "Butuh untuk urusan pekerjaan." Saya percaya BBnya memang digunakan untuk urusan pekerjaan, tapi berapa tingkat persentasenya saya tidak tahu. Yang pasti, dia menjadi 'pengguna aktif' BB (kalau tidak mau disebut autis) sampai sekarang.
Saya ingat sekali saat sedang makan malam bersama menunggu pergantian tahun baru, dia sibuk dengan BBnya, tidak jelas untuk urusan apa. Yang saya lihat dia senyum-senyum sendiri, asik sekali kelihatannya. Saya sampai tidak di"ganggu"nya (alias dicuekin). Padahal waktu itu perasaan saya benar-benar sangat excited. Maklum, dalam satu bulan pertemuan kami bisa dihitung pakai jari. Sehingga saya ingin menikmati setiap detik waktu yang kami habiskan bersama (lebay mode: on, deh). Saya tidak pernah mempermasalahkan kalau saya dicuekin karena urusan pekerjaan. Tapi yang kali ini rasanya jelas tidak mungkin kalau dia ber-BB-an ria untuk urusan pekerjaan.
Anyway, saya bukan bermaksud untuk curcol apalagi menjelek-jelekkan mantan pacar tersayang itu. Saya hanya sekadar memberi contoh. Teknologi dikembangkan untuk memberi kemudahan, berguna, bermanfaat baik. Tapi tidak jarang disalahgunakan menjadi sebaliknya. Jangan sampai smartphone yang kita punya membuat kita merasa dekat (padahal belum tentu) dengan teman-teman yang jauh tetapi menjauhkan kita dari orang-orang terdekat. Seperti sebuah sharing yang saya dengar di salah satu siaran radio. Seorang pria menceritakan bagaimana dia dan istrinya setiap hari di rumah sibuk dengan BB masing-masing. Hasilnya? Komunikasi di antara mereka berdua menjadi buruk. Sering terjadi pertengkaran. Sampai suatu waktu mereka sadar, dan membuat komitmen untuk tidak ber-BB-an ria selama berada di rumah. Komunikasi mereka pun menjadi baik dan hubungan suami-istri kembali harmonis.
Ayo kita manfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya!
Sudah smart kah Anda menggunakan smartphone Anda? :)
Subscribe to:
Posts (Atom)





