Labels

August 11, 2011

Kasih Tidak Menerima?

Kasih ibu tiada beta, tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali. 
Bagai sang surya menyinari dunia...

Lirik lagu di atas sudah tak asing lagi di telinga kita. Sejak kecil kita sudah disuguhkan lagu itu, seakan-akan kita dibrainwash bahwa lagu itu benar adanya. Dulu saya berpikir begitu, tetapi semenjak bertambah usia saya mulai mempertanyakan kebenarannya.

Hanya memberi tak harap kembali. Apa benar begitu? Saya tidak yakin. Saya sendiri memang belum menjadi seorang ibu, jadi saya tidak bisa merasakan perasaan seorang ibu. Tapi dari orang-orang di sekitar saya dapat melihat bahwa sejak kecil pun anak-anak sudah dituntut macam-macam oleh orangtua mereka. Jika si anak nakal, maka sang ibu akan mulai berteriak mengomel, kemudian mengeluh kenapa anaknya "begitu." Kalau nilai sekolahnya jelek, sang ibu akan mulai berceramah dan mengomentari kebodohan si anak. Paling tidak hal-hal seperti ini sering saya lihat sendiri.

Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ibu saya sangat menyayangi saya, sampai-sampai beliau menggantungkan harapan besar pada saya. Sekadar informasi, beliau adalah seorang yang sangat idealis, tidak bisa menerima kesalahan dalam bentuk apa pun. Jadi ketika saya tidak bisa memenuhi ekspektasinya atau jika saya melakukan suatu kesalahan (baik kecil maupun besar), beliau akan langsung merasa kecewa, sedih, marah, putus asa, dan stres.

Ketika kita sebagai anak sudah menjadi orang yang dewasa, mungkin dengan karier yang mapan, dll, berapa banyak dari kita yang merasa tidak harus membalas budi orangtua? Kebanyakan orang pasti memiliki kesadaran untuk membalas kebaikan orang tua mereka. Jadi hal-hal seperti ini sudah menjadi suatu "keharusan," hukum alam yang berlaku (paling tidak) di Indonesia, negara yang budaya sopan-santunnya sangat kental.

Ketika kita tidak melakukan "kewajiban" yang demikian, bukankah orangtua akan mengeluh? Kita akan dibilang anak yang tidak berbakti, tidak tahu balas budi, dll, dsb. Lalu ke mana perginya hanya memberi tak harap kembali? Bukankah mengharapkan sesuatu dari si anak sudah merupakan harapan untuk menerima kembali?

Saya memang orang yang skeptis dan kritis. Maaf kalau pemikiran saya menyinggung beberapa pihak, tapi saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya mengutarakan pendapat saya bahwa hanya memberi tak harap kembali itu sangat kecil kemungkinannya. Saya tidak mengatakan itu suatu hal yang mustahil, hanya saja mencari suatu kasih yang benar-benar tidak mengharap kembali di dunia ini merupakan suatu hal yang sangat sulit. Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bahkan dalam hubungan percintaan pun, pasti kita mengharapkan pasangan untuk "memberi kembali," bukan?

Pada dasarnya semua manusia itu egois. Tapi di situlah letak seni kehidupan manusia. Karena tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup sendiri. Kita semua saling membutuhkan. Bagaimana kita mengolah emosi kita masing-masing dalam kehidupan bersosialisasi, itu yang penting. Memberi tanpa mengharapkan kembali itu sulit, tapi masih lebih baik daripada mengharapkan tanpa memberi ;)