Labels

August 1, 2011

Ada Apa dengan Pengguna Teknologi?

"Hari gini masa ga punya BB?"
"Yah, dia ga pakai BB."
"Ganti BB aja.."

Kalimat-kalimat di atas sering saya dengar dari percakapan orang-orang yang saya temui di mana-mana. Rasanya tidak afdol kalau jaman sekarang masih ada yang tidak memakai smartphone, terutama Blackberry. Saya sendiri akhirnya menyerah dengan "tuntutan jaman" dan beralih menggunakan BB sejak akhir tahun lalu. Tapi itu tidak berarti saya termasuk salah satu dari sekian banyak "fans" BB di Indonesia. Saya malah sempat menyesal mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli BB. Rasanya kok ga penting banget. Hehe..

Saya mengakui kehebatan BB, fitur-fitur dan fasilitasnya menunjang banyak sekali aktivitas pribadi, pekerjaan, dll. Namun, apakah semua pengguna BB benar-benar sudah memaksimalkan penggunaan secara baik? Saya tidak yakin. Dulu mantan pacar saya memutuskan untuk membeli BB dengan alasan "Butuh untuk urusan pekerjaan." Saya percaya BBnya memang digunakan untuk urusan pekerjaan, tapi berapa tingkat persentasenya saya tidak tahu. Yang pasti, dia menjadi 'pengguna aktif' BB (kalau tidak mau disebut autis) sampai sekarang.

Saya ingat sekali saat sedang makan malam bersama menunggu pergantian tahun baru, dia sibuk dengan BBnya, tidak jelas untuk urusan apa. Yang saya lihat dia senyum-senyum sendiri, asik sekali kelihatannya. Saya sampai tidak di"ganggu"nya (alias dicuekin). Padahal waktu itu perasaan saya benar-benar sangat excited. Maklum, dalam satu bulan pertemuan kami bisa dihitung pakai jari. Sehingga saya ingin menikmati setiap detik waktu yang kami habiskan bersama (lebay mode: on, deh). Saya tidak pernah mempermasalahkan kalau saya dicuekin karena urusan pekerjaan. Tapi yang kali ini rasanya jelas tidak mungkin kalau dia ber-BB-an ria untuk urusan pekerjaan.

Anyway, saya bukan bermaksud untuk curcol apalagi menjelek-jelekkan mantan pacar tersayang itu. Saya hanya sekadar memberi contoh. Teknologi dikembangkan untuk memberi kemudahan, berguna, bermanfaat baik. Tapi tidak jarang disalahgunakan menjadi sebaliknya. Jangan sampai smartphone yang kita punya membuat kita merasa dekat (padahal belum tentu) dengan teman-teman yang jauh tetapi menjauhkan kita dari orang-orang terdekat. Seperti sebuah sharing yang saya dengar di salah satu siaran radio. Seorang pria menceritakan bagaimana dia dan istrinya setiap hari di rumah sibuk dengan BB masing-masing. Hasilnya? Komunikasi di antara mereka berdua menjadi buruk. Sering terjadi pertengkaran. Sampai suatu waktu mereka sadar, dan membuat komitmen untuk tidak ber-BB-an ria selama berada di rumah. Komunikasi mereka pun menjadi baik dan hubungan suami-istri kembali harmonis.

Ayo kita manfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya!
Sudah smart kah Anda menggunakan smartphone Anda? :)