Pukul 01.27 dini hari aku terbangun. Kubisikkan selamat ulang tahun untuknya. Kuucapkan doa baginya. Lelah mata terpejam tapi tak lelap. Membayangkan hari-hari indah yang kulalui bersamanya, hal-hal buruk yang telah kami lewati...
"Hi, apa kabar?" adalah kalimat pertama yang ia ucapkan. "Selamat tinggal," adalah kalimat terakhir yang dapat kuingat. Kedekatan kami berawal dari pembicaraan ringan di kantor. Berlanjut dengan sering pergi berdua, kami menemukan banyak persamaan di antara kami.
Semuanya begitu indah, hingga saat kutahu hatinya ternyata bukan untukku. "Ayo kita menikah," bukanlah kalimat serius yang ditujukannya padaku. "Pergilah jika itu maumu," mungkin adalah isi hatinya yang paling jujur.
Sebenarnya hingga kini pun aku masih tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi kuputuskan untuk berlalu dan beranjak pergi.
Berharap pada sesuatu yang tak pasti. Menanti menjadi hasrat di hati. Sudah tak mungkin bila ingin kembali. Tapi, penyesalan apalah arti..
Jika ini yang terbaik yang bisa kuberi, oh, kasih, pergilah kau dan jangan kembali. Jangan mainkan hati ini dengan sikapmu yang tak pasti.
Aku harus berhenti. Perasaan ini, biar tersimpan dalam lubuk hati. Kau yang begitu berarti, tak pernah akan ada di sisi, itu harus kupahami.
Karena kusanggup walau ku tak mau berdiri sendiri tanpamu.
Aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku kalau memang harus begitu.
Tak perlu kau buatku mengerti.
Tersenyumlah karena kusanggup..
-Agnes Monica-