Labels

February 19, 2012

Hadapi yang Ingin Dihindari

Malam ini ketika saya pulang dan membuka pintu kamar apartemen saya, alangkah terkejutnya saya melihat tikus dengan ukuran yang cukup besar berlari dari dapur menyelusup ke karpet ruang tamu. Tikus? Di dalam kamar apartemen lantai 12?? Sambil berusaha menenangkan pikiran, saya tarik napas dalam-dalam dan mencoba memastikan. Saya dekati karpet tempat tikus itu bersembunyi, saya pukul-pukul ringan dengan sapu lidi, dan itu dia! Ternyata memang tikus, hidup! Aarrgghh....

Tikus itu lari masuk ke kamar baju meninggalkan saya yang entah sejak kapan sudah naik ke atas kursi sambil gemetaran tidak percaya. Rasa jijik bercampur takut dan kaget membuat saya panik tidak berani turun dari kursi. Setelah menguatkan diri, saya tutup pintu kamar dan keluar, turun ke bawah apartemen untuk membeli lem tikus di mini market.

Membayangkan sendirian di apartemen yang dihuni tikus membuat saya gelisah tidak karuan. Menginjak lantai pun rasanya jijik kalau memikirkan tikus itu menginjak lantai yang sama dengan saya. Menyentuh apa pun rasanya jadi was-was, takut mendadak tikus itu menampakkan diri lagi. Ngantuk, tapi takut saat saya terlelap tikus itu naik ke atas kasur saya..hiii...

Ibu saya menyuruh saya menyusulnya ke rumah kakak saya dan menginap di sana, tapi dengan berat hati saya tolak. Walaupun takut, geli, jijik, dan was-was, saya memilih untuk menghadapi si tikus. Karena saya sadar kalau hanya menghindar tidak akan menyelesaikan masalah saya: resah akan kehadiran tikus di apartemen saya!

Walaupun saya sok berani bilang begitu, kenyataannya sekarang sudah jam 1 pagi saat saya menulis blog ini, berjuang melawan rasa kantuk karena takut terlelap dan di'gerayangi' si tikus. Tapi bagaimanapun ini adalah keputusan yang saya ambil sendiri.

Sama dengan permasalahan hidup yang saya alami. Ada saatnya di mana saya memilih menghindar sampai merasa bosan karena merasa terus-menerus dihadapkan pada permasalahan yang sama. Terang saja, selama saya hanya lari dan menghindar, masalah itu tetap akan muncul karena memang tidak pernah terselesaikan. Dengan menghadapi, saya belajar proses kehidupan. Mempelajari makna yang terkandung dalam setiap permasalahan yang saya alami, bagaimana harus menyikapi, merubah pola pikir, dsb.

Permasalahan paling sulit dalam hidup adalah mindset saya dalam menyikapi permasalahan yang ada. Seandainya saya merasa kehadiran si tikus itu wajar dan biasa saja, bukankah si tikus tidak akan menjadi masalah bagi saya? :)