Hari ini saya ada waktu untuk makan malam dengan teman saya. Seperti biasa, saya mengoceh bercerita akan banyak hal pada teman saya yang selalu simak dalam mendengarkan segala "ocehan" saya ini. Entah bagaimana kami jadi membahas tentang masa lalu, kisah cinta saya.
Kalau harus jujur, saya mengakui masih belum bisa melupakan mantan pacar saya. Kalau ditanya masih cinta? Saya tidak yakin. Masih sayang? Hmm...bisa jadi. Masih peduli? Sepertinya iya. Permasalahannya adalah saya terkurung dalam penyesalan di masa lalu. Betapa banyak "hasrat terpendam" yang tidak tersampaikan. Dari hal-hal kecil yang tidak pernah saya lakukan, kata-kata yang tidak berani diucapkan, dll.
Perasaan takut kehilangan bercampur dengan rasa ketidakamanan membuat saya tidak dapat jujur dalam mengekspresikan perasaan saya yang sesungguhnya. Akhirnya, hati kecil saya kurang rela hubungan kami putus tanpa saya bisa jujur menunjukkan perasaan saya yang sebenarnya.
Beberapa hari yang lalu seorang teman posting di salah satu jejaring sosial yang kurang lebih isinya seperti ini: wanita yang banyak menuntut menunjukkan betapa merasa tidak amannya dia. Saya rasa statement itu benar. Perasaan tidak aman membuat kita ingin diyakinkan. Karena itu kita jadi menuntut ini-itu dan baru merasa yakin apabila tuntutan kita itu terpenuhi.
Saat ini saya masih happily single. Selain karena masih berjuang untuk merelakan masa lalu, sebagian diri saya merasa takut untuk menjalani hubungan serius lagi. Takut kecewa, takut gagal, takut mengulang kesalahan yang sama. Tapi bagaimana pun saya yakin kalau suatu hari nanti saya akan mensyukuri pernah jatuh cinta dan patah hati dengan orang yang sama. Saya akan bersyukur karena diberikan pengalaman sulit melupakan masa lalu. Karena semua itu merupakan proses pembelajaran, dan pasti ada hikmahnya. Lebih baik menyesal karena pernah mengalami daripada menyesali yang tak pernah terjadi.
Bayangkan jika hidup saya diibaratkan sebagai kertas putih. Walaupun tetap bersih, tapi tidak ada keindahan sama sekali, pucat, polos. Tetapi jika saya goreskan warna merah, sudah dapat merubah penampilan kertas putih itu. Kalau saya menyesal memberi warna merah dan tidak bisa dihapus, saya bisa tambahkan warna kuning sehingga warna merah yang saya sesali berubah menjadi oranye yang cerah.
Pengalaman manis dan pahit di masa lalu membawa pelajaran yang berarti di masa depan. Karena itu, saya menyemangati diri saya sendiri untuk tidak terus 'menghayati' rasa penyesalan, melainkan mensyukuri dan menjadikan pengalaman-pengalaman tersebut sebagai kenangan indah dalam hidup. Saya yakin seiring berjalannya waktu saya akan bisa tersenyum manis mengenang semua masa-masa itu.
Ladies, jangan takut untuk mencintai (dan dicintai)..