Labels

January 30, 2012

Bergerak dan Terhenti

Hal yang saya takuti setiap hari adalah kemacetan di pagi hari. Betapa tidak, kemacetan yang saya alami selalu parah, kendaraan berhenti tidak bisa jalan sama sekali (padahal saya mengendarai motor). Bahkan ruang untuk pejalan kaki pun tidak ada (ini nggak lebay lho). Benar-benar ibarat benang super kusut.

Padahal kalau saya cermati, akar kemacetannya tidak jauh dari ketidakdisiplinan yang disebabkan oleh keegoisan semata. Angkutan umum ngetem seenaknya walaupun lebar jalan hanya untuk dua mobil (dua arah), menyebabkan kendaraan di belakangnya terpaksa harus berhenti. Belum lagi ditambah kendaraan-kendaraan yang mau berbelok di pertigaan (dari tiap-tiap arah). Didukung para pengendara motor yang merasa berbadan kecil sehingga mengambil jalur lawan arah berharap bisa menyelip keluar dari kemacetan, tapi pastinya malah memperparah keadaan karena kendaraan-kendaraan dari arah sebaliknya jadi tidak bisa jalan terhadang "tumpukan" motor-motor.

Kalau sudah begitu, jelas saja waktu terasa berhenti. Semua kendaraan tidak bisa "menemukan jalan keluar". Ujung-ujungnya yang ada hanya emosi: "senggol" sana-sini, membunyikan klakson bak orkestra, teriak-teriak dengan nada nyaring. Bukankah mereka sendiri yang memperburuk kondisi kemacetan? Tapi bukannya merasa bersalah malah marah-marah?

Jika hadapkan dengan pagi yang seperti ini, saya pasti langsung kehilangan mood dan semangat untuk menjalani sisa hari (yang masih panjang). Waktu dan energi saya benar-benar terbuang sia-sia untuk hal yang nggak penting banget ini.

Saya rasa terkadang dalam hidup juga begitu. Seringkali kita bersikap atau mengambil keputusan dengan berpikir pendek demi mengharapkan hasil instan, tanpa menyadari hal tersebut malah akan memperparah keadaan di masa depan. Pada akhirnya kita hanya terus mengeluh penuh penyesalan..?