Selamat Tahun Baru!
Rasanya sedikit terlambat untuk ucapan tahun baru ya? Hehe.. Sebenarnya saya sudah merencanakan untuk menyapa kalian sebelum pergantian tahun kemarin. Tapi apa dikata, manusia hanya bisa berencana. Tepat menjelang detik-detik pergantian tahun saya malah jatuh sakit, 'mengunjungi' IGD rumah sakit tengah malam, kembali ke rumah saat subuh dan berbaring seharian tidak berdaya di atas kasur hingga keesokan harinya sambil mendengar suara meriahnya letusan kembang api tanpa bisa menyaksikan keindahannya.
Hari pertama di tahun 2011 saya diawali dengan menjalani operasi usus buntu kronis. Hari kedua, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan dua selang infus di tangan kiri, berusaha mengembalikan kesadaran sambil menahan sakit. Hari ketiga pun saya masih memandangi dinding putih kamar rumah sakit dan dua botol infus berwarna kuning dan putih bening yang masih menggantung.
Banyak yang mengatakan kepada saya, "Kasihan banget sih sakitnya pas tahun baru." Well, memang ada banyak 'kebetulan' yang terjadi, dari kenapa saya harus jatuh sakit saat pergantian tahun, saat keluarga saya sedang bepergian keluar negeri sehingga saya hanya ditemani pembantu-yang kebetulan dititipkan di rumah saya, hingga kebetulan-kebetulan lainnya yang akan saya ceritakan berikut.
Detik-detik menunggu waktu operasi, dengan sisa-sisa tenaga saya mengupdate status di Facebook, YM, dan BBM yang menerangkan bahwa saya sedang dirawat di rumah sakit dengan tujuan agar semua yang telah mengirimkan ucapan selamat tahun baru kepada saya dari hari sebelumnya dapat mengerti bilamana saya tidak membalas ucapan mereka satu per satu (seperti yang selalu saya lakukan). Tapi ternyata status saya malah 'mengundang' lebih banyak perhatian karena justru semakin banyak pesan-pesan yang saya terima, menanyakan kondisi saya.
Pada hari kedua, dalam kondisi sadar tak sadar efek obat bius, menahan sakit dari bekas operasi dan lemasnya tubuh yang hanya disupply suntikan selang infus, akhirnya saya berusaha membalas pesan-pesan dari teman-teman yang sudah sangat baik menunjukkan perhatian mereka pada saya. Tapi ya, saya hanya bisa membalas dengan jawaban sesingkat-padat-jelas mungkin: usus buntu, thx ya.
Pada hari ketiga saya sudah mendapat estimasi total biaya perawatan sebesar (lebih kurang) 25 juta. Ini yang membawa saya pada beberapa permenungan.
Untung sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah mendaftarkan diri pada salah satu penyedia jasa asuransi kesehatan. Dan 'untung', saya sakitnya sekarang, saat biaya rumah sakit dapat ditanggung pihak asuransi dan status saya sekarang yang unemployed (kalau tidak saya bisa merasa semakin tidak enak dengan mantan bos saya karena terlalu sering absen dengan alasan sakit, dsb).
Untung juga walaupun usus buntu saya sudah kronis, tapi tidak sempat pecah.
Lagipula karena kejadian sakit kali ini, saya jadi dapat bertemu dan berhubungan dengan beberapa teman lama (lama sekali). Saya juga jadi tahu siapa saja yang ternyata peduli dan tidak peduli pada saya.
Untuk ukuran seorang saya-yang biasanya cenderung berpikir negatif, pada kejadian kali ini justru saya banyak mengambil hikmah. Saya sempat membuat satu kalimat di tengah-tengah permenungan saya, "Selalu ada hal baik di balik setiap perkara."
Pada hari keempat saya diperbolehkan pulang oleh dokter yang menangani saya. Saat dia datang untuk mengontrol keadaan saya, tepat saat saya baru keluar dari toilet. Komentar pertamanya, "Kok kamu jalan masih menggok-menggok gitu, lurus dong. Udah ga sakit kan?" "Masih, dok," jawab saya singkat. "Lho, biasa orang lain udah ga sakit." "Ya, sayangnya saya bukan orang lain dok, saya ya saya. Kalau bisa juga maunya udah ga sakit", batin saya.
Anyway, bagaimanapun akhirnya saya tetap pulang ke rumah. Persoalan baru yang harus saya hadapi, saya belum boleh naik-turun tangga sementara rumah saya dua lantai. Sedihnya lagi, saya harus menjalani proses pemulihan di rumah dengan hanya ditemani pembantu titipan (catat, bukan pembantu saya). Padahal kan orang sakit butuh kasih sayang (terutama saya yang memang sifatnya manja), ya ;-p
Tapi saya senang karena ada dua teman saya yang begitu niat menunjukkan perhatian mereka, datang jauh-jauh malam-malam untuk menjenguk saya ke rumah dan menghibur sampai saya harus menahan tawa agar bekas operasinya tidak robek.
Dan hari ini, di hari kelima, bosan istirahat dan mendekam di kamar (membuat saya merasa semakin sakit, useless bahkan brainless), saya memutuskan untuk menghabiskan hari saya di depan laptop, menonton dvd diselingi istirahat setiap 30 menit sebelum akhirnya mengerahkan tenaga untuk menulis blog yang rasanya paling panjang (dan paling "curcol") dibandingkan tulisan saya yang lain ini ;-)