Labels

September 20, 2011

Berpikir Dua Kali Sebelum Mengatakan "Ya, saya bersedia!"

And they live happily ever after..

Kalimat di atas biasanya menjadi penutup di cerita-cerita dongeng yang sering saya dengar, tonton, atau baca saat masih kecil dulu. Saat remaja, komik-komik yang saya baca menggambarkan manisnya kisah cinta orang muda. Beranjak dewasa, novel-novel yang saya baca juga kebanyakan happy ending (setelah menceritakan kisah sedramatis mungkin).

Pada kisah cinta yang "sebenarnya" saya saksikan, kenyataan tidaklah seindah itu. Maaf, ya, bukannya saya mau bersikap skeptis, tapi menurut saya menyatukan dua insan dalam ikatan pernikahan tidak bisa hanya bermodal "I love you, you love me, let's get married!" Banyak hal yang harus dipertimbangkan (kalau komitmen sudah biasa :p)

Awal kisah cinta memang manis: tahap-tahap PDKT, perasaan harap-harap cemas, kencan pertama, dll, dst. Seiring berjalannya waktu, mulai timbul "kerikil-kerikil" dalam hubungan; ada yang berhasil melewati, ada juga yang tidak. Ketika kita sudah merasa he/she is the one (atau mungkin hanya karena merasa "sudah seharusnya") maka "Gerbang Menikah" pun menunggu di depan mata. Mudah? Tidak!

Anda beruntung kalau mengalami kisah cinta yang mulus-mulus saja ibarat jalan bebas hambatan. Karena (sejauh yang saya tahu) kebanyakan pasangan mengalami banyak kesulitan baik sebelum atau pun sesudah menikah. Itu sebabnya ada yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan walaupun sudah pacaran sekian tahun, dan tingkat perceraian semakin tinggi.

Saya tidak mengarang cerita atau pun bermaksud memengaruhi pemikiran Anda, hanya saja saya terdorong untuk membagikan pola pikir saya yang saya anggap realistis dan berdasarkan realita yang ada (paling tidak yang saya lihat dari orang-orang di sekitar saya).

Saat memutuskan menikah, biasanya masalah mulai bermunculan:
- ijin orang tua: apakah orang tua merestui calon pasangan hidup kita? kalau tidak, apakah kita bisa meyakinkan mereka?
- keluarga: latar belakang keluarga sering kali jadi persoalan serius dalam suatu hubungan (perbedaan status sosial, perbedaan gaya hidup, dll)
- SARA: apakah perbedaan budaya dan keyakinan kita bisa diatasi atau justru menjadi tembok yang tidak bisa dilewati?
- finansial: apakah kita memiliki dana yang cukup untuk melangsungkan pernikahan dan mencukupi kebutuhan setelah menikah dan punya anak nantinya?
Saya rasa sebenarnya masih banyak lagi kalau mau diuraikan satu per satu, tapi tidak perlu lah, ya ;)

Fase berikutnya (setelah menikah):
Hidup bersama di bawah satu atap pastinya berbeda dengan saat pacaran dulu. Mungkin kita akan "kaget" menemukan kebiasaan-kebiasaan pasangan yang tidak kita ketahui sebelumnya. Pada awal-awal pernikahan mungkin kita masih bisa menerima dan berkompromi (masih pengantin baru, gitu loh.. :D). Tapi lama kelamaan kita menjadikan itu suatu alasan atas "ketidakcocokan"--alasan yang paling populer dalam kasus perceraian (ke mana perginya cinta, nih?).

Belum lagi kalau ketemu kasus yang lebih berat: KDRT, masokisme dan kelainan seksual lainnya, kecanduan alkohol atau obat terlarang, hobi selingkuh atau "bermain" wanita. Kalau mau mempertahankan perkawinan rasanya berat sekali. Kalau pun sanggup, orang-orang di sekitar yang akan berkomentar: "bodoh banget sih, lu!"

Saat ini banyak sekali pasangan yang menikah muda, menjadi orang tua di usia muda (walaupun mungkin belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam menjadi seorang ayah/ibu). Karena masih muda, maklum saja kalau jiwa mereka masih muda juga. Pergi bersenang-senang saat weekend tetap menjadi agenda wajib. Bedanya dengan saat pacaran, kali ini mereka membawa pasangan ketiga--anak.

Saya sering melihat orang tua yang membawa anak mereka yang masih bayi, balita, atau anak-anak ke mal atau bioskop sampai malam (tidak jarang malah sampai tengah malam). Di satu sisi, si orang tua masih berjiwa muda dan butuh refreshing. Di sisi lain, kasihan si anak yang masih kecil (kurang istirahat, menghirup asap rokok di tempat umum tertentu, kena angin malam, dll).
Atau ada juga yang menggunakan cara "baik", menitipkan anak ke pembantu atau orang tua (kalau tinggal dengan mertua).

Menikah itu kan (teorinya) hanya satu kali. Berarti, selamanya (sampai mati, lho..) kita akan hidup dengan si dia. Bangun tidur, mau tidur, setiap hari melihat muka orang yang sama. Sedangkan, keadaan berubah, lingkungan berubah, sifat dan pola pikir juga berubah. Penelitian mengungkapkan tiga faktor utama perceraian: seks, ekonomi, dan komunikasi. Saat seperti ini, "cinta" membutuhkan pembuktian, bukan hanya ungkapan perasaan.

Apakah Anda sudah mantap dengan "I love you, you love me, let's get married and we'll fix things out!" atau "I love you, you love me, let's get married and we'll see, lah.." ? :)