Labels

March 7, 2011

Lupa, Tidak Ingat, atau..

Saya adalah seorang yang sangat pelupa. Dari hal-hal sepele seperti lupa menaruh barang di mana, hingga hal-hal penting seperti melupakan janji temu dengan seseorang. Tetapi anehnya, terkadang saya malah suka mengingat hal-hal yang "nggak penting". Pernah dalam satu hari, saya berkendara di jalan dan menemukan beberapa mobil di beberapa daerah dengan satu kesamaan nomor plat, yaitu diakhiri huruf BFK. Saya ingat! Padahal, untuk melakukan aktivitas harian saja saya perlu mencatat dengan jelas kegiatan-kegiatan yang perlu saya lakukan, janji temu yang perlu saya hadiri, dsb.

Beberapa hari yang lalu dalam suatu sesi pengembangan diri yang saya ikuti, ada satu kalimat dari si pembicara yang menarik untuk menjadi bahan refleksi bagi saya, "Kadang-kadang kita suka hilang kesadaran." Selanjutnya dijelaskan bahwa maksud dari kalimat tersebut, adalah, kita kurang aware akan hal-hal yang sedang kita lakukan, di mana kita berada, apa yang kita ucapkan, dan apa yang ada di sekeliling kita. Bisa karena kita sedang melamun memikirkan sesuatu pada saat yang bersamaan, atau sedang tidak fokus karena satu dan lain hal.

Menurut saya hal itu mungkin saja. Selama ini saya beranggapan bahwa memang daya ingat saya yang lemah. Tetapi bisa jadi permasalahan saya bukan terletak pada kemampuan otak saya dalam mengingat, tapi ketidaksadaran saya saat melakukan sesuatu. Mungkin saya sedang memikirkan hal lain saat teman saya berbicara, sehingga perkataan yang disampaikan hanya sambil lalu-masuk kuping kanan keluar kuping kiri dan tidak terekam dalam memori otak saya. Hasilnya, saya sebut: 'lupa' ;)

Dalam buku The 5 Love Languages karangan Gary Chapman yang saya baca, ada suatu pernyataan yang saya kutip, "Quality time is giving someone your undivided attention." Kalau menyambung kalimat ini dengan "kesadaran" dan "lupa", rasanya semua masuk akal. Misalnya, ketika saya sedang menghabiskan waktu bersama dengan teman atau rekan kerja, tapi saya "tidak sadar", melamun memikirkan hal lain sambil mendengarkan pembicaraan teman saya, mungkin saja saya bisa menanggapi, tapi apakah saya akan "menyimpan" pembicaraan kami atau tidak, hmm... itu yang tidak pasti ;)
Di saat pertemuan berikutnya, bisa jadi saya sudah "lupa" pembicaraan kami yang terakhir, dan teman saya akan mengomentari ketidakperhatian saya terhadapnya, yang mungkin sudah sering terjadi sebelumnya.

Hal yang lebih umum lagi, di jaman yang semakin modern ini, ketika teknologi dibuat untuk mempermudah aktivitas manusia, (di antaranya, smart phone) malah membuat kita lebih sering tidak "sadar" akan sekeliling. Saya pernah mengalami, menghabiskan waktu dengan teman saya yang (memang sih) mendengarkan saya bicara, sembari sibuk mengutak-atik smart phonenya. Walau dia merespon, tapi saya merasa dia tidak sepenuhnya "sadar" akan apa yang saya bicarakan, karena dia terlalu sibuk dengan ke"autis"annya bermain HP. Pada pertemuan berikutnya, saat saya membahas topik yang pernah saya bahas waktu itu, teman saya hanya keheranan seakan tidak pernah tahu akan hal tersebut, dan akhirnya hanya menjawab dengan kata yang paling praktis, "Gue lupa." Dalam hati saya berkata, u did hear what i was saying back then, but you were not listening, that's why now you say you forgot!

Ya, "lupa" memang satu kata yang paling praktis diucapkan walau sulit dipertanggungjawabkan. Kalau memang benar lupa, ya, apa boleh buat. Tapi kalau terlalu sering "lupa" karena kita kurang "sadar", bagaimana ya..?