Kemarin saya mengendarai sepeda motor ke suatu mal di daerah Jakarta Barat. Ketika saya hendak keluar parkiran, saya baru sadar bahwa saya lupa membawa STNK kendaraan saya. Tapi karena hal seperti ini pernah terjadi beberapa kali sebelumnya, maka saya menganggap enteng persoalan. Tapi nyatanya, tidak! Saat sampai di bagian pemeriksaan kendaraan dan saya tidak bisa menunjukkan STNK kendaraan, saya tidak diperbolehkan keluar dari parkiran.
Yakin bisa keluar dengan meminta pengertian dari para petugas parkir, saya pun mencoba menjelaskan panjang lebar dan meminta agar saya diperbolehkan keluar dari parkiran dengan mencocokkan gambar hasil kamera saat pengambilan karcis masuk. Tapi berusaha bagaimanapun, mereka tetap tidak memperbolehkan saya keluar dari parkiran.
Si petugas parkir memberikan solusi: saya pulang ke rumah naik angkutan umum untuk mengambil STNKnya atau minta tolong orang rumah untuk mengantar ke mal. Karena tidak mau repot dan saya sedang terburu-buru karena ada kegiatan dalam 45 menit ke depan, saya menolak dengan berbagai alasan dan bersikeras ingin diperbolehkan keluar hanya dengan mencocokkan gambar hasil kamera otomatis.
Kemudian si petugas parkir memanggil atasannya-pengawas penanggung jawab pada hari itu untuk menemui saya. Dan solusi terakhir yang diberikan oleh si pengawas, yaitu, menyuruh orang rumah saya melihat nomor rangka mesin motor di STNK dan mengSMSkannya ke saya. Solusi itu pun masih saya tolak dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Pada akhirnya argumentasi saya tidak menghasilkan apa-apa. Yang ada saya malah menghabiskan total waktu dua jam di parkiran dengan perasaan kesal, malu, sedih, kecewa, dan marah. Bosan dan capek 'bengong' berpikir sedemikian lama, saya memutuskan mengambil opsi terakhir yang disarankan si pengawas. Setelah dioper kesana-kemari dan melalui beberapa proses yang cukup lama, saya diperbolehkan keluar parkiran.
Alhasil, saya terlambat (hampir dua jam) mengikuti kegiatan yang sudah saya rencanakan sebelumnya.
Malam harinya menjelang waktu tidur, ketika emosi saya sudah mereda, saya mulai merenungkan kejadian tersebut. Sebenarnya saya tidak perlu menghabiskan waktu sekian lama kalau saja dari awal saya tidak menganggap enteng dan langsung (mau) melakukan solusi yang diberikan. Tentunya emosi saya juga tidak akan sampai memuncak.
Cukup sering hal-hal kecil semacam itu terjadi. Karena saya suka menganggap enteng, ingin praktis dan 'maksa' menyelesaikan suatu hal dengan cara saya sendiri, malah membuahkan perasaan emosi yang berlebihan. Padahal, jika saya bisa mendinginkan kepala, berpikir jernih dan tidak memaksakan kehendak, segala sesuatunya pasti akan terselesaikan dengan cara yang lebih baik..