Labels

May 28, 2011

Ketika Kupercaya

Minggu lalu saya mengajak ayah saya pergi ke suatu mal di daerah selatan untuk merayakan ulang tahunnya. Dalam perjalanan (yang lumayan jauh itu), saya merasa deg-degan. Kenapa? Karena gaya menyetir ayah saya yang seperti pembalap! Tapi walaupun saya merasa deg-degan, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa pada kami. Saya percaya walaupun gaya menyetirnya "ohseram", keselamatan saya "aman". Haha..

Saya jadi ingat pada dua teman saya. Yang satu sering pergi bersama saya saat weekend, dan setiap kali dia selalu mengomentari saya yang sedang menyetir: "awas" atau "hati-hati". Sedang teman saya yang satu lagi (hampir setiap hari pulang bersama saya) hanya pernah berkomentar satu kali, "gaya nyetir lu emang kayak naik bom-bom car ya?"

Mungkin teman saya yang pertama kurang percaya pada gaya menyetir saya yang membuat dia "ketakutan", sedangkan teman saya yang kedua (entah karena sudah terbiasa atau bagaimana) memiliki kepercayaan pada saya, sehingga dia menikmati saja naik "bom-bom car" saya :p

Dari kejadian ini saya merefleksikan bahwa kepercayaan itu sangatlah penting dalam suatu hubungan. Entah kepercayaan dalam hubungan pertemanan, keluarga, atau pun dengan pasangan. Saya ingat betapa dulu saya percaya 100% pada mantan kekasih saya, tapi karena suatu hal, kepercayaan saya mulai luntur. Kepercayaan diri saya pun ikut menghilang. Dan sejak saya kehilangan dua kepercayaan itu, everything seems so wrong in our relationship.

Dalam kasus dua teman saya tadi, saya jadi merasa was-was menyetir setiap kali pergi dengan teman yang pertama. Karena kekurangpercayaannya itu, saya jadi merasa kurang nyaman dan selalu berhati-hati (ekstra) karena "takut" dikomentari. Sedangkan setiap kali pulang bersama teman saya yang kedua, saya merasa nyaman dan tetap berhati-hati tentunya. Tapi kehati-hatian saya lebih kepada "tanggung jawab" atas kepercayaan yang sudah diberikan teman saya kepada saya.

Walaupun saya deg-degan juga waktu pergi dengan ayah saya, tapi saya yakin sepenuh hati bahwa saya "aman". Seperti dalam hubungan percintaan, pasti ada yang namanya bumbu-bumbu cinta, entah cemburu, takut kehilangan, dsb. Tapi jangan sampai semua itu menghilangkan kepercayaan kita.

Begitu pun dalam hubungan keluarga dan pekerjaan. Kepercayaan yang diberikan atasan memotivasi saya untuk bekerja sebaik mungkin. Karena saya menghargai kepercayaan yang dia berikan kepada saya. I don't want to let him down. Sedangkan kepercayaan yang diberikan orang tua kepada saya juga sangat saya hargai. Walaupun saya tidak diberi jam malam, tapi saya selalu berusaha menjaga diri saya dengan baik. Dan saya selalu berusaha jujur pada mereka ke mana pun saya pergi dan apa pun yang saya lakukan.

Memberikan kepercayaan itu tidak mudah. Jadi, ketika kita menerima kepercayaan dari seseorang, patutlah kita hargai.

So, have a little faith in yourself and in the ones you love, Ladies.. Thus, everything will seems to be better :)