Kemarin saya pergi ke Pekan Raya Jakarta (PRJ). Sebagai warga Jakarta
yang baik (ehem..), ga afdol dong, ya, kalau tidak menyempatkan diri ke
sana ;)
Sebenarnya saya ini tipe orang yang tidak suka
keramaian, apalagi kalau harus bersesak-sesakan, berdesakan dengan
orang banyak. Yah, tapi karena The Power of "Niat", saya kuatkan diri
juga..haha..
Karena saya pergi di hari libur, kebayang kan
ramainya seperti apa (fiuh..). Untuk bisa jalan satu meter ke depan saja
diperlukan "perjuangan". Bertubrukan, berdesakan. Sesak sekali rasanya.
Di
tengah kerumunan orang banyak itu, saya melihat banyak sekali
orang-orang yang "unik". Ada yang sibuk melihat-lihat pameran sampai
tidak sadar anaknya yang masih kecil di"tabrak" orang, ada yang
sempat-sempatnya menyuapi pasangannya sambil berjalan (di kerumunan
orang banyak?!), dan ada seorang ibu hamil yang mengenakan pakaian
dengan bagian belakang (punggung) terbuka sampai (maaf) kelihatan
pakaian dalamnya.
Kalau sejauh mata saya memandang di
arena PRJ saja ada begitu banyak ke"unik"an, begitu banyaknya karakter
dan sikap orang, apalagi di seluruh dunia, ya? Itu pun baru sebatas
sikap dan karakter. Belum ditambah dengan perbedaan suku, agama, ras,
dan kultur. Begitu ragamnya manusia penduduk bumi ini.
Kalau
bumi bagaikan bola berwana putih polos, maka perbedaan-perbedaan
"penghuni"nya adalah pemberi warna. Dan warna-warni yang tercampur di
bola putih itu pun sudah pasti hasilnya tidak akan sama rata. Bayangkan
warna kuning yang tertimpa warna hitam, atau warna merah yang tertimpa
warna coklat. Tapi bisa juga campuran warna lain menghasilkan warna baru
yang indah. Yang pasti, gradasi warna-warna tersebut memberi keindahan
tersendiri bagi si bola putih.
Manusia memang banyak
perbedaan, tidak bisa disamaratakan semua. Namun, menerima dan
menyatukan perbedaan itu tidak mudah. Kadang kita berharap orang lain
bisa menuruti keinginan kita. Atau kadang kita suka tidak habis pikir
dengan sifat orang-orang tertentu yang bagi kita kelewat batas. Tapi di
luar itu semua, hal paling mendasar yang harus kita sadari adalah bahwa
memang manusia itu tidak mungkin ada yang sama.
Kalau
ada lirik lagu cinta yang berkata "kau tak 'kan terganti," saya rasa itu
benar adanya. Hanya ada satu diri kita di dunia ini, kan? Tidak mungkin
bisa diganti. Walaupun seandainya teknologi menghantar kita pada kreasi
kloning, hasilnya tidak akan sama. Tidak ada yang memiliki hati persis
sama seperti hati kita. Juga tidak ada orang lain yang memiliki otak dan
pemikiran yang sama persis dengan kita. Begitu pun sebaliknya, kita
tidak akan pernah bisa "sama" dengan orang lain.
Jadi,
ketika kita menghadapi konflik dengan teman, pasangan, atau keluarga,
kita harus ingat bahwa setiap orang itu berbeda. Kita harus bisa
menyadari dan menerima perbedaan itu. Kalau tidak, (menurut saya) bentuk
komunikasi seperti apa pun tidak akan membuahkan hasil kompromi yang
tulus..