Labels

June 30, 2011

Warna-Warni Perbedaan

Kemarin saya pergi ke Pekan Raya Jakarta (PRJ). Sebagai warga Jakarta yang baik (ehem..), ga afdol dong, ya, kalau tidak menyempatkan diri ke sana ;)

Sebenarnya saya ini tipe orang yang tidak suka keramaian, apalagi kalau harus bersesak-sesakan, berdesakan dengan orang banyak. Yah, tapi karena The Power of "Niat", saya kuatkan diri juga..haha..
Karena saya pergi di hari libur, kebayang kan ramainya seperti apa (fiuh..). Untuk bisa jalan satu meter ke depan saja diperlukan "perjuangan". Bertubrukan, berdesakan. Sesak sekali rasanya.

Di tengah kerumunan orang banyak itu, saya melihat banyak sekali orang-orang yang "unik". Ada yang sibuk melihat-lihat pameran sampai tidak sadar anaknya yang masih kecil di"tabrak" orang, ada yang sempat-sempatnya menyuapi pasangannya sambil berjalan (di kerumunan orang banyak?!), dan ada seorang ibu hamil yang mengenakan pakaian dengan bagian belakang (punggung) terbuka sampai (maaf) kelihatan pakaian dalamnya.

Kalau sejauh mata saya memandang di arena PRJ saja ada begitu banyak ke"unik"an, begitu banyaknya karakter dan sikap orang, apalagi di seluruh dunia, ya? Itu pun baru sebatas sikap dan karakter. Belum ditambah dengan perbedaan suku, agama, ras, dan kultur. Begitu ragamnya manusia penduduk bumi ini.

Kalau bumi bagaikan bola berwana putih polos, maka perbedaan-perbedaan "penghuni"nya adalah pemberi warna. Dan warna-warni yang tercampur di bola putih itu pun sudah pasti hasilnya tidak akan sama rata. Bayangkan warna kuning yang tertimpa warna hitam, atau warna merah yang tertimpa warna coklat. Tapi bisa juga campuran warna lain menghasilkan warna baru yang indah. Yang pasti, gradasi warna-warna tersebut memberi keindahan tersendiri bagi si bola putih.

Manusia memang banyak perbedaan, tidak bisa disamaratakan semua. Namun, menerima dan menyatukan perbedaan itu tidak mudah. Kadang kita berharap orang lain bisa menuruti keinginan kita. Atau kadang kita suka tidak habis pikir dengan sifat orang-orang tertentu yang bagi kita kelewat batas. Tapi di luar itu semua, hal paling mendasar yang harus kita sadari adalah bahwa memang manusia itu tidak mungkin ada yang sama.

Kalau ada lirik lagu cinta yang berkata "kau tak 'kan terganti," saya rasa itu benar adanya. Hanya ada satu diri kita di dunia ini, kan? Tidak mungkin bisa diganti. Walaupun seandainya teknologi menghantar kita pada kreasi kloning, hasilnya tidak akan sama. Tidak ada yang memiliki hati persis sama seperti hati kita. Juga tidak ada orang lain yang memiliki otak dan pemikiran yang sama persis dengan kita. Begitu pun sebaliknya, kita tidak akan pernah bisa "sama" dengan orang lain.

Jadi, ketika kita menghadapi konflik dengan teman, pasangan, atau keluarga, kita harus ingat bahwa setiap orang itu berbeda. Kita harus bisa menyadari dan menerima perbedaan itu. Kalau tidak, (menurut saya) bentuk komunikasi seperti apa pun tidak akan membuahkan hasil kompromi yang tulus..