"Jangan benci sama orang, nanti malah jatuh cinta, lho.."
"Dulu katanya cinta, kok sekarang bisa jadi benci, sih?"
Dua kalimat di atas sering saya dengar sejak dulu. Tapi yang saya tahu, dua hal tersebut–benci jadi cinta dan cinta jadi benci dianggap sebagai bentuk karma/kualat dan sering dijadikan bahan "ejekan" untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta atau patah hati. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan kemungkinan-kemungkinan kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi. Tidak sampai siang tadi.
Saya ini tipe orang yang sangat pemikir. Ditambah dengan kebiasaan saya yang suka merefleksikan segala hal yang saya alami. Segala hal saya pikirkan, dari yang sangat penting sampai yang tidak penting sekali pun. Dan biasanya pikiran saya juga bercabang-cabang, arah pikiran saya bisa sampai ke mana-mana, sehingga kalau dimindmap di selembar kertas mungkin sudah tidak muat lagi :p
Tadi siang, saat saya sedang mencari bahan-bahan untuk tugas pengembangan diri, entah bagaimana caranya saya jadi terhubung dengan pemikiran tentang benci dan cinta tersebut. Hasil dari pemikiran panjang nan ngelantur alias ke mana-mana saya itu berhasil memberikan teori baru bagi diri saya sendiri.
Bagaimana kalau masalah benci jadi cinta dan cinta jadi benci bisa dijelaskan secara ilmiah dan logis, bukan dianggap sebagai karma/kualat belaka?
Saya mencintai seorang pria (satu saja cukup dong, ya? ;p). Dia adalah satu-satunya orang (paling tidak sampai saat ini) yang bisa membuat saya percaya akan yang namanya cinta (karena dulu saya cukup skeptis untuk hal ini). Karena saya mencintai dia, otomatis (sudah merupakan hal yang alamiah rasanya) saya selalu melihat hal-hal yang baik dalam dirinya. Kalau boleh dibilang, saya memujanya. Saya menaruh pengharapan besar pada dirinya. Tetapi ketika akhirnya dia mengecewakan saya, lama-lama saya malah jadi benci padanya. Aneh juga, sih. Tapi memang begitu kenyataannya. Di satu sisi saya mencintai dia, di sisi lain saya merasa sangat kesal padanya.
Di suatu komunitas yang saya ikuti, ada seorang pria yang (sikapnya) mirip sekali dengan orang itu. Setiap kali saya melihatnya, saya selalu teringat akan si dia. Lama-lama saya jadi sebal juga dengan orang ini. Tidak fair memang. Dan karena saya kesal (karena alasan konyol dan kekanak-kanakan) padanya, setiap bertemu, secara reflek saya selalu memerhatikan dia, berusaha mencari-cari keburukannya agar saya mendapat alasan yang lebih "berbobot" untuk membencinya..hehehe.. Tapi semakin lama saya perhatikan, saya justru malah mendapati semakin banyak hal baik tentang dirinya. Dan parahnya, sekarang saya malah jadi mengaguminya! -.-"
Saya jadi berpikir, apa karena saya dari awal sudah terlanjur membenci dia (walau tanpa alasan yang "jelas"), sehingga ketika saya mendapati hal-hal yang (ternyata) baik tentang dirinya, saya jadi merasa itu adalah suatu hal yang "wah" dan berkesan. Sebaliknya, karena saya sudah terlanjur mencintai sang pujaan hati dan menaruh pengharapan besar padanya, ketika saya dikecewakan, rasanya seperti "ditusuk pisau" (lebay ga, sih). Walaupun sah-sah dan wajar saja bila dikecewakan oleh orang lain (namanya juga hidup), tapi rasa kecewanya berlipat ganda karena dari awal saya sudah terlanjur memberi "label" positif plus untuknya. Saya jadi tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia malah mengecewakan saya.
Jadi intinya, ketika perasaan cinta berubah jadi benci dan benci berubah jadi cinta, pastilah bukan karena alasan-alasan yang tidak logis. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang kalau mau diteliti saya yakin akan ada penjelasan ilmiahnya. Entah itu berhubungan dengan bidang psikologis, atau apa pun.