Kemarin saya pergi ke Pekan Raya Jakarta (PRJ). Sebagai warga Jakarta
yang baik (ehem..), ga afdol dong, ya, kalau tidak menyempatkan diri ke
sana ;)
Sebenarnya saya ini tipe orang yang tidak suka
keramaian, apalagi kalau harus bersesak-sesakan, berdesakan dengan
orang banyak. Yah, tapi karena The Power of "Niat", saya kuatkan diri
juga..haha..
Karena saya pergi di hari libur, kebayang kan
ramainya seperti apa (fiuh..). Untuk bisa jalan satu meter ke depan saja
diperlukan "perjuangan". Bertubrukan, berdesakan. Sesak sekali rasanya.
Di
tengah kerumunan orang banyak itu, saya melihat banyak sekali
orang-orang yang "unik". Ada yang sibuk melihat-lihat pameran sampai
tidak sadar anaknya yang masih kecil di"tabrak" orang, ada yang
sempat-sempatnya menyuapi pasangannya sambil berjalan (di kerumunan
orang banyak?!), dan ada seorang ibu hamil yang mengenakan pakaian
dengan bagian belakang (punggung) terbuka sampai (maaf) kelihatan
pakaian dalamnya.
Kalau sejauh mata saya memandang di
arena PRJ saja ada begitu banyak ke"unik"an, begitu banyaknya karakter
dan sikap orang, apalagi di seluruh dunia, ya? Itu pun baru sebatas
sikap dan karakter. Belum ditambah dengan perbedaan suku, agama, ras,
dan kultur. Begitu ragamnya manusia penduduk bumi ini.
Kalau
bumi bagaikan bola berwana putih polos, maka perbedaan-perbedaan
"penghuni"nya adalah pemberi warna. Dan warna-warni yang tercampur di
bola putih itu pun sudah pasti hasilnya tidak akan sama rata. Bayangkan
warna kuning yang tertimpa warna hitam, atau warna merah yang tertimpa
warna coklat. Tapi bisa juga campuran warna lain menghasilkan warna baru
yang indah. Yang pasti, gradasi warna-warna tersebut memberi keindahan
tersendiri bagi si bola putih.
Manusia memang banyak
perbedaan, tidak bisa disamaratakan semua. Namun, menerima dan
menyatukan perbedaan itu tidak mudah. Kadang kita berharap orang lain
bisa menuruti keinginan kita. Atau kadang kita suka tidak habis pikir
dengan sifat orang-orang tertentu yang bagi kita kelewat batas. Tapi di
luar itu semua, hal paling mendasar yang harus kita sadari adalah bahwa
memang manusia itu tidak mungkin ada yang sama.
Kalau
ada lirik lagu cinta yang berkata "kau tak 'kan terganti," saya rasa itu
benar adanya. Hanya ada satu diri kita di dunia ini, kan? Tidak mungkin
bisa diganti. Walaupun seandainya teknologi menghantar kita pada kreasi
kloning, hasilnya tidak akan sama. Tidak ada yang memiliki hati persis
sama seperti hati kita. Juga tidak ada orang lain yang memiliki otak dan
pemikiran yang sama persis dengan kita. Begitu pun sebaliknya, kita
tidak akan pernah bisa "sama" dengan orang lain.
Jadi,
ketika kita menghadapi konflik dengan teman, pasangan, atau keluarga,
kita harus ingat bahwa setiap orang itu berbeda. Kita harus bisa
menyadari dan menerima perbedaan itu. Kalau tidak, (menurut saya) bentuk
komunikasi seperti apa pun tidak akan membuahkan hasil kompromi yang
tulus..
June 30, 2011
June 28, 2011
Benci vs Cinta
"Jangan benci sama orang, nanti malah jatuh cinta, lho.."
"Dulu katanya cinta, kok sekarang bisa jadi benci, sih?"
Dua kalimat di atas sering saya dengar sejak dulu. Tapi yang saya tahu, dua hal tersebut–benci jadi cinta dan cinta jadi benci dianggap sebagai bentuk karma/kualat dan sering dijadikan bahan "ejekan" untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta atau patah hati. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan kemungkinan-kemungkinan kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi. Tidak sampai siang tadi.
Saya ini tipe orang yang sangat pemikir. Ditambah dengan kebiasaan saya yang suka merefleksikan segala hal yang saya alami. Segala hal saya pikirkan, dari yang sangat penting sampai yang tidak penting sekali pun. Dan biasanya pikiran saya juga bercabang-cabang, arah pikiran saya bisa sampai ke mana-mana, sehingga kalau dimindmap di selembar kertas mungkin sudah tidak muat lagi :p
Tadi siang, saat saya sedang mencari bahan-bahan untuk tugas pengembangan diri, entah bagaimana caranya saya jadi terhubung dengan pemikiran tentang benci dan cinta tersebut. Hasil dari pemikiran panjang nan ngelantur alias ke mana-mana saya itu berhasil memberikan teori baru bagi diri saya sendiri.
Bagaimana kalau masalah benci jadi cinta dan cinta jadi benci bisa dijelaskan secara ilmiah dan logis, bukan dianggap sebagai karma/kualat belaka?
Saya mencintai seorang pria (satu saja cukup dong, ya? ;p). Dia adalah satu-satunya orang (paling tidak sampai saat ini) yang bisa membuat saya percaya akan yang namanya cinta (karena dulu saya cukup skeptis untuk hal ini). Karena saya mencintai dia, otomatis (sudah merupakan hal yang alamiah rasanya) saya selalu melihat hal-hal yang baik dalam dirinya. Kalau boleh dibilang, saya memujanya. Saya menaruh pengharapan besar pada dirinya. Tetapi ketika akhirnya dia mengecewakan saya, lama-lama saya malah jadi benci padanya. Aneh juga, sih. Tapi memang begitu kenyataannya. Di satu sisi saya mencintai dia, di sisi lain saya merasa sangat kesal padanya.
Di suatu komunitas yang saya ikuti, ada seorang pria yang (sikapnya) mirip sekali dengan orang itu. Setiap kali saya melihatnya, saya selalu teringat akan si dia. Lama-lama saya jadi sebal juga dengan orang ini. Tidak fair memang. Dan karena saya kesal (karena alasan konyol dan kekanak-kanakan) padanya, setiap bertemu, secara reflek saya selalu memerhatikan dia, berusaha mencari-cari keburukannya agar saya mendapat alasan yang lebih "berbobot" untuk membencinya..hehehe.. Tapi semakin lama saya perhatikan, saya justru malah mendapati semakin banyak hal baik tentang dirinya. Dan parahnya, sekarang saya malah jadi mengaguminya! -.-"
Saya jadi berpikir, apa karena saya dari awal sudah terlanjur membenci dia (walau tanpa alasan yang "jelas"), sehingga ketika saya mendapati hal-hal yang (ternyata) baik tentang dirinya, saya jadi merasa itu adalah suatu hal yang "wah" dan berkesan. Sebaliknya, karena saya sudah terlanjur mencintai sang pujaan hati dan menaruh pengharapan besar padanya, ketika saya dikecewakan, rasanya seperti "ditusuk pisau" (lebay ga, sih). Walaupun sah-sah dan wajar saja bila dikecewakan oleh orang lain (namanya juga hidup), tapi rasa kecewanya berlipat ganda karena dari awal saya sudah terlanjur memberi "label" positif plus untuknya. Saya jadi tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia malah mengecewakan saya.
Jadi intinya, ketika perasaan cinta berubah jadi benci dan benci berubah jadi cinta, pastilah bukan karena alasan-alasan yang tidak logis. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang kalau mau diteliti saya yakin akan ada penjelasan ilmiahnya. Entah itu berhubungan dengan bidang psikologis, atau apa pun.
"Dulu katanya cinta, kok sekarang bisa jadi benci, sih?"
Dua kalimat di atas sering saya dengar sejak dulu. Tapi yang saya tahu, dua hal tersebut–benci jadi cinta dan cinta jadi benci dianggap sebagai bentuk karma/kualat dan sering dijadikan bahan "ejekan" untuk orang-orang yang sedang jatuh cinta atau patah hati. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan kemungkinan-kemungkinan kenapa hal-hal tersebut bisa terjadi. Tidak sampai siang tadi.
Saya ini tipe orang yang sangat pemikir. Ditambah dengan kebiasaan saya yang suka merefleksikan segala hal yang saya alami. Segala hal saya pikirkan, dari yang sangat penting sampai yang tidak penting sekali pun. Dan biasanya pikiran saya juga bercabang-cabang, arah pikiran saya bisa sampai ke mana-mana, sehingga kalau dimindmap di selembar kertas mungkin sudah tidak muat lagi :p
Tadi siang, saat saya sedang mencari bahan-bahan untuk tugas pengembangan diri, entah bagaimana caranya saya jadi terhubung dengan pemikiran tentang benci dan cinta tersebut. Hasil dari pemikiran panjang nan ngelantur alias ke mana-mana saya itu berhasil memberikan teori baru bagi diri saya sendiri.
Bagaimana kalau masalah benci jadi cinta dan cinta jadi benci bisa dijelaskan secara ilmiah dan logis, bukan dianggap sebagai karma/kualat belaka?
Saya mencintai seorang pria (satu saja cukup dong, ya? ;p). Dia adalah satu-satunya orang (paling tidak sampai saat ini) yang bisa membuat saya percaya akan yang namanya cinta (karena dulu saya cukup skeptis untuk hal ini). Karena saya mencintai dia, otomatis (sudah merupakan hal yang alamiah rasanya) saya selalu melihat hal-hal yang baik dalam dirinya. Kalau boleh dibilang, saya memujanya. Saya menaruh pengharapan besar pada dirinya. Tetapi ketika akhirnya dia mengecewakan saya, lama-lama saya malah jadi benci padanya. Aneh juga, sih. Tapi memang begitu kenyataannya. Di satu sisi saya mencintai dia, di sisi lain saya merasa sangat kesal padanya.
Di suatu komunitas yang saya ikuti, ada seorang pria yang (sikapnya) mirip sekali dengan orang itu. Setiap kali saya melihatnya, saya selalu teringat akan si dia. Lama-lama saya jadi sebal juga dengan orang ini. Tidak fair memang. Dan karena saya kesal (karena alasan konyol dan kekanak-kanakan) padanya, setiap bertemu, secara reflek saya selalu memerhatikan dia, berusaha mencari-cari keburukannya agar saya mendapat alasan yang lebih "berbobot" untuk membencinya..hehehe.. Tapi semakin lama saya perhatikan, saya justru malah mendapati semakin banyak hal baik tentang dirinya. Dan parahnya, sekarang saya malah jadi mengaguminya! -.-"
Saya jadi berpikir, apa karena saya dari awal sudah terlanjur membenci dia (walau tanpa alasan yang "jelas"), sehingga ketika saya mendapati hal-hal yang (ternyata) baik tentang dirinya, saya jadi merasa itu adalah suatu hal yang "wah" dan berkesan. Sebaliknya, karena saya sudah terlanjur mencintai sang pujaan hati dan menaruh pengharapan besar padanya, ketika saya dikecewakan, rasanya seperti "ditusuk pisau" (lebay ga, sih). Walaupun sah-sah dan wajar saja bila dikecewakan oleh orang lain (namanya juga hidup), tapi rasa kecewanya berlipat ganda karena dari awal saya sudah terlanjur memberi "label" positif plus untuknya. Saya jadi tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia malah mengecewakan saya.
Jadi intinya, ketika perasaan cinta berubah jadi benci dan benci berubah jadi cinta, pastilah bukan karena alasan-alasan yang tidak logis. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang kalau mau diteliti saya yakin akan ada penjelasan ilmiahnya. Entah itu berhubungan dengan bidang psikologis, atau apa pun.
June 13, 2011
June 12, 2011
Pikirku
Akhir pekan panjang kemarin saya habiskan dengan berlibur ke Bali, sendiri (hanya dua hari pertama saya ditemani seorang teman).
Sesuai rencana, saya ikut salah satu penyedia jasa cruise ke pulau Nusa Lembongan. Setelah bersantap di kapal, saya merasa sangat mual hingga akhirnya muntah di toilet. Setelah muntah pun saya tidak merasa lebih baik. Bukan mabok kapal penyebabnya (karena saya memang tidak punya sejarah mabok kapal). Sepertinya saya masuk angin :D
Ketika sampai di tujuan, saya masih merasa sangat mual dan akhirnya memutuskan untuk tidak bermain air (snorkeling, banana boat, dll) dulu, melainkan ikut kunjungan ke desa sesi pertama. Rasanya sayang juga kalau saya keluar uang hanya untuk istirahat duduk-duduk saja kan ya..hehe..
Sampai di desa, kami diajak keliling menggunakan mobil (mirip angkot) terbuka. Dalam satu mobil itu ada sekitar 15 orang (termasuk saya). Dan yang duduk di depan saya (karena bangkunya kan berhadapan gitu ya) adalah sekelompok ABG dengan ciri khas mereka: heboh! Percakapan mereka yang "membahana" itu membuat saya merasa tambah pusing. Dalam hati saya sudah ngedumel, berisik banget sih nih cewek-cewek ABG, bikin orang tambah pusing aja. Sepertinya sih saya tidak sengaja sampai melotot ke arah mereka :p
Setelah berkeliling desa selama +/- 30 menit, kami menunggu perahu jemputan di tepi pantai. Saya yang sudah merasa lebih baik (setelah dikasih minyak angin oleh penduduk setempat-di warung tidak ada yang menjual obat masuk angin, coba ya?) memanfaatkan waktu menunggu dengan memoto-moto pantai dan pemandangan sekitar. Sedangkan para ABG itu sedang berfoto narsis ria di depan saya (tentu saja masih dengan kehebohan mereka).
Di tengah aktivitas memoto kami yang berbeda itu (mereka foto narsis, saya foto pemandangan), salah satu dari mereka mendekati saya dan menawarkan apakah saya mau dibantu fotoin (berhubung saya cuma sendirian). Akhirnya dengan pertimbangan "lumayan buat kenang-kenangan dari sini", saya mengiyakan, "boleh, minta tolong ya."
Setelah itu mereka terus mengajak saya ngrobol dengan campuran bahasa Jawa (karena mereka orang Surabaya), dari bertanya kenapa saya pergi sendiri, dari kapan, dll, dsb. Untungnya saya lumayan mengerti bahasa Jawa karena dulu memang pernah tinggal di Jawa, jadi bahasa campuran mereka itu bisa saya mengerti. Haha..
Ujung-ujungnya kami berkenalan, makan siang bersama, dan mengobrol. Sampai menit-menit terakhir saat saya berbaris di antrian terakhir banana boat dan disuruh batal oleh petugas karena sudah waktunya kembali ke darat, malah mereka yang "memaksa" petugas untuk membiarkan saya tetap mengantri agar bisa mencoba banana boat.
Lucu juga, saya yang awalnya merasa terganggu dengan kehebohan mereka malah jadi banyak dibantu dan terhibur. Walaupun saya tetap merasa mereka "heboh", tapi saya sudah tidak merasa kesal seperti sebelumnya.
Rasanya pepatah "Jangan menilai buku dari sampulnya" itu tidak pernah basi. Seringkali saya menilai orang dari penampilan, gaya, dan sikap mereka tanpa peduli untuk mengenal mereka lebih jauh. Padahal, jika saya mau sedikit mengabaikan pendapat saya (yang kadang terlalu skeptis dan sarkastis), pasti saya akan menemukan (paling tidak) satu hal baik dari mereka.
Tidak ada manusia yang sempurna. Benar, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada dasarnya semua manusia itu sama statusnya: manusia ciptaan Tuhan. Kita semua memiliki hak yang sama (kalau saja manusia tidak menciptakan status-status sosial, dll). Sejelek-jeleknya seseorang, yang mungkin sampai membuat kita berpikir kok ada ya orang kayak gini? pasti memiliki sedikitnya satu hal baik dalam diri mereka. Sama seperti sesempurnanya kita, pasti ada sedikitnya satu hal yang kurang/jelek dalam diri kita.
Karena itu, saya harus mencoba untuk tidak menilai dan mencela orang seenaknya. Toh, saya sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang saya cela itu. When you try to find, you will find the good side of every person and every situation. Jadi, daripada saya repot-repot memikirkan keburukan-keburukan orang, mungkin akan lebih berguna (bahkan menarik) kalau saya bisa berusaha mencari kebaikan-kebaikan di balik (yang menurut saya merupakan) keburukan mereka. ;)
Sesuai rencana, saya ikut salah satu penyedia jasa cruise ke pulau Nusa Lembongan. Setelah bersantap di kapal, saya merasa sangat mual hingga akhirnya muntah di toilet. Setelah muntah pun saya tidak merasa lebih baik. Bukan mabok kapal penyebabnya (karena saya memang tidak punya sejarah mabok kapal). Sepertinya saya masuk angin :D
Ketika sampai di tujuan, saya masih merasa sangat mual dan akhirnya memutuskan untuk tidak bermain air (snorkeling, banana boat, dll) dulu, melainkan ikut kunjungan ke desa sesi pertama. Rasanya sayang juga kalau saya keluar uang hanya untuk istirahat duduk-duduk saja kan ya..hehe..
Sampai di desa, kami diajak keliling menggunakan mobil (mirip angkot) terbuka. Dalam satu mobil itu ada sekitar 15 orang (termasuk saya). Dan yang duduk di depan saya (karena bangkunya kan berhadapan gitu ya) adalah sekelompok ABG dengan ciri khas mereka: heboh! Percakapan mereka yang "membahana" itu membuat saya merasa tambah pusing. Dalam hati saya sudah ngedumel, berisik banget sih nih cewek-cewek ABG, bikin orang tambah pusing aja. Sepertinya sih saya tidak sengaja sampai melotot ke arah mereka :p
Setelah berkeliling desa selama +/- 30 menit, kami menunggu perahu jemputan di tepi pantai. Saya yang sudah merasa lebih baik (setelah dikasih minyak angin oleh penduduk setempat-di warung tidak ada yang menjual obat masuk angin, coba ya?) memanfaatkan waktu menunggu dengan memoto-moto pantai dan pemandangan sekitar. Sedangkan para ABG itu sedang berfoto narsis ria di depan saya (tentu saja masih dengan kehebohan mereka).
Di tengah aktivitas memoto kami yang berbeda itu (mereka foto narsis, saya foto pemandangan), salah satu dari mereka mendekati saya dan menawarkan apakah saya mau dibantu fotoin (berhubung saya cuma sendirian). Akhirnya dengan pertimbangan "lumayan buat kenang-kenangan dari sini", saya mengiyakan, "boleh, minta tolong ya."
Setelah itu mereka terus mengajak saya ngrobol dengan campuran bahasa Jawa (karena mereka orang Surabaya), dari bertanya kenapa saya pergi sendiri, dari kapan, dll, dsb. Untungnya saya lumayan mengerti bahasa Jawa karena dulu memang pernah tinggal di Jawa, jadi bahasa campuran mereka itu bisa saya mengerti. Haha..
Ujung-ujungnya kami berkenalan, makan siang bersama, dan mengobrol. Sampai menit-menit terakhir saat saya berbaris di antrian terakhir banana boat dan disuruh batal oleh petugas karena sudah waktunya kembali ke darat, malah mereka yang "memaksa" petugas untuk membiarkan saya tetap mengantri agar bisa mencoba banana boat.
Lucu juga, saya yang awalnya merasa terganggu dengan kehebohan mereka malah jadi banyak dibantu dan terhibur. Walaupun saya tetap merasa mereka "heboh", tapi saya sudah tidak merasa kesal seperti sebelumnya.
Rasanya pepatah "Jangan menilai buku dari sampulnya" itu tidak pernah basi. Seringkali saya menilai orang dari penampilan, gaya, dan sikap mereka tanpa peduli untuk mengenal mereka lebih jauh. Padahal, jika saya mau sedikit mengabaikan pendapat saya (yang kadang terlalu skeptis dan sarkastis), pasti saya akan menemukan (paling tidak) satu hal baik dari mereka.
Tidak ada manusia yang sempurna. Benar, setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada dasarnya semua manusia itu sama statusnya: manusia ciptaan Tuhan. Kita semua memiliki hak yang sama (kalau saja manusia tidak menciptakan status-status sosial, dll). Sejelek-jeleknya seseorang, yang mungkin sampai membuat kita berpikir kok ada ya orang kayak gini? pasti memiliki sedikitnya satu hal baik dalam diri mereka. Sama seperti sesempurnanya kita, pasti ada sedikitnya satu hal yang kurang/jelek dalam diri kita.
Karena itu, saya harus mencoba untuk tidak menilai dan mencela orang seenaknya. Toh, saya sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang saya cela itu. When you try to find, you will find the good side of every person and every situation. Jadi, daripada saya repot-repot memikirkan keburukan-keburukan orang, mungkin akan lebih berguna (bahkan menarik) kalau saya bisa berusaha mencari kebaikan-kebaikan di balik (yang menurut saya merupakan) keburukan mereka. ;)
June 10, 2011
Cerita Cinta Tak Bernada
Memikirkanmu, memimpikanmu. Ku tersadar dari tidur lelapku, bangun dari khayalan indahku.
Manisnya cinta ternyata tak nyata. Mesranya kita yang hanya anganku saja.
Berharap, lelah.. Berhenti, ragu..
Benci kepada hati terus menanti tak pernah pasti..
Sedih karena luka dirasa perih mempertahankan benih,
benih cinta tertanam tak bisa dituai..
Ketika hasrat terpendam, hatiku kelam.
Di ujung lembah kutemukan kecewa.
Di dasarnya tersisa duka.
Perasaan yang tersimpan mencari dia tuk didengar.
Kegelapan mencari terang tuk keluar.
Kejelasan mencari cara tuk bertengkar.
Cerita cinta tak bernada, suara pun tersimpan di rongga dada..
Manisnya cinta ternyata tak nyata. Mesranya kita yang hanya anganku saja.
Berharap, lelah.. Berhenti, ragu..
Benci kepada hati terus menanti tak pernah pasti..
Sedih karena luka dirasa perih mempertahankan benih,
benih cinta tertanam tak bisa dituai..
Ketika hasrat terpendam, hatiku kelam.
Di ujung lembah kutemukan kecewa.
Di dasarnya tersisa duka.
Perasaan yang tersimpan mencari dia tuk didengar.
Kegelapan mencari terang tuk keluar.
Kejelasan mencari cara tuk bertengkar.
Cerita cinta tak bernada, suara pun tersimpan di rongga dada..
My Wishful Thinking
I went to Bali last weekend. The trip was supposed to be a solo trip (just me, alone), before one of my friend requested to join me. I planned this trip from like months ago, and was so excited about it. I had in mind all the exciting things I'd do alone, and how I finally will have the chance to express myself freely with no hesitation, no limit, because I'll be all by myself. And it's Bali anyway! I mean, come on, who cares about you while you're in Bali? They won't give a damn hell (oops..). Especially if you're a tourist, right?
Well, but it didn't really work out as planned, since my friend was joining me on the first and second day of my trip. And since he (yes, he, my friend was a guy) is not a close friend of mine, it kinda makes my trip was even "harder". Though we had a deal that if he wants to join me, he'll follow things my way, but I still didn't enjoy the trip as much as when I was (finally) alone on the rest of the days I spent in Bali. But I tried to enjoy my days with him even though he was quite ruin my mood at times :p
Anyways, I do learn something from this experience. I know that in life, we don't always get what we want, things didn't always work out as we expected. So that's why we can't be too perfectionist or idealist as a person. But in fact, if we try to see the good side of every unfortunate event, we needn't feel too depressed about it. For everything happens for a reason. Maybe we couldn't understand the "reason" at the moment, but (I believe) we will someday. Life is about learning. Every struggles and failure, all the ups and downs are lessons to learn that will make us a better person and bring us to a better life.
It's good to try to see things from different ways..
Well, but it didn't really work out as planned, since my friend was joining me on the first and second day of my trip. And since he (yes, he, my friend was a guy) is not a close friend of mine, it kinda makes my trip was even "harder". Though we had a deal that if he wants to join me, he'll follow things my way, but I still didn't enjoy the trip as much as when I was (finally) alone on the rest of the days I spent in Bali. But I tried to enjoy my days with him even though he was quite ruin my mood at times :p
Anyways, I do learn something from this experience. I know that in life, we don't always get what we want, things didn't always work out as we expected. So that's why we can't be too perfectionist or idealist as a person. But in fact, if we try to see the good side of every unfortunate event, we needn't feel too depressed about it. For everything happens for a reason. Maybe we couldn't understand the "reason" at the moment, but (I believe) we will someday. Life is about learning. Every struggles and failure, all the ups and downs are lessons to learn that will make us a better person and bring us to a better life.
It's good to try to see things from different ways..
May 28, 2011
Ketika Kupercaya
Minggu lalu saya mengajak ayah saya pergi ke suatu mal di daerah selatan untuk merayakan ulang tahunnya. Dalam perjalanan (yang lumayan jauh itu), saya merasa deg-degan. Kenapa? Karena gaya menyetir ayah saya yang seperti pembalap! Tapi walaupun saya merasa deg-degan, saya yakin tidak akan terjadi apa-apa pada kami. Saya percaya walaupun gaya menyetirnya "ohseram", keselamatan saya "aman". Haha..
Saya jadi ingat pada dua teman saya. Yang satu sering pergi bersama saya saat weekend, dan setiap kali dia selalu mengomentari saya yang sedang menyetir: "awas" atau "hati-hati". Sedang teman saya yang satu lagi (hampir setiap hari pulang bersama saya) hanya pernah berkomentar satu kali, "gaya nyetir lu emang kayak naik bom-bom car ya?"
Mungkin teman saya yang pertama kurang percaya pada gaya menyetir saya yang membuat dia "ketakutan", sedangkan teman saya yang kedua (entah karena sudah terbiasa atau bagaimana) memiliki kepercayaan pada saya, sehingga dia menikmati saja naik "bom-bom car" saya :p
Dari kejadian ini saya merefleksikan bahwa kepercayaan itu sangatlah penting dalam suatu hubungan. Entah kepercayaan dalam hubungan pertemanan, keluarga, atau pun dengan pasangan. Saya ingat betapa dulu saya percaya 100% pada mantan kekasih saya, tapi karena suatu hal, kepercayaan saya mulai luntur. Kepercayaan diri saya pun ikut menghilang. Dan sejak saya kehilangan dua kepercayaan itu, everything seems so wrong in our relationship.
Dalam kasus dua teman saya tadi, saya jadi merasa was-was menyetir setiap kali pergi dengan teman yang pertama. Karena kekurangpercayaannya itu, saya jadi merasa kurang nyaman dan selalu berhati-hati (ekstra) karena "takut" dikomentari. Sedangkan setiap kali pulang bersama teman saya yang kedua, saya merasa nyaman dan tetap berhati-hati tentunya. Tapi kehati-hatian saya lebih kepada "tanggung jawab" atas kepercayaan yang sudah diberikan teman saya kepada saya.
Walaupun saya deg-degan juga waktu pergi dengan ayah saya, tapi saya yakin sepenuh hati bahwa saya "aman". Seperti dalam hubungan percintaan, pasti ada yang namanya bumbu-bumbu cinta, entah cemburu, takut kehilangan, dsb. Tapi jangan sampai semua itu menghilangkan kepercayaan kita.
Begitu pun dalam hubungan keluarga dan pekerjaan. Kepercayaan yang diberikan atasan memotivasi saya untuk bekerja sebaik mungkin. Karena saya menghargai kepercayaan yang dia berikan kepada saya. I don't want to let him down. Sedangkan kepercayaan yang diberikan orang tua kepada saya juga sangat saya hargai. Walaupun saya tidak diberi jam malam, tapi saya selalu berusaha menjaga diri saya dengan baik. Dan saya selalu berusaha jujur pada mereka ke mana pun saya pergi dan apa pun yang saya lakukan.
Memberikan kepercayaan itu tidak mudah. Jadi, ketika kita menerima kepercayaan dari seseorang, patutlah kita hargai.
So, have a little faith in yourself and in the ones you love, Ladies.. Thus, everything will seems to be better :)
Saya jadi ingat pada dua teman saya. Yang satu sering pergi bersama saya saat weekend, dan setiap kali dia selalu mengomentari saya yang sedang menyetir: "awas" atau "hati-hati". Sedang teman saya yang satu lagi (hampir setiap hari pulang bersama saya) hanya pernah berkomentar satu kali, "gaya nyetir lu emang kayak naik bom-bom car ya?"
Mungkin teman saya yang pertama kurang percaya pada gaya menyetir saya yang membuat dia "ketakutan", sedangkan teman saya yang kedua (entah karena sudah terbiasa atau bagaimana) memiliki kepercayaan pada saya, sehingga dia menikmati saja naik "bom-bom car" saya :p
Dari kejadian ini saya merefleksikan bahwa kepercayaan itu sangatlah penting dalam suatu hubungan. Entah kepercayaan dalam hubungan pertemanan, keluarga, atau pun dengan pasangan. Saya ingat betapa dulu saya percaya 100% pada mantan kekasih saya, tapi karena suatu hal, kepercayaan saya mulai luntur. Kepercayaan diri saya pun ikut menghilang. Dan sejak saya kehilangan dua kepercayaan itu, everything seems so wrong in our relationship.
Dalam kasus dua teman saya tadi, saya jadi merasa was-was menyetir setiap kali pergi dengan teman yang pertama. Karena kekurangpercayaannya itu, saya jadi merasa kurang nyaman dan selalu berhati-hati (ekstra) karena "takut" dikomentari. Sedangkan setiap kali pulang bersama teman saya yang kedua, saya merasa nyaman dan tetap berhati-hati tentunya. Tapi kehati-hatian saya lebih kepada "tanggung jawab" atas kepercayaan yang sudah diberikan teman saya kepada saya.
Walaupun saya deg-degan juga waktu pergi dengan ayah saya, tapi saya yakin sepenuh hati bahwa saya "aman". Seperti dalam hubungan percintaan, pasti ada yang namanya bumbu-bumbu cinta, entah cemburu, takut kehilangan, dsb. Tapi jangan sampai semua itu menghilangkan kepercayaan kita.
Begitu pun dalam hubungan keluarga dan pekerjaan. Kepercayaan yang diberikan atasan memotivasi saya untuk bekerja sebaik mungkin. Karena saya menghargai kepercayaan yang dia berikan kepada saya. I don't want to let him down. Sedangkan kepercayaan yang diberikan orang tua kepada saya juga sangat saya hargai. Walaupun saya tidak diberi jam malam, tapi saya selalu berusaha menjaga diri saya dengan baik. Dan saya selalu berusaha jujur pada mereka ke mana pun saya pergi dan apa pun yang saya lakukan.
Memberikan kepercayaan itu tidak mudah. Jadi, ketika kita menerima kepercayaan dari seseorang, patutlah kita hargai.
So, have a little faith in yourself and in the ones you love, Ladies.. Thus, everything will seems to be better :)
April 18, 2011
Mudaku Kini Tuaku Nanti
Dua minggu yang lalu setelah pulang dari perjalanan singkat ke luar kota, saya kehabisan tenaga untuk mencuci tumpukan baju kotor, lalu memutuskan untuk menggunakan jasa laundry kiloan saja. Ketika tiba hari yang dijanjikan, saya pun pergi mengambil pakaian-pakaian yang sudah selesai dilaundry. Siang itu hari minggu yang cerah, dan saya baru saja selesai menghadiri acara mingguan dengan penampilan yang cantik nan anggun (ehem..).
Saat saya sudah bersiap menuju ke mobil, si tante pemilik memulai pembicaraan ringan dengan saya, "Kamu tinggal di mana?" Pertanyaan 'basa-basi' itu berujung pada obrolan yang berlangsung sekitar 20 menit lamanya. Si tante tidak henti-hentinya mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada saya, dan saya juga merasa sungkan untuk menyudahi pembicaraan kami. Beliau juga menceritakan berbagai hal tentang dirinya dan keluarganya dengan ceria dan penuh semangat. Di bawah teriknya matahari saya berdiri dengan kostum bak ingin ke pesta sambil memeluk pakaian hasil laundry seberat 5kg.
Ada hal yang begitu menarik simpati saya. Si tante yang sudah berumur 65 tahun tapi kelihatan masih sangat sehat dan muda itu mengatakan pada saya, "Minggu depan kamu datang lagi ya, ga laundry juga ga apa-apa, datang aja." Kalimat itu diulang-ulang hingga beberapa kali sampai akhir obrolan kami. Saya tidak menanyakan maksud perkataannya itu, tapi saya berasumsi dalam hati, maksudnya adalah, minggu depan datang lagi temani saya ngobrol ya. Entah kenapa saya dapat merasakan kesepian yang dirasakan beliau.
Dalam perjalanan pulang saya terus teringat akan si tante dan pembicaraan kami. Banyak hal yang terlintas di pikiran saya. Proses dari muda menjadi tua itu adalah suatu hal yang sudah pasti terjadi. Saat kita masih anak-anak, kita 'bergantung' pada orang tua yang membesarkan kita. Di saat muda, perbedaan pola pikir yang berujung pada perbedaan pendapat tidak jarang menimbulkan perselisihan dan membuat jarak di antara kita dan orang tua. Ketika kita masuk ke tahap hidup yang selanjutnya (menikah), mungkin kita akan 'minta tolong' menitipkan anak kita pada orang tua. Pada masa ini, ada dua kemungkinan, orang tua terhibur dan senang mengurus cucu; atau sebaliknya, mereka merasa sudah terlalu tua dan lemah untuk menjaga cucu.
Lepas dari hal menjaga atau mengurusi cucu, orang tua yang sudah lanjut usia secara fisik maupun psikologis sudah tentu berbeda dengan orang muda. Terkadang mereka perlu dibantu dalam mengerjakan sesuatu, bahkan untuk hal kecil seperti mengangkat barang (yang sedikit berat) sekalipun. Dan mereka juga menjadi sangat sensitif secara emosional.
Pada masa pensiun, mereka mungkin hanya mengharapkan perhatian dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat. Tapi kita (sebagai anak) belum tentu bisa memenuhi keinginan mereka. Kita juga punya 'kehidupan sendiri', bersosialisasi, mengejar karier, mengurusi rumah tangga, dll, dsb. Dan seiring waktu berjalan, kita pun menjadi tua, menempati posisi mereka (orang tua kita) dan akhirnya bisa merasakan perasaan mereka yang mungkin tidak dapat kita pahami saat kita masih muda seperti sekarang. Istilah "Don't judge a book by it's cover" bagi saya memiliki arti tersendiri. Kita tidak bisa menilai orang pada suatu keadaan sesuai pemikiran kita saja, karena kita tidak mengalami sendiri. Mungkin kita baru dapat memahami jika kita berada di posisi mereka?
Kemarin saya menonton film serial dan mendapatkan suatu pepatah Cina mengatakan, "Orang tua merawat kita selama lebih dari 10 tahun, tetapi kita belum tentu punya kesempatan merawat mereka selama 10 tahun." Apa yang terbaik yang sanggup kita lakukan untuk orang tua kita, lakukanlah. Walaupun terkadang kita tidak memahami, tidak bisa menerima sikap dan kelakuan mereka, suatu saat ketika kita menjadi tua nanti, kita pasti akan mengerti :)
Saat saya sudah bersiap menuju ke mobil, si tante pemilik memulai pembicaraan ringan dengan saya, "Kamu tinggal di mana?" Pertanyaan 'basa-basi' itu berujung pada obrolan yang berlangsung sekitar 20 menit lamanya. Si tante tidak henti-hentinya mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada saya, dan saya juga merasa sungkan untuk menyudahi pembicaraan kami. Beliau juga menceritakan berbagai hal tentang dirinya dan keluarganya dengan ceria dan penuh semangat. Di bawah teriknya matahari saya berdiri dengan kostum bak ingin ke pesta sambil memeluk pakaian hasil laundry seberat 5kg.
Ada hal yang begitu menarik simpati saya. Si tante yang sudah berumur 65 tahun tapi kelihatan masih sangat sehat dan muda itu mengatakan pada saya, "Minggu depan kamu datang lagi ya, ga laundry juga ga apa-apa, datang aja." Kalimat itu diulang-ulang hingga beberapa kali sampai akhir obrolan kami. Saya tidak menanyakan maksud perkataannya itu, tapi saya berasumsi dalam hati, maksudnya adalah, minggu depan datang lagi temani saya ngobrol ya. Entah kenapa saya dapat merasakan kesepian yang dirasakan beliau.
Dalam perjalanan pulang saya terus teringat akan si tante dan pembicaraan kami. Banyak hal yang terlintas di pikiran saya. Proses dari muda menjadi tua itu adalah suatu hal yang sudah pasti terjadi. Saat kita masih anak-anak, kita 'bergantung' pada orang tua yang membesarkan kita. Di saat muda, perbedaan pola pikir yang berujung pada perbedaan pendapat tidak jarang menimbulkan perselisihan dan membuat jarak di antara kita dan orang tua. Ketika kita masuk ke tahap hidup yang selanjutnya (menikah), mungkin kita akan 'minta tolong' menitipkan anak kita pada orang tua. Pada masa ini, ada dua kemungkinan, orang tua terhibur dan senang mengurus cucu; atau sebaliknya, mereka merasa sudah terlalu tua dan lemah untuk menjaga cucu.
Lepas dari hal menjaga atau mengurusi cucu, orang tua yang sudah lanjut usia secara fisik maupun psikologis sudah tentu berbeda dengan orang muda. Terkadang mereka perlu dibantu dalam mengerjakan sesuatu, bahkan untuk hal kecil seperti mengangkat barang (yang sedikit berat) sekalipun. Dan mereka juga menjadi sangat sensitif secara emosional.
Pada masa pensiun, mereka mungkin hanya mengharapkan perhatian dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat. Tapi kita (sebagai anak) belum tentu bisa memenuhi keinginan mereka. Kita juga punya 'kehidupan sendiri', bersosialisasi, mengejar karier, mengurusi rumah tangga, dll, dsb. Dan seiring waktu berjalan, kita pun menjadi tua, menempati posisi mereka (orang tua kita) dan akhirnya bisa merasakan perasaan mereka yang mungkin tidak dapat kita pahami saat kita masih muda seperti sekarang. Istilah "Don't judge a book by it's cover" bagi saya memiliki arti tersendiri. Kita tidak bisa menilai orang pada suatu keadaan sesuai pemikiran kita saja, karena kita tidak mengalami sendiri. Mungkin kita baru dapat memahami jika kita berada di posisi mereka?
Kemarin saya menonton film serial dan mendapatkan suatu pepatah Cina mengatakan, "Orang tua merawat kita selama lebih dari 10 tahun, tetapi kita belum tentu punya kesempatan merawat mereka selama 10 tahun." Apa yang terbaik yang sanggup kita lakukan untuk orang tua kita, lakukanlah. Walaupun terkadang kita tidak memahami, tidak bisa menerima sikap dan kelakuan mereka, suatu saat ketika kita menjadi tua nanti, kita pasti akan mengerti :)
March 7, 2011
Lupa, Tidak Ingat, atau..
Saya adalah seorang yang sangat pelupa. Dari hal-hal sepele seperti lupa menaruh barang di mana, hingga hal-hal penting seperti melupakan janji temu dengan seseorang. Tetapi anehnya, terkadang saya malah suka mengingat hal-hal yang "nggak penting". Pernah dalam satu hari, saya berkendara di jalan dan menemukan beberapa mobil di beberapa daerah dengan satu kesamaan nomor plat, yaitu diakhiri huruf BFK. Saya ingat! Padahal, untuk melakukan aktivitas harian saja saya perlu mencatat dengan jelas kegiatan-kegiatan yang perlu saya lakukan, janji temu yang perlu saya hadiri, dsb.
Beberapa hari yang lalu dalam suatu sesi pengembangan diri yang saya ikuti, ada satu kalimat dari si pembicara yang menarik untuk menjadi bahan refleksi bagi saya, "Kadang-kadang kita suka hilang kesadaran." Selanjutnya dijelaskan bahwa maksud dari kalimat tersebut, adalah, kita kurang aware akan hal-hal yang sedang kita lakukan, di mana kita berada, apa yang kita ucapkan, dan apa yang ada di sekeliling kita. Bisa karena kita sedang melamun memikirkan sesuatu pada saat yang bersamaan, atau sedang tidak fokus karena satu dan lain hal.
Menurut saya hal itu mungkin saja. Selama ini saya beranggapan bahwa memang daya ingat saya yang lemah. Tetapi bisa jadi permasalahan saya bukan terletak pada kemampuan otak saya dalam mengingat, tapi ketidaksadaran saya saat melakukan sesuatu. Mungkin saya sedang memikirkan hal lain saat teman saya berbicara, sehingga perkataan yang disampaikan hanya sambil lalu-masuk kuping kanan keluar kuping kiri dan tidak terekam dalam memori otak saya. Hasilnya, saya sebut: 'lupa' ;)
Dalam buku The 5 Love Languages karangan Gary Chapman yang saya baca, ada suatu pernyataan yang saya kutip, "Quality time is giving someone your undivided attention." Kalau menyambung kalimat ini dengan "kesadaran" dan "lupa", rasanya semua masuk akal. Misalnya, ketika saya sedang menghabiskan waktu bersama dengan teman atau rekan kerja, tapi saya "tidak sadar", melamun memikirkan hal lain sambil mendengarkan pembicaraan teman saya, mungkin saja saya bisa menanggapi, tapi apakah saya akan "menyimpan" pembicaraan kami atau tidak, hmm... itu yang tidak pasti ;)
Di saat pertemuan berikutnya, bisa jadi saya sudah "lupa" pembicaraan kami yang terakhir, dan teman saya akan mengomentari ketidakperhatian saya terhadapnya, yang mungkin sudah sering terjadi sebelumnya.
Hal yang lebih umum lagi, di jaman yang semakin modern ini, ketika teknologi dibuat untuk mempermudah aktivitas manusia, (di antaranya, smart phone) malah membuat kita lebih sering tidak "sadar" akan sekeliling. Saya pernah mengalami, menghabiskan waktu dengan teman saya yang (memang sih) mendengarkan saya bicara, sembari sibuk mengutak-atik smart phonenya. Walau dia merespon, tapi saya merasa dia tidak sepenuhnya "sadar" akan apa yang saya bicarakan, karena dia terlalu sibuk dengan ke"autis"annya bermain HP. Pada pertemuan berikutnya, saat saya membahas topik yang pernah saya bahas waktu itu, teman saya hanya keheranan seakan tidak pernah tahu akan hal tersebut, dan akhirnya hanya menjawab dengan kata yang paling praktis, "Gue lupa." Dalam hati saya berkata, u did hear what i was saying back then, but you were not listening, that's why now you say you forgot!
Ya, "lupa" memang satu kata yang paling praktis diucapkan walau sulit dipertanggungjawabkan. Kalau memang benar lupa, ya, apa boleh buat. Tapi kalau terlalu sering "lupa" karena kita kurang "sadar", bagaimana ya..?
Beberapa hari yang lalu dalam suatu sesi pengembangan diri yang saya ikuti, ada satu kalimat dari si pembicara yang menarik untuk menjadi bahan refleksi bagi saya, "Kadang-kadang kita suka hilang kesadaran." Selanjutnya dijelaskan bahwa maksud dari kalimat tersebut, adalah, kita kurang aware akan hal-hal yang sedang kita lakukan, di mana kita berada, apa yang kita ucapkan, dan apa yang ada di sekeliling kita. Bisa karena kita sedang melamun memikirkan sesuatu pada saat yang bersamaan, atau sedang tidak fokus karena satu dan lain hal.
Menurut saya hal itu mungkin saja. Selama ini saya beranggapan bahwa memang daya ingat saya yang lemah. Tetapi bisa jadi permasalahan saya bukan terletak pada kemampuan otak saya dalam mengingat, tapi ketidaksadaran saya saat melakukan sesuatu. Mungkin saya sedang memikirkan hal lain saat teman saya berbicara, sehingga perkataan yang disampaikan hanya sambil lalu-masuk kuping kanan keluar kuping kiri dan tidak terekam dalam memori otak saya. Hasilnya, saya sebut: 'lupa' ;)
Dalam buku The 5 Love Languages karangan Gary Chapman yang saya baca, ada suatu pernyataan yang saya kutip, "Quality time is giving someone your undivided attention." Kalau menyambung kalimat ini dengan "kesadaran" dan "lupa", rasanya semua masuk akal. Misalnya, ketika saya sedang menghabiskan waktu bersama dengan teman atau rekan kerja, tapi saya "tidak sadar", melamun memikirkan hal lain sambil mendengarkan pembicaraan teman saya, mungkin saja saya bisa menanggapi, tapi apakah saya akan "menyimpan" pembicaraan kami atau tidak, hmm... itu yang tidak pasti ;)
Di saat pertemuan berikutnya, bisa jadi saya sudah "lupa" pembicaraan kami yang terakhir, dan teman saya akan mengomentari ketidakperhatian saya terhadapnya, yang mungkin sudah sering terjadi sebelumnya.
Hal yang lebih umum lagi, di jaman yang semakin modern ini, ketika teknologi dibuat untuk mempermudah aktivitas manusia, (di antaranya, smart phone) malah membuat kita lebih sering tidak "sadar" akan sekeliling. Saya pernah mengalami, menghabiskan waktu dengan teman saya yang (memang sih) mendengarkan saya bicara, sembari sibuk mengutak-atik smart phonenya. Walau dia merespon, tapi saya merasa dia tidak sepenuhnya "sadar" akan apa yang saya bicarakan, karena dia terlalu sibuk dengan ke"autis"annya bermain HP. Pada pertemuan berikutnya, saat saya membahas topik yang pernah saya bahas waktu itu, teman saya hanya keheranan seakan tidak pernah tahu akan hal tersebut, dan akhirnya hanya menjawab dengan kata yang paling praktis, "Gue lupa." Dalam hati saya berkata, u did hear what i was saying back then, but you were not listening, that's why now you say you forgot!
Ya, "lupa" memang satu kata yang paling praktis diucapkan walau sulit dipertanggungjawabkan. Kalau memang benar lupa, ya, apa boleh buat. Tapi kalau terlalu sering "lupa" karena kita kurang "sadar", bagaimana ya..?
February 18, 2011
Duh..
Kemarin saya mengendarai sepeda motor ke suatu mal di daerah Jakarta Barat. Ketika saya hendak keluar parkiran, saya baru sadar bahwa saya lupa membawa STNK kendaraan saya. Tapi karena hal seperti ini pernah terjadi beberapa kali sebelumnya, maka saya menganggap enteng persoalan. Tapi nyatanya, tidak! Saat sampai di bagian pemeriksaan kendaraan dan saya tidak bisa menunjukkan STNK kendaraan, saya tidak diperbolehkan keluar dari parkiran.
Yakin bisa keluar dengan meminta pengertian dari para petugas parkir, saya pun mencoba menjelaskan panjang lebar dan meminta agar saya diperbolehkan keluar dari parkiran dengan mencocokkan gambar hasil kamera saat pengambilan karcis masuk. Tapi berusaha bagaimanapun, mereka tetap tidak memperbolehkan saya keluar dari parkiran.
Si petugas parkir memberikan solusi: saya pulang ke rumah naik angkutan umum untuk mengambil STNKnya atau minta tolong orang rumah untuk mengantar ke mal. Karena tidak mau repot dan saya sedang terburu-buru karena ada kegiatan dalam 45 menit ke depan, saya menolak dengan berbagai alasan dan bersikeras ingin diperbolehkan keluar hanya dengan mencocokkan gambar hasil kamera otomatis.
Kemudian si petugas parkir memanggil atasannya-pengawas penanggung jawab pada hari itu untuk menemui saya. Dan solusi terakhir yang diberikan oleh si pengawas, yaitu, menyuruh orang rumah saya melihat nomor rangka mesin motor di STNK dan mengSMSkannya ke saya. Solusi itu pun masih saya tolak dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Pada akhirnya argumentasi saya tidak menghasilkan apa-apa. Yang ada saya malah menghabiskan total waktu dua jam di parkiran dengan perasaan kesal, malu, sedih, kecewa, dan marah. Bosan dan capek 'bengong' berpikir sedemikian lama, saya memutuskan mengambil opsi terakhir yang disarankan si pengawas. Setelah dioper kesana-kemari dan melalui beberapa proses yang cukup lama, saya diperbolehkan keluar parkiran.
Alhasil, saya terlambat (hampir dua jam) mengikuti kegiatan yang sudah saya rencanakan sebelumnya.
Malam harinya menjelang waktu tidur, ketika emosi saya sudah mereda, saya mulai merenungkan kejadian tersebut. Sebenarnya saya tidak perlu menghabiskan waktu sekian lama kalau saja dari awal saya tidak menganggap enteng dan langsung (mau) melakukan solusi yang diberikan. Tentunya emosi saya juga tidak akan sampai memuncak.
Cukup sering hal-hal kecil semacam itu terjadi. Karena saya suka menganggap enteng, ingin praktis dan 'maksa' menyelesaikan suatu hal dengan cara saya sendiri, malah membuahkan perasaan emosi yang berlebihan. Padahal, jika saya bisa mendinginkan kepala, berpikir jernih dan tidak memaksakan kehendak, segala sesuatunya pasti akan terselesaikan dengan cara yang lebih baik..
Yakin bisa keluar dengan meminta pengertian dari para petugas parkir, saya pun mencoba menjelaskan panjang lebar dan meminta agar saya diperbolehkan keluar dari parkiran dengan mencocokkan gambar hasil kamera saat pengambilan karcis masuk. Tapi berusaha bagaimanapun, mereka tetap tidak memperbolehkan saya keluar dari parkiran.
Si petugas parkir memberikan solusi: saya pulang ke rumah naik angkutan umum untuk mengambil STNKnya atau minta tolong orang rumah untuk mengantar ke mal. Karena tidak mau repot dan saya sedang terburu-buru karena ada kegiatan dalam 45 menit ke depan, saya menolak dengan berbagai alasan dan bersikeras ingin diperbolehkan keluar hanya dengan mencocokkan gambar hasil kamera otomatis.
Kemudian si petugas parkir memanggil atasannya-pengawas penanggung jawab pada hari itu untuk menemui saya. Dan solusi terakhir yang diberikan oleh si pengawas, yaitu, menyuruh orang rumah saya melihat nomor rangka mesin motor di STNK dan mengSMSkannya ke saya. Solusi itu pun masih saya tolak dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.
Pada akhirnya argumentasi saya tidak menghasilkan apa-apa. Yang ada saya malah menghabiskan total waktu dua jam di parkiran dengan perasaan kesal, malu, sedih, kecewa, dan marah. Bosan dan capek 'bengong' berpikir sedemikian lama, saya memutuskan mengambil opsi terakhir yang disarankan si pengawas. Setelah dioper kesana-kemari dan melalui beberapa proses yang cukup lama, saya diperbolehkan keluar parkiran.
Alhasil, saya terlambat (hampir dua jam) mengikuti kegiatan yang sudah saya rencanakan sebelumnya.
Malam harinya menjelang waktu tidur, ketika emosi saya sudah mereda, saya mulai merenungkan kejadian tersebut. Sebenarnya saya tidak perlu menghabiskan waktu sekian lama kalau saja dari awal saya tidak menganggap enteng dan langsung (mau) melakukan solusi yang diberikan. Tentunya emosi saya juga tidak akan sampai memuncak.
Cukup sering hal-hal kecil semacam itu terjadi. Karena saya suka menganggap enteng, ingin praktis dan 'maksa' menyelesaikan suatu hal dengan cara saya sendiri, malah membuahkan perasaan emosi yang berlebihan. Padahal, jika saya bisa mendinginkan kepala, berpikir jernih dan tidak memaksakan kehendak, segala sesuatunya pasti akan terselesaikan dengan cara yang lebih baik..
February 2, 2011
Payahsangka (jangan berpikir hanya dari satu sisi saja)
Saya berlangganan koran harian yang diantar setiap pagi. Si pengantar koran biasanya menyelipkan koran di gagang pintu depan rumah saya. Tetapi dalam beberapa hari terakhir koran hanya dilempar ke beranda rumah dan menjadi basah ketika hujan turun.
Dua hari yang lalu, saya sengaja bangun lebih pagi dengan niat menunggu si pengantar koran untuk memberitahunya agar koran saya jangan dilempar lagi. Tapi ditunggu sampai siang pun si pengantar koran tak kunjung datang. Dengan perasaan kesal saya langsung berprasangka dalam hati, dasar tuh tukang koran makin hari makin malas kerjanya, keterlaluan.
Pikiran negatif itu tentunya bukan tanpa alasan. Tapi juga tidak bisa saya jadikan 'alasan' untuk dengan mudah dan cepat berprasangka buruk.
Menjelang sore hari (saat saya sudah tidak menunggu lagi), si pengantar koran datang membawa koran saya dengan luka-luka di sekujur tubuh. Dia mengetuk pintu, kemudian memberikan koran tersebut dan menjelaskan bahwa korannya terlambat diantar karena tadi pagi dia mengalami kecelakaan motor di jalan. Saya merasa bersalah karena telah berprasangka yang tidak-tidak. Namun saya tetap memberitahunya untuk tidak lagi melempar koran ke beranda rumah saya, terutama karena cuaca yang tidak menentu belakangan ini. Si pengantar koran pun meminta maaf dengan ramah dan meyakinkan saya bahwa selanjutnya koran tidak akan dia lempar lagi.
Bukan hanya sekali ini saja saya berprasangka buruk akan orang lain karena suatu hal. Lumayan sering saya berpikiran negatif dalam menghadapi hal-hal yang mungkin sebenarnya sepele, tapi me'mancing' hingga menjadi suatu 'masalah'. Menjadi 'masalah' apabila saya mempermasalahkan hal-hal kecil yang terjadi, mengeluhkannya, lalu berprasangka buruk tanpa memandang dari sudut positif.
Seandainya saya tidak "keburu" berpikiran negatif, tentunya saya tidak akan mempermasalahkan perihal koran tersebut. Dan pasti tidak akan menuduh yang bukan-bukan. Saya bisa tetap menunggu si tukang koran dengan tenang, menjelaskan padanya mengenai koran-koran saya yang basah sebelumnya, tidak perlu merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk, dan semuanya pun selesai tanpa ada 'masalah' bukan? ;)
Dua hari yang lalu, saya sengaja bangun lebih pagi dengan niat menunggu si pengantar koran untuk memberitahunya agar koran saya jangan dilempar lagi. Tapi ditunggu sampai siang pun si pengantar koran tak kunjung datang. Dengan perasaan kesal saya langsung berprasangka dalam hati, dasar tuh tukang koran makin hari makin malas kerjanya, keterlaluan.
Pikiran negatif itu tentunya bukan tanpa alasan. Tapi juga tidak bisa saya jadikan 'alasan' untuk dengan mudah dan cepat berprasangka buruk.
Menjelang sore hari (saat saya sudah tidak menunggu lagi), si pengantar koran datang membawa koran saya dengan luka-luka di sekujur tubuh. Dia mengetuk pintu, kemudian memberikan koran tersebut dan menjelaskan bahwa korannya terlambat diantar karena tadi pagi dia mengalami kecelakaan motor di jalan. Saya merasa bersalah karena telah berprasangka yang tidak-tidak. Namun saya tetap memberitahunya untuk tidak lagi melempar koran ke beranda rumah saya, terutama karena cuaca yang tidak menentu belakangan ini. Si pengantar koran pun meminta maaf dengan ramah dan meyakinkan saya bahwa selanjutnya koran tidak akan dia lempar lagi.
Bukan hanya sekali ini saja saya berprasangka buruk akan orang lain karena suatu hal. Lumayan sering saya berpikiran negatif dalam menghadapi hal-hal yang mungkin sebenarnya sepele, tapi me'mancing' hingga menjadi suatu 'masalah'. Menjadi 'masalah' apabila saya mempermasalahkan hal-hal kecil yang terjadi, mengeluhkannya, lalu berprasangka buruk tanpa memandang dari sudut positif.
Seandainya saya tidak "keburu" berpikiran negatif, tentunya saya tidak akan mempermasalahkan perihal koran tersebut. Dan pasti tidak akan menuduh yang bukan-bukan. Saya bisa tetap menunggu si tukang koran dengan tenang, menjelaskan padanya mengenai koran-koran saya yang basah sebelumnya, tidak perlu merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk, dan semuanya pun selesai tanpa ada 'masalah' bukan? ;)
January 20, 2011
If I Could I Would or If I Would I Could
I have this tendency of wanting so many things and wondering of too many 'if's. Like "If I had time, I would do it (something) more often." But the fact, when I finally have more time, I didn't do what I wondered I would do. And it happens quite many times, actually. Not only for things-to-do, but also applies for things-I-want.
I keep telling myself, "If I could, I would....," but I should have told myself, "If I would, I could." I can't keep wondering of too many 'if's when I don't take any actions of changing the 'if's to become a reality. I should have tried at the first place, instead of do nothing but wondering, indeed.
I guess, when I say "If I could I would," I'm just trying to make excuses for not being brave enough to try something that "If I would I could" ;-)
I keep telling myself, "If I could, I would....," but I should have told myself, "If I would, I could." I can't keep wondering of too many 'if's when I don't take any actions of changing the 'if's to become a reality. I should have tried at the first place, instead of do nothing but wondering, indeed.
I guess, when I say "If I could I would," I'm just trying to make excuses for not being brave enough to try something that "If I would I could" ;-)
January 5, 2011
Semua Baik
Selamat Tahun Baru!
Rasanya sedikit terlambat untuk ucapan tahun baru ya? Hehe.. Sebenarnya saya sudah merencanakan untuk menyapa kalian sebelum pergantian tahun kemarin. Tapi apa dikata, manusia hanya bisa berencana. Tepat menjelang detik-detik pergantian tahun saya malah jatuh sakit, 'mengunjungi' IGD rumah sakit tengah malam, kembali ke rumah saat subuh dan berbaring seharian tidak berdaya di atas kasur hingga keesokan harinya sambil mendengar suara meriahnya letusan kembang api tanpa bisa menyaksikan keindahannya.
Hari pertama di tahun 2011 saya diawali dengan menjalani operasi usus buntu kronis. Hari kedua, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan dua selang infus di tangan kiri, berusaha mengembalikan kesadaran sambil menahan sakit. Hari ketiga pun saya masih memandangi dinding putih kamar rumah sakit dan dua botol infus berwarna kuning dan putih bening yang masih menggantung.
Banyak yang mengatakan kepada saya, "Kasihan banget sih sakitnya pas tahun baru." Well, memang ada banyak 'kebetulan' yang terjadi, dari kenapa saya harus jatuh sakit saat pergantian tahun, saat keluarga saya sedang bepergian keluar negeri sehingga saya hanya ditemani pembantu-yang kebetulan dititipkan di rumah saya, hingga kebetulan-kebetulan lainnya yang akan saya ceritakan berikut.
Detik-detik menunggu waktu operasi, dengan sisa-sisa tenaga saya mengupdate status di Facebook, YM, dan BBM yang menerangkan bahwa saya sedang dirawat di rumah sakit dengan tujuan agar semua yang telah mengirimkan ucapan selamat tahun baru kepada saya dari hari sebelumnya dapat mengerti bilamana saya tidak membalas ucapan mereka satu per satu (seperti yang selalu saya lakukan). Tapi ternyata status saya malah 'mengundang' lebih banyak perhatian karena justru semakin banyak pesan-pesan yang saya terima, menanyakan kondisi saya.
Pada hari kedua, dalam kondisi sadar tak sadar efek obat bius, menahan sakit dari bekas operasi dan lemasnya tubuh yang hanya disupply suntikan selang infus, akhirnya saya berusaha membalas pesan-pesan dari teman-teman yang sudah sangat baik menunjukkan perhatian mereka pada saya. Tapi ya, saya hanya bisa membalas dengan jawaban sesingkat-padat-jelas mungkin: usus buntu, thx ya.
Pada hari ketiga saya sudah mendapat estimasi total biaya perawatan sebesar (lebih kurang) 25 juta. Ini yang membawa saya pada beberapa permenungan.
Untung sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah mendaftarkan diri pada salah satu penyedia jasa asuransi kesehatan. Dan 'untung', saya sakitnya sekarang, saat biaya rumah sakit dapat ditanggung pihak asuransi dan status saya sekarang yang unemployed (kalau tidak saya bisa merasa semakin tidak enak dengan mantan bos saya karena terlalu sering absen dengan alasan sakit, dsb).
Untung juga walaupun usus buntu saya sudah kronis, tapi tidak sempat pecah.
Lagipula karena kejadian sakit kali ini, saya jadi dapat bertemu dan berhubungan dengan beberapa teman lama (lama sekali). Saya juga jadi tahu siapa saja yang ternyata peduli dan tidak peduli pada saya.
Untuk ukuran seorang saya-yang biasanya cenderung berpikir negatif, pada kejadian kali ini justru saya banyak mengambil hikmah. Saya sempat membuat satu kalimat di tengah-tengah permenungan saya, "Selalu ada hal baik di balik setiap perkara."
Pada hari keempat saya diperbolehkan pulang oleh dokter yang menangani saya. Saat dia datang untuk mengontrol keadaan saya, tepat saat saya baru keluar dari toilet. Komentar pertamanya, "Kok kamu jalan masih menggok-menggok gitu, lurus dong. Udah ga sakit kan?" "Masih, dok," jawab saya singkat. "Lho, biasa orang lain udah ga sakit." "Ya, sayangnya saya bukan orang lain dok, saya ya saya. Kalau bisa juga maunya udah ga sakit", batin saya.
Anyway, bagaimanapun akhirnya saya tetap pulang ke rumah. Persoalan baru yang harus saya hadapi, saya belum boleh naik-turun tangga sementara rumah saya dua lantai. Sedihnya lagi, saya harus menjalani proses pemulihan di rumah dengan hanya ditemani pembantu titipan (catat, bukan pembantu saya). Padahal kan orang sakit butuh kasih sayang (terutama saya yang memang sifatnya manja), ya ;-p
Tapi saya senang karena ada dua teman saya yang begitu niat menunjukkan perhatian mereka, datang jauh-jauh malam-malam untuk menjenguk saya ke rumah dan menghibur sampai saya harus menahan tawa agar bekas operasinya tidak robek.
Dan hari ini, di hari kelima, bosan istirahat dan mendekam di kamar (membuat saya merasa semakin sakit, useless bahkan brainless), saya memutuskan untuk menghabiskan hari saya di depan laptop, menonton dvd diselingi istirahat setiap 30 menit sebelum akhirnya mengerahkan tenaga untuk menulis blog yang rasanya paling panjang (dan paling "curcol") dibandingkan tulisan saya yang lain ini ;-)
Rasanya sedikit terlambat untuk ucapan tahun baru ya? Hehe.. Sebenarnya saya sudah merencanakan untuk menyapa kalian sebelum pergantian tahun kemarin. Tapi apa dikata, manusia hanya bisa berencana. Tepat menjelang detik-detik pergantian tahun saya malah jatuh sakit, 'mengunjungi' IGD rumah sakit tengah malam, kembali ke rumah saat subuh dan berbaring seharian tidak berdaya di atas kasur hingga keesokan harinya sambil mendengar suara meriahnya letusan kembang api tanpa bisa menyaksikan keindahannya.
Hari pertama di tahun 2011 saya diawali dengan menjalani operasi usus buntu kronis. Hari kedua, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan dua selang infus di tangan kiri, berusaha mengembalikan kesadaran sambil menahan sakit. Hari ketiga pun saya masih memandangi dinding putih kamar rumah sakit dan dua botol infus berwarna kuning dan putih bening yang masih menggantung.
Banyak yang mengatakan kepada saya, "Kasihan banget sih sakitnya pas tahun baru." Well, memang ada banyak 'kebetulan' yang terjadi, dari kenapa saya harus jatuh sakit saat pergantian tahun, saat keluarga saya sedang bepergian keluar negeri sehingga saya hanya ditemani pembantu-yang kebetulan dititipkan di rumah saya, hingga kebetulan-kebetulan lainnya yang akan saya ceritakan berikut.
Detik-detik menunggu waktu operasi, dengan sisa-sisa tenaga saya mengupdate status di Facebook, YM, dan BBM yang menerangkan bahwa saya sedang dirawat di rumah sakit dengan tujuan agar semua yang telah mengirimkan ucapan selamat tahun baru kepada saya dari hari sebelumnya dapat mengerti bilamana saya tidak membalas ucapan mereka satu per satu (seperti yang selalu saya lakukan). Tapi ternyata status saya malah 'mengundang' lebih banyak perhatian karena justru semakin banyak pesan-pesan yang saya terima, menanyakan kondisi saya.
Pada hari kedua, dalam kondisi sadar tak sadar efek obat bius, menahan sakit dari bekas operasi dan lemasnya tubuh yang hanya disupply suntikan selang infus, akhirnya saya berusaha membalas pesan-pesan dari teman-teman yang sudah sangat baik menunjukkan perhatian mereka pada saya. Tapi ya, saya hanya bisa membalas dengan jawaban sesingkat-padat-jelas mungkin: usus buntu, thx ya.
Pada hari ketiga saya sudah mendapat estimasi total biaya perawatan sebesar (lebih kurang) 25 juta. Ini yang membawa saya pada beberapa permenungan.
Untung sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah mendaftarkan diri pada salah satu penyedia jasa asuransi kesehatan. Dan 'untung', saya sakitnya sekarang, saat biaya rumah sakit dapat ditanggung pihak asuransi dan status saya sekarang yang unemployed (kalau tidak saya bisa merasa semakin tidak enak dengan mantan bos saya karena terlalu sering absen dengan alasan sakit, dsb).
Untung juga walaupun usus buntu saya sudah kronis, tapi tidak sempat pecah.
Lagipula karena kejadian sakit kali ini, saya jadi dapat bertemu dan berhubungan dengan beberapa teman lama (lama sekali). Saya juga jadi tahu siapa saja yang ternyata peduli dan tidak peduli pada saya.
Untuk ukuran seorang saya-yang biasanya cenderung berpikir negatif, pada kejadian kali ini justru saya banyak mengambil hikmah. Saya sempat membuat satu kalimat di tengah-tengah permenungan saya, "Selalu ada hal baik di balik setiap perkara."
Pada hari keempat saya diperbolehkan pulang oleh dokter yang menangani saya. Saat dia datang untuk mengontrol keadaan saya, tepat saat saya baru keluar dari toilet. Komentar pertamanya, "Kok kamu jalan masih menggok-menggok gitu, lurus dong. Udah ga sakit kan?" "Masih, dok," jawab saya singkat. "Lho, biasa orang lain udah ga sakit." "Ya, sayangnya saya bukan orang lain dok, saya ya saya. Kalau bisa juga maunya udah ga sakit", batin saya.
Anyway, bagaimanapun akhirnya saya tetap pulang ke rumah. Persoalan baru yang harus saya hadapi, saya belum boleh naik-turun tangga sementara rumah saya dua lantai. Sedihnya lagi, saya harus menjalani proses pemulihan di rumah dengan hanya ditemani pembantu titipan (catat, bukan pembantu saya). Padahal kan orang sakit butuh kasih sayang (terutama saya yang memang sifatnya manja), ya ;-p
Tapi saya senang karena ada dua teman saya yang begitu niat menunjukkan perhatian mereka, datang jauh-jauh malam-malam untuk menjenguk saya ke rumah dan menghibur sampai saya harus menahan tawa agar bekas operasinya tidak robek.
Dan hari ini, di hari kelima, bosan istirahat dan mendekam di kamar (membuat saya merasa semakin sakit, useless bahkan brainless), saya memutuskan untuk menghabiskan hari saya di depan laptop, menonton dvd diselingi istirahat setiap 30 menit sebelum akhirnya mengerahkan tenaga untuk menulis blog yang rasanya paling panjang (dan paling "curcol") dibandingkan tulisan saya yang lain ini ;-)
December 25, 2010
Salam Damai!
Selamat Hari Natal bagi yang merayakan =)
Cepat sekali waktu berlalu, tidak terasa sekarang kita sudah berada di penghujung tahun. Rasanya banyak sekali hal-hal yang belum (tapi ingin) saya lakukan. Alasannya sederhana, tidak cukup waktu (masa iya?), rasa malas dan sikap suka menunda-nunda. Dari hal-hal kecil lalu menumpuk menjadi hal-hal besar. Karena ketika semuanya tertunda, pada satu saat bersamaan akhirnya saya harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Ada juga yang akhirnya malah tidak terlaksana.
Natal tahun ini terasa agak berbeda bagi saya. Sedikit sendu, karena saya harus melewati malam Natal sendirian. Padahal, damai dan sukacita Natal yang sesungguhnya berasal dari Dia-alasan kita merayakan Natal. Tapi mungkin karena jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah sibuk memikirkan dengan siapa saya akan melewati momen Natal dan menanamkan prinsip bahwa sangat menyedihkan kalau harus merayakan Natal sendirian, jadi ketika Natal tiba saya benar-benar merasa sendu yang tidak perlu.
Satu perayaan sudah lewat, tinggal menghitung hari menunggu pergantian tahun. Minggu depan adalah tahun depan. Semoga masing-masing dari kita dapat merefleksikan hari-hari yang telah terlewati di tahun ini, sebagai bekal untuk menyambut tahun yang baru, dengan penuh damai dan sukacita yang baru tentunya :)
Cepat sekali waktu berlalu, tidak terasa sekarang kita sudah berada di penghujung tahun. Rasanya banyak sekali hal-hal yang belum (tapi ingin) saya lakukan. Alasannya sederhana, tidak cukup waktu (masa iya?), rasa malas dan sikap suka menunda-nunda. Dari hal-hal kecil lalu menumpuk menjadi hal-hal besar. Karena ketika semuanya tertunda, pada satu saat bersamaan akhirnya saya harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Ada juga yang akhirnya malah tidak terlaksana.
Natal tahun ini terasa agak berbeda bagi saya. Sedikit sendu, karena saya harus melewati malam Natal sendirian. Padahal, damai dan sukacita Natal yang sesungguhnya berasal dari Dia-alasan kita merayakan Natal. Tapi mungkin karena jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah sibuk memikirkan dengan siapa saya akan melewati momen Natal dan menanamkan prinsip bahwa sangat menyedihkan kalau harus merayakan Natal sendirian, jadi ketika Natal tiba saya benar-benar merasa sendu yang tidak perlu.
Satu perayaan sudah lewat, tinggal menghitung hari menunggu pergantian tahun. Minggu depan adalah tahun depan. Semoga masing-masing dari kita dapat merefleksikan hari-hari yang telah terlewati di tahun ini, sebagai bekal untuk menyambut tahun yang baru, dengan penuh damai dan sukacita yang baru tentunya :)
Merry Christmas!
May the joy of Christmas be with us all..
I was having quite a blue Christmas myself though. It's because I had to celebrate this year's Christmas alone, so I wasn't really excited. But, somehow, when I attended the mass, I finally felt the joy of Christmas! Yup, come to think of it, the true meaning of Christmas is the born of Christ, right? So, I shouldn't have felt so blue about being 'alone' ;-)
To all of you that are celebrating Christmas, I wish you and your family a very Merry Christmas!
And for those who aren't, may you feel the love, peace and joy surrounding you :)
*Counting the days for the best year to come now..
I was having quite a blue Christmas myself though. It's because I had to celebrate this year's Christmas alone, so I wasn't really excited. But, somehow, when I attended the mass, I finally felt the joy of Christmas! Yup, come to think of it, the true meaning of Christmas is the born of Christ, right? So, I shouldn't have felt so blue about being 'alone' ;-)
To all of you that are celebrating Christmas, I wish you and your family a very Merry Christmas!
And for those who aren't, may you feel the love, peace and joy surrounding you :)
*Counting the days for the best year to come now..
December 12, 2010
December 11, 2010
Suaraku Untukmu
Pukul 01.27 dini hari aku terbangun. Kubisikkan selamat ulang tahun untuknya. Kuucapkan doa baginya. Lelah mata terpejam tapi tak lelap. Membayangkan hari-hari indah yang kulalui bersamanya, hal-hal buruk yang telah kami lewati...
"Hi, apa kabar?" adalah kalimat pertama yang ia ucapkan. "Selamat tinggal," adalah kalimat terakhir yang dapat kuingat. Kedekatan kami berawal dari pembicaraan ringan di kantor. Berlanjut dengan sering pergi berdua, kami menemukan banyak persamaan di antara kami.
Semuanya begitu indah, hingga saat kutahu hatinya ternyata bukan untukku. "Ayo kita menikah," bukanlah kalimat serius yang ditujukannya padaku. "Pergilah jika itu maumu," mungkin adalah isi hatinya yang paling jujur.
Sebenarnya hingga kini pun aku masih tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi kuputuskan untuk berlalu dan beranjak pergi.
Berharap pada sesuatu yang tak pasti. Menanti menjadi hasrat di hati. Sudah tak mungkin bila ingin kembali. Tapi, penyesalan apalah arti..
Jika ini yang terbaik yang bisa kuberi, oh, kasih, pergilah kau dan jangan kembali. Jangan mainkan hati ini dengan sikapmu yang tak pasti.
Aku harus berhenti. Perasaan ini, biar tersimpan dalam lubuk hati. Kau yang begitu berarti, tak pernah akan ada di sisi, itu harus kupahami.
Karena kusanggup walau ku tak mau berdiri sendiri tanpamu.
Aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku kalau memang harus begitu.
Tak perlu kau buatku mengerti.
Tersenyumlah karena kusanggup..
-Agnes Monica-
"Hi, apa kabar?" adalah kalimat pertama yang ia ucapkan. "Selamat tinggal," adalah kalimat terakhir yang dapat kuingat. Kedekatan kami berawal dari pembicaraan ringan di kantor. Berlanjut dengan sering pergi berdua, kami menemukan banyak persamaan di antara kami.
Semuanya begitu indah, hingga saat kutahu hatinya ternyata bukan untukku. "Ayo kita menikah," bukanlah kalimat serius yang ditujukannya padaku. "Pergilah jika itu maumu," mungkin adalah isi hatinya yang paling jujur.
Sebenarnya hingga kini pun aku masih tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi kuputuskan untuk berlalu dan beranjak pergi.
Berharap pada sesuatu yang tak pasti. Menanti menjadi hasrat di hati. Sudah tak mungkin bila ingin kembali. Tapi, penyesalan apalah arti..
Jika ini yang terbaik yang bisa kuberi, oh, kasih, pergilah kau dan jangan kembali. Jangan mainkan hati ini dengan sikapmu yang tak pasti.
Aku harus berhenti. Perasaan ini, biar tersimpan dalam lubuk hati. Kau yang begitu berarti, tak pernah akan ada di sisi, itu harus kupahami.
Karena kusanggup walau ku tak mau berdiri sendiri tanpamu.
Aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku kalau memang harus begitu.
Tak perlu kau buatku mengerti.
Tersenyumlah karena kusanggup..
-Agnes Monica-
Subscribe to:
Posts (Atom)
























