Labels

April 18, 2011

Mudaku Kini Tuaku Nanti

Dua minggu yang lalu setelah pulang dari perjalanan singkat ke luar kota, saya kehabisan tenaga untuk mencuci tumpukan baju kotor, lalu memutuskan untuk menggunakan jasa laundry kiloan saja. Ketika tiba hari yang dijanjikan, saya pun pergi mengambil pakaian-pakaian yang sudah selesai dilaundry. Siang itu hari minggu yang cerah, dan saya baru saja selesai menghadiri acara mingguan dengan penampilan yang cantik nan anggun (ehem..).

Saat saya sudah bersiap menuju ke mobil, si tante pemilik memulai pembicaraan ringan dengan saya, "Kamu tinggal di mana?" Pertanyaan 'basa-basi' itu berujung pada obrolan yang berlangsung sekitar 20 menit lamanya. Si tante tidak henti-hentinya mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada saya, dan saya juga merasa sungkan untuk menyudahi pembicaraan kami. Beliau juga menceritakan berbagai hal tentang dirinya dan keluarganya dengan ceria dan penuh semangat. Di bawah teriknya matahari saya berdiri dengan kostum bak ingin ke pesta sambil memeluk pakaian hasil laundry seberat 5kg.

Ada hal yang begitu menarik simpati saya. Si tante yang sudah berumur 65 tahun tapi kelihatan masih sangat sehat dan muda itu mengatakan pada saya, "Minggu depan kamu datang lagi ya, ga laundry juga ga apa-apa, datang aja." Kalimat itu diulang-ulang hingga beberapa kali sampai akhir obrolan kami. Saya tidak menanyakan maksud perkataannya itu, tapi saya berasumsi dalam hati, maksudnya adalah, minggu depan datang lagi temani saya ngobrol ya. Entah kenapa saya dapat merasakan kesepian yang dirasakan beliau.

Dalam perjalanan pulang saya terus teringat akan si tante dan pembicaraan kami. Banyak hal yang terlintas di pikiran saya. Proses dari muda menjadi tua itu adalah suatu hal yang sudah pasti terjadi. Saat kita masih anak-anak, kita 'bergantung' pada orang tua yang membesarkan kita. Di saat muda, perbedaan pola pikir yang berujung pada perbedaan pendapat tidak jarang menimbulkan perselisihan dan membuat jarak di antara kita dan orang tua. Ketika kita masuk ke tahap hidup yang selanjutnya (menikah), mungkin kita akan 'minta tolong' menitipkan anak kita pada orang tua. Pada masa ini, ada dua kemungkinan, orang tua terhibur dan senang mengurus cucu; atau sebaliknya, mereka merasa sudah terlalu tua dan lemah untuk menjaga cucu.

 Lepas dari hal menjaga atau mengurusi cucu, orang tua yang sudah lanjut usia secara fisik maupun psikologis sudah tentu berbeda dengan orang muda. Terkadang mereka perlu dibantu dalam mengerjakan sesuatu, bahkan untuk hal kecil seperti mengangkat barang (yang sedikit berat) sekalipun. Dan mereka juga menjadi sangat sensitif secara emosional.

Pada masa pensiun, mereka mungkin hanya mengharapkan perhatian dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat. Tapi kita (sebagai anak) belum tentu bisa memenuhi keinginan mereka. Kita juga punya 'kehidupan sendiri', bersosialisasi, mengejar karier, mengurusi rumah tangga, dll, dsb. Dan seiring waktu berjalan, kita pun menjadi tua, menempati posisi mereka (orang tua kita) dan akhirnya bisa merasakan perasaan mereka yang mungkin tidak dapat kita pahami saat kita masih muda seperti sekarang. Istilah "Don't judge a book by it's cover" bagi saya memiliki arti tersendiri. Kita tidak bisa menilai orang pada suatu keadaan sesuai pemikiran kita saja, karena kita tidak mengalami sendiri. Mungkin kita baru dapat memahami jika kita berada di posisi mereka?

Kemarin saya menonton film serial dan mendapatkan suatu pepatah Cina mengatakan, "Orang tua merawat kita selama lebih dari 10 tahun, tetapi kita belum tentu punya kesempatan merawat mereka selama 10 tahun." Apa yang terbaik yang sanggup kita lakukan untuk orang tua kita, lakukanlah. Walaupun terkadang kita tidak memahami, tidak bisa menerima sikap dan kelakuan mereka, suatu saat ketika kita menjadi tua nanti, kita pasti akan mengerti :)

Captured in Yogyakarta






March 7, 2011

Lupa, Tidak Ingat, atau..

Saya adalah seorang yang sangat pelupa. Dari hal-hal sepele seperti lupa menaruh barang di mana, hingga hal-hal penting seperti melupakan janji temu dengan seseorang. Tetapi anehnya, terkadang saya malah suka mengingat hal-hal yang "nggak penting". Pernah dalam satu hari, saya berkendara di jalan dan menemukan beberapa mobil di beberapa daerah dengan satu kesamaan nomor plat, yaitu diakhiri huruf BFK. Saya ingat! Padahal, untuk melakukan aktivitas harian saja saya perlu mencatat dengan jelas kegiatan-kegiatan yang perlu saya lakukan, janji temu yang perlu saya hadiri, dsb.

Beberapa hari yang lalu dalam suatu sesi pengembangan diri yang saya ikuti, ada satu kalimat dari si pembicara yang menarik untuk menjadi bahan refleksi bagi saya, "Kadang-kadang kita suka hilang kesadaran." Selanjutnya dijelaskan bahwa maksud dari kalimat tersebut, adalah, kita kurang aware akan hal-hal yang sedang kita lakukan, di mana kita berada, apa yang kita ucapkan, dan apa yang ada di sekeliling kita. Bisa karena kita sedang melamun memikirkan sesuatu pada saat yang bersamaan, atau sedang tidak fokus karena satu dan lain hal.

Menurut saya hal itu mungkin saja. Selama ini saya beranggapan bahwa memang daya ingat saya yang lemah. Tetapi bisa jadi permasalahan saya bukan terletak pada kemampuan otak saya dalam mengingat, tapi ketidaksadaran saya saat melakukan sesuatu. Mungkin saya sedang memikirkan hal lain saat teman saya berbicara, sehingga perkataan yang disampaikan hanya sambil lalu-masuk kuping kanan keluar kuping kiri dan tidak terekam dalam memori otak saya. Hasilnya, saya sebut: 'lupa' ;)

Dalam buku The 5 Love Languages karangan Gary Chapman yang saya baca, ada suatu pernyataan yang saya kutip, "Quality time is giving someone your undivided attention." Kalau menyambung kalimat ini dengan "kesadaran" dan "lupa", rasanya semua masuk akal. Misalnya, ketika saya sedang menghabiskan waktu bersama dengan teman atau rekan kerja, tapi saya "tidak sadar", melamun memikirkan hal lain sambil mendengarkan pembicaraan teman saya, mungkin saja saya bisa menanggapi, tapi apakah saya akan "menyimpan" pembicaraan kami atau tidak, hmm... itu yang tidak pasti ;)
Di saat pertemuan berikutnya, bisa jadi saya sudah "lupa" pembicaraan kami yang terakhir, dan teman saya akan mengomentari ketidakperhatian saya terhadapnya, yang mungkin sudah sering terjadi sebelumnya.

Hal yang lebih umum lagi, di jaman yang semakin modern ini, ketika teknologi dibuat untuk mempermudah aktivitas manusia, (di antaranya, smart phone) malah membuat kita lebih sering tidak "sadar" akan sekeliling. Saya pernah mengalami, menghabiskan waktu dengan teman saya yang (memang sih) mendengarkan saya bicara, sembari sibuk mengutak-atik smart phonenya. Walau dia merespon, tapi saya merasa dia tidak sepenuhnya "sadar" akan apa yang saya bicarakan, karena dia terlalu sibuk dengan ke"autis"annya bermain HP. Pada pertemuan berikutnya, saat saya membahas topik yang pernah saya bahas waktu itu, teman saya hanya keheranan seakan tidak pernah tahu akan hal tersebut, dan akhirnya hanya menjawab dengan kata yang paling praktis, "Gue lupa." Dalam hati saya berkata, u did hear what i was saying back then, but you were not listening, that's why now you say you forgot!

Ya, "lupa" memang satu kata yang paling praktis diucapkan walau sulit dipertanggungjawabkan. Kalau memang benar lupa, ya, apa boleh buat. Tapi kalau terlalu sering "lupa" karena kita kurang "sadar", bagaimana ya..?

February 18, 2011

Duh..

Kemarin saya mengendarai sepeda motor ke suatu mal di daerah Jakarta Barat. Ketika saya hendak keluar parkiran, saya baru sadar bahwa saya lupa membawa STNK kendaraan saya. Tapi karena hal seperti ini pernah terjadi beberapa kali sebelumnya, maka saya menganggap enteng persoalan. Tapi nyatanya, tidak! Saat sampai di bagian pemeriksaan kendaraan dan saya tidak bisa menunjukkan STNK kendaraan, saya tidak diperbolehkan keluar dari parkiran.

Yakin bisa keluar dengan meminta pengertian dari para petugas parkir, saya pun mencoba menjelaskan panjang lebar dan meminta agar saya diperbolehkan keluar dari parkiran dengan mencocokkan gambar hasil kamera saat pengambilan karcis masuk. Tapi berusaha bagaimanapun, mereka tetap tidak memperbolehkan saya keluar dari parkiran.

Si petugas parkir memberikan solusi: saya pulang ke rumah naik angkutan umum untuk mengambil STNKnya atau minta tolong orang rumah untuk mengantar ke mal. Karena tidak mau repot dan saya sedang terburu-buru karena ada kegiatan dalam 45 menit ke depan, saya menolak dengan berbagai alasan dan bersikeras ingin diperbolehkan keluar hanya dengan mencocokkan gambar hasil kamera otomatis.

Kemudian si petugas parkir memanggil atasannya-pengawas penanggung jawab pada hari itu untuk menemui saya. Dan solusi terakhir yang diberikan oleh si pengawas, yaitu, menyuruh orang rumah saya melihat nomor rangka mesin motor di STNK dan mengSMSkannya ke saya. Solusi itu pun masih saya tolak dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Pada akhirnya argumentasi saya tidak menghasilkan apa-apa. Yang ada saya malah menghabiskan total waktu dua jam di parkiran dengan perasaan kesal, malu, sedih, kecewa, dan marah. Bosan dan capek 'bengong' berpikir sedemikian lama, saya memutuskan mengambil opsi terakhir yang disarankan si pengawas. Setelah dioper kesana-kemari dan melalui beberapa proses yang cukup lama, saya diperbolehkan keluar parkiran.
Alhasil, saya terlambat (hampir dua jam) mengikuti kegiatan yang sudah saya rencanakan sebelumnya.

Malam harinya menjelang waktu tidur, ketika emosi saya sudah mereda, saya mulai merenungkan kejadian tersebut. Sebenarnya saya tidak perlu menghabiskan waktu sekian lama kalau saja dari awal saya tidak menganggap enteng dan langsung (mau) melakukan solusi yang diberikan. Tentunya emosi saya juga tidak akan sampai memuncak.

Cukup sering hal-hal kecil semacam itu terjadi. Karena saya suka menganggap enteng, ingin praktis dan 'maksa' menyelesaikan suatu hal dengan cara saya sendiri, malah membuahkan perasaan emosi yang berlebihan. Padahal, jika saya bisa mendinginkan kepala, berpikir jernih dan tidak memaksakan kehendak, segala sesuatunya pasti akan terselesaikan dengan cara yang lebih baik..

February 2, 2011

Payahsangka (jangan berpikir hanya dari satu sisi saja)

Saya berlangganan koran harian yang diantar setiap pagi. Si pengantar koran biasanya menyelipkan koran di gagang pintu depan rumah saya. Tetapi dalam beberapa hari terakhir koran hanya dilempar ke beranda rumah dan menjadi basah ketika hujan turun.
Dua hari yang lalu, saya sengaja bangun lebih pagi dengan niat menunggu si pengantar koran untuk memberitahunya agar koran saya jangan dilempar lagi. Tapi ditunggu sampai siang pun si pengantar koran tak kunjung datang. Dengan perasaan kesal saya langsung berprasangka dalam hati, dasar tuh tukang koran makin hari makin malas kerjanya, keterlaluan.

Pikiran negatif itu tentunya bukan tanpa alasan. Tapi juga tidak bisa saya jadikan 'alasan' untuk dengan mudah dan cepat berprasangka buruk.

Menjelang sore hari (saat saya sudah tidak menunggu lagi), si pengantar koran datang membawa koran saya dengan luka-luka di sekujur tubuh. Dia mengetuk pintu, kemudian memberikan koran tersebut dan menjelaskan bahwa korannya terlambat diantar karena tadi pagi dia mengalami kecelakaan motor di jalan. Saya merasa bersalah karena telah berprasangka yang tidak-tidak. Namun saya tetap memberitahunya untuk tidak lagi melempar koran ke beranda rumah saya, terutama karena cuaca yang tidak menentu belakangan ini. Si pengantar koran pun meminta maaf dengan ramah dan meyakinkan saya bahwa selanjutnya koran tidak akan dia lempar lagi.

Bukan hanya sekali ini saja saya berprasangka buruk akan orang lain karena suatu hal. Lumayan sering saya berpikiran negatif dalam menghadapi hal-hal yang mungkin sebenarnya sepele, tapi me'mancing' hingga menjadi suatu 'masalah'. Menjadi 'masalah' apabila saya mempermasalahkan hal-hal kecil yang terjadi, mengeluhkannya, lalu berprasangka buruk tanpa memandang dari sudut positif.

Seandainya saya tidak "keburu" berpikiran negatif, tentunya saya tidak akan mempermasalahkan perihal koran tersebut. Dan pasti tidak akan menuduh yang bukan-bukan. Saya bisa tetap menunggu si tukang koran dengan tenang, menjelaskan padanya mengenai koran-koran saya yang basah sebelumnya, tidak perlu merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk, dan semuanya pun selesai tanpa ada 'masalah' bukan? ;)

January 20, 2011

If I Could I Would or If I Would I Could

I have this tendency of wanting so many things and wondering of too many 'if's. Like "If I had time, I would do it (something) more often." But the fact, when I finally have more time, I didn't do what I wondered I would do. And it happens quite many times, actually. Not only for things-to-do, but also applies for things-I-want.

I keep telling myself, "If I could, I would....," but I should have told myself, "If I would, I could." I can't keep wondering of too many 'if's when I don't take any actions of changing the 'if's to become a reality. I should have tried at the first place, instead of do nothing but wondering, indeed.

I guess, when I say "If I could I would," I'm just trying to make excuses for not being brave enough to try something that "If I would I could" ;-)

January 5, 2011

Semua Baik

Selamat Tahun Baru!
Rasanya sedikit terlambat untuk ucapan tahun baru ya? Hehe.. Sebenarnya saya sudah merencanakan untuk menyapa kalian sebelum pergantian tahun kemarin. Tapi apa dikata, manusia hanya bisa berencana. Tepat menjelang detik-detik pergantian tahun saya malah jatuh sakit, 'mengunjungi' IGD rumah sakit tengah malam, kembali ke rumah saat subuh dan berbaring seharian tidak berdaya di atas kasur hingga keesokan harinya sambil mendengar suara meriahnya letusan kembang api tanpa bisa menyaksikan keindahannya.

Hari pertama di tahun 2011 saya diawali dengan menjalani operasi usus buntu kronis. Hari kedua, terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan dua selang infus di tangan kiri, berusaha mengembalikan kesadaran sambil menahan sakit. Hari ketiga pun saya masih memandangi dinding putih kamar rumah sakit dan dua botol infus berwarna kuning dan putih bening yang masih menggantung.

Banyak yang mengatakan kepada saya, "Kasihan banget sih sakitnya pas tahun baru." Well, memang ada banyak 'kebetulan' yang terjadi, dari kenapa saya harus jatuh sakit saat pergantian tahun, saat keluarga saya sedang bepergian keluar negeri sehingga saya hanya ditemani pembantu-yang kebetulan dititipkan di rumah saya, hingga kebetulan-kebetulan lainnya yang akan saya ceritakan berikut.

Detik-detik menunggu waktu operasi, dengan sisa-sisa tenaga saya mengupdate status di Facebook, YM, dan BBM yang menerangkan bahwa saya sedang dirawat di rumah sakit dengan tujuan agar semua yang telah mengirimkan ucapan selamat tahun baru kepada saya dari hari sebelumnya dapat mengerti bilamana saya tidak membalas ucapan mereka satu per satu (seperti yang selalu saya lakukan). Tapi ternyata status saya malah 'mengundang' lebih banyak perhatian karena justru semakin banyak pesan-pesan yang saya terima, menanyakan kondisi saya.

Pada hari kedua, dalam kondisi sadar tak sadar efek obat bius, menahan sakit dari bekas operasi dan lemasnya tubuh yang hanya disupply suntikan selang infus, akhirnya saya berusaha membalas pesan-pesan dari teman-teman yang sudah sangat baik menunjukkan perhatian mereka pada saya. Tapi ya, saya hanya bisa membalas dengan jawaban sesingkat-padat-jelas mungkin: usus buntu, thx ya.

Pada hari ketiga saya sudah mendapat estimasi total biaya perawatan sebesar (lebih kurang) 25 juta. Ini yang membawa saya pada beberapa permenungan.
Untung sejak beberapa bulan yang lalu saya sudah mendaftarkan diri pada salah satu penyedia jasa asuransi kesehatan. Dan 'untung', saya sakitnya sekarang, saat biaya rumah sakit dapat ditanggung pihak asuransi dan status saya sekarang yang unemployed (kalau tidak saya bisa merasa semakin tidak enak dengan mantan bos saya karena terlalu sering absen dengan alasan sakit, dsb).
Untung juga walaupun usus buntu saya sudah kronis, tapi tidak sempat pecah.
Lagipula karena kejadian sakit kali ini, saya jadi dapat bertemu dan berhubungan dengan beberapa teman lama (lama sekali). Saya juga jadi tahu siapa saja yang ternyata peduli dan tidak peduli pada saya.
Untuk ukuran seorang saya-yang biasanya cenderung berpikir negatif, pada kejadian kali ini justru saya banyak mengambil hikmah. Saya sempat membuat satu kalimat di tengah-tengah permenungan saya, "Selalu ada hal baik di balik setiap perkara."

Pada hari keempat saya diperbolehkan pulang oleh dokter yang menangani saya. Saat dia datang untuk mengontrol keadaan saya, tepat saat saya baru keluar dari toilet. Komentar pertamanya, "Kok kamu jalan masih menggok-menggok gitu, lurus dong. Udah ga sakit kan?" "Masih, dok," jawab saya singkat. "Lho, biasa orang lain udah ga sakit." "Ya, sayangnya saya bukan orang lain dok, saya ya saya. Kalau bisa juga maunya udah ga sakit", batin saya.

Anyway, bagaimanapun akhirnya saya tetap pulang ke rumah. Persoalan baru yang harus saya hadapi, saya belum boleh naik-turun tangga sementara rumah saya dua lantai. Sedihnya lagi, saya harus menjalani proses pemulihan di rumah dengan hanya ditemani pembantu titipan (catat, bukan pembantu saya). Padahal kan orang sakit butuh kasih sayang (terutama saya yang memang sifatnya manja), ya ;-p

Tapi saya senang karena ada dua teman saya yang begitu niat menunjukkan perhatian mereka, datang jauh-jauh malam-malam untuk menjenguk saya ke rumah dan menghibur sampai saya harus menahan tawa agar bekas operasinya tidak robek.

Dan hari ini, di hari kelima, bosan istirahat dan mendekam di kamar (membuat saya merasa semakin sakit, useless bahkan brainless), saya memutuskan untuk menghabiskan hari saya di depan laptop, menonton dvd diselingi istirahat setiap 30 menit sebelum akhirnya mengerahkan tenaga untuk menulis blog yang rasanya paling panjang (dan paling "curcol") dibandingkan tulisan saya yang lain ini ;-)

December 25, 2010

Salam Damai!

Selamat Hari Natal bagi yang merayakan =)

Cepat sekali waktu berlalu, tidak terasa sekarang kita sudah berada di penghujung tahun. Rasanya banyak sekali hal-hal yang belum (tapi ingin) saya lakukan. Alasannya sederhana, tidak cukup waktu (masa iya?), rasa malas dan sikap suka menunda-nunda. Dari hal-hal kecil lalu menumpuk menjadi hal-hal besar. Karena ketika semuanya tertunda, pada satu saat bersamaan akhirnya saya harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Ada juga yang akhirnya malah tidak terlaksana.

Natal tahun ini terasa agak berbeda bagi saya. Sedikit sendu, karena saya harus melewati malam Natal sendirian. Padahal, damai dan sukacita Natal yang sesungguhnya berasal dari Dia-alasan kita merayakan Natal. Tapi mungkin karena jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah sibuk memikirkan dengan siapa saya akan melewati momen Natal dan menanamkan prinsip bahwa sangat menyedihkan kalau harus merayakan Natal sendirian, jadi ketika Natal tiba saya benar-benar merasa sendu yang tidak perlu.

Satu perayaan sudah lewat, tinggal menghitung hari menunggu pergantian tahun. Minggu depan adalah tahun depan. Semoga masing-masing dari kita dapat merefleksikan hari-hari yang telah terlewati di tahun ini, sebagai bekal untuk menyambut tahun yang baru, dengan penuh damai dan sukacita yang baru tentunya :)

Merry Christmas!

May the joy of Christmas be with us all..

I was having quite a blue Christmas myself though. It's because I had to celebrate this year's Christmas alone, so I wasn't really excited. But, somehow, when I attended the mass, I finally felt the joy of Christmas! Yup, come to think of it, the true meaning of Christmas is the born of Christ, right? So, I shouldn't have felt so blue about being 'alone' ;-)

To all of you that are celebrating Christmas, I wish you and your family a very Merry Christmas!
And for those who aren't, may you feel the love, peace and joy surrounding you :)

*Counting the days for the best year to come now..

December 11, 2010

Suaraku Untukmu

Pukul 01.27 dini hari aku terbangun. Kubisikkan selamat ulang tahun untuknya. Kuucapkan doa baginya. Lelah mata terpejam tapi tak lelap. Membayangkan hari-hari indah yang kulalui bersamanya, hal-hal buruk yang telah kami lewati...

"Hi, apa kabar?" adalah kalimat pertama yang ia ucapkan. "Selamat tinggal," adalah kalimat terakhir yang dapat kuingat. Kedekatan kami berawal dari pembicaraan ringan di kantor. Berlanjut dengan sering pergi berdua, kami menemukan banyak persamaan di antara kami.

Semuanya begitu indah, hingga saat kutahu hatinya ternyata bukan untukku. "Ayo kita menikah," bukanlah kalimat serius yang ditujukannya padaku. "Pergilah jika itu maumu," mungkin adalah isi hatinya yang paling jujur.

Sebenarnya hingga kini pun aku masih tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi kuputuskan untuk berlalu dan beranjak pergi.
Berharap pada sesuatu yang tak pasti. Menanti menjadi hasrat di hati. Sudah tak mungkin bila ingin kembali. Tapi, penyesalan apalah arti..

Jika ini yang terbaik yang bisa kuberi, oh, kasih, pergilah kau dan jangan kembali. Jangan mainkan hati ini dengan sikapmu yang tak pasti.

Aku harus berhenti. Perasaan ini, biar tersimpan dalam lubuk hati. Kau yang begitu berarti, tak pernah akan ada di sisi, itu harus kupahami.

Karena kusanggup walau ku tak mau berdiri sendiri tanpamu.
Aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku kalau memang harus begitu.
Tak perlu kau buatku mengerti.
Tersenyumlah karena kusanggup..
-Agnes Monica-

Define Love

"I love you for no reason, but I hate you for many reasons..."
I created this quote yesterday. Inspired by....someone.
I think if we know why we love someone, it'll be easier for us to stop loving that person.

As for me, it's the love that makes me 'hate' someone. Non-sense, right? But I'm telling the truth. From love, I discover many reasons to 'hate' that someone. I used to keep wondering why people would say they hate their ex while they said they love their partner a lot when they were still together. Isn't it weird that at the moment you say you love, but the next day you say you hate him/her?

Well, I guess I now understand. The meaning behind the word "hate", is when you love someone too much to let them go, but too afraid to have them by your side, and not brave enough to tell him/her the truth. "Hate" when the person you love stop trying, show no efforts in working on the relationship-though I think maybe sometimes we were just making too many excuses in that case.

I never really believed in such thing called love, by the way. But now I'm saying it! Haha..
But if true love does exist, what is it that makes it 'true'?

People felt love in their own different ways, and there are many kinds of love, indeed. Parents' love, couples' love, God's love. If I were to define love in my version, I would say, love is a gift, a strong feeling that can't be described by words, yet should be shown by acts. Does it sounds very idealist? ;-)

December

I'm back (after more than a month of absence)!
The first thing I planned to do was to change the design of this blog. But guess what, I didn't. Haha... Well, I did try to change the template, colors, etc, for two hours (seriously?), but I got stuck with my idealism (that I want each thing to represent a meaning instead of only showing nice design), so eventually, only the font size and background color was changed. Oh, and I also re-read my posts and edited all of them, just to make it better seen.

Anyways, I wouldn't say that I was to busy last month to update the blog-well, yes I was quite busy with some tasks and other many things to do, but I would rather say that I was kind of lazy to update it ;-)

I can't believe that it's almost mid-December already. Few months ago I was so excited waiting for this month to come. And yet I'm counting the days for this month to end now, haha..
The reason why I'm so excited about this month is, obviously, the coming up Christmas, and some other special occasions-birthdays of special people, Mother's Day, long holiday and New Year awaiting as well!

Many things happened this year, so many unpredicted changes, too. To be honest, I'm not quite ready for a new year, a new resolution. But since there aren't many days left, I have to prepare myself to welcoming the new year.

I should start with making some new resolutions by looking back on this year's resolutions, what have I accomplished and what I haven't. Then, make a list of what I want to do, change, and accomplish next year.
Have you made yours? :)

The Spirit of Christmas





October 29, 2010

The thing is, just keep trying..

I never liked Miley Cyrus, but I really like this song. The lyric is so meaningful to me. Let me share it here :)


The Climb - Miley Cyrus
Songwriters: Alexander, J; Mabe, J;

I can almost see it, that dream I'm dreaming, but there's a voice inside my head saying "You'll never reach it".
Every step I'm taking, every move I make feels, lost with no direction. My faith is shaking.
But I gotta keep trying, gotta keep my head held high!
(In my point of view: I have a dream, but I often be afraid to pursue it. When I finally give it a try, sometimes I'm filled with doubts. But no matter how hard, I have to move on, do not stop trying.)

There's always gonna be another mountain. I'm always gonna wanna make it move.
Always gonna be an uphill battle, sometimes I'm gonna have to lose.
Ain't about how fast I get there. Ain't about what's waiting on the other side. It's the climb..
(In my point of view: Through every struggles, any failures, I have to face it. No matter what the outcome is, I just have to TRY.)

The struggles I'm facing, the chances I'm taking, sometimes might knock me down, but no, I'm not breaking.
I may not know it, but these are the moments that I'm gonna remember most. Just gotta keep going.
(In my point of view: The art of trying, will be my best memory eventually. At least I've tried my hardest. I will be satisfied somehow.)

And I, I gotta be strong. Just keep pushing on.

'Cause there's always gonna be another mountain. I'm always gonna wanna make it move.
Always gonna be an uphill battle. Sometimes I'm gonna have to lose.
Ain't about how fast I get there, ain't about what's waiting on the other side. It's the climb!

There's always gonna be another mountain. I'm always gonna wanna make it move.
Always gonna be an uphill battle. Somebody's gonna have to lose.
Ain't about how fast I get there, ain't about what's waiting on the other side. It's the climb, yeah!

Keep on moving, keep climbing. Keep the faith, baby.
It's all about, it's all about the climb. Keep the faith, keep your faith.
(In my point of view: Just do it! Keep your faith. Move on. The point is to keep trying. Because everything starts with a 'try'.)

October 28, 2010

Jangan Salahkan Siapa

"Semua kan gara-gara saran lu!", seorang teman membentak saya di tengah obrolan. Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu saya pernah memberinya saran, "Menurut gue sih bokap lu bakal tersinggung kalau lu daftarin dia asuransi, di saat dia baru sembuh dari sakit begini." Dan pada waktu itu akhirnya dia memang memutuskan tidak jadi mendaftarkan ayahnya masuk asuransi kesehatan.
      
Belum lama ini ayahnya mulai sakit-sakitan, dan dia sering cerita pada saya, bahwa dia takut jika ayahnya sampai harus dirawat di rumah sakit, pasti akan memakan biaya. Sedangkan pendapatannya sendiri pun pas-pasan. Lalu saya menimpali, "Bokap lu ga ada asuransi sih, ya?" Saat itulah dia menyalahkan saya. Menurutnya, jika saja waktu itu saya tidak memberi saran seperti itu, pasti dia sudah mendaftarkan ayahnya masuk asuransi, dan tidak perlu khawatir memikirkan biaya perawatan rumah sakit sekarang.
      
Saya hanya terdiam. Dalam hati saya berpikir, kenapa jadi saya yang disalahkan? Saya kan hanya memberi saran. Bukankah keputusan tetap ada padanya? Kalau pada akhirnya dia terpengaruh dengan saran saya, apakah saya yang harus bertanggung jawab akan keputusannya?

Setelah saya renungkan, saya pun baru sadar bahwa sering kali saya juga bersikap demikian. Di saat bingung menghadapi masalah, saya akan mencari orang lain untuk meminta saran dan pendapat. Jika saya mengikuti saran mereka, terkadang hasilnya kurang baik dan pada akhirnya saya (walau tidak disampaikan secara langsung) akan menyalahkan mereka atas hasil buruk dari keputusan yang saya ambil.
      
Pada suatu sesi curhat, seorang rekan pernah mengatakan pada saya, "Orang cuma bisa kasih saran, tapi keputusan kan ada di tangan lu. Jangan sampai lu selalu mengikuti saran orang. Nanti kalau akhirnya lu nyesel, lu malah bakal nyalahin orang lain."
      
Pesan itu begitu mengena bagi saya. Memang benar, di saat kita ragu atau bingung dalam menghadapi persoalan, kita perlu mendengarkan saran dan pendapat dari orang terdekat. Namun pada akhirnya, kita harus mencari jawabannya dalam diri kita sendiri. Dan jangan menyalahkan orang lain untuk keputusan yang kita ambil secara sadar.

October 26, 2010

Lain di Mulut Lain di Hati

Saya mempunyai seorang teman yang bagi saya 'luar biasa'. Dia dapat dengan benar menebak dan menilai pribadi saya, memuji dengan tulus, dan menegur dengan jujur. Awalnya saya tidak nyaman, tapi semakin lama saya semakin terbiasa dengan sifat luar biasanya itu.

Hanya dia teman yang bisa mengenal 'dalam'nya saya, yang bahkan terkadang tidak saya sadari. Seolah-olah dia bisa mengintip ke dalam lubuk hati saya yang tertutup dengan kain hitam. Padahal, umur pertemanan kami boleh dibilang masih seumur jagung.

Dia jarang memuji, apalagi menunjukkan ekspresi sedang memuji. Tapi dalam hal tertentu, saya tahu bahwa dia bermaksud memuji. Bahkan, tak jarang pujian yang dilontarkan tepat pada waktunya untuk menghibur saya. Karena itu, saya akan senang sekali bila mendengar kalimat pujian darinya, walaupun hanya kalimat sederhana yang tidak lebay. Saya justru beranggapan bahwa pujiannya itu selalu tulus.

Namun, sifat kritisnya sering membuat saya sakit hati. Karena dia suka mengomentari saya dalam banyak hal, dan tidak segan-segan menegur saya jika saya sedang bercerita akan suatu hal (padahal saya hanya berharap didengarkan, bukan dikomentari apalagi dikritik).

Overall, saya bersyukur memiliki teman seperti dia. Paling tidak saya tahu bahwa ada seseorang yang cukup peduli untuk mengerti sifat-sifat dan kekurangan saya, cukup peduli untuk menegur (yang tentunya) demi kebaikan saya.

Hanya saja, di luar semua itu, saya sangat menyayangkan ketidakjujuran diri saya sendiri. Saya tidak pernah mengucapkan kata-kata sederhana seperti "terima kasih" saat dipuji, "coba dengarkan saja" saat saya hanya ingin didengar (dan bukan meminta solus), atau "tidak" saat saya tidak setuju, tidak mau dan tidak suka dengan ide yang dia berikan. Semakin banyak yang ingin saya bicarakan dan tanyakan, semakin sedikit kalimat yang keluar dari bibir saya. Semakin ngawur pula pembicaraan saya.

Karena alasan itu jugalah saya mengalami permasalahan dalam berkomunikasi dengannya. Di saat dia bisa dengan jujur, terbuka dan apa adanya bercerita akan segala hal pada saya, sebaliknya saya hanya dapat menyimpan kalimat-kalimat yang ingin diucapkan dalam hati. Dan akibatnya, ketika kalimat-kalimat itu menumpuk tak tersalurkan, pikiran saya pecah. Saya mulai memliki pikiran-pikiran negatif dan berasumsi sendiri mengikuti emosi, tanpa melihat dengan jelas permasalahan yang sebenarnya. Semakin hari saya semakin sensitif dan sulit diajak bicara. Tidak heran jika pada akhirnya komunikasi kamipun terputus.

Sekarang setelah melewati masa-masa itu, saya sadar bahwa semua permasalahan ada pada diri saya yang tidak jujur dan terbuka dalam berkomunikasi. Sehingga teman saya itu mungkin hingga kini tidak pernah tahu apa yang sebenarnya saya permasalahkan. Dan saya, hanya terus menyalahkan dia, berpikir "seharusnya dia.....", "seharusnya kan dia.....", "dia tidak seharusnya....."

Lain kali jika saya mengalami permasalahan seperti ini, baik dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja, saya akan mencoba lebih jujur, terbuka dan apa adanya. Jadi saya tidak perlu merasa was-was, uncomfortable dan terus berasumsi sendiri tanpa menjelaskan kekhawatiran saya yang sesungguhnya.

Saya ingin mengutip kalimat dari film Life As We Know It yang saya tonton belum lama ini, "If my wife and I (red., sudah bercerai) fought like that, we would still be married."

Benar juga, setiap permasalahan harus dibicarakaan, setiap perasaan harus diungkapkan. Jika hasilnya tidak baik, ya sudah. Paling tidak, permasalahan yang sesungguhnya akan lebih 'jelas' dan tidak abu-abu bagi salah satu pihak. Kehilangan satu teman sudah cukup bagi saya.

October 24, 2010

I am Me!


I was really touched by this 10-minute commercial video from Thailand. I got it from a seminar that I attended about three weeks ago. The best part that I like is when the deaf girl asked the old man, "Why am I different from others?" and the old man answered, "WHY DO YOU HAVE TO BE LIKE OTHERS?"

I realized that all this time (whether or not it happens with intentions), I have always been trying to be like others. I want to be happy like her, I want to be smart like him, I want to be what I'm told to be?! And some other 'want-to-be' in my life.

But, why do I have to be like others? Would I be happy and satisfied if I can be like others? What's the purpose of trying to be like others, anyway? That's a very good point for me as a reflection.
I can't keep thinking I need to be like others or what others told me to be, and wondering 'if I were him/her'. I am me, and let me just be me!

I have to accept myself, my life and all things about me that is 'me' and just be grateful with what I already have, instead of complaining with what I don't. I should just live my life in the way I wanted to, instead of following what others told me to, that I lost my real 'journey' in life (note, i can only have one life).

I hope that by the time I have to leave this world, the last thing I have in mind would be: I'm grateful for what I've been through my whole life, with just being me, and pursuing my own dreams and happiness, and that I'm satisfied with it, at last.


October 22, 2010

Fix = Change ?

Engsel pintu kamar saya kendur dan menyebabkan posisi pintu agak turun, sehingga ketika pintu dibuka atau ditutup akan bergesekan dengan lantai. Beberapa waktu yang lalu bagian bawah pintu tersebut sudah dikikis dengan gergaji dan hasilnya pintu itu sudah tidak bergesekan dengan lantai lagi ketika dibuka atau ditutup.

Namun belum lama ini, pintu itu kembali (perlahan-lahan dan semakin parah) bergesekan dengan lantai. Mungkin memang karena engselnya kendur, sehingga walaupun sudah dikikis, lama-kelamaan posisi pintunya kembali turun.

Hal ini mengingatkan saya pada argumentasi yang saya miliki dengan salah seorang teman dulu. Ketika membahas tentang kepribadian buruk yang dimiliki seseorang, saya berpendapat bahwa orang itu harus memperbaikinya. Sedangkan teman saya berpendapat lain, dimana jika seseorang memperbaiki salah satu atau sebagian kepribadian buruk yang dimiliki, sama dengan orang itu berubah (alias tidak menjadi dirinya apa adanya lagi).

Bagaimanapun dengan sifat saya yang keras kepala dan tidak mau kalah ini, saya tetap kekeuh dengan pendapat saya. Dan teman saya itu pun tetap pada pendiriannya, bahwa fix = change.
Yah, saya juga tidak mau memaksakan kehendak saya agar teman saya itu berpendapat sama. Hanya saja jika pintu kamar saya dijadikan contoh, apakah dengan memperbaiki (mengkikis) bagian bawah pintu, maka pintu tersebut telah berubah? Saya rasa tidak. Pintu itu tetap pintu yang sama, tetapi sudah diperbaiki menjadi lebih baik (walaupun pada akhirnya kembali ke semula).

Tapi itu hanya sebuah contoh dari sebuah benda, pintu, yang bisa kita atur bagaimana baiknya. Lain halnya dengan manusia. Kepribadian atau sifat tiap-tiap orang tergantung pada masing-masing pribadi. Apakah mereka mempunya niat untuk memperbaiki yang buruk (atau 'berubah').

Yang jelas bagi saya, pintu yang sudah di'perbaiki' itu toh tetap pintu yang sama, tidak 'berubah' pada akhirnya. Menurut anda?

October 21, 2010

'Apapun, walaupun'

Hampir setiap malam saya selalu melewati lampu merah di jalan yang sama. Pernah suatu hari saat saya 'terkena' lampu merah dan berada di posisi paling depan, saya melihat sekelompok anak-anak kecil sedang duduk di trotoar tanpa alas kaki. Mereka semua berbadan kurus dan (maaf) berwajah dekil.

Entah mengapa saya sangat tersentuh melihat pemandangan itu. Spontan saya berpikir dalam hati, seandainya saya bisa membantu meningkatkan taraf hidup mereka, bukankah semua manusia seharusnya mempunyai hak yang sama dalam hidup?

Di tengah lamunan saya mendengar bunyi klakson dari beberapa kendaraan di belakang saya. Ternyata lampu hijau sudah menyala. Sepanjang sisa perjalanan pulang saya tidak berhenti membayangkan pemandangan yang saya lihat itu, dan terus memikirkan bagaimana cara saya (yang juga memiliki keterbatasan materi) membantu mereka?

Tapi pikiran negatif pun muncul dalam benak saya, "belum tentu mereka benar-benar anak-anak tidak mampu, bisa saja mereka hanya bersandiwara agar mendapat simpati dan bantuan dari begitu banyaknya orang-orang yang berlalu-lalang melewati lampu merah tersebut."

Tiba di rumah, pikiran saya sudah penuh dengan 'anak-anak lampu merah'. Pada akhirnya saya menyimpulkan, apapun kebenarannya, itu bukan urusan saya. Jika saya memang memiliki niat untuk peduli pada mereka, saya tidak perlu peduli pada pikiran-pikiran negatif saya.

Saya dapat menunjukkan perhatian saya dengan tindakan konkret daripada sekedar perasaan simpati dan rasa kasihan. Toh, banyak hal yang dapat saya lakukan dengan segala keterbatasan saya dan di luar kekhawatiran-kekhawatiran yang ada.

Mulailah keesokan harinya saya 'menyapa' mereka dengan beberapa makanan ringan yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Hanya snack-snack cemilan memang, bukan berupa materi. Tapi mereka tetap menyambut saya dengan baik. Satu dari mereka bahkan mengucapkan, "Terima kasih ya, kak." sambil memandang langsung ke mata saya. Wah, tidak terbayangkan perasaan saya waktu itu. Hanya dengan melakukan hal kecil, saya dapat merasakaan kebahagiaan yang luar biasa.
Hari-hari berikutnya saya sering mampir melakukan hal yang sama. Salah satu dari mereka bahkan ada yang menjuluki saya dengan sebutan 'kakak langganan saya'. Haha...

“We cannot all do great things, but we can do small things with great love.” -Mother Teresa of Calcutta-