Labels

March 7, 2012

Pilihannya Ada Padaku

Malam dua hari yang lalu dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mendapatkan inspirasi untuk refleksi diri. Saya beruntung karena begitu naik ke bus yang saya tumpangi, ada anak muda bertampang seram yang memberikan tempat duduknya untuk saya. Tapi baru saja saya duduk, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan beberapa menit kemudian saya menyadari atap bus tepat di atas saya bocor dan air menetes tepat ke kursi yang saya duduki. Sempat berpikir untuk berdiri saja, dua orang yang duduk di kursi depan saya turun sehingga saya bisa pindah ke kursi mereka di bagian depan dekat pintu. Alhasil, saya duduk sambil terkena cipratan genangan air dari jalan.

Setelah setengah perjalanan dan hujan sudah mulai mereda, ada seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil naik ke bus yang saya tumpangi. Tidak tega melihatnya, saya pun langsung berdiri dan memberikan tempat duduk saya kepada ibu itu. Belum sampai lima menit, orang yang duduk di depan tempat saya berdiri turun, dan pria yang berdiri di sebelah saya (bukannya berebut tempat duduk) mempersilakan saya untuk duduk.

Dari kejadian singkat selama perjalanan pulang ini, saya merenungkan satu hal. Baik atau buruknya suatu kejadian sebenarnya tergantung diri saya sendiri. Saya bisa saja merasa sial duduk di kursi yang persis atapnya bocor, atau merasa kesal karena terkena cipratan genangan air di jalan walaupun sudah pindah tempat duduk. Bisa juga saya mengeluh kenapa hujannya turun saat saya dalam perjalanan pulang sehingga saya harus berbecek-becek ria. Kalau sudah merasa seperti itu, pastilah saya berpikir bahwa saya mengalami kejadian buruk.

Sebaliknya, waktu itu saya merasa senang dan beruntung sekali karena saya diberi tempat duduk (oleh anak muda yang tampangnya saja sudah seram), bisa pindah dari tempat duduk saya yang bocor, dapat tempat duduk lagi (tanpa harus berdiri lama) saat saya memberikan tempat duduk saya ke si ibu. Kalau sudah merasa senang begitu, otomatis saya bersyukur berpikir kalau saya baru saja mengalami kejadian baik.

Kejadian yang sama, baik atau buruk, tergantung bagaimana cara saya menghadapinya :)

February 19, 2012

Hadapi yang Ingin Dihindari

Malam ini ketika saya pulang dan membuka pintu kamar apartemen saya, alangkah terkejutnya saya melihat tikus dengan ukuran yang cukup besar berlari dari dapur menyelusup ke karpet ruang tamu. Tikus? Di dalam kamar apartemen lantai 12?? Sambil berusaha menenangkan pikiran, saya tarik napas dalam-dalam dan mencoba memastikan. Saya dekati karpet tempat tikus itu bersembunyi, saya pukul-pukul ringan dengan sapu lidi, dan itu dia! Ternyata memang tikus, hidup! Aarrgghh....

Tikus itu lari masuk ke kamar baju meninggalkan saya yang entah sejak kapan sudah naik ke atas kursi sambil gemetaran tidak percaya. Rasa jijik bercampur takut dan kaget membuat saya panik tidak berani turun dari kursi. Setelah menguatkan diri, saya tutup pintu kamar dan keluar, turun ke bawah apartemen untuk membeli lem tikus di mini market.

Membayangkan sendirian di apartemen yang dihuni tikus membuat saya gelisah tidak karuan. Menginjak lantai pun rasanya jijik kalau memikirkan tikus itu menginjak lantai yang sama dengan saya. Menyentuh apa pun rasanya jadi was-was, takut mendadak tikus itu menampakkan diri lagi. Ngantuk, tapi takut saat saya terlelap tikus itu naik ke atas kasur saya..hiii...

Ibu saya menyuruh saya menyusulnya ke rumah kakak saya dan menginap di sana, tapi dengan berat hati saya tolak. Walaupun takut, geli, jijik, dan was-was, saya memilih untuk menghadapi si tikus. Karena saya sadar kalau hanya menghindar tidak akan menyelesaikan masalah saya: resah akan kehadiran tikus di apartemen saya!

Walaupun saya sok berani bilang begitu, kenyataannya sekarang sudah jam 1 pagi saat saya menulis blog ini, berjuang melawan rasa kantuk karena takut terlelap dan di'gerayangi' si tikus. Tapi bagaimanapun ini adalah keputusan yang saya ambil sendiri.

Sama dengan permasalahan hidup yang saya alami. Ada saatnya di mana saya memilih menghindar sampai merasa bosan karena merasa terus-menerus dihadapkan pada permasalahan yang sama. Terang saja, selama saya hanya lari dan menghindar, masalah itu tetap akan muncul karena memang tidak pernah terselesaikan. Dengan menghadapi, saya belajar proses kehidupan. Mempelajari makna yang terkandung dalam setiap permasalahan yang saya alami, bagaimana harus menyikapi, merubah pola pikir, dsb.

Permasalahan paling sulit dalam hidup adalah mindset saya dalam menyikapi permasalahan yang ada. Seandainya saya merasa kehadiran si tikus itu wajar dan biasa saja, bukankah si tikus tidak akan menjadi masalah bagi saya? :)

February 6, 2012

Lewati yang Sudah Terjadi

Hari ini saya ada waktu untuk makan malam dengan teman saya. Seperti biasa, saya mengoceh bercerita akan banyak hal pada teman saya yang selalu simak dalam mendengarkan segala "ocehan" saya ini. Entah bagaimana kami jadi membahas tentang masa lalu, kisah cinta saya.

Kalau harus jujur, saya mengakui masih belum bisa melupakan mantan pacar saya. Kalau ditanya masih cinta? Saya tidak yakin. Masih sayang? Hmm...bisa jadi. Masih peduli? Sepertinya iya. Permasalahannya adalah saya terkurung dalam penyesalan di masa lalu. Betapa banyak "hasrat terpendam" yang tidak tersampaikan. Dari hal-hal kecil yang tidak pernah saya lakukan, kata-kata yang tidak berani diucapkan, dll.

Perasaan takut kehilangan bercampur dengan rasa ketidakamanan membuat saya tidak dapat jujur dalam mengekspresikan perasaan saya yang sesungguhnya. Akhirnya, hati kecil saya kurang rela hubungan kami putus tanpa saya bisa jujur menunjukkan perasaan saya yang sebenarnya.

Beberapa hari yang lalu seorang teman posting di salah satu jejaring sosial yang kurang lebih isinya seperti ini: wanita yang banyak menuntut menunjukkan betapa merasa tidak amannya dia. Saya rasa statement itu benar. Perasaan tidak aman membuat kita ingin diyakinkan. Karena itu kita jadi menuntut ini-itu dan baru merasa yakin apabila tuntutan kita itu terpenuhi.

Saat ini saya masih happily single. Selain karena masih berjuang untuk merelakan masa lalu, sebagian diri saya merasa takut untuk menjalani hubungan serius lagi. Takut kecewa, takut gagal, takut mengulang kesalahan yang sama. Tapi bagaimana pun saya yakin kalau suatu hari nanti saya akan mensyukuri pernah jatuh cinta dan patah hati dengan orang yang sama. Saya akan bersyukur karena diberikan pengalaman sulit melupakan masa lalu. Karena semua itu merupakan proses pembelajaran, dan pasti ada hikmahnya. Lebih baik menyesal karena pernah mengalami daripada menyesali yang tak pernah terjadi.

Bayangkan jika hidup saya diibaratkan sebagai kertas putih. Walaupun tetap bersih, tapi tidak ada keindahan sama sekali, pucat, polos. Tetapi jika saya goreskan warna merah, sudah dapat merubah penampilan kertas putih itu. Kalau saya menyesal memberi warna merah dan tidak bisa dihapus, saya bisa tambahkan warna kuning sehingga warna merah yang saya sesali berubah menjadi oranye yang cerah.

Pengalaman manis dan pahit di masa lalu membawa pelajaran yang berarti di masa depan. Karena itu, saya menyemangati diri saya sendiri untuk tidak terus 'menghayati' rasa penyesalan, melainkan mensyukuri dan menjadikan pengalaman-pengalaman tersebut sebagai kenangan indah dalam hidup. Saya yakin seiring berjalannya waktu saya akan bisa tersenyum manis mengenang semua masa-masa itu.

Ladies, jangan takut untuk mencintai (dan dicintai)..

January 30, 2012

Bergerak dan Terhenti

Hal yang saya takuti setiap hari adalah kemacetan di pagi hari. Betapa tidak, kemacetan yang saya alami selalu parah, kendaraan berhenti tidak bisa jalan sama sekali (padahal saya mengendarai motor). Bahkan ruang untuk pejalan kaki pun tidak ada (ini nggak lebay lho). Benar-benar ibarat benang super kusut.

Padahal kalau saya cermati, akar kemacetannya tidak jauh dari ketidakdisiplinan yang disebabkan oleh keegoisan semata. Angkutan umum ngetem seenaknya walaupun lebar jalan hanya untuk dua mobil (dua arah), menyebabkan kendaraan di belakangnya terpaksa harus berhenti. Belum lagi ditambah kendaraan-kendaraan yang mau berbelok di pertigaan (dari tiap-tiap arah). Didukung para pengendara motor yang merasa berbadan kecil sehingga mengambil jalur lawan arah berharap bisa menyelip keluar dari kemacetan, tapi pastinya malah memperparah keadaan karena kendaraan-kendaraan dari arah sebaliknya jadi tidak bisa jalan terhadang "tumpukan" motor-motor.

Kalau sudah begitu, jelas saja waktu terasa berhenti. Semua kendaraan tidak bisa "menemukan jalan keluar". Ujung-ujungnya yang ada hanya emosi: "senggol" sana-sini, membunyikan klakson bak orkestra, teriak-teriak dengan nada nyaring. Bukankah mereka sendiri yang memperburuk kondisi kemacetan? Tapi bukannya merasa bersalah malah marah-marah?

Jika hadapkan dengan pagi yang seperti ini, saya pasti langsung kehilangan mood dan semangat untuk menjalani sisa hari (yang masih panjang). Waktu dan energi saya benar-benar terbuang sia-sia untuk hal yang nggak penting banget ini.

Saya rasa terkadang dalam hidup juga begitu. Seringkali kita bersikap atau mengambil keputusan dengan berpikir pendek demi mengharapkan hasil instan, tanpa menyadari hal tersebut malah akan memperparah keadaan di masa depan. Pada akhirnya kita hanya terus mengeluh penuh penyesalan..?

January 8, 2012

Welcome, 2012!

Happy New Year! (Please don't tell me it's a bit too late for saying it ;))

I used to make resolutions every year, but this year is different. I have no passion at all to make (any) resolutions. Not that I don't have passion in living life nor that I'm not excited with the year 2012. It's just that I find it useless to (only) make resolutions. I'd rather promise myself that I'll live my life better than previous years. That includes trying my best to be a better person (which I think is the beginning of every achievement in life).

The year 2011 was unbelievable to me. Many random things (good and bad) happened. I wouldn't have imagined my traveling to 19 cities in 5 different countries. I feel blessed. Each day, through the year is a wonderful experience, the best lesson to learn..

December 28, 2011

Story About Him

He criticize, he gives advice, and he's bias.
He's not a romantic person, but he can be sweet.
He's not my type, but he melt my heart.
He's not that perfect guy, but he's wonderful.
He's not super kind, but he's lovely sometimes.
He ain't got what they want, but for me, he's the one..

December 18, 2011

Dibuang Sayang

Apakah Anda pernah menyimpan suatu barang, entah karena itu merupakan barang pemberian mau pun barang milik pribadi, tetapi pada akhirnya Anda memutuskan untuk membuang barang tersebut? Saya termasuk tipe orang yang seperti itu.

Sejak kecil, sudah tidak terhitung berapa kali saya pindah rumah. Hal yang membuat saya kesal setiap kali pindahan, adalah harus membuang barang-barang milik saya yang menurut ibu saya "tidak penting", sehingga dengan terpaksa saya harus menurut untuk tidak menyimpan barang-barang kesayangan saya. Tapi terkadang saya cukup keras kepala untuk mempertahankan beberapa barang yang menurut saya spesial. Walaupun, pada sesi pindahan berikutnya, barang tersebut dengan berat hati tidak saya bawa juga.

Minggu depan saya akan pindah lagi (entah untuk yang keberapa kalinya). Dan, lagi-lagi, kali ini pun saya harus merelakan barang-barang saya. Terlebih lagi, kali ini saya akan pindah ke apartemen yang notabene luas ruangannya minimalis. Karena itu, pindahan kali ini benar-benar membuat saya 'penghabisan.' Hampir semua barang milik saya yang 'tidak penting' saya jual atau saya kasih ke orang secara cuma-cuma. Bahkan, buku-buku dan komik yang menjadi hobi saya (yang paling menghibur) pun saya relakan.

Entah karena sudah lelah, bosan, atau terbiasa, kali ini saya benar-benar merelakan barang-barang saya tanpa rasa berat hati sedikit pun. Malah, seandainya bisa, ingin rasanya saya meninggalkan semua barang milik saya, dan benar-benar hanya membawa beberapa barang yang 'penting' saja.

Kalau saya refleksikan masalah pindahan ini, saya mulai berpikir secara mendalam. Selama ini, sering sekali saya merasa berat mengambil suatu keputusan karena terlalu melo mempertimbangkan ini dan itu, yang mungkin kalau mau ditelaah lebih jauh memang 'ga penting'. Antara emosi dan logika, terkadang kita harus menentukan mana yang lebih 'penting' dalam hidup ini. Sadar bahwa kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan..

November 22, 2011

Harapan Akan Kenyataan

Belakangan ini saya sedang dirundung beberapa masalah yang membuat otak saya terus-menerus berpikir dan berpikir.
Saya menyadari saya bukan tipe orang yang bisa berlapang dada dalam menerima kenyataan. Sering kali saya "menghibur diri" dengan berpikir seandainya begini atau bila saja begitu. Padahal pikiran semacam itu sebenarnya sama sekali tidak benar-benar menghibur apalagi merubah keadaan, tapi tetap saja saya suka berpikir begitu.

Entah menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, atau pun menyalahkan diri sendiri, saya sepertinya tidak cukup "kuat" dalam menghadapi kompleksnya kehidupan ini (lebay mode on :p)

Hari ini saat saya sedang "merenungkan nasib" untuk yang kesekian kalinya, saya membuat keputusan untuk (paling tidak berusaha) berhenti menyesali keadaan dan mencoba menerima kenyataan dengan mengambil hikmah dan pelajaran di balik setiap permasalahan. Tidak mudah memang (pastinya), tapi saya akan berusaha dan saya yakin di mana ada niat di situ pasti ada perubahan (baik besar maupun kecil).

Menerima kenyataan (pahit) itu sulit dan terasa sakit, tapi yakinlah bahwa di balik setiap persoalan itu pasti ada hal baik :)

November 20, 2011

Dear You

It's raining outside, and the thoughts of you crosses my mind (for the how many times).
I just wanna let you know, I've moved on, not the way I want it, but I have.
I miss you anyway, but I won't tell you. I hope you're doing fine, that's enough for me.
I'm counting days to your "big day" and I hope you'll have someone beside you to celebrate it.

I've changed, which I'm sure you have, too.
I'm glad that I'm entering a new path of my life.
And I wish you know that you're the reason behind it.

I believe things happened for a reason.
And I'm grateful that you were sent to me for that very short time.

You taught me lots of things.
You gave me many feelings.
And for all that, I wish to say "thank you" to you..

Yours forever,
Me

November 8, 2011

Menyesal Kemudian

Saya seorang pemikir. Setiap keputusan yang saya ambil pasti dengan pertimbangan hasil pemikiran saya. Kemarin saya membuat suatu keputusan: menerima tawaran kerja. Sebelum menerima, saya sempat berpikir singkat dengan banyak pertimbangan sebelum akhirnya menerima tawaran tersebut. Tetapi sesudah itu saya merasa agak menyesal. Sepertinya saya kurang berupaya untuk mendapat apa yang saya mau. Tapi karena sudah terlanjur, tidak ada yang bisa saya lakukan lagi. Daripada hanya menyesali, saya lebih memilih untuk berpikir positif dan kembali mengingat alasan saya mempertimbangkan menerima tawaran itu.

Sekarang, saya sudah tidak merasa menyesal lagi. Saya mencoba untuk mengambil hal-hal positif dan melupakan hal-hal negatif yang melintas. Besok adalah hari pertama saya masuk kerja di tempat yang baru ini dan saya cukup bersemangat menyambutnya. Saya berharap rasa penyesalan saya yang sempat muncul terbalas dengan apa yang akan saya capai nantinya dengan hasil kerja saya yang paling maksimal :)

November 6, 2011

Was and Why?

This morning when I checked on my social networking website (#NoMention) account, I read one of my friend's post to follow her blog. But since I don't have an account in the web she blogged on, it wouldn't be possible. I then thought to myself, why not create a new blog instead? But, the thoughts get longer in my mind. If I create a new one, what should I do with this one? I just celebrated my blog's first anniversary last month (I mean, it's finally been a year since I started blogging :p), should I leave it unmaintained just to make a new blog? Or perhaps, I'll have to maintain both of them (this blog and the new one)?

With this little confusion in my head, I started to think clearly about the reason why I started blogging. I've always wanted to write (I even dreamt of being an author one day..haha..), but it doesn't bring me to blogging. Until one day I read an advertise through blogger and on the right top of the page I saw the sign "Start Blogging" or something, so then I started to create this blog!

It took me days only to design the page layout before I eventually thought of what kind of blog I want mine to be. Then I decided to (try) blog my personal experiences and share my inspiration so that this blog would be more useful and nice to read. Well, to be honest, I was teased to make this blog as my "online diary" but then I thought it would be pointless and embarrassing to really share all of my feelings to the world, don't you think? :p

Ok, now, back to the top. After remembering my first motivation of blogging, which is "to inspire other people," I came to a (temporary) final consideration:
- there's no need to have two blogs at the same time
- creating a new blog on that other web is quite a good idea, because the web seems to offer more than this web
- but to leave my (current) blog neglected is way too pity for me

So, I finally came to a decision, either I keep my current blog or make a new one and re-post my posts in this blog on the new one.

Just like life, huh? Things change, people change, society changes. As the world changes, so do us. Our needs change. Our goal in the past, now, and in the future (usually) won't remain the same. It changes all the time.
I, myself, a few years ago was still longing to have a new family-get married, be a wife and mother, raise children. Now? Not a chance! Haha..

I mean, of course I still have some desires and wishes which I've had since a long time ago (I still want to be an author :p) up until now, but I'll have to admit that the way I think, I speak, I act before and now is different. Just like the needs of technology, I may not need mobile phone and internet before as much as I do now :)

November 2, 2011

Antara Benar dan Salah

Satu hal yang saya tidak suka saat mengantri masuk lift di mal adalah, antrian yang tidak teratur dari orang-orang yang "penuh nafsu". Bukannya menunggu yang di dalam keluar dulu, mereka buru-buru langsung mau masuk. Akibatnya? Sudah pasti antrian terlihat semrawut karena yang di dalam berusaha mencari celah untuk keluar, begitu juga sebaliknya. Yang lebih menjengkelkan lagi, ketika saya mengantri dengan benar dan sesuai etiket, malah diserobot oleh orang lain yang mengantri sesudah saya. Jadi kalau saya mau mendapat hak saya untuk masuk lebih dulu sesuai urutan antrian, saya pun harus ikut-ikutan "nafsu" nyerobot masuk ke lift.

Saat mengantri bus TransJakarta pun begitu. Bukannya sabar mengantri, orang-orang malah "memperpendek" antrian dengan mendorong-dorong orang di depan mereka. Padahal tidak ada salahnya diam berdiri dan maju kalau orang di depan sudah maju, kan? Mengantri sambil mendorong-dorong malah membuat stres semua orang yang mengantri, apalagi saat jam sibuk (masuk dan pulang kantor), halte sesak penumpang.

Hal-hal seperti ini sering kali membuat saya "gerah" tinggal di Jakarta. Bukannya saya tidak berjiwa nasionalis, tapi agaknya budaya bangsa ini terlalu unik. Melakukan yang benar sering kali menjadi masalah. Sebaliknya, melakukan yang salah malah dianggap benar dan sudah sewajarnya.

Hal-hal kecil seperti ini sepertinya secara tidak langsung membentuk kepribadian kita. Dalam pergaulan, misalnya, ketika kita berusaha bersikap baik, kita malah dianggap munafik, sok, dsb. Dalam pekerjaan, menipu dianggap sebagai strategi dan bukti kepintaran seseorang. Kalau kita tidak setuju untuk bekerja sama, pasti kita dicap sok suci, dll, dsb.

Saya jadi bingung, bagaimana baiknya, ya? Ketika melakukan yang benar malah dianggap salah, kita seakan-akan dituntut lingkungan untuk berbuat salah kalau mau dianggap benar?

October 21, 2011

Sulit untuk Dimengerti

Beberapa hari yang lalu teman saya menceritakan kekecewaannya pada saya. Teman satu timnya, yang tidak ia kenal baik "kabur" dari tugas yang seharusnya dikerjakan bersama. Saya pernah dengar kalau ibu dari orang tersebut sedang dirawat di rumah sakit (tidak tahu apa penyakitnya), tapi karena tidak mau menyebar gosip, saya hanya mencoba menghibur teman saya dengan mengatakan "Setauku sih dia lagi ada masalah keluarga, mungkin karena itu tugasnya jadi ga keurus."

Walaupun saya bilang begitu, teman saya tetap merasa kesal dan berpikir bahwa orang itu memang sengaja melarikan diri dari tanggung jawabnya. Saya tidak bisa menyalahkan dia. Kalau saya di posisinya, mungkin saya akan berpikir begitu juga. Kadang, ketika kita merasa menjadi "korban", kita cenderung berpikir bahwa alasan hanyalah alasan yang dimanfaatkan untuk meng-excuse-kan diri. Tetapi, ketika kita sendiri yang mengalami permasalahan, bukan tidak mungkin kita akan menggunakan permasalahan yang kita hadapi sebagai alasan untuk meng-excuse-kan diri kita juga:)

October 12, 2011

From Japan with Shots









 














So I Say..

Show your smile, hide the tears.
Share the good news, keep the bad ones yourself.
Cry when you feel like crying..

Don't be too self-centered, you didn't own this world.
You are not the only one who has feelings; try to understand.
If you expect to receive, give instead, you'll feel joy eventually.

Don't complain, it won't help.
Don't give up, you'll get the chance.

Look back, but to learn.
Look forward with faith.

When the going gets tough, it's just a new start.
Pushes you to a higher limit, it's God's secret..

September 20, 2011

Berpikir Dua Kali Sebelum Mengatakan "Ya, saya bersedia!"

And they live happily ever after..

Kalimat di atas biasanya menjadi penutup di cerita-cerita dongeng yang sering saya dengar, tonton, atau baca saat masih kecil dulu. Saat remaja, komik-komik yang saya baca menggambarkan manisnya kisah cinta orang muda. Beranjak dewasa, novel-novel yang saya baca juga kebanyakan happy ending (setelah menceritakan kisah sedramatis mungkin).

Pada kisah cinta yang "sebenarnya" saya saksikan, kenyataan tidaklah seindah itu. Maaf, ya, bukannya saya mau bersikap skeptis, tapi menurut saya menyatukan dua insan dalam ikatan pernikahan tidak bisa hanya bermodal "I love you, you love me, let's get married!" Banyak hal yang harus dipertimbangkan (kalau komitmen sudah biasa :p)

Awal kisah cinta memang manis: tahap-tahap PDKT, perasaan harap-harap cemas, kencan pertama, dll, dst. Seiring berjalannya waktu, mulai timbul "kerikil-kerikil" dalam hubungan; ada yang berhasil melewati, ada juga yang tidak. Ketika kita sudah merasa he/she is the one (atau mungkin hanya karena merasa "sudah seharusnya") maka "Gerbang Menikah" pun menunggu di depan mata. Mudah? Tidak!

Anda beruntung kalau mengalami kisah cinta yang mulus-mulus saja ibarat jalan bebas hambatan. Karena (sejauh yang saya tahu) kebanyakan pasangan mengalami banyak kesulitan baik sebelum atau pun sesudah menikah. Itu sebabnya ada yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan walaupun sudah pacaran sekian tahun, dan tingkat perceraian semakin tinggi.

Saya tidak mengarang cerita atau pun bermaksud memengaruhi pemikiran Anda, hanya saja saya terdorong untuk membagikan pola pikir saya yang saya anggap realistis dan berdasarkan realita yang ada (paling tidak yang saya lihat dari orang-orang di sekitar saya).

Saat memutuskan menikah, biasanya masalah mulai bermunculan:
- ijin orang tua: apakah orang tua merestui calon pasangan hidup kita? kalau tidak, apakah kita bisa meyakinkan mereka?
- keluarga: latar belakang keluarga sering kali jadi persoalan serius dalam suatu hubungan (perbedaan status sosial, perbedaan gaya hidup, dll)
- SARA: apakah perbedaan budaya dan keyakinan kita bisa diatasi atau justru menjadi tembok yang tidak bisa dilewati?
- finansial: apakah kita memiliki dana yang cukup untuk melangsungkan pernikahan dan mencukupi kebutuhan setelah menikah dan punya anak nantinya?
Saya rasa sebenarnya masih banyak lagi kalau mau diuraikan satu per satu, tapi tidak perlu lah, ya ;)

Fase berikutnya (setelah menikah):
Hidup bersama di bawah satu atap pastinya berbeda dengan saat pacaran dulu. Mungkin kita akan "kaget" menemukan kebiasaan-kebiasaan pasangan yang tidak kita ketahui sebelumnya. Pada awal-awal pernikahan mungkin kita masih bisa menerima dan berkompromi (masih pengantin baru, gitu loh.. :D). Tapi lama kelamaan kita menjadikan itu suatu alasan atas "ketidakcocokan"--alasan yang paling populer dalam kasus perceraian (ke mana perginya cinta, nih?).

Belum lagi kalau ketemu kasus yang lebih berat: KDRT, masokisme dan kelainan seksual lainnya, kecanduan alkohol atau obat terlarang, hobi selingkuh atau "bermain" wanita. Kalau mau mempertahankan perkawinan rasanya berat sekali. Kalau pun sanggup, orang-orang di sekitar yang akan berkomentar: "bodoh banget sih, lu!"

Saat ini banyak sekali pasangan yang menikah muda, menjadi orang tua di usia muda (walaupun mungkin belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam menjadi seorang ayah/ibu). Karena masih muda, maklum saja kalau jiwa mereka masih muda juga. Pergi bersenang-senang saat weekend tetap menjadi agenda wajib. Bedanya dengan saat pacaran, kali ini mereka membawa pasangan ketiga--anak.

Saya sering melihat orang tua yang membawa anak mereka yang masih bayi, balita, atau anak-anak ke mal atau bioskop sampai malam (tidak jarang malah sampai tengah malam). Di satu sisi, si orang tua masih berjiwa muda dan butuh refreshing. Di sisi lain, kasihan si anak yang masih kecil (kurang istirahat, menghirup asap rokok di tempat umum tertentu, kena angin malam, dll).
Atau ada juga yang menggunakan cara "baik", menitipkan anak ke pembantu atau orang tua (kalau tinggal dengan mertua).

Menikah itu kan (teorinya) hanya satu kali. Berarti, selamanya (sampai mati, lho..) kita akan hidup dengan si dia. Bangun tidur, mau tidur, setiap hari melihat muka orang yang sama. Sedangkan, keadaan berubah, lingkungan berubah, sifat dan pola pikir juga berubah. Penelitian mengungkapkan tiga faktor utama perceraian: seks, ekonomi, dan komunikasi. Saat seperti ini, "cinta" membutuhkan pembuktian, bukan hanya ungkapan perasaan.

Apakah Anda sudah mantap dengan "I love you, you love me, let's get married and we'll fix things out!" atau "I love you, you love me, let's get married and we'll see, lah.." ? :)

August 11, 2011

Kasih Tidak Menerima?

Kasih ibu tiada beta, tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali. 
Bagai sang surya menyinari dunia...

Lirik lagu di atas sudah tak asing lagi di telinga kita. Sejak kecil kita sudah disuguhkan lagu itu, seakan-akan kita dibrainwash bahwa lagu itu benar adanya. Dulu saya berpikir begitu, tetapi semenjak bertambah usia saya mulai mempertanyakan kebenarannya.

Hanya memberi tak harap kembali. Apa benar begitu? Saya tidak yakin. Saya sendiri memang belum menjadi seorang ibu, jadi saya tidak bisa merasakan perasaan seorang ibu. Tapi dari orang-orang di sekitar saya dapat melihat bahwa sejak kecil pun anak-anak sudah dituntut macam-macam oleh orangtua mereka. Jika si anak nakal, maka sang ibu akan mulai berteriak mengomel, kemudian mengeluh kenapa anaknya "begitu." Kalau nilai sekolahnya jelek, sang ibu akan mulai berceramah dan mengomentari kebodohan si anak. Paling tidak hal-hal seperti ini sering saya lihat sendiri.

Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ibu saya sangat menyayangi saya, sampai-sampai beliau menggantungkan harapan besar pada saya. Sekadar informasi, beliau adalah seorang yang sangat idealis, tidak bisa menerima kesalahan dalam bentuk apa pun. Jadi ketika saya tidak bisa memenuhi ekspektasinya atau jika saya melakukan suatu kesalahan (baik kecil maupun besar), beliau akan langsung merasa kecewa, sedih, marah, putus asa, dan stres.

Ketika kita sebagai anak sudah menjadi orang yang dewasa, mungkin dengan karier yang mapan, dll, berapa banyak dari kita yang merasa tidak harus membalas budi orangtua? Kebanyakan orang pasti memiliki kesadaran untuk membalas kebaikan orang tua mereka. Jadi hal-hal seperti ini sudah menjadi suatu "keharusan," hukum alam yang berlaku (paling tidak) di Indonesia, negara yang budaya sopan-santunnya sangat kental.

Ketika kita tidak melakukan "kewajiban" yang demikian, bukankah orangtua akan mengeluh? Kita akan dibilang anak yang tidak berbakti, tidak tahu balas budi, dll, dsb. Lalu ke mana perginya hanya memberi tak harap kembali? Bukankah mengharapkan sesuatu dari si anak sudah merupakan harapan untuk menerima kembali?

Saya memang orang yang skeptis dan kritis. Maaf kalau pemikiran saya menyinggung beberapa pihak, tapi saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya mengutarakan pendapat saya bahwa hanya memberi tak harap kembali itu sangat kecil kemungkinannya. Saya tidak mengatakan itu suatu hal yang mustahil, hanya saja mencari suatu kasih yang benar-benar tidak mengharap kembali di dunia ini merupakan suatu hal yang sangat sulit. Rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Bahkan dalam hubungan percintaan pun, pasti kita mengharapkan pasangan untuk "memberi kembali," bukan?

Pada dasarnya semua manusia itu egois. Tapi di situlah letak seni kehidupan manusia. Karena tidak ada satu manusia pun yang bisa hidup sendiri. Kita semua saling membutuhkan. Bagaimana kita mengolah emosi kita masing-masing dalam kehidupan bersosialisasi, itu yang penting. Memberi tanpa mengharapkan kembali itu sulit, tapi masih lebih baik daripada mengharapkan tanpa memberi ;)

August 1, 2011

Art of Satisfaction

Two weeks ago I got information regarding a Writing Competition held by one of the bookstores in Indonesia. The submission deadline is yesterday at 11.59 p.m. I wanted to join the competition, but I was too lazy and kind of pessimistic because the work should be written in English (you can tell by reading my posts that I'm not perfect in English). So I didn't start any action. Not until yesterday.

Yesterday morning I suddenly had a very strong motivation to start writing. I'll never know if I never try and my writing skill won't get any better if I didn't keep practicing, I thought to myself. So, I spent the whole day trying to write something.

I finished writing five pages story (non-fiction) at about 9 p.m., convert the file to pdf. format and send it via email. Wow, I felt great! Only five pages result, but it definitely worth the hours of hardwork. Even if I didn't win, I'm quite satisfied already. I'm proud of myself for being able to get rid of every pessimistic feeling and do something.

Big things come from small things. Small things start by doing something ;)

Ada Apa dengan Pengguna Teknologi?

"Hari gini masa ga punya BB?"
"Yah, dia ga pakai BB."
"Ganti BB aja.."

Kalimat-kalimat di atas sering saya dengar dari percakapan orang-orang yang saya temui di mana-mana. Rasanya tidak afdol kalau jaman sekarang masih ada yang tidak memakai smartphone, terutama Blackberry. Saya sendiri akhirnya menyerah dengan "tuntutan jaman" dan beralih menggunakan BB sejak akhir tahun lalu. Tapi itu tidak berarti saya termasuk salah satu dari sekian banyak "fans" BB di Indonesia. Saya malah sempat menyesal mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli BB. Rasanya kok ga penting banget. Hehe..

Saya mengakui kehebatan BB, fitur-fitur dan fasilitasnya menunjang banyak sekali aktivitas pribadi, pekerjaan, dll. Namun, apakah semua pengguna BB benar-benar sudah memaksimalkan penggunaan secara baik? Saya tidak yakin. Dulu mantan pacar saya memutuskan untuk membeli BB dengan alasan "Butuh untuk urusan pekerjaan." Saya percaya BBnya memang digunakan untuk urusan pekerjaan, tapi berapa tingkat persentasenya saya tidak tahu. Yang pasti, dia menjadi 'pengguna aktif' BB (kalau tidak mau disebut autis) sampai sekarang.

Saya ingat sekali saat sedang makan malam bersama menunggu pergantian tahun baru, dia sibuk dengan BBnya, tidak jelas untuk urusan apa. Yang saya lihat dia senyum-senyum sendiri, asik sekali kelihatannya. Saya sampai tidak di"ganggu"nya (alias dicuekin). Padahal waktu itu perasaan saya benar-benar sangat excited. Maklum, dalam satu bulan pertemuan kami bisa dihitung pakai jari. Sehingga saya ingin menikmati setiap detik waktu yang kami habiskan bersama (lebay mode: on, deh). Saya tidak pernah mempermasalahkan kalau saya dicuekin karena urusan pekerjaan. Tapi yang kali ini rasanya jelas tidak mungkin kalau dia ber-BB-an ria untuk urusan pekerjaan.

Anyway, saya bukan bermaksud untuk curcol apalagi menjelek-jelekkan mantan pacar tersayang itu. Saya hanya sekadar memberi contoh. Teknologi dikembangkan untuk memberi kemudahan, berguna, bermanfaat baik. Tapi tidak jarang disalahgunakan menjadi sebaliknya. Jangan sampai smartphone yang kita punya membuat kita merasa dekat (padahal belum tentu) dengan teman-teman yang jauh tetapi menjauhkan kita dari orang-orang terdekat. Seperti sebuah sharing yang saya dengar di salah satu siaran radio. Seorang pria menceritakan bagaimana dia dan istrinya setiap hari di rumah sibuk dengan BB masing-masing. Hasilnya? Komunikasi di antara mereka berdua menjadi buruk. Sering terjadi pertengkaran. Sampai suatu waktu mereka sadar, dan membuat komitmen untuk tidak ber-BB-an ria selama berada di rumah. Komunikasi mereka pun menjadi baik dan hubungan suami-istri kembali harmonis.

Ayo kita manfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik-baiknya!
Sudah smart kah Anda menggunakan smartphone Anda? :)