Labels

August 21, 2013

Alihkan Pandangan

Beberapa minggu terakhir saya rutin menemani ibu saya menonton film serial di salah satu stasiun televisi. Ceritanya berdasarkan kisah nyata, dan cukup menarik minat saya. 

Yang menarik bagi saya adalah karakter si lakon utama wanita yang sangat keras kepala, kaku, dan galak. Nada bicaranya selalu tinggi dengan suara yang keras. Walaupun orangnya baik, pekerja keras, pintar, dan cantik, sifatnya sering kali menjadi pemicu pertengkaran dengan sang suami. 

Pada episode malam ini saya mendapati dua bagian yang cukup inspiratif. Kalimat sang suami saat menegur dia, "Kamu selalu menganggap diri benar dan berharap orang lain mengikuti caramu. Kamu harus menghargai pendapat orang lain. Memangnya kamu sendiri tidak pernah melakukan kesalahan?" dan kalimat si teman saat memberikan wejangan, "Kamu jadi orang terlalu blak-blakan, terlalu lurus dan kaku."

Si lakon utama ini tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Dia merasa telah berusaha menjadi orang yang baik, melakukan hal baik, dan mengikuti aturan-aturan yang baik dan benar. Hal ini juga yang selalu menjadi pemicu pertengkaran harian di awal-awal pernikahannya. Dia merasa tidak terima dengan perilaku suaminya dan tidak mau introspeksi diri. Prinsipnya, kalo gue ga salah kenapa harus gue yang ngalah?

Kalau saya renungkan sifat sang wanita ini mirip sekali dengan saya. Padahal setiap kali nonton dan melihat sifatnya saya selalu gregetan. Tapi saya mengakui kalau sifatnya itu memang mirip saya! Haha..

Memang di dunia ini kita tidak bisa mengharapkan keadaan sempurna sesuai keinginan kita, memaksa orang lain mengikuti cara kita, dan memusatkan pemikiran & perhatian hanya kepada diri kita sendiri :)

July 26, 2013

Yang Istimewa

Saya mempunyai seorang teman yang sangat....sulit diungkapkan dengan kata-kata. Baru-baru ini kami membuat perjanjian di mana jika dia menunjukkan sedikit usaha lebih setiap pagi selama sebulan, saya akan memberikan suatu hadiah. Saat ini waktu yang dijanjikan hampir tiba; saya yakin dia sudah sangat tidak sabar menanti. 

Si teman ini membuat hari-hari saya belakangan lebih banyak dipenuhi senyuman. Saya yakin apabila dia membaca tulisan saya ini dia akan tersenyum :) dan setelah itu dia akan sedikit tertawa ;)

Walaupun saya katakan "sedikit usaha lebih", sebenarnya saya tahu bahwa dibutuhkan extra effort untuk melakukannya dengan penuh komitmen. Dan di balik itu semua hanya ada satu alasan kenapa dia "berjuang" memenuhinya: motivasi. 

Semua orang membutuhkan motivasi. Hidup tanpa motivasi akan terasa tawar tanpa arah. Semakin kuat motivasi, semakin kuat pula semangat dalam diri kita. 

Saya ingin menyelamati si teman karena dia berhasil menemukan dan mempertahankan motivasi untuk memenuhi perjanjian kami. Saya senang karena bisa menjadi bagian dari sesuatu yang berarti dan berguna bagi si teman. Dan saya akan lebih senang lagi jika dia bisa terus menemukan motivasi-motivasi yang membuat hidupnya lebih bersemangat :)

June 29, 2013

Hati-hati

Keponakan saya yang paling kecil baru berumur dua tahun lebih saat ini. Terakhir kali ia diajak ibunya mengunjungi saya beberapa bulan yang lalu, dia sudah bisa berjalan dengan lincah. Hanya satu permasalahan, anak itu akan berjalan dan berlari tanpa memperhatikan langkah dan apa yang ada di depannya. Saya yang menemaninya bermain di taman agak was-was melihat dia berlarian di atas jalanan taman yang berbatu dan tidak rata, kuatir ia tersandung dan terjatuh. Allhasil saya terus menemani sambil menggandeng tangannya.

Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, seharusnya saya biarkan saja dia berlarian sendiri selama masih dalam pengawasan mata saya. Toh kalau pun sampai dia terjatuh, dia akan belajar untuk lebih berhati-hati ke depannya. Seandainya terus saya pegangi dan dia aman-aman saja, dia tidak akan pernah belajar untuk lebih berhati-hati.

Dalam hidup pun pasti begitu. Kita tidak akan pernah tahu apa rasanya manis apabila belum pernah merasakan pahit. Tidak akan pernah merasa berada di puncak, apabila tidak pernah merasakan berada di bawah. Jatuh bangun itu biasa. Bagaimana kita menghadapinya yang luar biasa! :)

May 31, 2013

Aku Galau

Belakangan ini (entah karena kondisi fisik atau lingkungan) saya menjadi terlalu sering gelisah. Pikiran berlari ke mana-mana. Jika diibaratkan dengan berendam di air panas, saya menenggelamkan seluruh badan dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, bertahan di dalam air sampai kehabisan napas baru keluar. Terus mengulang hal yang sama sampai rasanya sudah tidak tahan lagi.

Salah satu yang mengalir dalam otak saya adalah pemikiran akan komentar-komentar saya terhadap orang lain selama ini. Entah mengapa saya jadi merenungkan hal-hal tersebut dan merefleksikan diri. Sepertinya kalau dikembalikan ke diri sendiri, saya juga tidak sebaik komentar yang saya berikan ke orang lain.

"Lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada menyadari kesalahan diri sendiri."
-Lady Metamorph-

April 6, 2013

Hey, Kamu


Tahukah kau bahwa di balik setiap senyuman yang kupersembahkan untukmu, selalu ada tangisan di setiap malamku.

Tahukah kau bahwa di balik tawa yang kudapat darimu, selalu tertoreh luka di hatiku.

Tahukah kau, sakitnya hatiku kala malam hari tiba kudapati kau tak di sampingku.

Tahukah kau, indahnya kata-katamu tak mampu menutupi gundah hatiku.

Tahukah kau..

March 13, 2013

Hentikan Mimpi

Tatapan kosong bak malam yang sunyi
Hentikan waktu 'tuk mencari yang tersembunyi
Diam...berhenti
Berakhir...sepi

Sulitnya diri menahan hasrat seindah abadi
Kerasnya hati menemukan jalan yang pasti
Bertanya...kepada Sang Ilahi
Berharap...ada arti sebuah janji


Jakarta,
13.03.13
Lady Metamorph

February 28, 2013

Complicated Me

Noticed that today is the last day of February (when I write this post). Time flies..
Two months have passed, and I'm not even close to my 2013 Resolution. In fact, there haven't been any progress at all (as far as I can think of).

Sometimes I feel that 24 hours a day is not enough, but 7 days a week is too much. I wish I have more time to do many things, but I realize that I often waste my time doing nothing. I spend five days a week to do the same routine every day: work, study. On weekends, I use my time to hibernate, have some "me time," then goes the lazy day (if there isn't any tasks to be done).

I often think of many ideas, wanted to do many things, but none of which comes to reality. I'm quite confident with my time management, but my body just won't compromise. I got exhausted easily, tired and burdened with daily activities.

But when I come to think of it, maybe I should start a new action to create new habbits, and (hopefully) my body would support me with all the energy I needed. Rather than spending weekends doing nothing when I have a long "to-do" list to be fulfilled. But again, I'm not that keen..

Don't blame time, don't blame me ;)

January 14, 2013

Simply Breaking

Don't fix something that is not broken. Earlier this morning I got that quote from my boss in a meeting. I like it somehow. It inspires me to use that motto for my personal life. I do realize that sometimes I have the tendency to "fix" things my way. I mean, my idealistic has long affected me in judging the outcome of some cases. I could turn a simple thing into a bigger one simply by over thinking it. But actually, why bother to fix something that doesn't even need fixing? :)

Don't turn something into a problem. Don't turn problem into a disaster. Make things simple; as simple as it could (or should) be.. Don't break something to fix. Don't fix something that is not broken ;)

January 13, 2013

Sang Pengembara

Menunggu..dan terus menunggu..

Menanti..sesuatu yang tak mungkin terjadi

Sepinya hati membakar diri

Rasa yang seperti tiada arti

Bersimpuh...

Termenung...

Berharap dapat berlari mengejar mimpi

Angin bertiup menyentuh kalbu

Kegelapan berhenti di tempatnya berlabuh

Ingin rasanya berteriak

Menengadah ke langit hentikan isak

Layu ketika mekar berseri

Tinggalkan sekuntum bunga berduri

Berdiri namun enggan bertahan

Tersenyum menutupi perasaan

Hampanya jiwa berkelana

Terus berbicara entah pada siapa..

January 1, 2013

2013!

Happy New Year! I would like to wish everyone a very new year, full with new blessings, new hope, new (better) life. May we all get through the days in 2013 with grateful feeling and an opened heart to accept whatever that will come. Another 365 days to learn new lessons, experience new things, and live life to the fullest! :)

I didn't really make resolutions, but I found this book in my cabinet (I got it for free from a magazine - just so you know).
Even the cover itself shows something for a new year resolution ;)

The thing about this book is, months ago, I wrote many things in it. Some kind of resolutions (not for new year), a short-term and long-term plan about what I want to do and how I can fix myself and my life to be better. When I open and read it, I giggle to myself since most of them have not succeeded yet. Haha..

I think things like this is quite often happens. We tend to plan and dream things, but with no action to achieve the goals.

So, in 2013, let's see if I can mark accomplished on the items I wrote in my "I Can Make a Change" book. I'll keep you updated by the end of the year. Fair enough? ;)

December 29, 2012

Es Krim Khayalan

Saya punya kebiasaan ngidam sesuatu. Entah mengapa, perilaku saya bisa seperti orang hamil. Kalau sudah menginginkan sesuatu, tidak rela kalau sampai tidak dapat. Sebulan belakangan ini saya ngidam es krim favorit saya, yang setiap hari Jumat diskon 50%. Tapi karena tidak pernah sempat untuk membeli, ngidam yang satu itu belum kesampaian.

Semalam, hari Jumat sebelum long weekend, saya ada waktu untuk makan malam dengan teman-teman kantor ke salah satu mal dekat kantor kami. Dalam hati saya sudah bertekad untuk membeli es krim favorit saya sebelum pulang, bahkan sudah tidak sabar.

Selesai makan malam yang diselingi percakapan ringan, saya mendapati perut saya sudah terisi penuh sampai rasanya mau meledak. Alhasil, membayangkan es krim saja sudah tidak nafsu. Jadilah saya pulang dengan tangan kosong, tidak jadi membeli es krim yang sudah diidamkan kian lama.

Sampai rumah saya berpikir, betapa luar biasanya kekuatan otak manusia yang menjadi pemimpin seantero bagian tubuh lainnya. Bukankah sebenarnya, seharusnya saya bisa mengendalikan ngidam saya dengan kekuatan pikiran untuk menahan nafsu? Buktinya, begitu kekenyangan saya sama sekali sudah tidak berminat lagi.

Begitu juga dengan emosi dan perilaku. Emosi yang menggebu-gebu, entah itu amarah, nafsu, kekuatiran, semuanya sebenarnya hanya emosi sesaat yang seharusnya bisa kita kontrol. Saya tidak bilang itu mudah. Tapi terkadang sepertinya kita 'menikmati' emosi-emosi sesaat seperti itu, yang kalau dipikir-pikir kemudian hari juga pasti tidak akan terasa menggebu lagi.

Tadi pagi saat menonton berita, ada liputan mengenai seorang ibu yang meracuni kedua anaknya dengan racun tikus. Syukurlah mereka masih terselamatkan. Saat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, sang ibu mengaku bahwa perbuatannya dilakukan karena tidak tahan dengan masalah ekonomi keluarganya. Bukankah ini juga merupakan salah satu buah dari kurangnya pengendalian emosi? Jiwanya tidak terganggu; dokter sudah memberikan pernyataan. Jadi? Mungkin saja berawal dari pikiran, 'menghayati' pikiran, tenggelam dalam pikiran, stres, berlanjut menjadi depresi sampai melakukan hal-hal di luar batas normal.

Saya sendiri pun sering kesulitan mengendalikan emosi. Tapi bukan berarti saya menyerah dan memilih untuk 'menikmati' kelemahan saya itu. Saya akan terus berusaha untuk berkompromi dengan master diri saya, Si Otak ;)

November 25, 2012

One Click

Tangkuban Perahu, Bandung, West Java, Indonesia


"Glacier"


Fog Behind The View

October 2, 2012

Ironi Bagiku

Beberapa hari yang lalu saat saya sedang mendengarkan siaran radio di pagi hari, si penyiar (entah menyindir atau memuji) menyatakan kesalutannya terhadap pemerintah karena baru-baru ini Indonesia mendapat predikat "Pertumbuhan Orang Kaya Tertinggi Se-Asia". Wow.

Di hari yang sama, malam harinya saat sedang menunggu kakak saya mengisi bensin motornya di salah satu SPBU di Jakarta, saya melihat suatu pemandangan yang menarik perhatian saya. Persis di pojokan arah ke luar dari SPBU tersebut, ada seorang gelandangan bertubuh dekil sedang duduk membungkuk di atas batu. Mata saya tidak bisa lepas dari gelandangan itu. Walaupun melihat dari jarak yang tidak dekat, terlihat jelas warna tubuhnya yang pucat. Sesekali dia mengangkat tubuhnya, menampilkan wajahnya yang tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Masih muda. Terlalu muda untuk menjadi salah satu dari sekian banyak "orang stres" di jalanan Ibu Kota.

Saya langsung teringat siaran radio yang saya dengar paginya, Pertumbuhan Orang Kaya di Indonesia Tertinggi Se-Asia. Ironis. Sangat ironis (bagi saya). Tapi apa benar hanya pemerintah yang turut andil dalam hal tersebut? Apakah kita sebagai individu tidak bisa berperan sekecil apa pun?


August 27, 2012

Selamat Hari Senin!

Saya sedang duduk sambil menyantap sarapan pagi saya di kantor saat saya menulis post ini. Pagi hari yang penuh semangat; mungkin karena saya sudah mempersiapkannya dengan baik. Tidur lebih awal semalam sehingga punya cukup tenaga untuk memulai hari pertama di awal minggu ini, bangun lebih awal agar tidak terburu-buru, berangkat lebih awal untuk mengantisipasi kemacetan (berhubung kemarin puncak arus balik mudik).

Saya hampir selalu sampai kantor lebih awal dari jam kerja. Tapi hari ini terasa berbeda, terasa lebih tenang dan damai. Inbox email saya hanya ada beberapa, dan tidak ada pendingan kerjaan yang harus dikerjakan buru-buru di pagi hari untuk menyisakan waktu mengerjakan kerjaan lain yang akan datang di jam-jam berikutnya.

Hari ini rencananya saya akan melakukan sesuatu yang cukup berarti. Sesuatu yang sudah saya pikirkan sebelumnya. Mungkin ada sedikit ketakutan, tapi saya sudah memutuskan untuk menjalani apa yang sudah saya tetapkan.

Hari ini adalah hari ini; bukan kemarin, bukan besok. Mungkin saya akan mengambil pelajaran dari kemarin, dan merencanakan sesuatu untuk besok. Yang pasti, hari ini saya akan menjalani "hari ini" dengan maksimal ;)

Selamat hari Senin, Ladies..!

July 4, 2012

Hello, July!

Ok, it's July already. I should have updated my blog before July came! And now I have no posts in June archive. Missed a month :(
Well anyway, it happened and there's nothing I can do to change it.

That's time. It flies. No matter how hard we try, we can never turn it back.
It won't matter if you're rich, you can't buy time. Even if you're famous or something, you still can't invite the past to come once again in the present or near future, to make up the things you wish you didn't do (or should have done). Nobody could create a time machine.

We could never change the past, but we could prevent it from happening again. I, myself would reflect on the mistakes I did in the past, and try not to repeat it in the present.

May 20, 2012

Ketika "Galau" Melanda

Jodohku maunya ku dirimu
Hingga mati ku ingin bersamamu, ini ikrarku
Jodohku maunya ku dirimu
Satu cinta hingga ajal memisah
Aku dan kamu satu saling mencinta


Itu sebagian lirik lagu yang terus terngiang-ngiang di kepala saya saat ini. Ada beberapa alasan. Pertama, karena pasangan duet yang menyanyikan lagu itu mengadakan resepsi pernikahan malam ini, dan ditayangkan dengan hebohnya di televisi. Kedua, karena kata "jodoh" agak memenuhi pikiran saya belakangan ini.

Sejak minggu lalu ibu saya terus "mengingatkan" status saya yang masih single available dengan berbagai cara penyampaian dan tata bahasa. Bahkan beliau sudah memberikan kado ulang tahun in advance untuk saya; kado yang mitosnya bisa membuat enteng jodoh. Yah, wajar sih kalau beliau kuatir akan status saya saat ini, mengingat tinggal saya satu-satunya anak perempuan yang belum menikah. Apalagi sejarah di keluarga saya mayoritas menikah muda. Dan terakhir kali saya berhubungan juga sudah ada niat ke sana (walaupun akhirnya tidak kesampaian).

Bukannya saya tidak punya keinginan untuk menikah. Saya masih normal seperti perempuan pada umumnya yang memimpikan pernikahan yang suci nan indah kok (walaupun kalau bisa saya tidak mau mengadakan resepsi pernikahan sih, apalagi sampai yang terlalu "wah"). Hanya saja, dua tahun belakangan ini saya mencoba berpikir lebih realistis soal pernikahan dan tanggung jawab yang harus saya jalankan sesudahnya. Dan, yang paling penting, saya memang belum bertemu "jodoh" yang bisa saya lamar (bukan berarti saya tidak laku, lho) ;)

Setelah kisah cinta saya yang terakhir selesai, saya membulatkan tekad untuk tidak mau menikah minimal sampai tahun 2017, karena selama itu masih ada beberapa hal yang mau saya capai, dan pasti akan sangat sulit dicapai kalau saya sudah menikah. Karena prioritas saya sebelum dan sesudah menikah pasti berbeda. Jauh berbeda.

Tapi agaknya saya tetap resah walaupun sudah mempunyai tekad seperti itu. Pasalnya, selain karena "terbebani" dengan kekuatiran ibu saya, saya juga terpengaruh dengan lingkungan sekitar yang notabene sudah "melangkah maju" jauh di depan saya. Timeline Facebook saya penuh dengan upload-an foto-foto lamaran, pernikahan, anak, acara kumpul keluarga, dll, dsb, dst. Rasanya benar-benar hanya tinggal saya yang stuck di satu moment yang sama.

Bagaimanapun resahnya saya saat ini, saya tidak mau terlalu "galau" dan membiarkan diri saya dipengaruhi oleh idealisme standard yang ditetapkan oleh orang lain. Saya tidak mau, sepuluh tahun dari sekarang, saya merasa menyesal telah menikah dengan orang yang mungkin saya rasa bukan jodoh saya, tapi saya nikahi karena "sudah layak dan sepantasanya".

Waktu terus berjalan. Setiap detik waktu yang terlewat sangatlah berharga. Tidak boleh saya sia-siakan, dan jangan sampai berujung dengan penyesalan..

Will You Still Love Me Tomorrow?

"I, _______, take you, ________, to be my husband/wife. I promise to be true to you in good times and in bad, in sickness and in health. I will love and honor you all the days of my life."

"I, _______, take you, ________, to be my husband/wife, my partner in life and my one true love. I will cherish our union and love you more each day than I did the day before. I will trust you and respect you, laugh with you and cry with you, loving you faithfully through good times and bad, regardless of the obstacles we may face together. I give you my hand, my heart, and my love, from this day forward for as long as we both shall live."

"I, _______, take you, ________, to be my partner, loving what I know of you, and trusting what I do not yet know. I eagerly anticipate the chance to grow together, getting to know the (man/woman) you will become, and falling in love a little more every day. I promise to love and cherish you through whatever life may bring us."

I googled on wedding vow and found those sweet vows. I wish reality is as easy as saying those words, but in fact, number of divorce has been increasing and never decreases, right? Why? Didn't they vow to "blah, blah, blah.."? What happened to the passionate love they have for each other that expressed clearly on their wedding day? Where did the feeling goes?

May 14, 2012

Skeptis Itu Saya

Tadi pagi (atau subuh lebih tepatnya) saya menonton acara berita di televisi yang masih ramai dengan pemberitaan mengenai tragedi kecelakaan pesawat Sukhoi saat melakukan joy flight. Ada sesuatu yang menarik perhatian saya saat si anchor woman mengomentari dua orang dari tim rescue Rusia yang batal mendaki karena kelelahan saat mencapai jarak 600 meter. Inti komentarnya yaitu secara tidak langsung menyindir bahwa kemampuan mereka masih kalah dengan tim rescue lokal.

Kelihatannya si pembawa berita berjiwa nasionalis sekali ya? Saya hanya berpikir, apakah rasa cintanya kepada bangsa dan negara ini berlaku juga untuk hal-hal lain yang lebih konkret dari sekadar berkomentar? Apakah selama ini dia lebih memilih untuk membeli dan menggunakan produk lokal dibanding produk impor; berpelesir domestik menjelajahi indahnya kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia, dan bukannya traveling ke luar negeri? Saya tidak tahu.

Maaf ya kalau pandangan saya agak skeptis dan kata-kata saya cenderung kritis. Saya hanya berpendapat bahwa memang manusiawi sekali kalau kita dengan mudahnya "omdo" omong doang / talk only, sedangkan pada kenyataannya perbuatan kita sendiri belum tentu sama dengan apa yang kita ucapkan. Saya akui saya sendiri pun sering kali seperti itu. Tapi alangkah baiknya kalau kita berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang kita tahu belum tentu dapat kita laksanakan. Bukan begitu? Begitu bukan? :)

May 13, 2012

Hati Milik Siapa?

Selingkuh hati lebih parah dari pada selingkuh fisik. Itu prinsip saya sejak dulu. Waktu saya menyampaikan teori ini kepada teman saya, dia menjawab, "Lu gila, ya?! Selingkuh mana ada yang bener, sih? Yang namanya udah selingkuh, mau hati kek, fisik kek, ya tetap aja salah!"

Saya bukannya mau membenarkan perselingkuhan menurut teori saya. Memang, apa pun alasan dan bentuknya, perselingkuhan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Hubungan itu bukan hanya untuk dijalani dengan penuh perasaan, melainkan juga harus dipertanggungjawabkan.

Hanya saja menurut saya selingkuh fisik itu kalau ibarat penyakit, masih stadium awal. Alasan desakan kebutuhan biologis atau khilaf "tanpa sengaja" melakukan one-night-stand dengan orang lain masih bisa disesali dan lebih mudah di"perbaiki". Tapi kalau sudah selingkuh hati, rasanya berat sekali. Yang ada bukannya menyesali malah dinikmati lagi.. Walaupun pasangan kita berada di samping kita, tapi pikiran dan hatinya berada di tempat lain, untuk apa? Rasanya itu suatu kebohongan yang sangat menyakitkan; menusuk dari belakang.

Saya sendiri belum pernah dikhianati pasangan. Beruntung mantan pacar saya semuanya (paling tidak setahu saya dan sepercayanya saya) tidak mengecewakan saya. Namun entah mengapa saya selalu bisa membayangkan (bukannya mengharapkan, lho) seandainya suatu saat saya dikhianati oleh pasangan, saya akan mempertimbangkan alasan dia berselingkuh untuk menerimanya kembali. Tapi kalau sudah main hati, rasanya sudah tidak mungkin. Pikiran masih bisa dikendalikan. Hati?

"Love is not just about finding the right person, but creating a right relationship. It's not about how much love you have in the beginning but how much love you build till the end."

April 16, 2012

An Evening Letter for You

I missed you. Guess I've always been missing you.
No matter how hard I tell myself to not think of you or remember all the memories we had, I just keep missing you.

I'm selfish, I love you and I want your love back. I wish I could let you go that easily for the sake of your happiness, but in fact I couldn't stand the reality that you're not mine.

I want you. You're the only one I've always wanted. I wish I could just stop loving you, stop thinking about you, but I was never able to do so. I struggled with my own heart. Through the years, I never forget you.

Unstable, I admit. Inconsistent, it's me. Selfish is the way I love you. Hunger is the way I want you.
Oh, Babe..if (only) you were my baby..